KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 36


__ADS_3

Part 36


Kaila menutup pintu dan berjalan memasuki ruangannya.


Hari ini, Kaila sudah pergi ke galerinya lagi setelah mengetahui jika ia hamil.


Sebenarnya Kana melarangnya untuk bekerja. Namun, Kaila tak mengindahkan keinginan suaminya. Ia tetap ingin bekerja, setidaknya merefresh otak dengan kegiatan yang sangat ia gemari.


Yaitu merancang sebuah busana.


"Semangat Kaila, petualangan hari ini akan dimulai. Kepuasan klien adalah kebahagiaan untuk kamu dan buah hati," ucapnya seraya mengusap perutnya.


Kaila berjalan membuka pintu ruangannya dan masuk ke dalam. Meletakkan barang-barangnya dan berjalan menuju manekin yang terbungkus kain berwarna merah muda.


'Tok! Tok! Tok!'


Kaila menoleh ke arah pintu dan melihat Elsa tengah tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Masuk, El."


Elsa mengangguk dan menarik gagang pintu hingga pintu terbuka.


"Hai!" seru Elsa. "Gue tadi lihat lo turun dari mobil, mau manggil, tapi gak jadi." Elsa mendudukan diri di kursi dan meletakkan kue brownies di meja Kaila.


Kaila tersenyum pada sahabatnya itu. "Bahagia banget kayanya lo?"


Elsa menoleh dan menaikkan kedua alisnya. "Keliatan banget ya?"


Kaila mengangguk.


"Ahhh!" Elsa menyentuh kedua pipinya dan tersenyum girang.


Kaila semakin penasaran dengan sahabatnya itu. "Ada apa, sih?"


"Gue dilamar Arnold!" serunya.


Kaila melebarkan mata. "Dilamar Arnold?"


Elsa mengangguk dengan rona wajah bahagia. "Semalem dia dateng ke rumah sama orangtuanya. Gue bingung, dia gak bilang-bilang apa-apa. Tapi memang sih, beberapa hari ini dia kaya aneh gitu. Ya gue gak kepikiran kalau dia bakal lamar gue." Elsa terkekeh. "Dan tahu gak?"


Kaila menaikkan kedua alisnya, menunggu Elsa melanjutkan ucapan.


"Pernikahan kita akan di selenggarain tanggal 22 Agustus."


Kaila melebarkan mata. "Dua minggu lagi dong??"


Elsa mengangguk dengan senyuman. "Agak dadakan sih. Cuma, kayanya memang bagus gitu. Gue juga gak mau nunggu lama-lama, takut dia kepincut cewek lain. Ya lo tahu lah, orang yang udah menjalin hubungan serius, pasti ada aja godaannya," ucap Elsa dengan raut wajah serius.


Kaila mengangguk setuju. "Bener banget. Gue aja dulu sama Kana banyak banget godaannya. Dan herannya, semakin mendekat ke pernikahan, tingkat kecemburuan gue kaya meningkat gitu. Liat Kana deket sama pasien yang cantik, gue kayanya kesel gitu."


Elsa tertawa. "Makanya itu gue pengen cepetan langsung ijab qabul aja. Daripada gue gak jadi nikah, 'kan berabe."


Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala.


"Oh ya Kai, lo tahu gak? Guru seni budaya kita, meninggal tahu."


Kaila melebarkan mata. "Inalillahi. Bu Rika, 'kan? Yang waktu itu nyuruh gue buat ikut ekskul desain."


Elsa mengangguk. "Ya lo pasti ingetlah mukanya. Dia juga 'kan yang ngenalin lo ke kelas waktu pertama kali lo dateng ke sekolah."


Kaila mengangguk. Ia ingat sekali dengan ibu itu. "Meninggal karena apa, El?"


"Gantung diri."


Kaila melebarkan mata. "Astagfirullah." Wanita itu menutup mulutnya.


"Katanya suaminya pergi sama cewek lain terus ninggalin hutang puluhan juga. Mana punya sangkut paut sama bank juga." Elsa menggelengkan kepala. "Kasianlah intinya. Mana anaknya masih kecil-kecil. Yang gede aja umur Tiga belas tahu kalau gak salah."


