KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 49


__ADS_3

Part 49


Suasana rumah Kana dan Kaila terlihat hampa. Meskipun dalam rumah itu ada banyak orang di dalamnya, namun bagi mereka rumah itu terlihat hampa tanpa adanya Kana.


Kana memang berada dirumah ini. Namun masih dengan keadaan yang sama. Tertidur pulas dan tak tahu kapan akan membuka mata. meskipun demikian, istrinya akan tetap menunggu sampai kapanpun itu.


"Nana, bangun yuk. Ini udah hampir delapan bulan loh kamu gak buka mata. Kamu gak capek apa?" lirih Kaila dengan suara serak karena terlalu sering menangis.


Hari ini bertepatan pada tanggal 13 Juli 2022. Dimana kecelakaan itu telah terjadi delapan bulan yang lalu. Kecelakaan fatal yang membuat Kaila harus kehilangan senyum Kana.


Bukan, bukan hanya senyum. Namun semua, semua yang ada pada diri Kana. Termasuk perhatian yang selalu karena berikan untuknya.


Hari di mana kabar menyakitkan itu menghampiri Kaila dan seluruh keluarganya. Hari di mana senyum Kaila perlahan memudar. Hari dimana Kaila dituntut untuk kuat oleh keadaan. Dituntut kuat dalam menghadapi masalah ini. Di paksa oleh keadaan yang begitu berat.


Kaila menghela napas berat dan menetap suaminya. berharap sebuah keajaiban datang menghampiri mereka. Membuat Kana sadar dari tidur panjangnya.


Saat ini, Kana dirawat di rumahnya sendiri. Dengan Aji yang menjadi dokter pribadinya.


Bicara soal Aji, tentu kita juga membicarakan Keiza. Wanita itu telah melahirkan putri pertamanya yang sangat cantik.


Putri mereka mereka beri nama ; Afsana Zelin Adila.


Dimana, Nama itu memiliki arti yang sangat Indah. Yaitu putri yang berhati lurus dan selalu ceria.


Keiza sendiri yang menamakan itu. Tentu saja dengan persetujuan Aji. Dan saat ini wanita itu tengah sibuk mengurus buah hatinya. Sehingga ia tidak bisa bekerja seperti sebelumnya.


Kembali kepada Kana, kini lelaki itu tengah terbaring tak sadarkan diri di salah satu kamarnya yang dijadikan sebagai ruangan perawatan. Kaila tersenyum tipis pada suaminya yang seperti tertidur Pulas. Ia meraih tangan itu dan menggenggamnya. Mencium punggung tangan itu dan mengusapnya dengan kelembutan.


Sudah hampir satu jam wanita itu berada di kamar ini. Menunggu dan menunggu suaminya sadar. Meskipun harus ribuan hari pun, ia akan tetap menunggu waktu di mana Kana membuka matanya dan tersenyum kepadanya.


"Bangun yuk, sayang. Udah siang ini. Kamu nggak mau berangkat ke klinik?"


"Bangun yuk? Anak kita udah besar sayang. Mereka pasti pengen papanya sadar." Kaila tersenyum dan mengeratkan genggamannya. "Memangnya kamu nggak kangen sama mereka? Hmm? kamu nggak pengen liat mereka tunggu besar? Yuk, bangun yuk. Kita mulai kaya dulu lagi."


Kaila merebahkan kepalanya tepat di ranjang itu dan menetap suaminya dengan senyuman. "Apa Yang harus aku lakuin supaya kamu bangun?" Kaila mengusap rambut karena dengan penuh kasih sayang. "Aku nyanyiin ya, supaya kamu bangun? Aku bakal nyanyiin lagu kesukaan kamu. Lagu yang selalu kamu nyanyiin buat aku."


Kaila tertawa kecil dan mengecup pipi suaminya. Mengusapnya dengan lembut dan penuh kehangatan.


Kaila menghela napas panjang dan mulai menyayikan sebuah lagi untuk suaminya.


Kaila berdeham. "Lagu ini udah agak lama, jadiin maafin ya kalau aku salah nyebut. Koreksi juga ya?"


Kaila terkekeh dan mulai menyanyikan lagu tersebut.


"Aku mengerti


Perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri," lirih Kaila menyanyikan lagu 'Melukis Senja' tersebut.


"Kau t'lah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu," lirih Kaila sembari mengusap kening suaminya.


"Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa,," Kaila tertawa kecil namun air matanya menetes.


"Biar kulukis malam---" Napas Kaila tidak sampai, dadanya terasa sakit.


"Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia."


Kaila tersenyum dan memandang suaminya.


"Aku di sini


Walau letih, coba lagi, jangan berhenti


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri."


"Kau t'lah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak indah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu."


Kaila mengusap air matanya dan tersenyum.


"Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa,


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia, ha-ha


Ha-ah, ha-ha!"


Kaila tertawa dengan air mata yang semakin deras.


"Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita

__ADS_1


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia..."


Kaila menghela napasnya panjang. "Yeay!" teriaknya dengan bahagia.


Kaila menggeleng. "Bukan, Na. Ini bukan ketawa bahagia. Aku gak mungkin bahagia tanpa kamu."


Kaila memejamkan mata. Membiarkan air matanya kembali menetes, lalu memeluk suaminya dengan erat.


"Kasih tahu aku ya, Na, kalau kamu capek tidur terus. Kasih tahu aku kalau kamu bosen, kaya gini terus. Kasih tahu aku, kalau kamu lelah sama keadaan ini."


Kaila melepas pelukan itu dan tersenyum. "Sebentar lagi anak kita umur satu tahun, Na. Kayanya asik ya, Na, kalau kita rayain ulang tahun mereka. Kita tiup lilin bareng-bareng. Kita foto bareng. Aku gendong Kala, kamu gendong Naka."


Kaila tersenyum membayangkan hal itu. "Kayanya seru ya, Na. Kita bikin acara besar, kita undang orang-orang, kita buat syukuran sekalian rayain kesembuhan kamu."


Kaila menghela napas. Menahan dadanya yang terasa sesak dengan senyuman. "Bangun ya? Nanti kita bikin syukuran."


Siapapun, pasti akan merasa hancur jika berada di posisi Kaila saat ini. Wanita itu benar-benar rapuh. Jika boleh berteriak, Kaila akan teriak sekarang juga. Melepaskan semua beban yang ada.


Kaila kesepian. Ia benar-benar sendiri merawat kedua putrinya. Kehilangan Kana dalam hidupnya membuatnya semakin rapuh.


Ia ingin Kana bangun dan kembali, mengambalikan senyumannya dan mengisi kekosongan hidupnya saat ini.


"Harus berapa kali aku minta kamu bangun, Na? Harus sampai berapa kali?"


Kaila menatap laki-laki itu dengan tatapan nanar.


Kaila menghela napas dan menggeleng. "Gak! Aku gak boleh kaya gini. Aku tahu kamu gak suka 'kan lihat aku nangis? Kamu gak suka 'kan lihat aku sedih? Kalau gitu bangun, Na. Harus berapa lama aku memohon sama kamu buat kembali."


'Hiks!'


Kaila mendongak ke atas dan mengusap air matanya.


"Lihat, aku udah gak nangis lagi sekarang. Aku senyum sekarang," ucap Kaila dengan senyum yang di paksakan.


"Aku nungguin kamu, Na. Aku disini nungguin kamu untuk sadar. Nungguin kamu buat kembali sama aku dan anak-anak kita."


Kaila tersenyum tipis dan meraih ponselnya. "Lihat, Na, anak kita udah besar." Kaila menunjukkan sebuah foto pada suaminya. "Lihat, anak kita tumbuh besar seperti yang kamu mau. Lihat, Kala, dia cantik kaya aku. Lihat, Naka, dia ganteng kaya kamu, Na."


Dada Kaila terasa sesak mengatakan hal itu. Air matanya kembali menetes. "Aku gak mau nangis, Na. Aku gak nangis. Tapi air mataku jatuh sendiri. Aku gak bisa nahannya. Aku kangen kamu, Na."


Kaila meletakkan ponselnya dan memeluk Kana kembali.


"Pelukan kamu hangat, Na. Tapi kamu udah lama gak meluk aku. Kamu gak mau meluk aku lagi, Na?"


Kaila menghela napasnya.


"Kita tidur bareng, lihat langit-langit kamar sambil cerita. Kamu cerita apapun sambil mainin rambut aku. Kamu gak kangen moment itu, Na? Hmm?" Kaila menjatuhkan air matanya.


Kaila terkekeh.


