KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 33


__ADS_3

a/n :


Maaf temen-temen mau kasih klarifikasi kalau yang di temuin sebelumnya bukan Arga, tapi Rafa.


Enjoy to read this story ^^


Part 33


Alina menatap laki-laki itu dengan tatapan terkejut. "Rafa? Kamu disini?"


Rafa tersenyum dan mengangguk. "Iya, aku memang tinggal di Jogja. Kamu sendiri? Bukannya kamu sama Kavin tinggal di Jakarta ya?"


Alina mengangguk. "Iya, aku memang di Jakarta. Dan kebetulan, aku lagi nemuin anak aku yang kuliah di Jogja."


"Anak?" Rafa menaikkan kedua alisnya. "Ini anak kamu?" tanyanya menunjuk Kana.


Alina mengangguk membenarkan.


Rafa tertawa. "Mirip banget sama Kavin," ucapnya lalu menoleh pada Erkan. "Kenalin, Alina. Ini Erkan, anakku yang pertama."


"Jadi ini anak kamu?" tanya Alina.


Rafa mengangguk membenarkan. "Ini anak pertamaku. Dan aku juga punya anak cewek, dia masih SMP kelas Dua," ucap Rafa tertawa.


Alina tersenyum seraya menggelengkan kepala. "Gak nyangka ya, kita udah tua gini."


Rafa mengangguk. "Gimana soal nulis kamu? Denger-denger, ada novel kamu yang bakal di film-in lagi ya?"


Alina mengangguk dengan senyuman. "Alhamdulillah."


"Selamat ya, Na."


Alina tersenyum.


"Pa, dia siapa?" tanya Erkan tanpa basa-basi.


Rafa tersenyum bingung. "Emm— tante ini— dia—"


"Tante temen sekelas Papamu dulu waktu SMA," ucap Alina membuat semua yang ada disini membulatkan bibirnya, termasuk Kaila.


Rafa tersenyum ragu. "Emm— iya. Kita teman SMA. Dan, udah lama ya Na, kelas kita gak ngadain reuni. Oh ya, gimana kabar Nana sama Deca? Nana akhirnya menikah sama sepupu kamu 'kan? Siapa itu namanya," Rafa tampak mengingat.


"Om Anan," ucap Kana.


"Ah, iya! Anan."


"Iya, Tante Nana menikah sama Om Anan dan lahirlah Aji," ucap Kana menjelaskan. "Dan, Mama Alina menikah sama Papa Kavin dan lahirlah Kana, Om." Kana menatap wajah Rafa. "Saya gak tahu siapa Om, tapi gak tahu kenapa, feeling saya ngerasa Om ini bukan sekedar temen SMA Mama." Kana melebarkan mata. "Tunggu— Om waktu kuliah ambil jurusan hukum di UGM?"


Rafa mengangguk. "Tentu. Karena itu sekarang saya jadi pengacara."


"Fix! Om mantan Mama saya 'kan?" tanya Kana.


Rafa melebarkan mata. Ia tak tahu harus menjawab apa.


Kana tersenyum. "Gak usah gugup, Om. Saya gak akan mempermasalahkan kok kalau dulu Om pernah nyakitin Mama saya. Dan saya rasa juga itu udah gak penting. Mama saya udah bahagia sama Papa saya," ucap Kana dengan senyuman.


Rafa tersenyum. "Kamu cerdas juga."

__ADS_1


"Oh, tentu! Mama saya 'kan memang cerdas. Karena itu saya ikut cerdas," jawab Kana membuat Rafa tertawa renyah.


"Yaudah kalau gitu, kami permisi ya?" ucap Alina seraya menarik lengan Kaila.


Rafa mengangguk dan membiarkan mantan kekasihnya itu pergi.


Kana mengikuti langkah Mamanya. Ia menggelengkan kepala tak habis pikir. "Ini pamit pulang, yang di gandeng bukannya Kana, malah Kaila."


-o0o-


"Jadi itu yang namanya tante Alina?" tanya Erkan pada Papanya.


Rafa mengangguk. "Sekarang kamu udah tahu 'kan?"


Erkan mengangguk. "Gak salah sih kalau dulu Papa bisa cinta sama dia. Dia juga orangnya keliatan baik."


Rafa tersenyum. "Orang baik pada akhirnya akan berakhir dengan orang yang baik pula."


-o0o-


"Alina."


Alina menoleh pada wanita yang memanggilnya barusan. Ia tersenyum dan memandang wanita itu.


"Mau mampir ke rumah?" tanya Nabila dengan hati-hati. Ia tak yakin Alina akan menerima tawarannya.


