KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 28


__ADS_3

Part 28


Seluruh rangkaian acara hari ini baik dari kelompok 1 sampai dengan kelompok 5 berjalan dengan lancar. Mereka semua bersyukur, karena dapat merasakan terjun langsung ke lapangan dan memberikan sebuah penyuluhan. 


Meskipun hanya sebentar, mereka menikmatinya.


Waktu telah menunjukkan jam 4 sore, Kana, Kaila dan teman-temannya yang lain terlihat berjalan menunju parkiran untuk mengambil kendaraan mereka.


“Jadi gak?” tanya Kana pada gadis yang berjalan di belakangnya.


Kaila menaikkan kedua alisnya. “Kemana?”


“Berburu kuliner,” jawab Kana seraya menyengir kuda.


Kaila tersenyum. “Ayo! Sekarang?”


Kana mengangguk. “Kevin sama Wilka kemana tapi?”


“Di sini woy!” teriak Wilka yang tengah membantu Kevin mengeluarkan motor.


Kana tersenyum. “Tumben bawa motor, Vin?” tanyanya.


Kevin mengangguk. “Capek naik angkot mulu!” Kevin tersenyum miring. “Padahal sih, supaya bisa berduaan sama Wilka,” lanjutnya dalam hati.


“Ini jadi ‘kan mau berburu kuliner?” tanya Wilka.


Kana mengangguk. “Jadilah! Kasian Kaila, udah gak tahan pengen makan dia,” ucapnya yang langsung mendapat pukulan dari kekasihnya.


Wilka dan Kevin tertawa. “Lanjutin, Kai. Gak papa kok, gak papa.”


Kaila melipat kedua lengannya. “Abisnya nih orang kalau ngomong sembarangan sih.”


Kana tersenyum manis dan menatap kekasihnya. “Maafin ya? Maafin?”


Kaila memutar bola matanya dan mengangguk. Meraih helm dari motor Kana dan mengenakannya.


“Yuk!” seru Kevin yang sudah siap di motor bersama dengan Wilka.


Kaila mengangguk dan langsung naik ke atas motor Kana.


Keempat sahabat itu pun mulai melaju dan meninggalkan area kampus.


Kana, Kaila, Kevin dan juga Wilka begitu menikmati perjalanan mereka kali ini. Dengan kedua motor yang saling mengimbangi, melewati jalanan sore di Kota Istimewa tersebut.


“Makan apa dulu ya yang enak?” tanya Kevin pada gadis di belakangnya.


“Gudeg apa sih, Vin. Kayanya enak makan gudeg jam-jam segini,” ujar Wilka.


“Mereka mau enggak?” tanya Kevin sembari fokus dengan lajunya.


“Makan gudeg yuk!” seru Wilka pada Kana dan Kaila.


Kaila mengangguk. “Yuk!” jawab Kaila membuat senyum Wilka merekah.


Kini keempatnya berhenti di sebuah rumah makan yang menyediakan menu gudeg.


Siapa yang tidak tahu dengan gudeg? 


Gudeg sendiri adalah makanan khas Daerah Istimewa Yogyakarta yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Rasanya yang cenderung manis membuat siapapun suka dengan makanan tersebut.


“Yeay!” seru Wilka seraya melepas helm-nya.


“Abis dari sini mau makan apa lagi?” tanya Kana pada ketiganya.


Kevin memutar bola matanya. “Belum juga masuk, Kan. Belum juga mencoba kenikmatan gudeg Mbah Rawo,” ucap Kevin membaca nama pemilik rumah makan tersebut.


Kana mendengus sebal. “Katanya berburu kuliner, jadi harus udah ada rencana dong mau kemana-kemana!”


Kaila terkekeh. “Iya, iya, abis ini kita pikirin. Yaudah yuk masuk!”


Ketiganya mengangguk dan berjalan memasuki rumah makan tersebut. Namun, sebelum ketiganya sampai di meja, tiba-tiba ponsel Kaila berbunyi.

__ADS_1


Gadis itu segera meraih ponselnya dan membuka layar kunci.


“Siapa?” tanya Kana.


“Kiara,” jawab Kaila lalu menggeser tombol berwarna hijau. “Halo Kiara?”


“Kak, Kakak dimana? Kakak cepet pulang,” ucap Kiara di seberang sana dengan suara tangis.


Kaila yang mendengarkan adiknya menangis pun mengerutkan dahinya. “Kamu kenapa? Kamu kenapa nangis?” 


“Ma—ma, Kak. Mama,” ucap Kiara dengan suara tangis yang semakin menjadi.


“Mama kenapa, Dek?” tanya Kaila panik.


“Mama pingsan, Kak. Sekarang Mama ada di rumah sakit. Kakak cepet kesini ya,” ucap Kiara.


Kaila mengangguk refleks. “Iya—iya, Kakak kakak kesana sekarang. Kamu dirumah sakit mana?”


“Gak tau, Kak. Ini rumah sakitnya gak jauh dari sekolah Kiara,” jawab gadis kecil itu.


Kaila tampak mengingat. “Ah, iya! Kakak tahu. Yaudah, kamu tunggu disana ya. Jangan kemana-mana. Jagain Mama. Kakak bentar lagi sampai sana,” ucap Kaila lalu menutup sambungannya.


“Kenapa?” tanya Kana penasaran. Begitupun dengan Kevin dan juga Wilka.


“Mama pingsan. Dan sekarang di bawa ke rumah sakit,” ucap Kaila.


“Siapa yang bawa ke rumah sakit, Kai?” tanya Kevin.


“Ih, Kevin! Gak penting siapa yang bawa,” ucap Wilka kesal lalu menoleh pada Kaila. “Ayo Kai, mending sekarang kita ke rumah sakit!”


