KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 38


__ADS_3

Part 38


"Saat ku tenggelam dalam sendu


Waktu pun enggan untuk berlalu


Kuberjanji 'tuk menutup pintu hatiku


Entah untuk siapa pun itu," ucap Kana menyanyikan lagu tersebut dengan tersenyum menatap Kaila.


"Semakin kulihat masa lalu


Semakin hatiku tak menentu


Tetapi satu sinar terangi jiwaku


Saat 'ku melihat senyummu," lanjut Kaila dengan senyuman manis.


Saat ini keduanya tengah menyanyikan lagu milik Adera yang berjudul Lebih Indah.


Kana tersenyum, mengusap pucuk kepala Kaila.


"Dan kau hadir


Merubah segalanya


Menjadi lebih indah


Kau bawa cintaku


Setinggi angkasa


Membuatku merasa sempurna


Dan membuatku utuh"


"'Tuk menjalani hidup," lanjut Kaila.


"Berdua denganmu selama-lamanya


Kaulah yang terbaik untukku


Hu-u-u-u-u ..." ucap keduanya dengan tangan saling bertaut.


Kaila mendekatkan microfonnya pada bibirnya.


"Kini kuingin hentikan waktu


Bila kau berada di dekatku


Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku


'Kan kupetik satu untukmu.."


Kana tersenyum.


"Dan kau hadir


Merubah segalanya (segalanya)


Menjadi lebih indah


Kau bawa cintaku


Setinggi angkasa


Membuatku merasa sempurna


Dan membuatku utuh (membuatku utuh)"


"'Tuk menjalani hidup


Berdua denganmu selama-lamanya


Kaulah yang terbaik untukku


Kupercayakan


Seluruh hatiku padamu (padamu)


Kasihku, satu janjiku


Kaulah yang terakhir bagiku


Ho-o-ho-ho ..."


"Hu ... dan kau hadir


Merubah segalanya


(Menjadi lebih indah)


Hu-u ... lebih indah


(Kau bawa cintaku)


Kau bawa cintaku


(Setinggi ngkasa)


(Membuatku merasa sempurna)


(Dan membuatku utuh) membuatku utuh


(Menjalani hidup)


Berdua denganmu selama-lamanya


Kaulah yang terbaik untukku


(Kamu yang terbaik untukku)


Yang terbaik untukku!" teriak keduanya dengan senyuman lebar.


"Yeay!" seru Kaila setelah musik yang memenuhi ruangan tersebut berhenti.


"Lagi yuk?" ucap Kana.


Kaila menghela napas dan menggeleng. "Capek."


"Satu lagu aja?" ucap Kana.


Kaila mengerucutkan bibirnya dan menggeleng.


Kana terkekeh dan akhirnya mengangguk. Meletakan microfon keduanya ke tempatnya dan menuntun Kaila yang sudah lelah menyanyikan tiga buah lagu.


Kana menutup kembali ruangan tersebut dan mengajak Kaila masuk ke kamar.


Kaila menoleh dan meletakkan punggung tangannya di dahi Kana. Senyumnya mengembang saat panas Kana sudah turun. "Aku seneng kamu udah gak demam lagi."


Kana menyengir kuda. "'Kan karena kamu udah ngerawat aku dan ngajak aku karaokean."


Kaila terkekeh. "Ada-ada aja."


Kana tersenyum lalu merangkul istrinya dengan manja dan berjalan menuju kasur.


Saat ini keduanya sudah merebahkan tubuh di kasur. Menikmati waktu bersama dengan mengobrol sembari menatap langit-langit kamar.


"Pernah kepikiran gak? Gimana jadinya kalau saat itu kamu gak ke Jakarta buat cari Mama kamu?" ucap Kana di sela obrolan mereka.


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Jelas kita gak bakal bisa seperti ini."


Kana tersenyum dan memiringkan tubuhnya menatap Kaila. "Aku heran, La. Dari awal kita pacaran sampai sekarang, perasaan aku gak berubah sedikit pun."


Kaila mengerutkan dahinya. "Masa iya? Memang kamu gak pernah kesel atau capek gitu sama aku?"


