
Season 3 (Takdir atau Kebetulan?)
'Hari ini kau pergi,
Meninggalkan diriku
Semua begitu saja
Terjadi dan takkan kembali
Sungguh 'ku tak berdaya
Jika harus tanpamu
Menghabiskan waktuku
jelajahi dunia
Dirimu laksana surgaku
Tempat 'ku mencurahkan
Segala rasa cinta suci
Yang tulus di dalam batinku
Tiada yang mampu gantikan
Titahmu dihatiku
Menyejuk—'
Kana menekan tombol 'pause' dan melepaskan earphone yang tersumpal di telinganya saat seseorang melambaikan tangan ke arahnya.
Kana tersenyum dan segera mengambil kopernya.
"Kana! Buruan!"
Kana mengangguk. Ia meraih kopernya dan menariknya.
Penerbangan kali ini berjalan lancar. Kana mendarat dengan selamat dan sampai di Jakarta setelah satu minggu ia berada di Yogyakarta untuk menghadiri acara reuni teman-teman kuliahnya.
Siapa sadar?
Delapan tahun telah berlalu, mungkin semuanya terasa begitu cepat. Namun tidak dengan Kana. Ia merasa waktu berjalan begitu lama.
Jika di ibaratkan, bagi Kana waktu berjalan seperti siput. Sangat lama dan membosankan. Meskipun ia sudah menikmati banyak hal. Baginya tetap sama. Tak ada sesuatu yang spesial.
"Kana! Buruan!"
Kana menghela napas, menarik kopernya dan melangkah menghampiri Aji yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Sabar ngapa," ucap Kana dengan raut wajah kesal.
"Lama banget elo-nya. Gue pikir lo gak mau balik ke Jakarta," ucap Aji membuat Kana terkekeh.
"Kalau gue gak balik, siapa yang mau urus klinik? Memang lo mau terus\-terusan gantiin gue?"
Aji menggeleng. "Cukup, Kan. Cukup."
"Gimana? Selama gue pergi, banyak pasien yang dateng?" tanya Kana pada Aji yang selama ini menggantikan Kana di klinik miliknya.
Aji mengangguk. "Bahkan ada yang marah-marah karena pengennya lo aja yang meriksa," ucap Aji membuat Kana tertawa.
"Terus gimana?" tanya Kana yang masih tertawa.
"Ya, balik. Gak mau di tanganin sama gue."
Kana menggelengkan kepala lalu mengalungkan lengannya ke leher Aji. "Thanks banget ya, Ji. Lo pahlawan gue memang."
"Dih, emang ya! Kalau ada maunya aja, gue disebut pahlawan!" ucapnya membuat Kana tertawa.
"Pokoknya makasih banyak!"
Aji mengangguk dan tersenyum. "Kan."
Kana berhenti dan menaikkan kedua alisnya. "Kenapa?"
"Kayanya kita harus buru-buru balik ke Klinik, deh."
"Kenapa memangnya?" tanya Kana penasaran.
__ADS_1
"Gue tadi di telpon sama perawat Ayu, katanya banyak pasien di klinik."
"Lah, kalau gitu ngapain tadi lo jemput gue?" tanya Kana tak mengerti.
Aji menghela napas. "'Kan gue udah janji sama lo. Lagian lo aja gak bawa mobil. Mau naik taksi? Makin lama yang ada. Udah ah yuk buruan. Kasian pasien-pasien lo."
Kana terkekeh lalu mengangguk dan berjalan mengikuti Aji yang melangkah lebih dulu.
-o0o-
"Taksi!"
Sebuah taksi berhenti saat seorang wanita menghentikannya.
"Ke alamat ini ya, Pak."
Taksi itu mengangguk dan menjalankan mobilnya.
"Dari mana, Mbak?" tanya supir taksi itu penasaran.
"Dari Jogja, Pak."
"Ke Jakarta mau nemuin keluarga?" tanya supir taksi itu lagi.
Wanita itu menggeleng. "Mau liburan aja."
Supir taksi itu mengangguk dan kembali fokus dengan kemudinya.
Setelah dua puluh menit perjalan, taksi itu berhenti di depan sebuah hotel.
"Ke sini 'kan, Mbak?" tanya supir taksi itu memastikan.
Wanita itu mengangguk. "Bener, Pak," ucapnya lalu turun dari taksi dan ikut mengeluarkan kopernya.
"Biar saya bantu, Mbak." Supir taksi itu membantu mengeluarkan kopernya dan mengangkatnya.
"Udah pak biar saya." Wanita itu tersenyum dan menyerahkan lembaran uang dari dalam tasnya.
"Saya ambil kembalian dulu ya," ucap supir taksi tersebut.
