KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 31


__ADS_3

Part 31 🔞


Kana mengerucutkan bibirnya saat Kaila turun dari kasur dan berjalan membukakan pintu.


'Ceklek!'


Aji tersenyum lebar di depan sana.


Laki-laki itu berdiri di depan pintu seraya membawa sesuatu di tangannya.


"Aji, kenapa?" tanya Kaila bingung.


"Pakaian Kana, kebawa tadi," ucapnya seraya menyerahkan tas berisikan pakaian Kana.


Kaila terkekeh dan segera meraih tas itu. "Makasih ya?"


Aji mengangguk dan sedikit masuk melihat Kana yang tengah duduk di atas kasur seraya memandang ke arahnya. "Sorry ya, ganggu."


"Ah, rese' banget lo Ji! Gak tahu orang lagi bersemangat aja!" ucap Kana.


Aji melebarkan mata. "Eh, pakaian lo juga ngeganggu kali, ah."


Kaila tertawa kecil dan kembali menutup pintu setelah Aji pergi.


Kaila memandang tas di tangannya dan berjalan menghampiri suaminya. "Bisa-bisanya lupa sama pakaian sendiri."


Kana tersenyum malu. "Gak inget kalau bawa tas. Ingetnya cuma bawa kamu."


Kaila tertawa dan meletakkan tas itu ke atas meja bersamaan dengan pakainnya yang belum ia tata.


"Sayang," lirih Kana.


Kaila menoleh dan menaikkan kedua alisnya. "Kenapa? Hmm?" tanya Kaila seraya memilih pakaiannya.


"Mau natain baju?"


Kaila tersenyum dan menggeleng. "Mau ganti piyama."


"Ngapain? Nanti juga di lepas," lirih Kana.


"Apa?" tanya Kaila yang benar-benar tidak mendengar dengan jelas.


Kana menggeleng. "Gak papa. Yaudah sana ganti, jangan lama-lama."


"Aku ganti dulu ya?"


Kana mengangguk dan membiarkan istrinya tersebut berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Setelah selesai, Kaila kembali dengan piyama yang menyelimuti tubuhnya.


Piyama berwarna cokelat susu yang sengaja ia beli saat di Jerman.


Perempuan itu menatap Kana yang tengah terlentang di atas kasur seraya melipat kedua tangannya yang ia gunakan sebagai bantal lalu menatap langit-langit kamar tersebut.


Kaila tahu dan sadar, Kana pasti lelah menunggunya. Namun, Kaila bingung tak tahu harus bagaimana memulainya.


Apakah ia datang dan mengatakan jika ia sudah siap?


Namun, Kaila pemalu. Butuh nyali besar untuk Kaila mengatakan hal itu.


Kaila menghela napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Mengatur detak jantungnya yang berdegub kencang dan Menghampiri suaminya, lalu berdeham.


Kana menoleh dan tersenyum. "Udah?"


Kaila mengangguk dan naik ke atas kasur.


Kana tersenyum dan memiringkan badannya. Menatap istrinya dengan penuh kehangatan.


Kana tertawa kecil seraya menyentuh rambut istrinya yang menghalangi. "Gak nyangka akhirnya bisa seranjang sama kamu."


Kaila tersenyum. Wanita itu ikut menatap suaminya dengan penuh kehangatan.


Keduanya saling diam. Hanya saling menatap dan tak berani memulai.


Tanpa Kaila sadari. Jantung Kana berdegub sangat kencang. Ia sendiri pun malu. Namun, ia tak boleh tinggal diam.


"Lala," ucap Kana akhirnya.


Kaila kedua alisnya. "Iya?"


"Mau buat baby sekarang?"


Kaila menggigit bibir bawahnya sendiri lalu menatap Kana dengan tatapan yang sulit di artikan. Pipinya merah merah padam. Wanita itu mendekati wajah Kana dan—


'Cup!'


Kana melebarkan mata saat Kaila berhasil mengecup bibirnya.


Ini adalah pertama kalinya bagi Kaila mencium bibir Kana.


Pipi kembali Kaila merah padam. Ia benar-benar malu sendiri.


"Mau buat baby?" tanya Kana kembali.


Kaila mengangguk dengan malu-malu.


Melihat hal itu, Kana pun tersenyum menyeringai. Ia mendekat dan mengusap pipi Kaila, lalu mengecup pipi dan bibir istrinya.


