
Part 40
“Ja— jadi lo sama Bima saudara tiri?!” pekik Elsa memenuhi isi ruang kelas. Untunglah pagi ini kelas masih sangat sepi. Hanya ada dia dan juga Kaila.
Kaila mengangguk membenarkan. “Lo gak nyangka ‘kan?” tanya Kaila.
Elsa menggeleng. “Terus hubungan lo sama Bima gimana? Baik-baik aja ‘kan?”
Kaila tersenyum tipis. “Udah beberapa hari ini, dia kaya menghindar gitu dari gue, El. Bahkan, saat kita ketemu di jalan pun, dia cuma senyum dan pergi."
"Bima kenapa kaya gitu?"
Kaila menggeleng tak tahu. "Kayanya dia belum bisa nerima kalau gue adik tirinya.”
Elsa menghela napas. “Kenapa semua serumit ini sih, Kai? Gue seneng lo akhirnya ketemu nyokap lo, tapi gue sedih saat tahu Bima Kakak tiri lo.”
"Hah? Bima kakak tiri Kaila?" tanya Ajeng yang baru saja sampai di mejanya.
Kaila menoleh dan mengangguk. "Lo jangan cerita siapa-siapa ya? Gue takut berita ini menyebar luas."
Ajeng mengangguk mengerti. "Santai, Kai. Terus hubungan lo sama Bima gimana? Bima masih ngarepin lo 'kan?"
Kaila tersenyum. "Dia udah berhenti, Jeng, El."
"Hah? Maksud lo Bima ngikhlasin lo gitu?" tanya Ajeng.
Kaila mengangguk. "Dia gak bisa kaya gini. Dia gak bisa jatuh cinta sama saudara tirinya sendiri."
"Tapi 'kan kalian gak ada hubungan darah. Jadi gak papa dong!" ujar Elsa.
Kaila mengangguk. "Ya, gue ngerti. Cuma coba deh lo di posisi kita. Kita berdua punya adek yang sedarah sama kita. Dan kita juga gak mungkin ngejalanin hubungan yang menurut kita berdua sangat gak masuk akal. Ya, walaupun gue sadar, banyak kasus seperti ini di luar. Tapi mau bagaimana pun kita menghargai nyokap kita, El, Jeng."
Elsa mencerna ucapan Kaila. "Iya sih, bener. Mau bagaimana pun Bima gak boleh egois. Dia gak boleh ngejar adik tirinya sendiri."
"Wah, jadi Kana menang banyak dong! Saingannya berkurang Satu sekarang," tutur Ajeng.
Kaila dan Elsa tertawa.
"Bener juga kata lo, Jeng," ucap Elsa.
"Tapi meskipun begitu, jujur, gue kangen banget sama sifat Bima. Gue kangen sikap dia yang hangat sama gue. Meskipun selama ini gue selalu bales dengan ketusan, tapi gue nyaman sama sikap dia. Gue nyaman sama sikap dia yang dulu."
Ajeng tersenyum dan memeluk Kaila. "Udah, lo jangan sedih. Kita berdoa semoga sikap Bima bisa balik lagi seperti dulu."
Kaila mengangguk dengan senyuman.
"Nah, gitu geh senyum!" seru Elsa membuat kedua gadis itu tertawa.
“Kaila!”
Ketiga gadis itu menoleh ke arah pintu dan melihat Kana yang tengah berdiri di depan kelas seraya melambaikan tangannya.
"Asik, pagi-pagi dah di apelin," celetuk Ajeng.
“Samperin tuh!” seru Elsa.
__ADS_1
Kaila mengangguk. “Gue ke sana dulu ya?” ucapnya lalu meraih kotak makan dari dalam tas dan berlari menghampiri Kana dengan senyuman di wajah.
“Sorry ya tadi gue gak jemput lo,” ucap Kana.
Kaila mengangguk mengerti. “Gak papa kok. Lagipula tadi gue di anter sama Tante Naira.”
Kana membulatkan bibirnya dan tersenyum.
“Ini!” ucap Kaila menyerahkan kotak makan.
Kana tersenyum dan meraihnya. “Makasih ya?”
Kaila mengangguk.
“Duduk di sana yuk?” ajak Kana menunjuk bangku yang berada di ujung.
"Ayo!” seru Kaila dan berjalan menuju bangku yang Kana maksud.
Kana tersenyum dan mengekori langkah gadis di depannya.
“Kan.”
