KANA (The Series)

KANA (The Series)
Extra Moment


__ADS_3

Pagi ini, hujan turun dengan derasnya. Suara rintik-rintik hujan terdengar dari kamar sepasang suami istri itu.


Kana membuka matanya dan tersenyum melihat wanita disampingnya tengah terlelap dengan nyenyak.


Lelaki itu meraih selimut yang terlepas dan memasangkannya kembali ke tubuh istrinya, lalu memeluknya dengan penuh kehangatan.


Merasa ada sesuatu yang menghangatkan tubuhnya, membuat wanita itu membuka mata. Ia tersenyum saat matanya bertemu dengan mata suaminya.


Tatapan hangat dan penuh kasing sayang, terlihat jelas dari kedua bola mata Kana.


Kana mengeratkan pelukannya membuat Kaila terkekeh.


"Jangan kemana-mana, disini aja," lirih Kana dengan suara khasnya.


Kaila tersenyum dan mengangguk.


Namun, wanita itu tiba-tiba teringat sesuatu. "Aku belum masak buat anak-anak."


Kana tersenyum dan mengusap wajah istrinya. "Anak-anak 'kan lagi dirumah Mama Alina."


Kaila memukul dahinya pelan. "Ah, iya! Aku lupa mereka tidur ditempat Mama."


Kana mengangguk dan kembali menatap istrinya. "Kamu kayanya capek banget. Banyak kerjaan ya kemarin?" tanya Kana yang sadar jika kemarin istrinya pulang cukup larut malam.


Dan seperti biasa, hal itu di karenakan banyaknya klien Kaila yang meminta untuk dibuatkan gaun pernikahan.


Kaila mengangguk. "Banyak banget klien yang dateng buat ambil gaunnya kemarin. Terus ada juga yang minta diubah karena mertuanya gak suka sama gaun itu."


Kana mengerutkan dahinya. "Gak suka?"


Kaila mengangguk. "Padahal klien aku minta model yang seperti itu. Tapi waktu mertuanya lihat, katanya mertuanya gak suka. Dan bilang, kalau gaun itu terlalu terbuka banget. Padahal menurutku itu paling biasa sih. Tapi ya, namanya orangtua kadang memang gak sama seleranya sama anak muda. Jadi ya, mau gak mau aku harus rombak lagi dan mengubah sesuai keinginan mertuanya."


Kana tersenyum dan mengusap pucuk kepala Kaila. "Capek banget ya, pasti?"


Kaila mengangguk dan mengerucutkan bibirnya. "Tapi mau gimana lagi, udah kerjaan aku."


Kana terkekeh dan mengangguk. "Oh ya, mumpung sekarang hari minggu. Gimana kalau kita istirahat aja dirumah."


"Kamu gak ke klinik hari ini?"


Kana menganggeleng dengan senyuman. "Aku pengen ngabisin waktu seharian sama kamu tanpa diganggu anak-anak," ucap Kana seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Kaila.


Kaila terkekeh saat lelaki itu mendekatinya.


"Kapan lagi coba kita berduaan kaya gini tanpa anak-anak?"


Kaila mengerutkan dahinya. "Jangan bilang, kamu kemarin sengaja anterin anak-anak ke rumah Mama biar kita berduaan?"


Kana menyengir kuda.


Kaila berdecak. "Astaga sayang, kalau anak-anak malah gangguin Mama sama Papa gimana? Kasian dong. Tahu sendiri Naka sama Kala anaknya gak bisa diem."


Kana tertawa. "Biarin ah. Lagipula Mama sama Papa selama ini selalu kesepian dirumah. Ya, hitung-hitung kedatengan Naka sama Kala jadi hiburan buat mereka."


Kaila berdecak dan menggelengkan kepala mendengar jawaban suaminya.


Kana mengerucutkan bibirnya. "Lagian aku juga 'kan pengen sekali-kali berduaan sama kamu tanpa ada anak-anak," ucap Kana memeluk tubuh istrinya.


Kaila mengangguk. "Iya, iya, sayang."


Kana menyengir kuda dan mengecup bibir istrinya.


Kaila terkekeh, wanita itu menyentuh pipi suaminya dan memandangnya dengan hangat.


"Mau bikin adik gak? Buat Naka sama Kala?" ucap Kana membuat pipi Kaila memerah padam.


Kaila terkekeh malu dan akhirnya mengangguk.


-o0o-


"Kala! Kala!" panggil Naka pada Kala.


Kala yang tengah asik bermain pun menoleh pada Naka. "Apa?"



"Nanti malam, kita tidur tempat nenek lagi aja yuk?" ucap Naka.



"Tapi 'kan besok kita sekolah. Terus seragamnya juga ada dirumah."



