KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 18


__ADS_3

Part 18


Kana tersenyum saat gadis yang ia rindukan telah kembali. Ia memandang Kaila yang baru saja keluar dari klinik setelah mengobati lukanya.


"Pasti sakit ya?" tanya Kana tak tega.


Kaila mengangguk. Jelas saja sakit.


"Kita pulang sekarang ya? Pasti nyokap lo khawatir banget."


Kaila tersenyum getir. Kana tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan keluarganya. Dan Kaila rasa, Kana tak perlu tahu. Ia tak ingin melibatkan Kana terlalu dalam tentang masalahnya.


"Pelan-pelan." Kana membantu Kaila naik ke motor. "Siap?"


Kaila mengangguk dengan senyuman membuat Kana terkekeh dan melajukan motornya.


"Emm, Kana."


"Iya?"


"Lo pelan-pelan aja ya bawa motornya? Gue rada pusing kalau di bawa kebut-kebutan."


Kana tersenyum dan mengangguk. "Iya, Kai. Siap."


Entah mengapa mendengar Kaila memintanya membawa motor pelan, membuatnya senang dan bahagia. Tentu saja senang, karena hanya inilah yang bisa Kana lakukan.


"Dingin ya?" tanya Kana pada gadis itu.


Kaila mengangguk.


Kana tersenyum. Ia meminggirkan motornya dan berhenti. Laki-laki itu turun dan melepaskan jaket yang ia kenakan, lalu memasangkannya pada tubuh Kaila.


Kaila tersenyum atas perlakuan Kana.


"Makasih ya?"


Kana mengangguk dan kembali naik ke atas motornya.


Kaila terdiam. Ia menatap jaket yang melekat pada tubuhnya dan tersenyum. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri dan memejamkan mata.


Tanpa Kaila sadari, Kana menatapnya dari balik spion. Laki-laki itu tersenyum melihat Kaila senang atas perlakuannya.


"Gue gak tahu sejak kapan gue jatuh cinta sama lo Kai," lirihnya pelan dan menggelengkan kepala dengan senyuman.


Lama perjalanan, akhirnya keduanya sampai di tempat tujuan.


Kana turun dari motornya lebih dulu dan membantu Kaila untuk turun.


"Pusing gak?" tanya Kana khawatir.


Kaila menggeleng dan tertawa.


"Loh, kok ketawa?" tanya Kana tak mengerti.


"Ini Kana 'kan?" tanya Kaila membuat Kana mengerutkan dahi tak mengerti.


"Maksudnya gimana? Ya ini guelah, Kana."


Kaila tersenyum. "Lo beda banget. Lo gak sedingin yang gue kira."


Kana mengulum senyumnya membuat laki-laki itu terlihat manis.


"Kaila!" teriak seorang wanita dari jendela.


Kaila menoleh dan melambaikan tangannya.


"Itu Mama lo?" tanya Kana.


Kaila menggeleng. "Itu Tante gue, Tante Naira."

__ADS_1


Kana membulatkan bibirnya tanda mengerti.


"Kaila!" teriak Naira yang sudah berada di luar dan menghampiri keponakannya.


"Tante."


Naira tersenyum dan memeluk Kaila. "Kamu dari mana aja sih, sayang? Tante panik tahu gak! Tante udah nelpon tempat kerja kamu, katanya kamu di culik. Apa bener kamu di culik?"


Kaila mengangguk.


"Siapa yang nyulik kamu, Kai?"


Kaila menunduk. Ia mendekat ke arah Naira dan berbisik. "Kita bicara di dalem aja ya, Tan? Gak enak bicarain ini di luar."


Naira mengangguk.


Kaila tersenyum dan beralih pada Kana. "Kana, makasih ya lo udah anterin gue. Dan makasih juga, karena lo dan Bima udah berusaha cariin gue."


Kana mengangguk dan tersenyum. "Iya, Kai. Liat lo baik-baik aja dan bisa tersenyum, gue seneng banget."


Naira tersenyum mendengar ucapan Kana. "Kana, tante ucapin makasih banyak ya? Sampaikan juga ke Bima, makasih banyak."


Kana mengangguk. "Siap, Tante. Kalau gitu, Kana permisi ya Tante, Kai."


Naira dan Kaila mengangguk dengan senyuman.


Kana memandang Kaila sekilas dan berjalan menuju motornya.


"Kana," panggil Kaila membuat laki-laki itu menoleh. "Hati-hati ya," ucap Kaila.


Kana tersenyum manis dan mengangguk, lalu mengenakan helm-nya.


"Ayo, masuk," titah Naira pada Kaila.


Kaila mengikuti langkah Naira, namun pandangannya masih mengarah pada Kana. "Hati-hati," lirih Kana kembali.


Kana tersenyum lalu melajukan motornya meninggalkan rumah tersebut.


-o0o-


Kaila mengangguk. "Tante tahu gak? Ternyata selama ini Mama pernah ketemu aku."


Naira melebarkan mata. "Kamu serius? Jadi Mama kamu tahu kamu di Jakarta."


Kaila mengangguk. "Tapi aku gak pernah sadar, Tan. Dan aku gak pernah ngerasa kalau aku ketemu Mama."


