KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 36


__ADS_3

Part 36


"Kita boleh liat Mamamu?" tanya Adinda.


Kaila mengangguk dan mengajak ketiganya untuk masuk ke dalam.


Dan tanpa mereka semua sadari, terdapat seseorang yang terus memperhatikan. Ia tak berani muncul, serta tak ada yang tahu keberadaannya disini. Kecuali satu.


"Kamu udah disini?"


Ia melebarkan mata terkejut saat seseorang berada di belakangnya. "Wilko?"


Wilko tersenyum dan menarik tangan gadis itu.


"Mau kemana?"


Wilko tak menjawab. Ia mengajak gadis itu ke taman rumah sakit.


Wilko menghela napas dan menatap gadis itu dengan tatapan teduh. "Ayo duduk," ajaknya menunjuk kursi panjang yang berada di hadapannya.


Gadis itu mengangguk dan mengikuti perintah Wilko.


Wilko tersenyum dan menatap lurus ke depan. "Kenapa masih sembunyi, Kei?"


Keiza menelan salivanya dan menatap laki-laki itu. "Masih sulit, Ko."


Wilko mengangguk. Ia mengerti. "Aku tahu ini semua berat. Gimana sulitnya kamu harus terpisah dari mereka."


Keiza tersenyum. "Makasih banyak ya? Karena kamu, aku tahu keberadaan mereka."


Wilko mengangguk. "Dari awal aku liat Kaila, entah kenapa pikiranku langsung tertuju ke kamu. Wajah dia yang buat aku keinget kamu."


Keiza mengangguk membenarkan. "Kamu bener. Banyak dari mereka yang bilang kalau aku sama Kaila memang mirip."


Wilko tersenyum. "Jadi kapan kamu bakal temuin mereka dan bilang yang sebenarnya?"


Keiza menggeleng.


Wilko mengerutkan dahinya. "Kamu gak mau bilang yang sebenarnya ke mereka?"


Keiza menghela napas panjang. "Bukan aku gak mau. Aku takut, kehadiranku gak di harapkan sama mereka."


"Dan kamu bakal bertahan sama keluarga angkat kamu yang jahat itu?" tanya Wilko.


Keiza menunduk. "Aku gak tahu, Ko."


Wilko meraih tangan Keiza, namun Keiza tahan.


"Sorry," lirih Wilko.


Keiza menggangguk, namun suasana berubah menjadi canggung.


"Maafin aku Kei."


Keiza menoleh. "Untuk?"


"Karena selama aku jadi pacar kamu, aku gak pernah sadar kalau kamu menderita."

__ADS_1


Keiza tersenyum. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada laki-laki itu.


"Dari kapan, Kei?" tanya Wilko.


Keiza mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Dari kapan mereka nyiksa kamu?" tanya Wilko penuh penekanan.


Keiza menelan salivanya dengan susah payah.


"Dari kapan mereka nyiksa kamu?" tanya Wilko sekali lagi namun dengan suara lembut.


Keiza menghela napas panjang dan menatap langit. "Dari mereka angkat aku sebagai anak."


Wilko melebarkan mata. "Erkan tahu?"


Keiza mengangguk lalu menatap lurus ke depan. "Sebenarnya, selama ini dia yang selalu ngelindungin aku."


"Tapi sikap kasar dia ke kamu?"


Keiza tersenyum. "Sebenarnya dia gak pernah jahat atau kasar ke aku. Yang kalian lihat, itu karena aku gak mau dengerin dia yang terus bujuk aku untuk pergi dari keluarga angkatku." Keiza memberi jeda pada ucapannya. "Dia memang terkesan kasar, tapi itu cara dia buat ngelindungin aku."


Wilko terdiam. "Kenapa aku baru tahu sekarang, Kei? Kenapa aku baru tahu setelah aku bukan siapa-siapa kamu?"


Keiza tersenyum tipis. "Gak ada yang perlu di sesalin, Ko. Semua udah terjadi, dan soal orang tua angkatku, secepatnya aku akan pergi dari kehidupan mereka."


Wilko mengangguk. "Apapun pilihan kamu nanti, aku tetap dukung kamu, Kei."


Keiza tersenyum menatap laki-laki itu.


-o0o-


Kaila mengangguk. "Setelah denger kabar Mama masuk rumah sakit, dia langsung panik dan mutusin buat pulang."


Adinda tersenyum lalu menatap Nabila yang masih terbaring tak sadarkan diri. "Sepertinya nyokap lo memang orang yang baik, Kai. Sampai-sampai, Bima yang gak ada ikatan darah pun, mengangkap nyokap lo seperti ibu kandung."


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Gue juga bisa lihat gimana sayangnya nyokap gue ke Bima, begitu pun sebaliknya."


"Semoga nyokap lo cepet sadar dan gak terjadi apa-apa ya, Kai," ucap Aji.


Kaila tersenyum. "Makasih banyak ya atas doa kalian. Dan makasih banyak juga, kalian udah jauh-jauh dari Jakarta ke Jogja cuma buat nemuin gue dan nyokap."


