
Part 42
Kaila bangkit dari kasur dan melihat suaminya yang masih merebahkan tubuh.
Ia menyenggol tubuh suaminya. "Sayang, bangun. Kamu gak ke klinik?"
Kana yang masih memejamkan hanya menggeleng.
"Kenapa?" tanya Kaila bingung.
"Aku lagi gantian sama dokter baru," ucap Kana.
Kaila membulatkan bibirnya. "Yaudah, aku siapin sarapan dulu ya?"
Kana menggeleng dan menahan tangan Kaila. "Perut kamu udah besar. Kamu diem aja disini. Aku mau ke depan beli bubur ayam."
Kaila tersenyum dan mengangguk.
Kana bangkit dari kasur, meraih sandal dan berjalan keluar untuk membeli bubur.
Tak lama, laki-laki itu kembali dengan cengiran kuda. "Duitnya lupa," ucapnya dan meraih dompet.
Kaila terkekeh dan tertawa. Wanita itu mengelus perutnya yang semakin besar.
Tak terasa, usia kehamilannya sudah delapan bulan.
Kaila senang. Selama masa kehamilannya, Kana begitu perhatian dengannya. Selalu sabar menghadapi suasana hatinya yang berubah, menuruti keinginannya yang bahkan tidak masuk akal, dan ada saja keinginan Kaila yang selalu Kana penuhi.
Wanita itu tersenyum lebar dan memandang poto pernikahannya yang terpasang di dinding.
"Udah hampir sepuluh tahun aku kenal kamu, gak ada yang berubah. Kamu tetep manis sama aku." Kaila tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Kalau diinget, lucu sih. Dulu aku yang orangnya pendiem dan malu-malu, bisa suka sama orang yang dingin kaya kamu."
"Namanya juga takdir," ucap Kana yang sudah kembali.
Kaila tersenyum.
"Kamu percaya takdir 'kan?"
Kaila mengangguk.
"Alla nakdirin kita buat terus bersama. Jadi jangan heran kalau tiap hari aku makin sayang sama kamu," ucap Kana lalu mengecup pipi istrinya.
Kaila terkekeh dan memeluk Kana. "Sayang banget sama suami aku."
"Iya, dong. Harus." Kana mengusap rambut Kaila dengan lembut. "Yaudah yuk, sarapan?"
Kaila mengangguk dan bangkit dari duduknya.
-o0o-
Keiza turun dari mobil bersama Aji setelah sampai di rumah sakit.
Keduanya turun dan berjalan beriringan.
"Selamat pagi," ucap Keiza pada beberapa orang yang ia kenal berpapasan dengannya.
"Pagi Dokter!" seru beberapa beberapa perawat.
"Pagi," jawab sepasang suami istri itu.
"Kayanya pagi ini orang-orang pada ceria ya?" ucap Aji.
Keiza mengangguk. "Syukurlah."
Aji mengangguk dan membenarkan posisi jasnya. "Oh ya sayang, besok 'kan kamis, berarti kamu ke klinik Kana dulu atau ke rumah sakit dulu?"
"Aku besok ke rumah sakit dulu sampai jam setengah dua belas. Terus jam satu aku mulai di klinik Kana."
Aji mengangguk. "Oke! Besok aku anter di jam istirahat berarti ya?"
Keiza mengangguk dengan senyuman. "Tapi kalau kamu besok sibuk, biar aku naik taksi aja. Kalau gak, besok aku bawa mobil sendiri. Gimana?"
Aji menggeleng. "Aku aja yang anter."
Keiza tersenyum. Suaminya begitu protektif padanya. "Yaudah, nurut aja sama Pak suami."
Aji terkekeh dan mengusap rambut Keiza.
"Dokter Aji!" seru seseorang membuat sepasang suami istri itu menghentikan langkah.
"Iya?" Aji menaikkan kedua alisnya pada satpam yang menghampiri.
"Dokter Aji di suruh ke ruangan Pak Direktur," ucap Satpam itu.
"Kakek— eh maksudnya Pak Direktur udah dateng, Pak?"
Satpam itu mengangguk. "Sudah dari tadi, Dok. Sekarang Dokter Aji ditunggu di ruangannya."
Aji mengangguk. "Makasih ya, Pak. Saya akan kesana." Aji menoleh pada Keiza. "Aku ke atas dulu ya?"
Keiza mengangguk. "Jam istirahat kita ketemu di kantin."
Aji mengangguk dan mengusap punggung Keiza dan berjalan pergi.
Keiza tersenyum dan membenarkan posisi tasnya, lalu berjalan untuk menuju ruangannya.
"Eh masa sih?"
"Iyalah! Memang kalian gak sadar? Sekarang udah hampir Sembilan bulan usia pernikahan Dokter Keiza sama cucu Dirut."