Kana tersenyum dan melipat lengannya untuk ia jadikan bantal. "Pernah sih aku kesel sama kamu. Tapi cuma sebentar, gak bisa gitu kesel lama-lama. Apalagi kalau aku lihat mata kamu, hancur sudah pendirian aku buat kesel atau marah sama kamu."


Kaila terkekeh. "Aku juga gitu."


"Gitu gimana?" Kana menaikkan kedua alisnya.


"Gak bisa kesel atau marah lama-lama sama kamu. Kecuali—" Kaila menggantungkan ucapannya. "Kamu memang ngeselin!"


Kana terkekeh dan mencubit pipi Kaila dengan gemas.


"Nana! Sakit ah," ucap Kaila sembari mengusap pipinya.


Kana tersenyum dan ikut mengusap pipi Kaila. "Maaf, sayangku."


Kaila mengangguk lalu memeluk Kana dan mengeratkan pelukannya. "Jangan berubah, jangan nyebelin, jangan ngeselin. Pokoknya tetep jadi Kana yang sayang sama aku."


Kana mengangguk dan menyatukan hidungnya dengan hidung Kaila.


Kaila terkekeh dan menyentuh wajah suaminya dengan penuh cinta.


"Nanti anak kedua kita, kasih nama apa ya?" ucap Kana.

__ADS_1


Kaila menghela napas dan menggelengkan kepala. "Yang satu aja belum lahir, mau ngasih nama anak kedua?"


Kana terkekeh dan memeluk manja istrinya.


"Nyebelin emang yang namanya Kana Bintang Artana."


"Tapi sayang 'kan?" ucap Kana dengan mata yang memejam dan memeluk istrinya.


"Sayang bangetlah!"


Kana terkekeh dan mengeratkan pelukannya.


-o0o-


"Aji, Sayang! Tungguin!" teriak Keiza saat suaminya tak terlihat dari pandangannya.


Keiza segera mengunci pintu kamar dan berjalan sedikit berlari.


Saat ini keduanya akan pergi ke danau untuk menikmati pesona indahnya danau dengan menaiki perahu bersama.


Aji sudah menyewa perahu untuk keduanya. Dan saat ini mereka akan bersiap untuk berangkat.


Keiza mempercepat langkahnya dan berhenti saat melihat suaminya tengah duduk di kursi depan. Wanita itu berdecak. "Kirain udah pergi."


Aji tertawa. "Gila aja sayang, kalau aku ninggalin kamu. Suami macam apa?"


Keiza tersenyum dan mengunci villa tersebut dan menghampiri suaminya. "Yuk!"


Aji mengangguk dan meraih kunci motor.


Itu adalah motor milik penjaga villa keluarga Aji. Ia meminjam motor untuk menuju ke danau. Untungnya jalanan menuju danau tak terlalu susah. Sehingga bisa ia datangi dengan sepeda motor.


Aji menstater motornya dan menunggu istrinya naik.


"Naik sekarang?"


"Bulan depan aja sayang," ucap Aji membuat Keiza terkekeh.


"Jauh gak ya, yang?" ucap Keiza setelah Aji mulai melajukan motor tersebut.


"Kata Pak Agus, hampir satu kilo sih."


Keiza membulatkan bibirnya, lalu menoleh pada warung yang akan ia lewati. "Astaga sayang!"


"Kenapa?" tanya Aji bingung.


"Snack-snacknya ketinggalan di Villa."


Aji tertawa. "Yaudahlah biarin. Nanti kita beli disana aja."


Keiza mengerutkan dahinya. "Memang di danau ada orang jualan? 'Kan kata Pak Agus itu bukan danau tempat wisata."


Aji terdiam dan tampak berpikir. "Memangnya mau makan ya disana?"


Keiza berdecak. "'Kan kita piknik di atas perahu."


"Oh iya ya." Aji menghela napas dan menoleh ke samping. "Mau beli disana aja?"


"Yaudah gak papa. Daripada kita bawa tangan kosong. Masa iya mau makan angin," ucap Keiza membuat Aji terkekeh.


Beberapa bulan mengenal Keiza dan menjadikannya seorang istri, cukup membuat Aji paham sifat istrinya.