Kaila terdiam. "Ya Allah." Wanita itu menatap lurus ke depan dengan rasa sedih. "Tapi seharusnya dia jangan gitulah. Semua orang punya masalah, tapi jangan ambil keputusan dengan bunuh diri."


Elsa mengangguk. "Ya, namanya juga orang, Kai. Gak semua bisa berpikir jernih, sekalipun dia seorang guru."


Kaila mengangguk setuju. Benar yang dikatakan Elsa.


"Oh ya, lo bisa bantu gue bikin gaun pernikahan 'kan?" ucap Elsa langsung menjelaskan niatnya datang kemari.


Kaila mengangguk. "Bisa kok. Mau model seperti apa?"


Elsa tersenyum. "Ya lo gampar dulu aja, dua atau tiga yang menurut lo kekinian. Nanti gue tinggal pilih mau yang mana."


Kaila mengacungkan ibu jarinya. "Siap! Gue bakal buat desain gaun yang menurut gue paling kekinian, paling cakep, paling hedon, seperti lo."


Elsa tertawa. "Tahu aja, lo. Kesenengan gue gimana."


Kaila terkekeh dan meraih buku gambar yang tersusun di atas meja.


'Tok! Tok! Tok!'


Kedua wanita itu menoleh pada pintu transparan yang menghalangi ruangan Kaila.


"Bima?" ucap Elsa melihat lelaki itu.


Disana, terlihat Bima tengah tersenyum seraya mengangkat sesuatu di tangannya.


Kaila berjalan untuk membukakan pintu.


"Gue aja, Kai." Elsa berjalan dan membukakan pintu untuk Bima.


"Thank you, Elsa!" seru Bima setelah lelaki itu berhasil masuk dan berjalan menghampiri Kaila.


"Kak Bima, ada apa pagi-pagi kesini?" ucap Kaila.


Bima menyengir kuda dan meletakkan sebuah rantang di atas meja Kaila. "Aku bawain bubur buat calon ponakan aku."


Kaila terkekeh. "Makasih ya, Kak."


Bima mengangguk dan tersenyum.


Elsa mengerutkan dahinya dan menatap Bima bingung. "Tadi lo bilang apa? Calon ponakan?"


Bima mengangguk. "Iya. Calon ponakan."


Elsa masih terlihat bingung. Wanita itu menoleh pada Kaila dan menatapnya sadis. "Lo— hamil?" ucapnya penuh tanya.


Kaila terkekeh malu.


Elsa melebarkan mata tak habis pikir. "Lo hamil gak cerita-cerita ke gue? Ha?" Elsa terlihat naik pitam.


Kaila terkekeh dan segera mendekati sahabatnya. Merangkulnya dan tersenyum manis. "Maaf."


"Ck!" Elsa berdecak dan menggelengkan kepala. "Wah! Tega lo, Kai! Tega lo hamil gak cerita-cerita. Gue lo anggep apa?" ucap Elsa dengan raut wajah sedihnya.


Kaila terkekeh. "Maaf, tadinya mau cerita hari ini. Tapi lo udah kesini dulu terus bilang mau menikah. 'Kan gue jadi lupa mau cerita."


Bima mengerutkan dahinya dan menyenggol lengan Elsa.


Elsa menoleh dan menaikkan kedua alisnya.


"Lo mau menikah?" tanya Bima yang terkejut akan hal itu.


Elsa mengangguk dan menatap mata Bima.


Bima tersenyum. Namun, ia terlihat sedih.


"Bim?" Elsa menatap mata Bima.


Bima tertawa, namun— langsung membawa Elsa ke dalam pelukannya.


Kaila yang melihat hal itu, hanya bisa diam. Ia tahu bagaimana kedekatan Elsa dan Bima.


Meskipun keduanya sering bertengkar, namun keduanya saling menyayangi seperti kakak dan adik.


Elsa dan Bima sudah berteman sejak SMP. Bahkan pertemanan mereka bukan sekedar pertemanan biasa.


Kaila tahu sendiri bagaimana kedekatan dua orang itu.

__ADS_1


"Lo tega El, ninggalin gue," lirih Bima yang masih memeluk wanita itu.


"Sorry, Bim. Gue gak tahan lagi. Temen-temen kita udah pada nikah. Tinggal kita berdua doang yang belum." Elsa mengerucutkan bibirnya dan menatap Bima. "Sorry."