Kaila menikmati ciuman yang Kana berikan.


Ciuman Kana cukup brutal, hal itu membuat Kaila sulit untuk bernapas.


Kana melepaskan bibirnya dari bibir Kaila dan membiarkan istirnya menghela napas.


Keduanya saling menatap tertawa kecil.


Keduanya terlihat malu-malu. Namun, Kana tak bisa menahannya lagi. Laki-laki itu meletakkan tangannya di dada Kaila dan membuka seluruh kancing piyama yang Kaila gunakan.


Kana langsung disuguhkan oleh pemandangan bra berwarna hitam milik Kaila.


Kaila sangat malu. Wanita itu menoleh ke arah lain dan memejamkan mata.


Melihat hal itu, Kana menampilkan smirknya.


Kana melepaskan pengait bra milik Kaila dan meleparkannya sembarang. Tangannya menyentuh kedua gunung Kaila dan meremasnya pelan.


Kaila menggeliat saat Kana menghisap miliknya.


Kana membenarkan posisinya. Dan saat ini, laki-laki itu berada di atas tubuh istrinya.


Kaila ikut membenarkan posisinya dan memegangi kepala suaminya. Meremas rambut suaminya dengan penuh kasih sayang.


"Boleh dimulai?" tanya Kana saat tangannya berpindah pada perut Kaila dan turun ke bawah.


Kaila mengangguk dan merelakan apa yang akan ia dan suaminya malam ini lakukan.


Tangan Kana mulai nakal. Ia memainkan sesuatu di bawah sana membuat Kaila meringis menahan geli.


Kana tertawa kecil dan mengecup kembali bibir istrinya.


"Pegangan aku, kalau sakit," lirih Kana dan melepas semua Kain yang menyelimuti tubuhnya.


Ya, kalian bisa bayangkan sendiri apa yang tengah terjadi malam ini. Pengalaman yang tak bisa terlupakan bagi sepasang suami istri yang baru menikah tersebut.


Tak lupa, Kana mematikan lampu kamar dan melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.


-o0o-


Di lain tempat, Bima terlihat tengah melamun sendiri.


Kiara melihat kakaknya tengah duduk di gazebo sendirian. Ia pun mendekat dan menghampirinya.


"Kenapa, Kak?" tanya Kiara.


Bima menoleh dan tersenyum. "Gak papa. Kakak cuma lagi sedih aja, Kak Keiza sama Kak Kaila udah menikah. Dan Kak Bima sampai sekarang belum keliatan hilalnya. Jangankan calon istri, pacar aja gak punya."


Kiara menghela napas dan duduk di samping Bima. Mengikuti arah pandangan Bima yang menatap langit malam yang di penuhi bintang-bintang.


Kiara menghela napas dan mengangguk. "Lucu ya, kadang kalau kita lihat orang menikah, kita pengen juga."


Bima menoleh dan melebarkan mata. "Kamu pengen nikah juga?"


Kiara berdecak dan menatap Bima kesal. "Bukan gitu. Aku deskripsiin kakak."


Bima membulatkan bibirnya dan kembali menatap langit.


"Memangnya Kak Bima beneran gak punya pacar?"

__ADS_1


Bima memutar bola matanya dan menatap Kiara. "Kalau kakak punya, kakak gak bakal segalau ini. Temen-temen kakak udah pada nikah, dan kakak masih gak jelas kaya gini."


"Tapi 'kan Kak Bima punya pekerjaan yang mapan."


"Punya pekerjaan yang mapan tanpa pasangan, bagaikan duda anak delapan. Kesepian."


"Katanya anak delapan, ya rame lah. Gak kesepian," ucap Kiara.


Bima menghela napas panjang. "Perumpamaan."


"Ya tahu."


Bima berdecak dan kembali menatap langit. "Bintang yang rame aja, di temenin bulan. Masa kakak yang sendiri, tetep sendirian?"


Kiara terkekeh. "Kak Bima ini kalau lagi galau lucu ya? Kenapa sih kak Bima gak ikut ajang pencarian jodoh aja?"


"Ikut itu, sama aja beli kucing dalam karung."


"Ngomongin kucing, kenapa Kak Bima gak sama cewek yang punya anjing itu?" tanya Kiara.


Bima menggeleng. "Dia gak mungkin mau sama kakak. Pasti yang ada malah benci."