Keiza adalah wanita yang dewasa, penyabar, telaten, pintar. Selain cantik, Keiza juga selalu cerewet untuk selalu mengingatkan Aji apalagi jika itu perihal makan. Keiza tak pernah sedikit pun membiarkan Aji kelaparan. Karena itu, terlihat Keiza selalu cerewet jika itu membahas makanan.


Keiza tak ingin, Aji terlihat kurus setelah menikah dengannya.


"Nanti kalau kamu kurus, dikira gak bahagia nikah sama aku," ucap Keiza jika ditanya alasan kenapa ia selalu cerewet kepada Aji.


Aji tentu senang mendapat perhatian lebih oleh Keiza. Hal itupun yang membuatnya semakin sayang dan cinta kepada istrinya tersebut.


"Apa lagi?" ucap Keiza setelah memilih beberapa cemilan yang akan ia bawa nanti.


"Roti yang rasa cokelat itu enak kayanya, yang." Aji menunjuk beberapa roti yang tertata di atas.


Keiza mengangguk dengan senyuman lalu meraih beberapa roti tersebut.


Setelah dirasa cukup, keduanya pun membayar dan berjalan pergi menuju motor untuk melanjutkan perjalanan menuju danau.


Jalanan kali ini cukup sepi. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang dan satu atau dua motor saja.


Cuaca disini sangat dingin, hal itu yang membuat keduanya semakin nyaman dan enggan untuk kembali ke Jakarta.


Namun, mau bagaimana pun mereka harus kembali. Banyak pasien yang membutuhkan mereka berdua.


"Sampai!" seru Aji saat mereka telah sampai di danau yang Pak Agus maksud.


Aji dan Keiza mengetahui danau ini dari Pak Agus.


Konon, jika sepasang suami istri mengarungi danau ini dengan perahu. Mereka akan segera memiliki momongan.


Sebenarnya Keiza dan Aji tak terlalu percaya dengan mitos. Tetapi apa salahnya jika dicoba.


"Toh, kita kesini juga buat seneng-seneng 'kan, sayang?" ucap Keiza.


Aji mengangguk dan merangkul istrinya, lalu menuntunnya untuk naik ke perahu.


"Hati-hati," ucap Aji saat salah satu kaki Keiza mulai menginjakkan perahu.


Keiza cukup takut. Mungkin karena perahu itu yang bergoyang yang membuatnya merasa akan jatuh.


Senyum keduanya mengembang saat mereka berdua telah berada di danau.


"Jalan sekarang?" ucap Aji.


Keiza mengangguk dan mengucapkan 'Basmallah.'


Perahu mereka telah berjalan. Keindangan alam mulai menghiasi. Keduanya cukup terpana.


Maka nikmat Tuhan makah yang kamu dustakan?


Ini sangat indah, sangat indah, dan sangat indah.


Keiza bahkan hampir tiga kali menyebutkan hal itu.


-o0o-


"Jadi Kak Aji sama Kak Keiza lagi honeymoon?" ucap Bima pada adik bungsunya.


Kiara tertawa. "Tumben panggil Kak Aji pakai Kak."


Bima menghela napas. "Pakai Kak salah, panggil Aji aja salah."


Kiara terkekeh dan menyengir kuda. "Oh ya Kak, tadi pas aku pulang les, aku lihat Kak Siska."


"Siska?" Bima melebarkan mata.


Kiara mengangguk.


"Sama siapa dia?" tanya Bima penasaran.


"Sama Mamanya terus sama Simi. Kayanya nganterin Mamanya belanja."


Bima tersenyum lebar dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Kenapa sih?" ucap Kiara bingung.


"Ternyata diem-diem dia wanita idaman," ucap Bima dengan senyuman.


Siska menggelengkan kepala dan bangkit dari duduknya. "Nganterin belanja doang Ma, siapa juga bisa," ucapnya dan berjalan pergi.


Bima masih dengan senyumannya. Membayangkan wajah Siska. Entah mengapa, setelah teleponnya semalam bersama Siska. Bima masih kepikiran dengan gadis itu.


Bima belum bisa mengatakan jika ia sudah jatuh cinta kepada Siska. Meskipun ia mudah tersenyum hanya dengan mengingat namanya.


