
Part 17
"Seriusan?" ucap Bima.
Elsa mengangguk. "Gue aja sampai lari gara-gara dikejar orang gila!" ucap Elsa membuat yang lain tertawa. Termasuk Aji dan Keiza.
Saat ini Elsa tengah menceritakan pengalamannya di luar negeri saat dikejar orang gila.
"Ternyata di luar ada orang gila juga ya?" ucap Bima.
Aji tertawa. "Ya ada lah, memang di Indonesia doang yang ada."
Keiza mengangguk membenarkan.
Bima membulatkan bibirnya. "Abisnya waktu di Jerman, gue gak pernah liat orang gak waras."
Elsa terkekeh. "Ya jelas lo gak liat, orang elo yang gak waras!" ucap Elsa bercanda yang langsung mendapat toyoran dari Bima.
"Ih, Bima mah!" ucap Elsa seraya mengelus kepalanya.
"Makanya jangan mancing emosi orang," ucap Bima yang langsung ikut mengelus kepala Elsa.
Elsa terkekeh, lalu menoleh pada Kaila yang tengah memainkan ponselnya. "Eh—em! Kenapa sih, Kai, kok sedih amat keliatannya?" goda Elsa.
Kaila menoleh dan menyunggingkan senyumnya. "Gak papa kok."
"Biasalah, gak ada Kana, ya terasa kurang," ucap Aji membuat yang lain terkekeh.
Kaila menggeleng. "Apa sih kalian? Enggak loh. Biasa aja kok. Aku keliatan biasa aja," jawabnya dengan senyuman.
'Drrttt!'
Semua menoleh ke arah ponsel Kaila saat ponselnya berdering.
"Siapa?" ucap Elsa mewakili yang lain.
Kaila belum menjawab. Wanita itu meraih ponselnya dan tersenyum. "Kana," lirihnya menjawab pertanyaan Elsa.
"Acieeee!" goda mereka semua membuat Kaila tersenyum malu.
"Angkat! Angkat!" goda Elsa.
"Sini Kai, biar aku aja yang angkat," ucap Aji yang ingin mengerjai Kana.
Semuanya setuju.
Kaila pun mengangguk dan menyerahkan ponselnya pada Aji.
Aji terkekeh dan menekan tombol hijau untuk mengangkat sambungan telpon dari Kana.
"Halo, sayang?" ucap Kana di seberang sana.
"Hmm," lirih Aji berusaha menirukan suara Kaila.
"Kamu kenapa? Kok suara kamu beda, atau jangan-jangan kamu sakit lagi ya?" ucap Kana terlihat panik.
Mereka semua menahan tawa. Begitupun Kaila.
Aji mengulum senyumnya dan terbatuk. Berusaha membuat Kana semakin panik.
"La, kamu jawab aku. Kamu sakit lagi 'kan?" tanya Kana panik.
Aji tak menjawab. Ia hanya diam dan menahan tawanya.
"Halo, sayang. Kamu kenapa diem? Sayang," ucap Kana.
"Iya, sayang? Aku gak kenapa-napa kok," ucap Aji dan diikuti gelak tawa yang lain.
"Ah Aji! Kurang ajar lo ya!" ucap Kana dengan rasa kesal.
Aji tertawa. "Abisnya, panik amat lo," ucap Aji lalu mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video.
"Ji, lo kok bisa pegang hp cewek gue," ucap Kana setelah ia melihat wajah Aji.
Aji menyengir kuda lalu mengarahkan kemera ponsel pada Kaila. "Nih, cewek lo nih. Tenang aja. Gue gak sendiri kok disini. Ada Keiza, ada Bima, ada Elsa—"
'Tut! Tut! Tut!'
"Loh, kok mati?" ucap Keiza melihat sambungan videonya berhenti.
__ADS_1
'Tring!'
"Kana ngirimin pesan," ucap Aji lalu menyerahkan pada Kaila.
Kaila meraih ponselnya dan membacanya. Senyumnya mengembang. "Kana jalan kesini," ucapnya.
Elsa melebarkan mata. "Asikkk!"
Bima tertawa dan menggelengkan kepala.
"Bisa gitu ya, Kana?" ucap Keiza.
"Biasalah, Kana," ucap Aji dan semua pun tertawa.
Keiza mengetuk meja membuat yang lain menoleh.
"Kenapa, Kak?" tanya Bima.
"'Kan rame nih disini. Terus sate juga udah abis. Gimana kalau kita barbeque-an aja?" usul Keiza.
Kaila melebarkan mata dan mengangguk. "Ide bagus, Kak!"
"Jam berapa si sekarang?" tanya Elsa.
"Masih jam setengah delapan kok," ucap Kaila.
"Besok minggu 'kan? Nah yaudah, kita pesta aja disini. Hitung-hitung acara reuni. Nanti kalau kemaleman kita bikin tenda aja diluar. Biar cewek-cewek tidur di dalam. Gue, Aji, Kana tidur di luar."
Kaila mengangguk setuju. Begitu pun yang lain.
Keiza tersenyum. "Kalau gitu aku ke minimarket sebelah ya? Mau beli kecap sama saos," ucapnya dan bangkit dari duduknya.
"Aku temenin ya?" ucap Aji membuat semua menoleh.
Keiza tersenyum tipis dan mengangguk. "Boleh."
Aji tersenyum puas dan bangkit dari duduknya mengikuti Keiza.
Bima mengulum senyumnya. Entah mengapa, ia begitu senang melihat Aji dekat dengan Keiza.
Kaila ikut tersenyum. Wanita itu menatap punggung Aji dan Keiza yang mulai menjauh, lalu menoleh pada Elsa dan Bima.