"Kakak mainin dia ya?" ucap Kiara seraya menunjuk kakaknya.


Bima mengangguk. "Begitulah."


Kiara berdecak. "Itulah! Ah, sudahlah. Kiara gak mau bahas yang udah-udah." Kiara bangkit dari duduknya dan menepuk pundak kakaknya. "Semangat ya! Jodoh akan datang dengan sendirinya kok. Kakak gak usah khawatir."


"Sok iye banget lo!"


Kiara melebarkan mata. "Lah, emang iye!" Kiara melipat kedua lengannya dan masuk ke dalam.


Bima tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. Namun, ia teringat sesuatu. "Setelah ini, Kak Keiza sama Kaila pasti dibawa suaminya. Terus Kiara, dia cuma berdua sama Papa Angga dong?"


Bima terdiam beberapa saat. Ia bingung harus bagaimana, jika ia kembali ke Jerman nanti, ia tak mungkin meninggalkan Kiara begitu saja dengan Angga.


Angga bukan ayah kandung Kiara. Meskipun Angga menganggap Kiara seperti anak kandung sendiri, Bima tak bisa membiarkan hal itu. Ia tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya kepada Angga.


"Kiara tahun ini lulus SMP. Apa gue bawa dia ke Jerman aja?"


-o0o-


Kaila membuka matanya dan melihat tangan Kana berada di atas perutnya.


Kaila tersenyum dan menyingkirkan tangan suaminya itu. Menoleh dan menatap wajah suaminya yang tengah tertidur pulas.


Kaila menyentuh hidung Kana yang mancung dan mengecupnya. Lalu, mencoba turun dari atas kasur.


Belum sempat turun, Kana mengeratkan pelukannya.


"Nanti aja bangunnya," ucap Kana dengan suara serak.


Kaila tertawa kecil dan memeluk leher Kana.


Kana menyunggingkan senyumnya dan mendongak ke atas, menatap wajah istrinya.


'Cup!'


Satu kecupan berhasil mendarat di bibir Kaila.


Kaila tersenyum dan mengusap rambut yang menutupi dahi Kana.


"Sayang," lirih Kana.


"Hmm?" Kaila menaikka kedua alisnya.


Kana tertawa kecil dan menggeleng.


Kaila melebarkan mata. "Kenapa sih?"


"Gak papa. Seneng aja bangun tidur ada kamu di sebelah aku."


Kaila tersenyum dan kembali mengusap rambut Kana.


"Aku juga seneng."


Kana tertawa kecil dan kembali menatap istrinya. "Setelah ini, kita pulang ke rumah Mama Papa ya. Kita pulang ke rumah kita aja."


"Rumah kita?" tanya Kaila bingung.


Perempuan itu melepas pelukannya dan menatap Kana bingung.


Kana memberi jeda pada ucapannya.


"Aku juga sebelumnya takut. Karena saat itu aku sama kamu 'kan belum ada ikatan apa-apa. Bahkan, kita pun belum balikan. Tapi Papa Kavin yakin banget kalau aku bakal menikah sama kamu. Jadi dia beli rumah yang ada gaya Jermannya gitu."


"Aku gak enak sama Papa Kavin, Na."


Kana tersenyum. "Biarin aja. Papa sengaja pengen beliin kita rumah kok. Toh dia juga kerja buat anaknya 'kan?"


Kaila mengangguk. "Iya, sih. Cuma ngerasa gak enak aja."


Kana terkekeh. "Gak papa. Dengan kita terima pemberian Papa, dia pasti seneng. Ya?"


Kaila mengangguk dengan senyuman.


Melihat istrinya tersenyum, membuat Kana merasa gemas dan mencubit pipinya.


"Nana, ih. Sakit loh," ucap Kaila seraya memegang pipinya.


"Kalau tadi malam gak sakit?"


Kaila melebarkan mata. "Ih, Nana. Malu ah," ucap Kana dengan wajah yang memerah.


Kana terkekeh dan mengusap perut Kaila. "Kalau kita punya anak nanti, kamu mau cowok atau cewek?" Kana menaikkan kedua alisnya.


Kaila tampak berpikir. "Apa aja, cewek gak papa. Cowok gak papa. Kembar juga gak papa."


Kana tersenyum. Meraih bantal yang berada di atas, dan meletakkan kepalanya di bantal itu. "Nanti jangan lupa kasih nama Artana ya di anak kita."