Naira terdiam.


Raut wajah Kaila begitu sedih. Ia meraih tangan Naira dan menatapnya. "Tante beneran gak pernah ketemu Mama?"


Naira menggeleng. "Enggak, sayang. Tante juga udah berusaha buat cari Mama kamu, tapi Tante gak berhasil nemuin. Tante gak berhasil nemuin Kakak Tante sendiri."


Kaila menunduk.


Naira menatap keponakannya dengan tatapan sedih. "Jadi siapa yang nyulik kamu?"


Kaila menghela napas. Ia tak yakin menceritakan semua ini. Tapi ia rasa Naira harus tahu, hanya Nairalah yang ia miliki sekarang.


"Siapa, Kai?" tanya Naira kembali.


"Suami Mama, Tan."


Naira melebarkan mata. "Suami Mama kamu?" ucapnya dengan tangan yang mengepal.


Kaila mengangguk.


Naira menggelengkan kepala. Ia menatap wajah Kaila dengan rasa iba. "Jadi luka ini juga dia yang buat?"


Kaila mengangguk. "Anak buahnya yang udah ngehajar Kaila sampai pingsan."

__ADS_1


Naira menghela napas panjang. Ia begitu emosi atas apa yang sudah suami kakaknya lakukan.


Kaila menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Naira menatap keponakannya dengan rasa sakit. Ia begitu sakit melihat Kaila seperti ini. Naira menarik Kaila dalam pelukannya. "Maafin Tante, ya? Maafin Tante karena gak bisa jagain kamu."


Kaila menangis dalam pelukan Naira. "Kenapa suami Mama jahat banget Tan sama Kaila? Kenapa dia tega?"


Naira diam. Ia sendiri tak tahu alasan ayah tiri Kaila menghajar Kaila dengan begitu tega.


"Kamu inget apa yang dia bilang ke kamu?" tanya Naira.


Kaila mengangguk. "Dia minta Kaila jangan cari-cari Mama lagi. Dan Kaila harus janji sama dia. Dia juga pengen Kaila pergi dari kota ini."


"Tapi kamu nuturin kemauan dia 'kan?"


Kaila menunduk. "Kaila sendiri gak tahu Tan harus gimana. Kaila gak pernah berhasil nemuin orangtua Kaila sendiri. Kaila kangen sama Mama, Papa, sama Kakak, sama Adik Kaila, Tan."


Naira mengangguk mengerti. "Tante tahu sayang gimana perasaan kamu. Kita berdua sama. Sama-sama sendiri. Jadi Tante minta, kamu tetap disini ya?"


Kaila mengangguk dan memeluk Tantenya.


"Oh ya, soal SNMPTN, kamu beneran jadi ambil Kedokteran?"


"Iya, Tante."


"Di Jakarta 'kan?" tanya Naira memastikan.


Kaila diam beberapa saat. "Tante," ucapnya.


"Iya?"


Kaila menunduk. "Sebenarnya Kaila ambil di Jakarta sama di Jogja, Tan."


"Jogja?"


Kaila mengangguk.


"Kenapa kamu ambil di Jogja?"


Kaila diam. Ia tak mungkin jika mengatakan yang sebenarnya. Sebab, alasan Kaila mengambil di Yogyakarta juga karena saat itu Kaila tahu jika Kana ingin mengambil kuliah di Yogyakarta.


"Tapi Kaila ambil beasiswa kok, Tan."


"Iya, sayang. Kamu gak ambil beasiswa pun, Tante bakal biayain kamu kok. Tapi kenapa di Jogja? Bukannya kamu ke Jakarta karena mau nyari Mama kamu 'kan? Kenapa kamu balik ke sana lagi."


Kaila mengangguk dan menunduk. "Kaila ngerasa kebahagiaan Kaila ada di sana, Tan. Dan Kaila berharap, sebelum pengumuman, Kaila berhasil nemuin Mama."


Naira tersenyum. "Ya sudah, kalau memang itu mau kamu. Tapi Tante mohon, kamu harus hati-hati ya mulai sekarang. Jangan pernah pergi sendiri lagi."


Kaila mengangguk dengan senyuman.


"Oh ya, cowok tadi pacar kamu?"


Kaila menaikkan kedua alisnya. "Kana maksud Tante?"


Naira mengangguk.


Kaila terkekeh. "Bukan, Tan."


"Tapi kayanya kalian berdua sama-sama suka," ucap Naira membuat pipi Kaila memerah. "Kamu suka ya sama dia?"


Kaila tersenyum dan menggelengkan kepala. "Kaila sendiri gak tahu, Tan. Perasaan Kaila berubah-ubah. Waktu itu Kaila suka, terus setelahnya Kaila kesel sama dia, dan sekarang—"


"Jadi suka lagi?" goda Naira membuat Kaila tersipu malu.


"Tapi dia nyebelin, Tante."


Naira tertawa. "Kadang orang kita suka memang gitu, Kai. Nyebelin, tapi bikin kangen."

__ADS_1


Kaila terkekeh dan menatap jaket yang melekat pada tubuhnya.


-o0o-


__ADS_2