"Aku cengeng ya, Na. Udah cengen, pemalu, suka sama kamu, lagi." Kaila terkekeh. "Lucu ya, Na. Seorang Kaila yang gak berani menatap mata orang secara langsung, bisa suka sama most wanted sekolah. Pujaan semua orang lagi." Kaila tersenyum tipis dan mengusap rambut Kana.


Kaila menghela napas. "Kamu pasti capek ya, Na. Denger aku ngeluh terus."


Kaila mencoba tersenyum. "Na, kamu tahu gak? Klinik Bintang sekarang makin sukses. Aji sama Kak Keiza pindak ke klinik kamu sekarang. Tapi Kak Keiza lagi cuti melahirkan sekarang. Jadi, yang jaga klinik Aji, Kevin, sama Wilka. Orang-orang baik yang selalu sayang sama kita."


"Kamu pasti bahagia ya, Na. Punya sahabat kaya mereka. Yang sayang sama kamu, peduli sama kamu, kaya aku ke kamu," ucap Kaila mengusap rambut Kana.


"Lihat, Na. Rambut kamu udah panjang sekarang." Kaila terkekeh. "Tapi kamu tetep ganteng kok. Rasa cinta aku gak berubah ke kamu. Kamu tetep Kana yang selalu bikin aku jatuh cinta setiap hari."


Kaila menghela napas. "Nanti kalau kamu bangun, kita ke salon ya? Kita potong rambut. Atau— kamu mau aku aja yang motong rambut kamu? Kalau kamu maunya aku, aku bakal belajar kok. Aku bakal belajar jadi tukang salon."


Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala.


"Eumm— Na, aku mau cerita lagi sama kamu. Soal Galeri aku, Na." Kaila tersenyum. "Galeriku aku tutup sampai kamu sembuh, Na. Banyak yang dateng ke aku dan mohon supaya dibikinin gaun sama aku. Tapi aku minta maaf ke dia, karena aku bakal prioritasin buat ngerawat kamu dan anak-anak."


"Gak papa 'kan, Na?"


Kaila tersenyum. "Kalau kamu gak suka sama keputusan aku, bilang ya, Na. Nanti aku bakal cari cara lain. Yang penting kamu bahagia."


"Karena— kebahagiaan kamu yang paling utama buat aku, Na."


Kaila tersenyum. "Aku gak tahu Na, harus ngomong apa lagi. Aku sayang banget sama kamu, Na. Aku pengen kamu bangun dan peluk aku."


'Tok! Tok! Tok!'


Suara ketukan pintu itu membuat Kaila menoleh.


"Iya, masuk!" teriaknya.


'Ceklek!'


Pintu terbuka dan menampilkan Ayu yang membawa Kala dan Naka.


Ayu— perawat yang berjaga pada klinik Kana memang berada disini. Ia diminta Kaila untuk menjadi perawat bagi kedua bayinya. Untunglah Ayu mau.


Ayu tersenyum. "Bu, Kala sama Naka nangis, kayanya dia pengen lihat Papanya."


Kaila tersenyum dan meraih Naka. "Aku gendong Naka dulu ya?"


Ayu mengangguk.


Kaila tersenyum dan mendekatkan Naka pada Ayahnya.


"Sayang, ini Papa. Bilang sama Papa, Pa, bangun, Pa. Ayo mainan, gitu." Kaila tersenyum dan mencium pipi Naka.


Naka yang awalnya menangis. Kini diam. Anak itu menatap Kana dengan tatapan yang dalam.


Kaila tersenyum. "Panggil Papa sayang, suruh Papa bangun. Ayo Pa, bangun. Naka udah besar, Pa."


Ayu— perawat itu, terlihat menitihkan air matanya. Ia tak tega dengan Kaila.


Selama ini, Kaila selalu sabar merawat Kana.


"Dokter Kana beruntung punya ibu," lirih Ayu dengan air mata yang menetes.


Kaila menoleh dan tersenyum. "Saya yang beruntung punya dia."


Ayu menangis dan menghampiri Kaila. "Ibu wanita kuat. Ibu bener-bener kuat. Ibu hebat. Ibu istri yang hebat."

__ADS_1


Kaila tertawa, namun air matanya menetes. "Gak ada yang namanya istri hebat. Ini kewajiban saya sebagai istri Kana."


Ayu tersenyum. Dadanya ikut terasa sesak. Ia sudah mengenal keluarga itu cukup lama. Apalagi Kana, ia sudah mengenal Kana sejak lama. Bahkan sebelum klinik Bintang di bentuk. Ayu-lah orang pertama yang bekerja pada klinik itu.