"Walaupun cewek?" tanya Kaila.


Kana terdiam. "Ah, iya juga ya. Sebenarnya nama Artana bukan Marga sih." Kana melebarkan mata. "Aku tahu."


"Apa?"


"Kita harus selipin nama anak kita dengan nama Bintang."


"Bintang?"


Kaila menaikkan kedua alisnya.


Kana mengangguk. "Bintang 'kan bisa cewek bisa cowok. Buat selipan di tengah aja sih. Tapi nama panggilannya apa ya?" pikir Kana.


Kaila tampak berpikir. "Kenapa gak ikutin Mama sama Papa kamu."


Kana mengerutkan dahinya. "Maksudnya?"


"'Kan nama kamu gabungan dari nama Mama sama Papa 'kan?"


Kana mengangguk membenarkan. "Kana, Kavin Alina."


Kaila tersenyum. "Nah, kalau gitu—"


"KALA!" teriak keduanya bersamaan.


Kana mengangguk. "Iya, bener. Kala, Kana Kaila." Kana mengangguk setuju.


Kaila mengangguk. "Setuju 'kan?"


Kana mengangguk. "Jadi kalau cowok kita namain Kala Bintang Artana."


Kaila tersenyum. "Kalau cewek, Kala Bintang Qirani."


Kana tertawa. "Bener! Setuju-setuju."


Kaila terkekeh dan memeluk Kana.


"Tapi bahasin nama Baby, kenapa gak kita coba lagi buat Baby?" ucap Kana dengan mata memohonnya.


Jika membicarakan hal ini. Rasanya ingin sekali Kaila menghilang. Kaila bukannya tak mau.


'Tapi ngapa gak langsung aja sih? Pakai nanya segala,' ucap Kaila dalam hati.


-o0o-


Keiza memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Saat ini, sepasang suami istri itu tengah sarapan di kamar. Setelah memesan nasi goreng dan di antarkan oleh pelayan, keduanya memutuskan sarapan sebelum memulai aktivitas yang lain.


"Kaila sama Kana udah sarapan belum ya?" ucap Keiza.


"Yah, paling juga masih tidur dua orang itu."


Keiza tertawa kecil dan kembali menyendokkan nasi goreng.


"Kita mau keluar hotel bareng mereka atau kita langsung aja?" tanya Aji.


"Tanyain mereka dulu kali ya? Siapa tahu mereka mau ke rumah orangtuanya Kana atau gak Papa Angga."


Aji menggeleng. "Gak mungkin sih."


Keiza mengerutkan dahinya. "Kok gak mungkin."


"Om Kavin udah beliin mereka rumah di daerah Cempaka Putih. Mungkin mereka bakal langsung kesana."


Keiza membulatkan bibirnya. "Kok Kaila gak cerita ya?"


"Mungkin Kaila juga baru tahu sekarang atau malah belum tahu." Aji menaikkan kedua alisnya. "'Kan Kana memang sengaja gak bilang dulu sama Kaila, takut Kaila gak mau nerimanya. Soalnya itu bener-bener pure murni Om Kavin yang beliin hasil jual sahamnya."


"Waw."


Aji tersenyum. "Uang Om Kavin itu dimana-mana. Dia itu tajir melintir, Yang. Cuma memang keluarga mereka aja yang gak mau mengeksposnya. Secara, mereka sama aja punya usaha sendiri-sendiri. Kana sukses sama kliniknya, Tante Alina sukses sama karyanya yang udah banyak di film-in. Bahkan denger-denger, Tante Alina sekarang lagi mulai jadi sutradara film."


Keiza membuka mulutnya kagum. "Hebat juga ya keluarga mereka."


Aji mengangguk. "Tapi ya itu, mereka gak suka pamer orangnya."


Keiza mengangguk membenarkan.


"Oh ya, bahas rumah, Kakek juga beliin kita apartemen loh!"


Keiza melebarkan mata. "Kakek?" tanya Keiza.


Ya, Kakek yang Aji maksud adalah kakeknya yang menjabat sebagai ketua direktur rumah sakit.


Aji mengangguk. "Aku juga kaget sih. Soalnya kemarin waktu di pelaminan Kakek bisikin aku sambil ngasih ini," ucap Aji menunjukkan kunci apartemen baru mereka.