"Gak usah, Pak! Kembaliannya buat bapak aja."
Wanita itu tersenyum. "Iya."
"Makasih banyak ya, Mbak. Embak namanya siapa?" tanya supir taksi itu.
"Kaila."
Supir taksi itu mengangguk. "Semoga Mbak Kaila di beri kesehatan, di beri rezeki yang banyak, dan cepat bertemu jodohnya."
Kaila tersenyum. "Aamiin. Makasih ya, Pak."
Supir taksi itu mengangguk dan menunduk, lalu berjalan menuju mobil. Setelah taksi itu pergi, Kaila tersenyum tipis dan masuk ke dalam hotel.
"Permisi, ada yang bisa di bantu?"
-o0o-
"Dok, kenapa ya belakangan ini saya sering sakit kepala. Terus kepalanya kaya muter-muter gitu, Dok."
Kana mengerutkan dahinya. "Ibu sering begadang?"
Pasien di depannya mengangguk. "Setiap hari, Dok."
Kana tersenyum. "Ibu, ibu kalau bisa dikurangin ya begadangnya. Apalagi seusia ibu ini perlu istirahat yang cukup."
Pasien itu mengangguk. "Iya, dok. Siap. Dok?"
Kana menaikkan kedua alisnya. "Iya?"
"Dokter udah menikah?"
Kana tersenyum lalu menggeleng.
"Belum? Masa iya, Dok? Memang umur Dokter sekarang berapa?'
"Dua puluh enam tahun, Bu."
Pasien itu melebarkan mata. "Seumuran anak saya dong? Dia juga tahun ini dua puluh enam tahun. Dan, sama— belum punya pasangan. Masih single."
__ADS_1
Kana tersenyum. "Baik, Bu. Untuk keluhan lain apa yang ibu rasakan?"
"Keluhan saya? Ya kadang saya ini heran, kenapa anak saya sampai sekarang gak mau cari pendamping. Padahal umurnya 'kan udah matang untuk menikah."
Kana menghela napas, berusaha menahan sabar.
-o0o-
'Ceklek!'
Pintu terbuka.
Kaila menarik kopernya dan masuk ke dalam kamar. Setelah mengunci pintu. Itu berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya.
"Capek banget."
Kaila menghela napas lalu melirik koper di sampingnya.
Tunggu—
Kaila mengerutkan dahinya. "Kayanya koper gue gak kaya gini deh." Kaila bangun dan mendekati koper itu. Memperhatikan bentuk koper dihadapannya.
Kaila menggeleng. "Bukan. Bukan. Ini bukan koper gue."
Kaila membuka resleting koper itu dan membukanya. Ia melebarkan mata lalu menepuk dahinya. "Tuh 'kan! Bukan koper gue! Mana isinya pakaian cowok lagi."
Kaila berkacak pinggang. Wanita itu terlihat begitu pusing. Bagaimana bisa kopernya tertukar dengan orang lain.
Kaila berdecak dan kembali memperhatikan koper itu. Matanya tertuju pada satu barang yang berada paling atas koper itu. Tangannya meraih barang itu dan terdiam.
"Stetoskop?"
Ia menggigit bibir bawahnya. "Mungkin kalau saat itu gue gak pergi ke Jerman, barang ini selalu ada di diri gue."
Kaila menghela napas lalu meraih kertas yang juga berada dalam koper itu. Barang kali ia menemukan sesuatu yang bisa menunjukkan pemilik koper itu.
Kaila membaca kertas itu dengan seksama. Namun, ia tak menemukan nama pemiliknya.
"Yang jelas sih dokter yang punya."
Kaila langsung melebarkan mata begitu mengucapkan kalimat itu. Dengan segera ia mencari jas putih di dalam koper. Barangkali disana ada jas putih beserta nama yang tertera.
Ia sedikit mengobrak-abrik koper itu. Dan akhirnya—
"Ah, ini!" teriak Kaila senang saat jas putih yang ia cari berada juga dalam koper itu.
Ia meraih jas itu dan membuka lipatannya. Matanya pun tertuju pada nama yang berada di jas itu.
"Klinik Bintang?" Kaila mengerutkan dahinya saat nama yang ia cari tertera disana. "Kana Bintang Artana?"
Kaila terdiam di tempat. Ia membeku setelah membaca nama itu.
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa kopernya tertukar dengan Kana?
Kaila menggeleng. "Gak mungkin."
Kaila kembali menggeleng tak percaya, lalu menutup kembali koper itu.
Ia terduduk di lantai dan terdiam. "Gimana bisa? Dari banyaknya penumpang, gimana bisa koper gue tertukar sama koper Kana?"
-o0o-
__ADS_1