
Part 31
"Makan apa ya yang enak?" ucap Kana menatap kekasihnya dari balik kaca spion motor miliknya.
"Aku pengen makan yang gak berat, tapi ngenyangin," ucap Kaila membuat Kana terkekeh.
Saat ini keduanya baru saja keluar dari kampus. Sebelum pulang ke rumah, keduanya ingin menyempatkan waktu untuk makan diluar terlebih dahulu.
"Makanan apa geh yang gak berat tapi ngenyangin?"
Kaila tampak berpikir. Ia mengitari pandangannya ke sekeliling mencari ide makanan apa yang ingin ia santap.
Namun, pandangan gadis itu terhenti pada sebuah keramaian. Ia mengerutkan dahinya saat menyadari itu adalah sebuah keributan.
"Na, itu ada yang berantem," ucap Kaila membuat Kana menghentikan laju dan mengikuti arah pandangan Kaila.
Disana, terlihat sebuah perkelahian. Kaila dan Kana tak bisa melihat dengan jelas siapa saja dalam perkelahian itu. Namun, satu hal yang membuat Kaila dan Kana mengerutkan dahinya.
"Itu motor Erkan," ucap Kaila dan di angguki oleh Kana.
Kana mensetandarkan motornya dan turun.
"Kamu mau kemana?" ucap Kaila melihat kekasihnya tengah melipat lengan baju.
Kana menoleh dan memegang tangan Kaila. "Kamu tunggu sini ya?"
"Tapi— nanti kamu kenapa-napa."
Kana menggeleng dengan senyuman, lalu berlari menuju kerumunan itu.
Suasana terlihat mencekam. Erkan yang tengah di hajar oleh beberapa orang itu terlihat tak berdaya. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Wajah sebelah kirinya begitu memar.
Kana tak bisa diam melihat itu. Ia berlari mendekat dan menghajar orang-orang yang sedari tadi memukuli Erkan.
'Bug!'
Suara pukulan Kana membuat Erkan menoleh.
Erkan melebarkan mata saat melihat Kana berada disini. Ia yang sempat terjatuh pun, bangkit dan kembali membalas pukulan yang telah di berikan kepadanya.
Perkelahian semakin sengit. Kana yang hendak membantu Erkan, malah diserang habis-habisan oleh orang-orang itu.
Pukulan tak berhenti. Mereka malah semakin bersemangat memukul lawan barunya.
"Kana!"
Kaila sedari tadi berteriak memanggil Kana. Ia tak bisa melihat kekasihnya di hajar seperti itu.
"Aku bilang juga apa, jangan ikut-ikutan!" teriak Kaila dengan paniknya.
Dengan keberanian tinggi, Kaila meraih kayu yang berada di dekatnya dan berjalan mendekat, lalu mulai memukul orang-orang itu.
"Kai! Jangan!" seru Kana.
__ADS_1
Kaila tak mendengarkan. Ia terus menghajar orang-orang itu dengan kayu di tangannya.
"Bang! Pergi aja! Males gue berurusan sama cewek!" ucap salah satu dari mereka.
"Kenapa memang kalau gue cewek? Gak berani?" tanya Kaila menantang.
"Kurang ajar!" ucap salah satu dari mereka yang disebut 'Bang'.
"Udah, Bang! Kita kelarin urusin sama si Erkan besok!" ucap salah satu dari mereka.
Orang yang disebut Bang itu tak mendengarkan. Ia melangkah mendekat ke arah Kaila dan mencoba mengambil kayu dari tangan gadis itu. Namun Kaila segera mengeratkan pegangannya.
"Mau macem-macem lo?" tanya lelaki itu yang menatap tajam ke arah Kaila.
Kaila membalas tatapan itu tak kalah tajam. Ia ikut melipat lengan seragamnya dengan satu tangan lalu menaikkan satu alisnya memandang orang di hadapannya itu.
"Lo pikir? Gue takut?" Kaila menaikkan kedua alisnya.
"Kai, udah, gak usah ikut-ikutan," ucap Kana menarik tangan gadis itu untuk mundur.
Kaila menggeleng. Ia tetap berdiri di sana, menantang beberapa orang itu dengan penuh keberanian.
Para lelaki itu ikut naik pitam. Mereka semua maju menghampiri Kaila membuat Kana khawatir.
"Belum ngerasain pukulan ya lo?" tanyanya pada Kaila.
Kaila tersenyum. "Udah."
"Hajar aja, Bang!"
