KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 29


__ADS_3

Part 29


Kana memandangi wajah gadis di depannya. Gadis itu terlihat memikirkan sesuatu sejak tadi.


"Mikirin apa sih?"


Kaila menoleh dan menatap laki-laki itu. "Kamu penasaran gak sih siapa orang yang udah bayar biaya rumah sakit Mama?"


Kana mengedikkan bahu dan menggeleng.


Kaila berdecak.


"Mungkin— Tantemu? Papamu?"


Kaila menggeleng. "Gak mungkin. Mereka aja gak tahu Mama dirawat. Gimana mereka mau bayar biaya rumah sakit?"


Kana mengangguk. "Iya, juga sih. Atau—" Kana menaikkan kedua alisnya. "Orang yang nganter ke rumah sakit? Kakak cantik yang Kiara maksud."


"Tapi masalahnya, siapa yang mau nganter plus bayarin kalau bukan keluarga sendiri?" ucap Kaila membuat Kana diam.


Kana menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. "Jadi penasaran juga, 'kan."


Kaila menggigit bibir bawahnya lalu menoleh ke arah pintu kamar Nabila. "Apa aku tanya Mama aja ya? Mama kira-kira inget gak siapa yang nganter dia ke rumah sakit."


Kana mengangguk setuju.


Kaila tersenyum dan bangkit dari duduknya. Menatap pintu berwarna putih dan menghampirinya.


'Tok! Tok! Tok!'


"Ma."


Kaila mengetuk pelan pintu kamar Nabila.


"Masuk, sayang," ucap Nabila dari dalam.


Kaila tersenyum dan memutar knop pintu.


'Ceklek!'


"Ma, udah minum obat?" tanya Kaila yang berjalan menghampiri.


Nabila tersenyum. "Udah, sayang. Kamu udah makan? Kana mana?"


"Udah, Ma. Itu Kana lagi duduk di ruang tamu," jawab Kaila.


Nabila mengangguk mengerti.


"Mama gimana perasaannya sekarang? Masih pusing?" tanya Kaila menatap wajah ibundanya.


Nabila menggeleng. "Mama udah gak papa kok. Udah fit, hehe."


Kaila tersenyum. "Syukurlah." Kaila meraih tangan Nabila dan menggenggamnya. "Oh ya Ma, kira-kira Mama inget gak siapa yang anter Mama ke rumah sakit?"


Nabila menggeleng. "Mama gak inget, nak. Yang Mama inget, Mama pingsan terus sadar-sadar udah dirumah sakit sama Kiara."


"Jadi Mama gak tahu perempuan yang anter Mama ke rumah sakit?"


Nabila menggeleng.


Kaila menggigit bibir bawahnya. "Kira-kira siapa ya, Ma?"


"Mungkin tetangga kita," ucap Nabila.


"Tapi masa iya tetangga mau bayarin biaya rumah sakit mana? Rumah sakit itu bukan rumah sakit biasa loh, Ma. Pasti biayanya juga besar," ucap Kaila membuat Nabila kembali berpikir.


Nabila menghela napas. "Yaudahlah, mungkin memang dia orang baik."


Kaila mengangguk dan tersenyum. "Semoga kita cepet ketemu dia ya, Ma. Biar kita bisa balas dia."


Nabila mengangguk dengan senyuman, lalu memeluk Kaila. "Mama seneng kamu udah sama Mama lagi, nak. Maafin Mama yang dulu ya?"


Kaila tersenyum dan mengeratkan pelukannya. "Kaila lebih seneng, Ma," ucapnya lalu melepas pelukan itu. "Mama pengen makan apa? Biar Kaila sama Kana beliin."


Nabila tampak berpikir. "Bubur Ayam?"


"Mama mau bubur ayam?"

__ADS_1


Nabila mengangguk. "Beliin ya?"


"Siap!" ucap Kaila mengacungkan jempolnya. "Kaila pergi dulu ya?"


'Cup!'


Kaila mencium pipi Nabila dan berlalu pergi.


"Mau mana kak?" tanya Kiara yang baru saja akan masuk ke kamar Nabila.


"Kakak mau cari bubur ayam dulu," jawab Kaila.


"Ikut dong, Kak," pinta Kiara.


Kaila menoleh ke arah kamar. "Kamu di rumah aja, temenin Mama."


"Gak papa kok, Kai! Kiara gak papa ikut. Mama bisa kok sendirian di rumah!" teriak Nabila dari dalam.


"Tuh, Kak. Ya ya ya? Kiara ikut," pinta Kiara memohon.


Kaila menghela napas dan akhirnya mengangguk. "Yaudah, cepet gih ambil kunci mobil Mama di dalem. Kita naik mobil aja, gak cukup kalau mau naik motor."


"Okay!" seru Kiara dan masuk ke kamar Nabila untuk menggambil kunci mobil.


-o0o-


Saat ini ketiganya sudah berada di dalam mobil. Kaila duduk di depan bersama dengan Kana yang mengendarai. Sedangkan Kiara, gadis itu terlihat asik bermain ponsel di belakang.


"Dimanaan ya bubur ayamnya?" tanya Kana seraya mengedarkan pandangannya.


"Kayanya sebelum pertigaan depan, ada yang jual deh." Kaila menoleh ke belakang. "Dek, kamu biasa beli bubur ayam sama Mama dimana?"


"Itu!" Kiara menunjuk penjual bubur ayam yang masih berjarak 50 meter dari sini.