Naka memukul dahinya sendiri dengan pelan. "Ah, iya ya! Aku lupa. Gimana kalau minta anterin Papa buat anterin seragam kita?"


__ADS_1


Kala menatap Naka bingung. "Kamu kenapa sih? Kok kayanya males banget pulang ke rumah?"



Naka menghela napas dan mendekat. "Papa bilang, Papa bakal kasih adik baru buat kita!"



Kala melebarkan mata. "Beneran? Gak bohong lagi? Yang ini beneran?"



Naka mengangguk. "Beneran! Papa udah janji. Tapi syaratnya kita harus dirumah Nenek untuk beberapa hari."



Kala mengerutkan dahinya. "Jadi kita gak boleh pulang?"



Naka mengangguk. "Gak papa 'kan?"



Kala sedikit menunduk. "Gak papa sih. Tapi Kala takut," lirihnya.



Naka mendekat dan mengangkat wajah kembarannya itu. "Takut kenapa? 'Kan waktu itu kamu bilang, kamu pengen punya adik kembar."



Kala mengangguk. "Iya sih. Tapi aku takut, aku takut Mama sama Papa gak sayang lagi sama kita. Buktinya kita disuruh tinggal disini sama Mama Papa. Nanti kalau adik kita lahir, terus kita malah diusir gimana?"



Naka terdiam. "Kamu bener, Kala."



"Tuh 'kan!" Kala mengerucutkan bibirnya. Namun, tiba\-tiba anak itu malah menangis kencang. "Hwaaaa!"



Naka melebarkan mata dan menutup mulut Kala. "Jangan nangis," ucap Naka yang malah ikut menangis juga. "Hwaaa!"


-o0o-


Matanya menoleh kesana kemari.



"Kemana Kana?" ucapnya lalu berjalan keluar kamar.



"Sayang!" teriak Kaila yang tak melihat suaminya tersebut.



"Sayang!" teriaknya sekali lagi.



Wanita itu pun berjalan menuju dapur. Ia tersenyum saat melihat suaminya tengah berkutik di depan kompor.



"Lagi ngapain?" ucap Kaila yang memeluk suaminya dari belakang.



Kana terkekeh dan membalikkan tubuhnya. "Aku lagi bikinin pudding buat kamu."



Kaila terkekeh mendengar suaminya tengah membuatkan pudding. "Memang bisa?"



Kana mengangguk. "Bisa dong! 'Kan Cuma nuangin bahannya, terus kasih air, jadi deh!" ucap Kana yang ternyata membuat pudding instan yang ia temukan di kulkas.



Kaila tertawa dan menggelengkan kepala.


__ADS_1


"Tunggu sebentar ya, sebentar lagi matang kok. Kamu duduk aja di depan, nonton tv. Biar aku siapin ini."



Kaila mengangguk dan berjalan menuju ruang tengah dan menghidupkan televisi. Tak lama, Kana pun keluar dari dapur. Lelaki itu membawa mangkuk ke hadapan istrinya.



"Berhubung puddingnya masih aku dinginin di kulkas, jadi aku keluarin salad buahnya dulu aja."



Kaila mengerutkan dahinya. "Kamu beli salad buah kapan?"



"Tadi malem, waktu anter anak\-anak ke rumah Mama."



Kaila membulatkan bibirnya dan meraih sendok untuk memakan salad buah itu.



Keduanya terlihat asik menonton tv bersama dengan ditemani salad buah.



"Kamu inget gak sih, dulu kamu pernah bikin salad buah untuk aku, Elsa sama Bima."



Kaila tampak mengingat\-ingat. "Oh! Iya! Aku inget. Waktu kita masih SMA ya 'kan?"



Kana mengangguk. "Bener! Waktu itu—"



'Tok! Tok! Tok!'



Sepasang suami istri itu pun menoleh ke arah yang sama.



'Ceklek!'



"Mama! Papa!" teriak kedua anaknya.



Naka dan Kala berlari menghampiri orangtuanya tersebut.



Kana dan Kaila pun bangkit dan menghampiri.



"Ma, ada apa? Kenapa Naka sama Kala nangis?" tanya Kana pada Alina yang mengantarkan kedua anaknya tersebut.



Alina menggelengkan kepala dan menghela napas panjang. "Naka sama Kala minta pulang. Katanya dia gak mau punya adik."


-o0o-


a/n :


Tarraaa!


Hehe akhirnya aku update extra moment juga ^^


Sebenarnya aku bikin extra moment ini sambil senyum-senyum dan ngetawain Naka dan Kala. Bisa-bisanya dia pulang dan gak jadi minta adik.


Hadehhhh


Lucu banget mereka.


Bye the way, gimana temen-temen?


Butuh asupan extra moment lagi atau cukup sampai disini?

__ADS_1


Komen dibawah ya!


Sampai jumpa ^^


__ADS_2