Kana menaikkan kedua alisnya dan duduk di samping Kaila. “Kenapa?”
“Ini ‘kan hukuman gue yang ke Delapan Puluh Enam. Jadi masih ada Lima hari lagi ‘kan sampai hukuman gue selesai?”
Kana mengangguk. “Bener. Terus kenapa?”
Kana tersenyum. “Kayanya arti dari Sembilan Puluh Satu hari itu udah gak berlaku deh.”
Kaila mengerutkan alisnya. “Kenapa gitu?”
“Karena kita udah deket!”
“Hmm?” Kaila menaikkan kedua alisnya bingung.
Kana tertawa. “Jadi menurut buku yang gue baca, waktu yang tepat untuk naklukin cewek dan masa PDKT yang tepat adalah Sembilan Puluh Satu hari. Tapi, ngeliat kita sekarang, gue rasa Sembilan Puluh Satu hari itu udah gak berlaku lagi.”
Kaila terdiam mendengar ucapan Kana.
Kana tertawa. "Udah gak penasaran lagi 'kan?"
Kaila menggeleng. "Jadi, alasan dulu lo kasih hukuman ke gue untuk itu?"
"Yaiyalah! Untuk apa lagi? Gue 'kan memang udah suka sama lo waktu itu. Cuma, gue terlalu gengsi aja buat ngungkapinnya. Makanya gue cari cara supaya kita bisa deket."
Kaila tertawa mendengar ucapan Kana. "Lo ada-ada aja sih. Bukannya saat itu lo memang lagi musuh banget sama gue? Mana pakai bilang gue bukan tipe lo, lah."
Kana tertawa kecil. "Intinya sekarang gak kaya gitu lagi 'kan?"
Kaila menggeleng. "Enggak, sih."
"Oh ya Kai, lo udah denger 'kan kalau pengumuman SNMPTN bareng sama kelulusan SMA kita?" tanya Kana.
__ADS_1
Kaila mengangguk. "Gue udah denger kok."
"Kalau boleh tahu, lo ambil jurusan dan kampus mana?"
"Gue, ambil Kedokteran di UGM," jawab Kaila.
Kana melebarkan mata. "Seriusan?"
Kaila mengangguk.
Kana menggelengkan kepala tak percaya. "Kok bisa sama?"
Kaila mengulum senyumnya. "Tentu saja, 'kan gue ikut-ikut lo," lirih Kaila dalam hati.
"Jangan-jangan kita jodoh Kai, abisnya bisa sama gini."
Kaila tertawa kecil. "Iya, Kan. Terserah lo deh gimana."
Kana tertawa dan mengacak rambut Kaila dengan gemas.
"Kana! Nyebelin," lirih Kaila seraya melototi Kana.
Melihat Kaila melotot, malah membuat Kana semakin terbahak-bahak. Laki-laki semakin gemas dan kembali mengacak rambut Kaila membuat rambut gadis itu berantakan.
"Nyebelin!"
"Biarain," ucap Kana seraya menjulurkan lidahnya.
"Ih, awas lo ya!" Kaila menggelitiki Kana membuat Kana tak mampu menahan rasa gelinya.
Keduanya sangat berisik. Sampai-sampai membuat beberapa murid lain menoleh ke arah mereka.
Dan di antara mereka, terdapat Bima disana. Bima tengah memandang Kana dan Kaila dengan sorotan mata yang terlihat jelas jika ia tengah merindu.
Kaila yang tengah asik menggelitiki Kana pun menoleh. Matanya bertemu dengan Bima.
Kaila tersenyum melihat wajah Bima. Namun, laki-laki malah menghindar dan berlalu pergi.
"Yah," lirih Kaila dengan sedih.
"Kenapa?" tanya Kana penasaran.
Kaila menggeleng. Memejamkan mata, lalu menyenderkan kepalanya di bahu Kana.
"Bahu gue memang paling nyaman ya, Kai?" ucap Kana membuat Kaila tertawa dan akhirnya mengangguk.
"Tanpa gue suruh, bahu lo udah datang dengan sendirinya, Kan. Makasih banyak ya?" ujar Kaila.
Kana mengangguk. "Bahu gue akan selalu ada untuk lo kok. Tenang aja."
Kaila tertawa kecil dan kembali memejamkan matanya.
Setidaknya, bersama Kana-lah Kaila bisa mengurangi kesedihannya akibat perubahan sikap Bima.
"Makasih banyak, Kan."
__ADS_1
...-o0o-...