Keiza menghetikan langkahnya saat mendengar ada beberapa orang yang membicarakannya.
Sepertinya Keiza paham suara-suara itu.
"Iya ya? Udah Sembilan bulan aja."
"Iya. Bahkan, adiknya yang nikah bareng dia aja udah hamil besar. Udah Delapan bulan apa ya usia kehamilannya."
"Kok Dokter Erna tahu sih? Kalau adiknya udah hamil Delapan bulan?"
"Rumah saya 'kan depanan sama rumah adiknya. Makanya saya tahu," ucap Dokter Erna tersebut.
"Duh, berarti Dokter Keiza kalah ya sama adiknya?"
"Hush! Jangan ngomongin orang dong, 'kan bisa aja Dokter Keiza sama Dokter Aji sengaja nunda punya anak."
Dokter Erna itu menghela napas. "Mana ada sih, nunda anak. Lihatlah, Dokter Keiza itu udah mapan. Udah spesialis. Gajinya besar. Buat apa lagi nunda anak? Kecuali—"
"Kecuali apa?" ucap teman-temannya.
"Kecuali memang gak bisa hamil," ucap Dokter Erna tersebut.
Keiza menahan sabar mendengar hal tersebut. Namun, air matanya tiba-tiba menetes. Ia tak bisa mendengar hal tersebut.
Itu terlalu menyakitkan untuknya.
"Dokter Keiza!" teriak Clara yang baru saja datang membuat beberapa dokter yang membicarakan Keiza tadi menoleh.
"Waduh, mati."
Keiza tersenyum dan menatap Clara. "Aku pergi dulu," ucapnya dan berlari.
"Dokter Keiza!" teriak Clara saat Keiza berlari meninggalkan rumah sakit.
Clara menoleh pada dokter-dokter itu. "Dokter-dokter pada ngomongin Dokter Keiza apa sih? Lihat, Dokter Keiza pergi sekarang! Kalau dia lapor ke suaminya dan suaminya lapor ke kakeknya, habis kalian semua!"
-o0o-
Aji keluar dari ruangan kakeknya dengan senyuman. Menuruni tangga dan menyapa beberapa orang yang berpapasan dengannya.
Laki-laki itu turun dan segera menuju ruangannya.
"Keiza?" ucapnya yang melihat Keiza berlari keluar.
Aji mengerutkan dahinya bingung. "Dia kenapa?"
__ADS_1
"Dokter Aji, ayo! Ada pasien kecelakaan," ucap seseorang yang memanggilnya.
Aji mengangguk dan berlari.
-o0o-
"Cinta tegarkan hatiku
Tak mau sesuatu merenggut engkau
Naluriku berkata
Tak ingin terulang lagi
Kehilangan cinta hati
Bagai raga tak bernyawa
Aku junjung petuamu
Cintai dia yang mencintaiku
Hati yang dulu berlayar
Kini telah menepi
Bukankah hidup kita
Akhirnya harus bahagia."
"Ck!" Keiza berdecak.
Lagu itu cukup membuatnya risih. Sudah sedih, malah di dalam bus diputarkan lagu sedih.
Keiza menghela napasnya gusar dan mengusap air matanya yang jatuh.
"Aku tadinya gak mau mikirin omongan mereka, tapi omongan mereka bikin aku sakit hati," batinnya.
Sebenarnya Keiza tak ingin lari seperti ini. Namun ia tak sanggup. Hatinya benar-benar teriris.
Lagipula, siapa yang tahan jika dibicarakan di belakang seperti itu? Tentu saja Keiza memilih pergi.
Dan saat ini wanita itu tak tahu akan kemana. Saat di depan rumah sakit tadi, ia menghentikan sebuah bus dan naik ke dalamnya.
Ia bahkan mengikuti arah bis yang ia sendiri tak tahu arahnya.
"Aku gak tahu harus cerita ini ke siapa."
Keiza melipat kedua lengannya dan menatap jalanan melalui kaca jendela.
Cuaca pagi ini mendung. Sepertinya akan turun hujan.
Keiza terdiam dalam lamunannya, tiba-tiba ia teringat suatu tempat. Ia sedang berada di tempat itu sekarang.
"Turun, Pak!" seru Keiza.
Semua orang menoleh pada Keiza.
"Mbak, mau turun disini?" ucap seseorang di sebelahnya.
Keiza mengangguk.
"Tapi 'kan ini—"
"Saya mau ketemu teman saya," ucap Keiza dan bangkit dari duduknya.
Semua orang menatap Keiza bingung. Tentu saja mereka menghawatirkan Keiza.
