
Extra Part 2
"Kala!" teriak Naka yang keluar dari kelas dengan membawa tas ranselnya.
Anak laki-laki itu berjalan sedikit berlari untuk mengimbangi adiknya yang sudah berjalan lebih dulu di sana.
"Naka! Jangan lari-lari!" teriak guru mereka yang melihat anak itu berlari.
"Iya, Bu!" jawab Naka, namun tetap dengan lariannya.
Kala tertawa melihat kakaknya berlari menghampiri.
Sesampainya Naka di depan Kala, anak laki-laki itu mencoba mengatur napasnya. "'Kan Mama sama Papa udah bilang, kamu tungguin aku."
Kala berdecak dan melipat kedua lengannya. "Naka kelamaan sih. 'Kan aku udah bilang cepetan, aku udah laper. Tapi kamunya lama banget masukin buku doang."
Naka menghela napasnya dan memutar bola matanya. "Salah lagi, salah lagi."
"'Kan memang iya. Inget kata Papa, waktu itu nyawa. Kalau kita lambat, nanti pasien kita meninggal."
"'Kan itu karena Papa dokter. Memang kamu dokter? Bukan 'kan?" ucap Naka tak mau kalah.
"Tapi 'kan memang kita gak boleh jadi orang yang lambat."
"Tapi—"
"Ck! Naka? Kala?" teriak seorang wanita yang menghampiri membuat kedua anak itu menoleh.
"Mama!"
"Mama!"
Kaila terkekeh dan memeluk keduanya. Ia tersenyum, melepas pelukan itu dan menatap kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. "Kok kalian berantem sih? Hmm?"
"Ini Ma, Naka lambat banget. 'Kan kata Papa kita gak boleh jadi orang yang lambat, nanti orang bisa meninggal. Iya 'kan, Ma?" ucap Kala dengan polosnya.
Kaila terkekeh dan mengangguk. "Memang bener. Tapi kamu gak boleh ninggalin kakak kamu, sayang. Kamu tungguin dia."
Kala mengerucutkan bibirnya. "Orang Naka lama banget. Dia masukin buku satu aja kaya masukin buku satu lusin, Ma."
Kaila tertawa mendengar ucapan Kala.
Anak itu memang lucu dan polos.
"Ya sudah, ya sudah. Mulai besok, Naka jangan lambat ya masukin bukunya? Terus buat Kala, Kala mulai besok harus nungguin Naka. Gak boleh di tinggal. Oke?" Kaila menaikkan kedua alisnya.
Naka dan Kala mengangguk.
Kaila tersenyum. "Yaudah, sekarang Kala peluk Naka, minta maaf."
Kala mengangguk. Menoleh pada Naka dan memeluknya. "Maafin."
Naka tak menjawab. Anak laki-laki itu masih dengan raut wajah datarnya.
"Tuh, Ma! Naka gak mau maafin Kala."
Naka melebarkan mata. "Maapin kok."
"Enggak!"
Kaila tersenyum dan terkekeh. "Jadi mau berantem disini apa mau pulang?"
"Pulang!" seru keduanya.
Kaila terkekeh dan meraih tangan keduanya dan membawanya menuju mobil.
"Papa di klinik ya, Ma?" ucap Kala saat ketiganya akan sampai di mobil.
Kaila menggeleng. "Enggak, sayang. Hari ini Papa libur. Jadi kita berempat mau ke galeri Mama."
"Galeri Mama?" ucap Naka.
Kaila mengangguk.
__ADS_1
"Mau ngapain, Ma?" ucap Kala bingung.
Kaila terkekeh. "Besok 'kan ulang tahun Serra. Jadi Mama baru aja bikin baju buat kalian berdua. Kita coba dulu, pas atau enggak. Kalau enggak 'kan, bisa langsung Mama ubah."
Kala dan Naka mengangguk.
"Serra ulang tahunnya besok, Ma?" ucap Naka.
Kaila mengangguk dengan senyuman.
Serra adalah anak Siska dan Bima yang akan merayakan ulang tahunnya besok ke Satu tahun.
"Terus kita kasih kado apa, Ma?" ucap Kala penasaran.
Kaila tampak berpikir. "Mama belum cari kado, sih. Gimana kalau dari Galeri, kita langsung cari buat Serra?"
Naka dan Kala melebarkan mata dan mengangguk setuju. "Asikkk!"
Kaila terkekeh dan mencium pipi kedua anaknya.
"Yaudah yuk, kita samperin Papa di mobil."
-o0o-
"Ini gimana, sayang? Bagus gak desainnya?" ucap Siska menujukkan desain yang telah Siska atur untuk perayaan ulang tahun besok.
Bima mengikuti langkah Siska dan mengitari pandangannya. "Keren, sayang! Kamu beneran desain sendiri?"
Siska menyengir kuda. "Di bantu Kiara, tadi."
"Terus sekarang Kiaranya dimana?" ucap Bima.
"Pulang. Katanya mau ambil dress buat acara besok," ucap Siska.
Bima membulatkan bibirnya.
Kiara memang tidak tinggal bersama Bima dan Siska. Gadis itu lebih memilih untuk tinggal di rumah pemberian Hendry dengan asisten rumahnya yang sudah ia anggap seperti Ibu sendiri— yang melayani Kiara dengan penuh kasih sayang.