Aji dan Adinda mengangguk. "Kita selalu berdoa yang terbaik buat kesembuhan nyokap lo," ucap Aji.


Kaila mengangguk lalu menatap Adinda. Ia ingat gadis itu memiliki sebuah penyakit. "Soal kesehatan lo—"


Adinda tersenyum. "Dokter udah bilang kalau umur gue udah gak panjang lagi, Kai. Karena itu gue akan menikmati sisa hidup gue," ucap Adinda dengan senyuman.


Kaila tersenyum dan memeluk gadis itu.


"Permisi," ucap salah seorang suster yang berada di belakang mereka.


Kaila melepas pelukannya dan berbalik badan menatap suster itu. "Ada apa ya, Sus?"


"Hasil pemeriksaan Ibu Nabila sudah keluar, keluarga diminta untuk menemui Dokter di ruangan," ucap suster itu.


Kaila mengangguk dan menoleh pada ketiganya. "Aku temuin dokter dulu ya?"

__ADS_1


"Aku temenin ya?" ucap Kana.


Kaila mengangguk dan keduanya pun berjalan menuju ke ruangan yang dimaksud suster tadi.


Sesampainya disana, Kana mendorong pintu dan menyuruh Kaila untuk masuk terlebih dahulu dan di ikuti oleh ia yang berjalan di belakangnya.


"Permisi, Dok?" ucap Kaila.


Dokter itu tersenyum. "Silahkan duduk."


Kaila dan Kana mengangguk, lalu menarik kursi yang berada di depannya.


Dokter itu tersenyum pada keduanya. "Saya Dokter Akmal, yang menangani Ibu Nabila."


Kaila mengangguk.


"Seperti yang sudah diberitahu suster tadi, kalau hasil uji atau pencitraan laboratorium telah keluar. Saya sudah melihat hasilnya dan—"


"Apa hasilnya, Dok?" tanya Kaila penasaran.


Dokter itu terdiam, lalu melanjutkan ucapannya. "Ibu Nabila mengalami penyakit Arteri Perifer, penyakit Arteri Perifer yang di alami ibu Nabila mengacu pada penyempitan arteri yang mengarah ke kepala Ibu Nabila. Pengurangan aliran darah ini dapat merusak sel-sel dan jaringan pada otak Ibu Nabila."


Kaila menggigit bibir bawahnya dan menggeleng tak percaya. "Kenapa Ibu saya bisa menderita penyakit itu dok?"


"Banyak faktor yang dapat menyebabkan penyakit ini, salah satunya karena kadar homocysteine yang tinggi, yaitu sejenis protein yang membangun dan memelihara jaringan. Atau bisa juga karena riwayat keluarga yang mengidap penyakit arteri perifer, penyakit jantung atau stroke. Apa keluarga ada yang menderita penyakit yang saya sebutkan?"


Kaila mengangguk. "Kakek saya meninggal karena penyakit jantung, Dok."


"Nah, itu juga bisa menjadi faktor penyebab Ibu Nabila mengidap penyakit arteri perifer. Sebenarnya penyakit ini lebih sering diderita oleh mereka yang berusia Lima puluh tahun ke atas, namun tidak menutup kemungkinan juga untuk mereka yang belum berusia Lima puluh tahun,"


"Lalu apa penyakit ini berhubungan dengan ibu saya yang sering pingsan, Dok?" tanya Kaila kembali.


Dokter itu meletakkan tangannya di atas meja. "Penyebab Ibu Nabila sering pingsan secara tiba-tiba yang pertama dan paling umum adalah mengalami gangguan pada saraf vagus. Kelainan pada otak ini terjadi karena terganggunya keseimbangan antara zat kimia adrenalin dengan asetilkolin."


"Apa ibu saya bisa sembuh, Dok?"


"Kita berharap besar untuk kesembuha Ibu Nabila. Namun, kami perlu memberitahu jika tindakan yang harus dilakukan untuk penyakit Ibu Nabila adalah prosedur Angioplasti."


"Angioplasti?" tanya Kaila yang sepertinya tak asing.


Dokter mengangguk. "Sebuah prosedur tindakan medis untuk pelancaran arteri dengan menggembungkan balon didalamnya."


Kaila mengangguk. Benar, ia ingat dengan tindakan itu. Ia pernah mendengar sebelumnya di kampus.


"Kira-kira kapan ibu saya bisa menerima prosedur itu, Dok?"


"Secepatnya. Tapi apa dari pihak keluarga siap?" tanya Dokter itu.


Kaila mengangguk. "Siap, Dok."


"Kai, apa gak sebaiknya nunggu keluarga yang lain?" tanya Kana.


Kaila menatap laki-laki itu dan tersenyum miris. "Siapa, Kan? Aku gak punya siapa-siapa disini selain Mama."


"Ada aku."


Kaila dan Kana melebarkan mata dan menoleh ke belakang.

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2