Bukan apa, cuaca saat ini sangat mendung dan Keiza memutuskan untuk berhenti di tempat ini.
Keiza turun dari bis itu dan menatap pemandangan di depannya.
Tempat itu sangat sepi. Hanya ada satu yang keluar dari tempat itu.
Keiza tersenyum tipis dan berjalan menuju pada pedagang yang baru menggelar dagangannya, namun segera di masukkan kembali karena mendung yang semakin gelap.
Keiza menyerahkan beberapa lembar uang, mengambil bunga lili itu.
"Mau turun tapi Mbak," ucap pedagang itu.
Keiza mengangguk dengan senyuman. "Gak papa, Bu," ucapnya dan berjalan untuk memasuki tempat yang luas tersebut.
Benar, ini adalah pemakaman.
Keiza berjalan memasuki area itu dan berhenti pada sebuah makam. Ia tersenyum dan meletakkan bunga lili itu di dekat nisan tersebut.
"Gue kesini lagi, Din."
Keiza tersenyum. "Gue gak tahu harus cerita masalah gue ke siapa. Jadi gue mutusin kesini. Buat cerita sama lo."
Keiza menghela napasnya dan kembali mengusap air matanya.
"Belum juga cerita, gue malah nangis," ucap Keiza terkekeh dan mengusap wajahnya gusar.
Keiza menghela napas dan menatap makam itu. "Gue belum bisa jadi istri yang baik buat Aji, Din. Udah Sembilan bulan pernikahan gue dan dia. Tapi sampai sekarang, gue belum bisa kasih dia anak."
Keiza menunduk.
"Enggak, sayang. Kamu udah jadi istri yang baik."
Keiza melebarkan mata dan menoleh. "Aji?"
Aji tersenyum.
"Kenapa kamu bisa disini?"
-o0o-
Satu jam sebelumnya.
Aji keluar dari ruangan kakeknya dengan senyuman. Menuruni tangga dan menyapa beberapa orang yang berpapasan dengannya.
Laki-laki itu turun dan segera menuju ruangannya.
"Keiza?" ucapnya yang melihat Keiza berlari keluar.
Aji mengerutkan dahinya bingung. "Dia kenapa?"
Aji memandang Keiza yang berlari keluar dari gerbang rumah sakit. "Dia mau kemana?"
"Dokter Aji, ayo! Ada pasien kecelakaan," ucap seseorang yang memanggilnya.
Aji mengangguk dan berlari.
"Rangga!" teriaknya pada orang yang memanggilnya tadi.
Rangga menoleh. "Iya, Dok. Ada apa?"
"Aku gak bisa ke ruangan."
"Tapi Dok, ada pasien—"
"Biar saya saja," ucap Dokter lain yang berada di belakang Aji.
Aji membalikkan badannya. "Dokter Andi?"
Andi tersenyum. "Biar saya saja yang gantikan Dokter Aji. Biar Dokter Aji kejar istrinya."
Aji tersenyum. "Beneran, Dok?"
Dokter Andi mengangguk. "Cepat, kejar istri kamu."
Aji mengangguk dan berlari. Laki-laki berlari menuju parkiran dan mengejar istrinya.
Saat hendak keluar dari gerbang, Aji melihat Keiza naik ke dalam bus.
Ia berusaha mengejar bus dan meneriaki Keiza. Namun bus itu melaju cukup cepat sehingga Aji kesusahan untuk mengejarkan.
__ADS_1
"Mau kemana Keiza?"
Aji tampak kesulitan mengejar. Lebih lagi ditambah jalanan yang mulai macet.
"Ck!"
Aji berdecak dan memukul kursinya dengan kuat.
"Sebenarnya ada apa sama Keiza? Kenapa dia sampai lari gini."
'Drttt!'
Ponsel Aji bergetar.
Ada panggilan masuk dari nomor asing.
Aji mengedakan earphonenya dan mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo, Dokter Aji?" ucap seorang wanita di seberang sana.
Aji mengerutkan dahinya. Ia seperti mengenal suara itu.
"Ini Clara, Dok."
Aji membulatkan bibirnya. "Iya, ada apa?"
"Dok, dokter Keiza sama dokter Aji gak ya? Soalnya tadi Dokter Keiza lari aja. Saya gak tahu dia kemana."
Aji mengangguk. "Iya. Ini saya lagi ngikutin dia. Dia ada di bus. Tapi saya gak tahu dia mau kemana. Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi?"
Clara terlihat bingung di seberang sana. "Begini, Dok. Tadi ada beberapa Dokter yang mengata-ngatai Dokter Keiza yang tak hamil-hamil, Dok."
"Dokter mengata-ngatai istri saya?"
"Iya, Dok."