Bima menghela napas dan melepas pelukan itu. Ia tersenyum dan mengangguk. Mengusap pucuk kepala Elsa dan tersenyum hangat. "Semoga lo bahagia ya sama suami lo nanti."


Elsa mengangguk dengan senyuman. "Lo juga cepet nikah. Malu nanti kalau reuni lo doang yang masih jomblo."


Bima tersenyum miring. "Aneh ya? Padahal dulu gue yang gonta ganti pacar, tapi gue yang terakhir nikah."


Elsa terkekeh. "Makanya, setia sama satu orang."


Bima mengangguk. "Siap! Gue bakal berusaha kok."


Elsa tersenyum dan mengangkat tangan Bima dan meletakkanya di dada Bima. "Semoga lo bisa nemuin orang yang perhatian sama lo. Yang cerewet sama lo. Biar lo gak bandel."


Bima terkekeh.


Di lain sisi, Kaila nampak turut bahagia. Ia tersenyum memandang dua orang di depannya.


"Kalau gitu, gue balik ya?" ucap Bima.


Elsa dan Kaila mengerutkan dahinya. "Kok buru-buru amat, Kak?"


Bima mengangguk. "Mau keluar dulu cari sesuatu."


Kaila membulatkan bibirnya. "Oke deh, hati-hati ya, Kak? Makasih buburnya. Nanti Kaila makan."


Bima mengangguk dengan senyuman, lalu menoleh pada Elsa. Tersenyum dan berjalan pergi.


Setelah kepergian Bima, Elsa mendudukan dirinya di depan Kaila. "Gue gak enak sama Bima."


Kaila mengerutkan dahinya. "Gak enak kenapa?"


Elsa tersenyum tipis. "Dulu waktu kelas 1 SMP, gue sama dia pernah janji buat nikah bareng." Elsa terkekeh. "Cuma bercandaan sih. Soalnya waktu itu umur gue sama dia juga baru dua belas tahun. Ya, biasalah, anak-anak ABG yang suka becandaan."


Kaila terkekeh. "Tapi lo gak ada perasaan terpendam 'kan?"


Elsa menggeleng. "Gak ada. Karena waktu SMP juga Cuma dia temen gue. Sampai akhirnya masuk kita SMA bareng, terus ya gitu. Waktu SMA dia berubah, pacaran gonta-ganti. Makanya waktu SMA, gue agak menjauh, takut pacarnya cemburu. Cuma, ya lo tahu lah, kadang ada waktu dimana kita cemburu saat sahabat kita punya pacar."


Kaila mengangguk mengerti.


"Tapi gue masih gak enak sama Bima," ucap Elsa dengan senyuman tipis.


"Jangan mikir gitulah." Kaila tersenyum dan mengusap punggung tangan sahabatnya.


-o0o-


Bima menghela napas dan berjalan ke sebuah toko donat.


"Mau cari donat apa, Kak?"


Bima melebarkan mata. "Astaga, kok gue malah masuk kesini," batinnya. Bima tersenyum dan menatap pelayan itu. "Maaf, salah masuk."


Bima memukul dahinya pelan dan berjalan keluar.


Seharusnya Bima masuk ke sebuah apotek, bukan malah masuk ke toko donat yang berada di sebelah apotek.


"Bima, Bima," lirihnya dan melanjutkan langkahnya.


"Kenapa gue jadi gini sih?" ucap Bima bingung. "Apa gue sedih karena Elsa menikah?"


Bima berdecak. "Enggak, Bima! Lo gak sedih. Elsa berbak bahagia sama calon suaminya."


"Selamat datang, ada yang bisa di bantu?" ucap seorang apoteker saat Bima sampai disana.


"Ada obat diare?" ucap Bima.


Apoteker itu mengangguk. "Tunggu sebentar ya?"


Bima mengangguk dengan senyuman lalu meraih ponselnya.


"Bima?"


Siska tersenyum. "Ngapain lo?"


"Cari obat—" Bima menggantungkan ucapannya.


"Obat apa? Lo sakit?" tanya Siska.


Bima menggeleng cepat. "Enggak."


"Ini obat diarenya, kak," ucap apoteker itu membuat Siska menoleh.


Bima terlihat malu, lelaki itu segera mengeluarkan uang dan mengambil obat tersebut, lalu berjalan pergi.


"Kak, kembaliannya!" teriak apoteker itu.