"Kata kakek sih, apartemen kia gak jauh dari rumah sakit. Jadi kita gak perlu lagi takut telat," ujar Aji.


"Kamu yang sering telat. Aku mah kalau berangkat pagi terus. Gak pernah telat!"


Aji melebarkan mata. "Kata siapa? Dulu, yang kita tabrakan, hmm?"


Keiza menyunggingkan senyumnya. "Ya 'kan sekali."


"Iya sekali, tapi kalau saat itu kamu gak telat, kita gak akan sedeket dan jadi suami istri sih."


Keiza tertawa dan mengangguk.


-o0o-


Bima membuka gerbang dan kembali masuk ke dalam mobil.


"Kak Bima! Mau kemana?" teriak Kiara yang melihat kakaknya hendak keluar.


Bima menoleh dan membuka kaca jendelanya. "Ke Mall."


"Ikut!" teriak Kiara dan menghampiri.


Bima membuka kunci mobil dan membiarkan Kiara masuk ke dalam.


"Kok kamu udah rapih?" tanya Bima bingung.


Kiara menyengir Kuda. "Tadi waktu kakak manasin mobil, aku langsung siap-siap."


Bima tertawa dan mulai melajukan mobilnya.


"Kak Bim, ini 'kan mobil yang nabrak itu 'kan?"


Bima mengangguk.


"Terus mobil yang kemarin beli? Buat apa?" tanya Kiara bingung.


"Itu mobil buat Kaila."


Kiara membulatkan bibirnya. "Enak ya, nikah dibeliin mobil. Nanti kalau aku nikah, beliin rumah ya?"


Bima tertawa. "Enak bener kalau ngomong. Sekolah dulu yang bener."


Kiara terkekeh dan menyendarkan tubuhnya di kursi.


"Kak."


Bima menoleh sekilas dan menaikkan kedua alisnya.


"Kakak pernah kepikiran Papa gak sih?" lirih adiknya.


Bima tersenyum miring. "Hendry?"


Kiara mengangguk.


"Buat apa? Dia juga paling geh gak inget sama kita."


Kiara terdiam dan menunduk.


Melihat adiknya sedih, membuat Bima merasa bersalah.


"Dek, kamu kangen sama orang itu?" tanya Bima tak habis pikir.


Terus terang Kiara mengangguk. "Aku kangen sama dia. Sejahat apapun dia, dia tetep Papa kita."


Bima berdecak. "Kamu bilang gitu, karena kamu gak ngerasain jadi kakak, Dek."


"Gak ngerasain apa, Kak? Aku ngerasain. Aku ngerasain Mama aku disiksa, di tampar, di jambak di depan mata aku sendiri!"


Benar, Kiara juga merasakan hal itu.


Jika saat kecil Bima melihat Bina yang menjadi korban, maka Kiara menyaksikan Nabila yang menjadi korban.


"Kak, sebejat-bejatnya Papa Hendry, dia tetep Papa kita! Aku yakin dia pasti menyesal." ucap Kiara dengan emosi meluap.


Bima tak habis pikir. Laki-laki itu menggelengkan kepala. "Jadi kamu berharap dia bakal jadi baik dan gak akan melukai kita? Dia itu cuma psikopat!"


"Kakak!" teriak Kiara tak terima.


Bima melebarkan mata. "Apa?"


Kiara menggelengkan kepala. "Kakak tega!"


Bima mengangguk. "Memang, memang kakak tega!"


"Turunin aku aja kalau gitu!" ucap Kiara.


Bima menggeleng. "Gak mau."


"Turunin!"


"Enggak!"


"Kak, aku bilang turunin, ya turunin!" teriak Kiara.


Bima menggeleng. Ia mempercepat lajunya dan semakin cepat.


"Kak! Turunin!"


Bima menggeleng. Ia semakin menaikkan gasnya tanpa mempedulikan adiknya.


"KAK, AWAS!" teriak Kiara yang melihat seekor anjing melintas.


'Chittttt!'


Suara rem terdengar jelas.


Bima menghela napas lega saat ia berhasil mengendalikan lajunya.


Kiara segera turun dan memastikan anjing tadi. Begitupun Bima.


Keduanya tersenyum lega saat anjing itu tak tertabrak.


"Bima?"


Bima menoleh pada suara itu. Begitupu Kiara.


"Siska?"

__ADS_1


"Mau lo tabrak anjing gue lagi?"


-o0o-


__ADS_2