"Ngapain bisik-bisik sih? Orangnya juga gak ada," ucap Bima membuat Elsa terkekeh.
"Iya, iya, sorry. Mereka lagi deket?" tanya Elsa.
Kaila tersenyum dan mengangguk.
Elsa menggelengkan kepala. "Waw! Keren banget Aji, abis dapetin serbuk jagung, sekarang dapatin serbuk berlian!"
"Hush!" ucap Bima menyenggol tubuh Elsa.
"Iya, iya, sorry. Maklum gimana keselnya gue sama almarhum Adinda dulu," ucap Elsa mengerucutkan bibirnya.
Bima tersenyum dan merangkul pundak Elsa. "Gimana pun semua orang punya salah."
"Iya! Kaya lo yang dari SMP ngejanjiin gue buat nraktir makanan, sampai sekarang gak di traktir-traktir," ucap Elsa mendumal.
Bima terkekeh. "Iya, iya, besok gue traktir."
Kaila tertawa. "Yaudah yuk, ambil kompor sama yang lain di dalam."
Elsa mengangguk dan bangkit dari duduknya.
"Daging ada, Kai?" tanya Bima.
Kaila mengangguk. "Ada kok di kulkas."
"Lah, kalau gitu ngapain tadi gue beli sate?" ucap Bima membuat Elsa dan Kaila tertawa.
-o0o-
"Kayanya kamu happy banget?" ucap Aji pada wanita di sebelahnya.
Keiza menoleh dan menyunggingkan senyumnya. "Iya. Jarang-jarang rumah itu rame orang kaya gini."
"Oh ya?" Aji menaikkan kedua alisnya.
Keiza mengangguk. "Jarang banget dan kayanya malah gak pernah. Pertama kali aku dateng ke rumah itu lagi, sepi banget. Tapi aku seneng banget Kaila sama Bima udah di Indonesia sekarang."
__ADS_1
Aji tersenyum mendengar penjelasan Keiza. "Kalian sama Bima udah kaya saudara kandung ya?"
Keiza mengangguk. "Apalagi setelah Mama kami meninggal, kekeluargaan kami semakin kuat. Karena cuma kita berempatlah yang bisa menguatkan satu sama lain."
Aji mengangguk mengerti.
Keiza tersenyum. "Aku kesana dulu ya?" ucap Keiza menujuk bagian saos dan kecap.
Aji mengangguk dan membiarkan Keiza berjalan pergi.
Laki-laki itu menatap punggung Keiza dengan senyuman. "Kenapa gue jadi ikut happy gini?" lirihnya mengulum senyum.
-o0o-
"Lala!"
"La!"
Bima menghela napas dan menyenggol wanita di sebelahnya. "Cowok lo tuh, bukain gerbang."
Kaila terkekeh lalu menaruk pisau di atas meja, dan berjalan ke depan untuk membukakan gerbang.
"La! Makasih ya, Sayang!" teriak Kana saat Kaila sampai di gerbang.
Kaila mengangguk lalu mendorong gerbang agar mobil Kana bisa masuk ke dalam.
Setelah mobil Kana masuk, Kaila kembali menutup gerbang dan menghampiri kekasihnya yang akan baru keluar dari mobil.
"Hei!" ucap Kaila menghampiri.
Kana tersenyum dan langsung memeluk Kaila. "Kangen banget."
"Baru juga tadi seharian berduan," ucap Kaila.
"Berduaan apanya, bertigaan lah iya," ucap Kana mengerucutkan bibirnya seraya melirih Bima yang tengah memotong daging.
Kaila terkekeh dan kembali memeluk Kana.
"Sayang banget sama nih cewek!" ucap Kana mengusap pucuk kepala Kaila.
Kaila terkekeh dan menatap Kana. "Paprikanya udah di beliin?"
Kana mengangguk lalu mengambil kantong plastik dari dalam mobil.
"Paprika pesanan tuan putri!" ucap Kana menyerahkan kantong plastik itu pada Kaila.
"Yeay!" seru Kaila.
"Selain paprika, aku beliin kamu jus leci juga kesukaan kamu," ucap Kana.
"Oh ya?" Kaila melebarkan mata dan membuka kantong plastik itu. Mata Kaila melebar saat dilihatnya jus leci dalam ukuran botol besar. "Yeay! Makasih sayang."
Kana mengangguk dan merangkul Kaila untuk menghampiri Elsa dan juga Bima.
"Halo, Kan!" seru Elsa saat Kana sampai di hadapan mereka.
"Halo, El." Kana tersenyum lalu menoleh pada Bima. "Beuhh! Yang bener Bim, motongnya."
Bima tertawa. "Gak usah bacot lo, Kan. Mending lo pasang tenda aja."
"Tenda?" tanya Kana.
Bima mengangguk. "Kita bakal pesta sampai pagi. Cepet gih pasang, ada di kursi itu kok tendanya. Tinggal lo pasang aja."
"Mantap emang Bima ini!" ucap Kana lalu berjalan mengambil tenda.
"Aku bantu pasang ya?" ucap Kaila.
"Kaila, lo belum selesai motongin ini!" teriak Bima.
Kaila menoleh dan melebarkan mata. "Sorry Kak Bim, Kana kesusahan kalau masang sendiri."
Kana terkekeh, lalu mengacak rambut Kaila.
"Kana, stoplah ngacak-ngacak rambut," ucap Kaila mengerucutkan bibir.
"Ngacak-ngacak hati boleh?"
"Hmm, gue tonjok kalau sampai hati gue di acak-acak!" ucap Kaila membuat Kana tertawa.
__ADS_1
-o0o-