"Oh yang gerobaknya warna biru ya?" tanya Kana.


"Iya, Kak," jawab Kiara lalu memandang sekeliling jalanan dari balik jendela.


"Kamu suka bubur ayam gak sih?" tanya Kaila pada Kana.


Kana mengangguk. "Suka, tapi ada yang lebih aku suka."


"Kamu," jawab Kana membuat Kaila tertawa kecil.


"Kak bentar— Kak— bentar!" teriak Kiara membuat Kana mengeremkan mobilnya secara mendadak.


"Kenapa?" tanya Kana penasaran.


"Itu kakak cantik yang tadi anter Mama ke rumah sakit," ucap Kiara membuat sepasang kekasih itu menoleh ke arah yang sama.


"Mana?" tanya Kaila.


"Itu!" Kiara menunjukk seorang gadis yang tengah berdiri di pinggir jalan hendak menyeberang.


Kaila melebarkan mata. Begitu pun dengan Kana.


"Kamu yakin itu?" tanya Kaila pada Kiara.


Kiara mengangguk mantap. "Iya, Kakak itu. Kiara inget banget. Orang dia juga yang nenangin Kiara supaya jangan nangis."


Kana menoleh pada Kaila. "Apa kita mau temuin dia sekarang?"


Kaila menggeleng. "Kayanya gak perlu. Besok aja kita temuin langsung."


"Kak Kaila sama Kak Kana kenal sama kakak cantik itu?" tanya Kiara.


Kaila mengangguk.


Kiara tersenyum lebar. "Bilangin sama dia ya Kak, Kiara mau bilang makasih banyak."


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Nanti kakak bilangin."


Kana menatap Kaila lekat. "Apa jangan-jangan dia juga yang bayar biaya rumah sakit?"


Kaila menggeleng tak tahu. "Tapi kenapa dia lakuin itu?"


Kana mengedikkan bahu. "Itu yang kita pertanyain."

__ADS_1


"Yaudah, besok kita temuin dia langsung di kampus."


Kana mengangguk dan kembali melajukan mobil menuju penjual bubur.


-o0o-


Keesokan paginya, seperti yang sudah Kaila dan Kana bicarakan. Sepasang kekasih itu berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Menunggu seseorang untuk mereka tanyai.


"Apa kita samperin ke kelasnya aja?" tanya Kana pada gadis di depannya.


Kaila menggeleng. "Jangan deh. Ntar di sangka kita mau ngelabrak."


"Nunggu depan gerbang juga kesannya mau ngelabrak kali," ucap Kana seraya memutar bola matanya.


Kaila tertawa kecil. "Yaudah-yaudah, kita pindah ke koridor aja."


Kana mengangguk, lalu mengeratkan tasnya.


"Ah, itu dia!" seru Kaila membuat Kana menoleh.


Sepasang kekasih itu menunggu orang yang mereka tunggu sampai di hadapan mereka. Namun, sepertinya yang di tunggu tahu maksud dan tujuan dari keduanya.


"Kak Keiza," panggil Kaila membuat gadis itu menghentikan langkah dan menoleh.


Keiza menatap Kaila datar seraya menaikkan kedua alisnya.


"Aku pengen bicara sama kakak."


Keiza menoleh pada jam yang melingkar di tangannya. "Sorry, aku ada kuis," ucapnya lalu melangkah pergi.


"Kak, bentar—" Kaila menahan tangan Keiza. "Sebentar aja. Aku mau bicara sama kakak."


Keiza menghela napas dan menoleh. "Soal apa?"


"Kita duduk kesana bentar ya?" ucap Kaila menunjuk bangku kosong yang tak jauh dari mereka berdiri.


Keiza kembali menoleh pada jamnya.


"Sebentar aja, kak. Aku mohon."


Keiza menghela napas dan mengangguk. Berjalan menuju bangku kosong dan mendudukan dirinya disana.


Kaila tersenyum puas. Ia bersama dengan Kana ikut duduk pada bangku kosong itu.


"Makasih ya, Kak Keiza udah mau bagi waktunya." Kaila tersenyum. "Aku mau bilang makasih banyak, karena Kak Keiza udah anterin Mamaku ke rumah sakit."


Keiza menoleh. "Itu Mamamu?"


Kaila mengangguk. "Iya, itu Mamaku."


Keiza membulatkan bibirnya.


"Makasih ya, Kak. Aku gak tahu, kalau gak ada kakak, gimana jadinya."


Keiza mengangguk. "Gak perlu berterima kasih. Lagipula aku juga gak sengaja lewat," ucap gadis itu lalu bangkit dari duduknya.


"Tunggu kak!"


Keiza menghela napas. "Apa lagi?"


"Aku mau nanya, apa kakak juga yang udah bayar biaya rumah sakitnya?"


Keiza menggeleng.


"Tapi siapa kalau bukan kakak?" tanya Kaila.


"Ya mana aku tahu," ucapnya lalu melangkah pergi.


Kaila menghela napas panjang menatap punggung Keiza. "Kenapa dia susah banget sih di ajak bicara?"


Kana tersenyum lalu mengusap punggung kekasihnya. "Nanti kita bicarain lagi sama dia ya?"


"Gimana caranya? Dia di ajak ngomong satu dua kata aja, langsung pergi."


Kana terkekeh. "'Kan dia bilang mau ada kuis."


"Iya, sih." Kaila berdecak lalu menyenderkan kepalanya di pundak Kana.

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2