Kaila tersenyum dan memegang erat kayu di tangannya. Saat beberapa lelaki itu maju ke arahnya, Kaila pun kembali memukulnya dengan kayu.
"Rasain! Rasain! Rasain! Rasain!" teriak Kaila sembari memukul mereka menggunakan kayu.
Perkelahian kembali berlangsung. Namun kali ini Kaila-lah yang menjadi sasaran beberapa laki-laki itu.
Kana yang melihat hal itu tak bisa tinggal diam, ia ikut maju dan kembali memukuli geng motor itu.
Sembari memukul, Kana menoleh pada Erkan yang kini tengah duduk di aspal seraya memegangi wajahnya. "Ngapain lo diem? Gue sama Kaila kesini buat bantuin lo!" serunya pada Erkan.
Erkan memutar bola matanya, bangkit dan ikut maju untuk kembali menyerang.
Perkelahian kali ini semakin panas. Sebab, tidak ada seorang pun yang melerai mereka.
Lokasi yang menjadi tempat mereka berkelahi kali ini sangat jauh dari perumahan warga. Dan lalu lintas pun, tak seramai seperti di tempat-tempat lain di Yogyakarta. Bisa dibilang ini adalah jalan tersepi dan jarang dilalui.
Kaila masih dengan kayunya. Memukul setiap orang di hadapannya dengan membabi buta. Anggap saja kali ini Kaila sedang tidak sadar tengah menolong laki-laki yang selalu mengganggunya. Sebab yang ia pikirkan sekarang, orang-orang itu pergi dan ia bisa kembali mencari makanan untuk mengisi perut.
Perkelahian masih berlangsung. Dan tak ada satu dari mereka yang terjatuh. Mereka sama-sama kuat. Bahkan Kaila, gadis pendiam itu pun begitu kuat dari biasanya.
'Bug!'
'Bug!'
__ADS_1
Suara pukulan itu terdengar begitu nyaring.
Kana berhasil memukul lawannya hingga mendarat tepat ke pelipisnya yang mengakibatkan memar kebiruan.
"Rasain lo, ha!" ucap Kana seraya menarik kerah baju lawannya.
'Bug!'
Satu pukulan kembali berhasil mendarat.
'Dorrr!'
Mereka semua menoleh saat mendengar suara tembakan di lepaskan ke udara.
Rupanya, polisi datang. Mereka semua terkejut karena tak mendengar sirine mendekat.
"Berhenti kalian!" teriak polisi itu saat geng motor itu menyudahi perkelahian dan memilih pergi.
"Hey! Berhenti!" teriak polisi itu.
Kaila, Kana dan juga Erkan diam di tempat. Ketiga orang itu nampak bingung harus bagaimana. Lari, mereka takut tembakan dilepaskan ke arah mereka. Tetap di tempat, mereka juga tak tahu apa yang akan terjadi.
"Kalian bertiga! Angkat tangan!" seru polisi yang berjalan menghampiri ketiga orang itu. "Kalian— ikut kami ke kantor polisi."
Kaila melebarkan mata. "Ta—tapi Pak, kita bukan orang jahat," ucap Kaila.
"Terus kenapa kalian berkelahi di tempat umum?" ucap polisi itu.
"Kami bisa jelasin, Pak," ucap Kana.
"Jelasin di kantor polisi."
"Tapi saya gak mau di penjara, Pak," ucap Kana.
Erkan berdecak. "Udah gak usah panik. Bokap gue orang hukum."
Kaila mengerutkan dahinya. "Apa hubungannya?"
"Cepat!" seru polisi itu yang menunggu ketiganya berjalan memasuki mobil.
"Gara-gara lo, gue sama pacar gue beresiko di penjara!" ucap Kana pada laki-laki di sebelahnya.
Erkan mengerutkan dahinya. "Lah? Memang gue minta bantuan kalian? Enggak 'kan? Kalian aja yang sok berhati malaikat pakai acara bantu gue segala."
Kaila melipat kedua lengannya. "Di tolongin, bukannya makasih."
"Nolongin dari mana? Bukan nolongin kalian, tapi nambah beban. Udah tahu gue abis dari penjara, sekarang masuk lagi 'kan? Kalau kalian gak ada di tempat ini, gue udah kabur dari tadi tahu gak!"
"CEPAT MASUK!" seru polisi itu yang geram melihat ketiganya.
Ketiganya memutar bola mata malas, lalu masuk ke dalam mobil.
-o0o-
__ADS_1