Aji berdecak dan mengepalkan tangannya. "Ya sudah, makasih infonya Clara. Nanti saya hubungi jika sudah bersama Keiza."
"Iya, Dok."
'Tut!'
Aji mematikan sambungan itu dan meletakkan kembali earphone-nya.
Sebelumnya, Aji sudah mencoba menghubungi Keiza. Namun wanita itu tak kunjung mengangkatnya.
Aji kembali fokus dengan kemudinya. Mengikuti bus itu yang mulai memasuki jalanan yang sangat Aji kenal.
"Jangan-jangan Keiza mau ke makan Adinda?"
-o0o-
"Jadi karena itu kamu tahu aku disini?" ucap Keiza pada suaminya.
Aji mengangguk. "Aku panik waktu lihat kamu lari gitu aja. Gak biasanya kamu kaya gini."
Keiza tersenyum tipis dan menatap nisan Adinda.
Aji meraih tangan Keiza. Menggenggamnya dengan erat membuat wanita itu menoleh.
"Jangan pernah dengerin omongan orang."
Keiza mengangguk.
"Kalau ada yang bicarain kamu lagi, jangan di ambil hati. Biarin aja mereka ngomong sampai berbusa, yang penting kamu tahu— aku terima kamu apa adanya." Aji menelusuri mata Keiza dan menatapnya dengan hangat. "Aku sayang dan cinta sama kamu. Ada anak ataupun enggak, gak mengurangi sedikit pun perasaan aku ke kamu. Yang penting kamu sehat, aku udah sangat bahagia."
Keiza mengangguk dan menunduk.
"Hei." Aji mengangkat wajah Keiza. "Tatap mata aku. Lihat aku. Aku sayang sama kamu. Aku gak pernah nuntut kamu supaya punya anak. Aku gak pernah."
Keiza mengangguk. "Iya."
"Ya senyum dong! Jangan sedih gini. Kamu tahu? Kalau kamu sedih, aku malah makin sedih."
Keiza tersenyum dan menggeleng. "Aku gak sedih kok."
"Coba senyum yang tulus," ucap Aji.
Keiza mengangkat wajahnya, menatap mata Aji dan tersenyum.
"Nah, gitu 'kan aku makin sayang." Aji tersenyum hangat dan membawa wanitanya ke dalam pelukannya. "Jangan di ambil hati lagi ya kalau ada yang ngomongin kamu."
Keiza mengangguk.
"Kalau ada yang ngomongin kamu lagi, kamu bilang aja sama aku. Ya?"
Keiza mengangguk dan mengerutkan pelukannya pada Aji.
-o0o-
Kaila terlihat memegang perutnya.
"Aduh."
Kana menoleh. "Kenapa sayang?"
Kana mendekat pada istrinya dan menunjukkan wajah panik. Ia begitu panik, takut istrinya akan melahirkan sekarang juga.
Kaila memejamkan mata dan memegang perutnya yang semakin sakit. "Pengen BAB."
Kana memutar bola mata, menghela napas panjang dan menatap istrinya dengan tatapan kesal.
Kaila tertawa. "Biasa aja dong, lihatnya."
"Ya abisnya, kamu nahan sakit gitu. Ya 'kan aku pikir kamu mau melahirkan."
Kaila tertawa. "Ya kali melahirkan. Kandunganku aja baru delapan bulan."
Kana mengerucutkan bibirnya. "Ya 'kan siapa tahu aja. Toh kehamilan kamu minggu depan udah genap Sembilan bulan."
Kaila terkekeh dan kembali memegang perutnya.
"Yaudah sana BAB," ucap Kana.
Kaila menggeleng. "Pengen, tapi gak pengen."
Kana berdecak. "Maksudnya apa?" ucapnya tertawa.
Kaila terkekeh dan meraih ponselnya. "Yang, aku tadi di market place lihat ranjang bayi bagus banget. Aku udah masukin ke keranjang sih."
"Mana coba lihat?" ucap Kana.
"Nih." Kaila memperlihatkan ranjang bayi yang sudah ia masukkan ke dalam keranjang.
"Kok warna pink?" ucap Kana.
"Warna pink lucu, sayang."
"Tapi kalau anak kita cowok gimana? Masa suruh pake ranjang bayi warna pink," ucap Kana.
Kaila menggigit bibir bawahnya. "Tapi aku pengennya anak kita cewek."
"Tapi aku pengen cowok sayang," ujar Kana.
"Tapi aku pengennya cewek."
"Cowok."
"Cewek," ucap Kaila lagi.
"Cow—"
"Aw! Aw!" Kaila terlihat merintih.
Kana melebarkan mata. "Sayang, kenapa?"
"Perut aku, perut aku sakit. Rasanya anak kita mau keluar!"
__ADS_1
-o0o-