'Drtttt!'


Ponsel Bima bergetar membuatnya tersenyum lebar.


Ia segera menoleh dan melihatnya.


Senyumnya menghilang saat mengetahui yang menelponnya adalah Kana.


"Kirain Siska."


Bima menghela napas dan meletakkan ponselnya di telinga. "Halo?"


-o0o-


"Lagi dimana, Kakak Bima?" ucap Kana yang tengah duduk di ruang tengah bersama Kaila.


Kaila terkekeh. Kana senang sekali menyebut Bima dengan tambahan Kakak. Namun, hal itu malah membuat Kaila tertawa mendengarnya. Sebab, ia tahu bagaimana masa lalu Kana dan Bima yang seperti Anjing dan Kucing. Selalu bertengkar namun berakhir menjadi saudara ipar.


"Di rumah, Kan. Kenapa? Kaila butuh apa?" ucap Kana di seberang sana.


Kana tersenyum dan memberikan ponselnya pada Kaila.


"Halo, Kak Bim?"

__ADS_1


"Iya, Kai. Ada apa?" tanya Bima.


"Kakak lagi sibuk gak?" ucap Kaila sembari menyandarkan kepalanya di pundak Kana.


"Enggak, nih. Kenapa?" ucap Bima.


Kaila menatap Kana dan tersenyum. "Aku sama Kana tiba-tiba pengen barbeque-an."


"Sekarang?" ucap Bima tanpa berbasa-basi.


Kaila mengangguk. "Iya. Tapi, kita bingung. Gak ada kawan buat di ajak barbeque-an."


Bima tertawa. "Terus aku sendirian yang jomblo? Mandangin kalian mesra-mesraan."


Kana tertawa dan mendekatkan bibirnya ke ponsel. "Ajakin pacar baru lo."


Bima berdecak. "Sejak kapan gue punya pacar baru."


"Loh, kata Kiara Kakak Bima punya pacar baru namanya Siska Brokoli?"


Bima tertawa. "Ngarang tuh orang!"


"Ayo dong Kak Bima, ajakin dia," pinta Kaila.


"Gak bisa, Kaila."


Kaila berdecak lalu mengubah panggilan suara itu menjadi panggilan video.


Bima terkekeh saat ia berhasil melihat wajah Kaila yang sedang memohon.


"Please, Kak Bim. Calon keponakan kamu sendiri yang pengen," ucap Kaila sembari mengerucutkan bibirnya.


Bima menggelengkan kepala. "Next time ya, aku ajak dia."


"Gak mau. Maunya sekarang. Please!" kaila menampilkan puppy eyes-nya sembari memohon.


Bima menghela napas dan mengangguk membuat Kaila tersenyum lebar.


"Demi calon keponakan ini ya?" ucap Bima.


Kaila mengangguk. "Iya. Ya ya?"


Bima mengangguk. "Yaudah, aku siap-siap dulu. Nanti aku ajakin Kiara juga."


"Kiara gak bisa ikut, Kak!" seru Kiara di seberang sana.


Bima menoleh. "Kenapa?"


"Lusa ada lomba tari. Jadi hari ini mau cari keperluan untuk lomba," ucap Kiara.


"Sama siapa, kamu?" ucap Bima penasaran.


Siska menggigit bibir bawahnya.


'Drtttt!'


Ponsel Kiara bergetar.


"Ah, dia udah nelpon! Aku pergi dulu ya! Titip salam buat Kak Kaila dan Kak Kana!" teriaknya lalu berlari.


Kaila yang mendengar suara adiknya pun tertawa.


"Lihat tuh, padahal dia baru aja pulang. Udah pergi lagi aja," ucap Bima menggelengkan kepala tak habis pikir.


Kaila terkekeh. "Biarinlah. Biarin dia menikmati masa muda."


Bima menghela napas dan mengangguk.


"Yaudah gih Kak, jemput Siska."


"Iya, iya," ucap Bima mengerucutkan bibirnya lalu mematikan sambungan.


Setelah sambungannya terputus. Kaila terkekeh dan menyerahkan ponselnya kepada Kana. "Kangen banget aku sama mereka berdua. Apalagi sama Kiara."