"Gak usah! Ambil aja!" ucap Bima dan mempercepat langkahnya.


Bima tak bisa menahan malunya. Laki-laki itu segera pergi dan naik ke dalam mobil.


"Bima!"


'Tok! Tok! Tok!'


Bima menghela napas. "Astaga Siska, ngapain sih lo?" Bima berdecak dan membuka kaca mobilnya. "Kenapa?"


Bima menggigit bibir bawahnya dan menatap Bima ragu. "Gue boleh nebeng gak?"


Bima mengerutkan dahinya. "Nebeng?"


Siska mengangguk. "Gue gak bawa mobil. Tadi gue naik taksi online kesini. Terus mau pesen lagi, di cancel mulu." Siska menghela napas dan menatap langit. "Udah mau ujan, Bim."


Bima menghela napas dan menatap langit. Benar, hujan akan segera turun. Bima tak mungkin menolak permintaan Siska.


Dengan sekali helan napas dan menatap Siska yang terlihat memohon. Akhirnya Bima mengangguk.


"Boleh?"


Bima mengangguk.


Siska tersenyum dan berlari menuju pintu belakang.


Bima melebarkan mata dan membalikkan badannya. "Lo kira gue supir lo?"


Siska mengerucutkan bibirnya dan turun, lalu pindah ke kursi depan.


"Enak bener lo. Nebeng terus duduk di belakang," ucap Bima saat Siska telah berada di sampingnya.


Siska berdecak. "Yaelah, lebay bener. Lagian gue sengaja ke belakang. Karena kalau gue tiba-tiba naik depan, nanti disangka pengen duduk sebelahan sama lo."


"Memang bener 'kan?"


Siska melebarkan mata. "Enggak! Jangan kepedean. Kalau bukan karena gue kenal sama lo, gue juga males ya nebeng—""


"Udah diem, mau pulang gak lo?" ucap Bima membuat Siska berhenti bicara.


Bima menghidupkan musik di mobil dan mulai melajukannya.


"Lo diare, Bim?" tanya Siska di sela-sela perjalanan mereka.


Bima tak mendengarkan.


Sepertinya memang laki-laki itu memang tidak dengar. Sebab suara musik yang mengalun sangat kuat, bahkan membuat Siska berasa ingin menutup kupingnya rapat-rapat.


"Bim, lo diare?"


Bima mengulum senyumnya. Rupanya laki-laki itu mendengar, hanya saja dia malas membahas hal tersebut.


"Bim."


"Bima!"


Bima menghela napas. "Apa?"

__ADS_1


"Lo diare?"


Bima menggeleng. "Enggak."


Siska membulatkan bibirnya. "Kirain diare."


"Enggak. Bukan gue yang diare," ucap Bima. Namun beberapa detik setelahnya, perutnya terasa mulas.


Ia mengitari pandangannya dan melihat sebuah SPBU.


Laki-laki itu segera membawa mobilnya memasuki area SPBU.


"Mau isi bensin?"


Bima tak menjawab. Laki-laki itu memarkirkan mobilnya. "Lo sini aja ya? Gue mau ke toilet bentar," ucap Bima lalu berlari terbirit-birit.


Siska tersenyum miring. "Dasar, katanya gak diare. Tapi larinya kaya di kejar setan."


Siska menghela napas dan menoleh pada dompet Bima yang tergeletak di kursi.


"Kok dia gak bawa dompetnya sih?"


Siska menoleh pada toilet yang tertutup. Gadis itu meraih dompet Bima dan menatapnya.


"Gue gak bermaksud mau nyuri uang lo, Bim. Gue cuma penasaran aja, foto siapa yang ada di dompet lo."


Siska membuka dompet itu dan— terlihat dua foto disana.


Siska mengamati foto itu dengan jeli.


"Ini 'kan mantan dia yang di Jerman itu. Dia masih nyimpen?" ucap Siska bingung. "Buat apa?" Siska menghela napas dan beralih pada satu foto disampingnya.


"Yang ini, cewek Indo. Tapi siapa ya? Kok gue gak pernah lihat. Apa itu pacar barunya?"


Siska menarik foto itu dari dompet dan melihatnya. Ternyata dibelakang foto itu ada foto lagi.


Siska memperhatikan foto berukuran 4x6 cm yang berwarna namun memudar itu.