Ayu bangga bisa mengenal kedua orang hebat di depannya.


Menurutnya, Kana beruntung memiliki Kaila, begitupun sebaliknya, Kaila beruntung memiliki Kana.


Kaila tersenyum dan menyerahkan kembali Naka pada Ayu, lalu beralih meraih Kala.


"Yuk, kita panggil Papa, ya?" ucap Kaila pada putrinya.


"Papa, bangun, Papa. Ini Kala. Kala cantik seperti Mama, Pa. Papa tahu gak? Kala sayang banget sama Papa. Papa bangun yuk. Papa temenin Kala main. Kita main sama-sama, sama Mama, sama Naka juga," ucap Kaila seolah itu itu suara Kala.


Kaila terkekeh dan menatap Kala. "Kala pinter udah bangunin Papa. Kala berdoa ya, semoga Papa cepet bangun, terus temenin Kala lagi. Ya sayang?"


Air mata Kaila menetes.


Wanita itu sudah tak kuat lagi. Ia menyerahkan Kala kepada Ayu dan memeluk Kana dengan erat.


"Bangun. Ayo bangun. Buktiin sama anak kita, kalau Papanya hebat!"


Air mata Kaila menetes.


Ayu yang berada disitu semakin tak tega. Ia membawa Naka dan Kala pergi dari ruangan itu dan membiarkan Kaila menangis sejadi-jadinya.


Setelah Naka dan Kala sudah tak ada disini, Kaila pun menangis.


"Kenapa Tuhan jahat sama kita? Kenapa Tuhan tega sama kita? Aku gak bisa, Na. Aku gak bisa lihat kamu kaya gini. Aku pengen kamu bangun, Na. Aku pengen lihat kamu sehat lagi."


-o0o-


#Song of this part


a/n :


(Maaf, tapi lagu ini sangat mewakili perasaan Kaila saat ini. Tolong putar lagu ini ya? Kali ini aja.)


'Selamat Jalan Kekasih'


Berpisah denganmu


Telah membuatku semakin mengerti


Betapa indah saat bersama


Yang masih selalu kukenang


Selamat jalan kekasih


Kaulah cinta dalam hidupku


Aku kehilanganmu


Untuk selama-lamanya


Cukup sekali


Kau lukai hati ini


Tak ingin terulang kembali


Kau tinggalkanku sendiri


Selamat jalan kekasih


Kaulah cinta dalam hidupku


Aku kehilanganmu


Untuk selama-lamanya


Aku cinta padamu


Aku masih menyayangimu


Walau hanya di hati saja


Untuk selama-lamanya


Selamat jalan kekasih


Kaulah cinta dalam hidupku


Aku kehilanganmu


Untuk selama-lamanya


Aku cinta padamu


Aku masih menyayangimu


Walau hanya di hati saja


Untuk selama-lamanya


Aku kehilanganmu


Untuk selama-lamanya


(Aaaa, mewek L )


-o0o-


"Bangun yuk, sayang. Sampai kapan kamu kamu mau kaya gini. Bangun yuk?"


Kaila tersenyum, meraih tangan Kana dan mengecup punggung tangan lelaki itu.


"Kalau aku dikasih satu harapan yang bisa terkabul, aku bakal minta supaya kamu bangun, Na. Aku gak bakal minta yang lain. Aku Cuma minta kamu bangun."


Kaila tersenyum. "Kamu capek ya? Denger aku ngomong mulu. Maafin ya, Na? Maafin kalau aku bawel. Tapi aku pengen kamu sadar, Na."


Kaila mengeratkan genggamannya. "Jangan bikin aku nunggu terlalu lama ya, Na. Aku pengen kamu cepat bangun dan kita bahagia lagi kaya dulu. Kamu pengen 'kan?"


"Inget Na, empat bulan lagi usia Naka dan Kala tepat satu tahun. Kamu kamu bangun ya nanti kita rayakan ulang tahun mereka. Oke?"


Kaila tersenyum. "Aku bakal menunggu kamu kapanpun gitu. Aku bakal selalu ada di sini, disamping kamu."


Kaila kembali tersenyum Dan mengusap puncak kepala suaminya. Mencium keningnya dan memeluknya dengan erat.


"Cepet bangun sayang, I love you more than you know."

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2