Alina tersenyum dan menatap jam yang melingkar di tangannya. "Sebenarnya aku gak bisa lama-lama disini. Tapi— karena aku udah pernah janji sama anakmu ini, jadi ayo!"


Nabila melebarkan mata. Ia tak percaya wanita itu mau mampir ke rumahnya.


Alina tersenyum. "Tunggu apa lagi, Bil? Ayo! Aku pengen nyobain masakanmu."


"Yaudah ayo kita masak dulu," ucap Alina berjalan menuju mobilnya.


Kana dan Kaila seperti mendapatkan kejutan besar. Keduanya tak menyangka orangtua mereka akan seakrab ini.


"Apa ini La, yang dinamakan musibah membawa hikmah?" tanya Kana.


Kaila menggelengkan kepala. "Aku juga gak tahu," jawabnya lalu tertawa.


"Kami berdua pamit pulang ya, Kan, Kai," ucap Kevin pada sepasang kekasih itu.


"Kalian gak mau mampir ke rumah?" tanya Kaila.


"Lain kali aja ya?" ucap Wilka. "Gak enak, takut ganggu kalian quality time," ucap Wilka terus terang.


Kaila tertawa. "Ih, apa sih Wil? Gak papa kali. Yuk," ajaknya.


Wilka menggeleng. "Next time aja ya? Okay?" ucapnya.


Kaila mengangguk. "Oke deh, kalian juga have fun ya?"


Kevin tersenyum. "Yaudah, kalau gitu kami berdua pergi dulu ya? Bye!" ucap Kevin menarik tangan Wilka dan berjalan menuju motornya.


Kaila tersenyum melihat keduanya. Lalu beralih pada Kana, dan memasuki mobil Alina.


-o0o-

__ADS_1


"La, cobain deh, sup buatan tante," ucap Alina memberikan sendok berisi kuah sup buatannya.


Kaila membuka mulutnya dan menerima suapan dari Alina.


"Emm—"


Alina tersenyum. "Enak?" tanyanya menaikkan kedua alisnya.


Kaila mengangguk. "Enak!"


"Yeay! Enak tuh Bil kata anakmu," ucap Alina tersenyum bangga karena masakannya di puji enak oleh Kaila.


Nabila tersenyum lebar. "Mana Kana, aku mau suruh dia cobain tumis buatanku," ucap Nabila berjalan keluar dengan membawa piring kecil berisikan tumis ayam suwir buatannya.


Kaila tersenyum memandang Alina.


"Bahagia banget Kaila," ucap Alina.


"Banget, Tan. Ini pertama kalinya Kaila bisa liat Tante sama Mama kaya gini," ucapnya.


Alina tersenyum. "Maafin Tante ya, bisa kasih ini sekarang."


Kaila mengangguk. "Gak papa, Tan."


Alina tersenyum lalu memeluk gadis itu. "Makasih banyak ya, kamu udah mencintai anak tante."


Kaila mengangguk dan menikmati pelukan itu.


"Enak banget, Ma!" teriak Kana membuat dua wanita itu melepaskan pelukan dan menoleh ke sumber suara.


"Ini Mama yang masak?"


"Kana manggil Mamamu, Ma?" tanya Alina.


Kaila mengangguk. "Bahkan manggil Papaku juga, Pa."


Alina menggelengkan kepala. "Dia persis Om Kavin dulu."


"Dulu Om Kavin kaya gitu?"


Alina mengangguk membenarkan. "Kana itu bagaikan Kavin yang dibelah dua. Dingin-dinginnya, tengil-tengilnya, romantis-romantisnya, tapi bedanya—Kana lebih pinter dari Papanya."


Kaila tertawa mendengar penjelasan Alina.


"Apa sih Tan yang bikin tante bisa jatuh hati sama Om Kavin?" tanya Kaila ingin tahu.


Alina tersenyum dan menatap lurus ke depan. "Dia itu spesial. Dia itu yang selalu ngingetin Tante untuk cari laki-laki yang humoris, jangan yang romantis."


"Tapi Om Kavin romantis 'kan, Tan?" tanya Kaila.


Alina mengangguk. "Dia romantis, tapi dia gak mau nyebut dirinya romantis. Itu hal yang bikin Tante ngerasa dia spesial. Dan Om Kavin, mau melakukan hal bodoh asal bisa bikin Tante bahagia dengan perlakuan dia. Meskipun saat pertama ketemu dia, dia orang yang dingin, tapi dia berhasil merebut hati Tante."


Kaila tersenyum mendengarnya. "Persis, Tan."


"Persis dengan Kana?"


Kaila mengangguk. "Dinginnya Kana yang berhasil membuat Kaila jatuh cinta."

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2