Bima menghela napas dan menggeleng. "Mau dibujuk seperti apapun, gak bakal mempan, yang. Dia pengen Menuhin keinginan Almarhum Papa Hendry buat tinggal di rumah itu."
Siska tampak berpikir, dan akhirnya mengangguk. "Iya, kamu bener."
Bima mengangguk dan menoleh pada putrinya yang tengah tertidur di gendongan Siska.
Bima terkekeh. "Sini, aku aja yang bawa masuk ke kamar."
Siska mengangguk dan menyerahkan Serra kepada suaminya.
Melihat Bima menggendong putrinya, membuat Siska bahagia melihatnya.
"Kenapa, sih? Kok kayanya bahagia banget," ucap Bima dengan senyuman.
Siska tersenyum dan mengangguk. "Aku seneng banget lihat kamu gendong Serra kaya gini. Kebahagiaanku meningkat berkali lipat."
Bima terkekeh dan membawa Serra ke atas.
-o0o-
"Non, makan dulu, udah bibi siapin," ucap asisten rumah Kiara yang bernama Ema.
Kiara tersenyum dan mengangguk. "Tapi temenin ya, Bi?"
Ema mengangguk dengan senyuman. "Yaudah hayuk!"
Kiara terkekeh dan mengikuti langkah Ema menuju dapur.
"Bibi masak apa?"
"Bibi masak ayam suwir kesukaan Non Kiara."
"Ayam suwir?" ucap Kiara dengan melebarkan mata.
Ema mengangguk.
__ADS_1
"Mantap! Huhu jadi laper, Bi." Kiara memegang perutnya membuat Ema terkekeh.
Sesampainya di dapur, Ema langsung mengambilkan nasi ke dalam piring Kiara beserta ayam suwir kesukaan gadis itu.
Melihat Kiara tersenyum lebar, membuat Ema ikut terkekeh. "Kok Bibi lihat-lihat, kayanya Non Kiara lagi happy banget ya?"
"Karena Bibi masak ayam suwir," ucap Kiara dengan cengiran kuda.
Ema mengerucutkan bibirnya. "Ah masa? Orang Bibi ngerasa dari tadi pagi Non Kiara happy gini."
Kiara terkekeh malu.
"Tuh 'kan, Non Kiara senyum-senyum," ucap Ema membuat Kiara tertawa.
"Ih, Bibi mah," ucap Kiara dengan malu-malu.
"Ada apa sih, Non? Bibi 'kan jadi penasaran atuh."
Kiara tertawa dan mengangguk. "Oke, oke, Kiara kasih tahu."
Ema mengangguk dan mendekat kepada Kiara.
"Aldo mau dateng ke acara ulang tahun Serra!" ucap Kiara dengan cengiran kuda.
"Aldo pacar Non yang kasep itu?" ucap Ema.
Kiara mengangguk dengan senyuman. "Aldo tuh malu Bi kalau di ajak ketemu Kak Bima. Makanya Kiara seneng banget pas tahu Aldo mau dateng ke ulang tahun Serra, besok."
Ema tersenyum. "Bibi teh ikut seneng dengernya."
Kiara menyengir kuda lalu melahap makanannya tersebut.
"Tapi dia malu gak ya ketemu Kak Aji, besok? 'Kan di acara itu ada Kak Aji juga," ucap Kiara dengan kekehan.
-o0o-
"Mama! Bagus!" seru Kala setelah mengenakan gaun buatan ibunya.
Kaila tersenyum dan mengangguk. "Kamu suka?"
"Iya!"
"Pas 'kan? Gak sempit atau kelonggaran?" ucap Kaila memastikan.
Kala menggeleng dengan senyuman. "Pas banget!"
"Oke!" Kaila mengacungkan ibu jarinya lalu menoleh pada Naka. "Naka gimana? Pas gak?"
Raut wajah Naka terlihat sedih.
Kaila mengerutkan dahinya dan mendekat pada anak laki-lakinya itu. "Naka kenapa? Kok gak happy?"
"Naka sedih, masa Kala bajunya kembar sama Mama, Naka enggak."
Mendengar hal itu, membuat Kaila dan Kana tertawa terbahak-bahak.
"Naka, Naka," ucap Kana menggelengkan kepala.
Kaila terkekeh dan menatap wajah anak itu. "Sayang, kamu 'kan cowok. Jadi kamu bajunya persis kaya punya Papa. Pakai jas. Kalau Kala, Kala pakai gaun kaya Mama. Masa' kamu mau pakai gaun juga kaya Kala 'kan lucu."
Naka mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku masih anak Mama 'kan?"
Kaila tertawa, lalu mengacak lembut rambut Naka. "Ya tentu lah. 'Kan ini Cuma masalah baju sayang. Ya kamu tetep anak Mama dong!"
Naka menghela napas dan mengangguk. "Yaudah deh, Naka gak papa pakai ini."
Kaila terkekeh dan mengangguk.
Sedangkan Kana, lelaki itu tengah menahan tawanya agar tidak melukai hati anaknya tersebut.
"Ada-ada aja," ucap Kana menggelengkan kepala.
-o0o-
__ADS_1