-o0o-


Kaila berlari memasuki area rumah sakit dengan diikuti oleh Kana, Wilka dan juga Kevin di belakang. Ketiganya begitu panik. Setelah mendapat kabar dari Kiara. Ketiganya langsung bergegas.


Kaila berhenti pada sebuah ruangan. Di sana ia melihat Kiara tengah menangis sendiri.   


Kaila segera menghampiri adiknya dan memeluknya.


“Iya, sayang. Kamu yang kuat ya? Mama pasti baik-baik aja kok.” Kaila melepas pelukannya dan mengusap air mata adiknya tersebut. “Sekarang kamu cerita sama kakak, apa yang sebenarnya terjadi?”


Kiara menghela napas panjang, lalu menatap empat orang yang kini berada di depannya. “Jadi tadi Mama abis jemput Kiara sekolah. Selama di mobil, Mama bilang pusing Kak. Tapi Kiara gak tahu harus gimana. Terus waktu sampai rumah dan turun dari mobil, Mama langsung jatuh pingsan.”


“Terus siapa yang bawa kesini, Dek?” tanya Wilka penasaran.


Kiara tak menjawab. Ia mengitari pandangannya mencari sesuatu.


“Kamu cari siapa?” tanya Kana kali ini.


Kiara menggigit bibir bawahnya. “Tadi kakak cantik yang bawa Mama kesini.”


“Kakak cantik?” tanya Kaila.


Kiara mengangguk. “Kakak itu tiba-tiba muncul saat Mama pingsan, dan langsung bawa Mama kesini.”


Wilka tampak berpikir. “Kira-kira kakak itu jahat gak, Dek?” tanyanya pada Kiara.


Kiara menggeleng. “Enggak, Kak. Kakak itu malah baik banget. Dia yang nenangin Kiara waktu Mama pingsan tadi.”


“Terus kakak cantik itu dimana sekarang?” tanya Kevin pada gadis kecil itu.


Kiara kembali mengitari pandangannya. Namun sekian detiknya ia menggeleng. “Kiara gak tahu dia dimana sekarang.”


Kaila tampak berpikir. “Siapa ya?”


“Mungkin tetangga kita yang gak sengaja lewat, Kai,” ucap Wilka.


Kaila menoleh. “Bisa jadi juga sih.”


‘Ceklek!’ 


Pintu terbuka dan menampilkan Nabila yang berjalan mendekat.

__ADS_1


“Mama!” Kaila dan Kiara berlari memeluk Mamanya.


“Mama, Mama kenapa bisa sampai pingsan?” tanya Kaila dengan paniknya.


Nabila tersenyum. Wanita itu terlihat sangat pucat. “Mama gak papa kok. Mama cuma kecapean aja.”


Kaila menatap sedih ibunya. “Mama kalau ada apa-apa, cerita ya sama kita berdua.”


Nabila tersenyum dan mengangguk. “Iya, sayang.” Wanita itu mengusap lembut rambut Kaila lalu menoleh pada tiga orang yang kini menatapnya dengan senyuman.


“Halo, Ma!” ucap Kana dengan senyuman.


Nabila tersenyum. “Makasih ya udah nemenin Kaila kesini.”


“Iya, Ma. Sama-sama.”


Nabila terkekeh lalu beralih pada Wilka dan Kevin. “Kalian juga, makasih ya udah nemenin Kaila.”


“Sama-sama, Tan,” jawab Wilka dan Kevin.


Semua terlihat senang melihat keadaan Nabila sudah baik-baik saja.


“Jadi Mama udah boleh pulang sekarang?” tanya Kaila.


Nabila kembali mengangguk. “Boleh dong!”


Kaila tersenyum lega. “Yaudah, kalau gitu, urus administrasi dulu ya?”


“Ayo aku temenin Kai,” ucap Wilka. 


Kedua gadis itu pun berjalan menuju bagian administrasi. Sedangkan Kana dan Kevin, kedua laki-laki itu memilih menemani Nabila dan juga Kiara.


Kaila dan Wilka berhenti pada sebuah ruangan administrasi. Gadis itu mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. 


“Permisi.”


“Iya, ada yang bisa di bantu?” 


“Saya ingin membayar biaya pasien atas nama Nabila,” ucap Kaila.


Wanita itu mengerutkan dahinya. “Nabila?”


Kaila mengangguk. “Nabila Putri Andini.”


Wanita itu membulatkan bibirnya. “Pasien atas nama Nabila Putri Andini sudah melunasi biaya administrasi.”


“Lunas?” Kaila melebarkan mata.


Wanita itu mengangguk.


“Siapa yang melunasinya?” tanya Wilka.


Wanita itu tersenyum. “Maaf tapi kami tidak bisa memberitahu.”


“Tolong, kami mohon,” lirih Kaila.


Wanita itu menggeleng. “Mohon maaf.”


“Oke kalau Embak gak mau ngasih tahu gak papa. Tapi kasih kami clue-nya. Dia cewek atau cowok?” tanya Wilka.


Wanita itu menggeleng. “Mohon maaf.”


Wilka mengangguk. “Iya, dimaafin. Yaudah, sekarang jawab, cewek apa cowok?”


Wanita itu menggeleng. “Sekali lagi mohon maaf.”


Wilka berdecak. “Ah, yaudah yuk, Kai.” Wilka menarik tangan Kaila untuk menjauh dari tempat itu.


Wilka terlihat mendumal karena kesal. Sedangkan Kaila, gadis itu nampak penasaran dan bingung. “Sebenarnya siapa yang sudah melunasi biaya administrasi itu?”


“Misterius.”

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2