Rupanya foto yang berada di belakangnya adalah foto Bima dengan wanita itu.


"Siapa sih? Tapi kok fotonya kaya jadul gitu." Siska berdecak dan membalik-balikan foto itu.


"Ah, ada namanya." Siska membaca nama itu. "Elsa."


Siska terdiam. "Siapa Elsa? Saudara Anna?"


Siska tampak berpikir dan meletakkan kembali foto itu.


"Ngapain?"


"Ahhh!" teriak Siska terkejut melihat Bima sudah berada disini.


"Ngapain buka dompet gue?"


Siska menggigit bibir bawahnya. "Sorry Bim, tapi gue penasaran." Siska menggeleng gugup. "Enggak! Gue bukan penasaran sama uang lo. Tapi gue penasaran sama foto yang ada di dompet lo."


Bima membulatkan bibirnya dan naik ke dalam mobil. Meraih dompet itu dan memasukannya ke dalam saku, lalu melajukan mobilnya.


"Elsa siapa?" ucap Siska membuat Bima menghentikan lajunya dengan mendadak.


Bima menoleh menatap Siska. "Lo pengen tahu?"


Siska mengangguk.


"Dia sahabat gue."


"Yakin cuma sahabat?" ucap Siska membuat Bima menoleh dan menatap Siska tak mengerti.


"Gak usah mikir aneh-aneh. Lagipula dia mau nikah bentar lagi," ucap Bima dengan wajah kesal.


Siska tersenyum miring. "Jadi karena dia mau nikah, lo jadi sensi gini?"


Bima tak menjawab. Ia tetap fokus dengan kemudinya.


Siska menghela napas karena tak di hiraukan oleh Bima. Gadis itu berdecak dan menyandarkan tubuhnya di kursi.


Suasana semakin hening.


Tak ada obrolan antara keduanya.


Bahkan, Bima pun tak menghidupkan musiknya.


"Gue gak tahu perasaan ini muncul."


Bima terdiam saat Siska mengucapkan hal itu. Ia terdiam dan menunggu Siska melanjutkan ucapannya.


"Gue suka sama lo," ucap Siska yang sudah menatap lelaki di sebelahnya.


Bima diam, lalu menoleh menatap mata Siska.


"Gue memang benci sama lo. Sangat benci. Tapi, ketika gue berusaha terus benci sama lo, yang ada malah perasaan aneh yang muncul."


Siska menghela napas.


"Pikiran gue terus tertuju ke elo. Gue udah berusaha buat gak mikirin lo, tapi bayang-bayang lo terus menghantui gue."


Bima masih diam. Ia bahkan tak tahu harus mengatakan apa.


"Gue gak peduli kalaupun lo sukanya sama cewek lain. Yang jelas, gue udah ungkapin perasaan gue."


Siska menghela napas dan meraih tasnya. "Lo bisa turunin gue disini."


Bima menggeleng. "Enggak."


"Turunin, Bim. Gue udah malu sama lo."


Bima menggeleng. "Enggak."


Siska menghela napas dan mencoba membuka pintu.


Namun, tangannya di tahan oleh Bima.


Siska menoleh dan menatap Bima, hingga keduanya pun saling menatap.


Bima masih dengan tatapan datarnya. Namun, matanya berbeda. Ada tatapan lain dimata Bima.


Entahlah, Siska sendiri tak bisa mengartikan tatapan itu.


Bima masih diam dengan tatapannya. Menatap Siska lebih dalam, dan mendekat.


Siska sedikit kesusahan dalam bernapas. Jarak antara ia dan Bima begitu dekat.


Hingga—


'Cup!'


Bima menciumnya?


Rona wajah Siska merah padam.


"Bima nyium gue?" batinnya dengan rasa tak karuan.


"Sorry kalau lancang. Tapi, gue bakal berusaha mencintai lo." Bima tersenyum tipis dan melajukan mobilnya.


Perasaan Siska sudah tak karuan.


Senang? Tentu!


Namun, ia harus menutupinya agar terlihat tetap terlihat tenang.


Jika tak ada Bima, mungkin ia sudah menjerit.


"Gak papa, meskipun lo belum cinta sama gue. Gue yakin bisa, bikin lo jatuh cinta sama gue," batinya dengan menatap ke arah lain.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2