Kana tersenyum. "Aku masih inget banget dulu waktu Kiara masih kecil. Yang ketemu kita di swalayan."


Kaila melebarkan mata. "Oh iya! Iya" Kaila mengangguk ingat. "Dulu dia masih kelas Satu SD kalau gak salah. Soalnya dulu aku pernah di ajak Bima jemput Kiara. Eh, sekarang udah besar aja."


Kana tersenyum. "Gak kerasa ya?"


Kaila mengangguk. "Yaudah yuk, siapin alat sama lainnya."


Kana mengangguk dan bangkit. "Kayanya pesenan kita juga bentar lagi sampai, deh. Kamu disini aja ya, nerima pesenan. Biar aku yang nyiapin alat-alatnya."


Kana mengangguk lalu menerima ponsel dan beberapa lembar uang ratusan ribu dari Kana untuk membayar daging dan beberapa bahan barbeque-an lainnya.


-o0o-


Bima tampak memilih baju.


Sudah tiga baju yang ia coba. Namun, ia lepas dan ganti lagi.


Bima berdecak. "Kenapa sih, gue? Biasanya juga pakai baju apa aja oke. Kenapa sekarang gue jadi gak pede?"


Laki-laki itu terdiam lalu duduk sebentar di kursi. "Apa karena gue gengsi sama Siska? Takut style gue bikin dia malu?"


Bima berdecak dan bangkit. "Ah, masa bodoh! Gue udah ganteng! Jadi pakai baju aja cocok."


Bima segera mengambil kaus dan juga kemeja yang tergantung di lemari. Mengenakannya, lalu menyisir rambut agar terlihat rapi.


Setelah selesai, lelaki itu keluar dari kamarnya. Mengambil kunci mobil, lalu mengunci pintu dan meletakkan kuncinya di di dekat jendela.


Ia berjalan menuju mobil yang terparkir di garasi.


Ia sedikit ragu saat sampai di depan mobil. "Siska mau gak ya?" ucapnya bingung.


Sebenarnya ia sudah menelponnya beberapa kali. Namun nomor Siska tidak aktif.


Bima menghela napas. "Gue bakal coba jemput dia. Bismillah!"


Mobil Bima sudah mulai melaju di jalanan. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Lagipula jarak rumahnya dan rumah Siska tak terlalu jauh.


Jadi ia bisa santai sembari menghilangkan rasa gugupnya jika sewaktu-waktu ia bertemu dengan orangtua Siska.


Ia mulai memperlambat lajunya saat mobil yang ia kendarai telah memasuki jalanan dekat rumah Siska.


Ia sembari mencoba menelpon Siska kembali, namun nomornya belum juga aktif.


Bima menghentikan lajunya tepat di depan rumah megah dan mewah tersebut.


Bima tersenyum. "Pantes aja Kiara abis lihat rumah Siska langsung keinget rumah lama," ucapnya yang menyadari jika gaya rumah Siska hampir mirip dengan rumahnya dulu.


Bima turun dari mobil dan mencoba menekan bel.


Belum apa-apa. Suara anjing terdengar lantang.


Bima menggelengkan kepala. "Kayanya orang rumah ini bener-bener pecinta anjing."


'Guk! Guk! Guk!'


Suara anjing dari belakang Bima membuat laki-laki itu tersentak kaget.


Pemilik anjing tertawa. "Bima, Bima, kamu ngapain kesini?" ucap Siska yang sepertinya baru pulang.


Bima tersenyum. "Kamu dari mana?"


"Abis keliling sama Dogi."


Bima membulatkan bibirnya lalu menatap anjing yang Siska bawa. "Dia namanya Dogi?"


Siska mengangguk.


"Simi kemana?" ucap Bima yang sepertinya sudah hafal dengan anjing kecil itu.


Siska tersenyum. "Simi lagi gak enak badan. Jadi aku taruh dia di klinik hewan. Mungkin nanti sore aku bakal jengukin dia."


Bima tersenyum. Aneh rasanya. Sebab, ia sendiri kurang menyukai hewan. Jadi wajar jika cukup bingung jika Siska membahas masalah anjing.


"Bye the way, kamu kesini mau ajakin aku jalan?" ucap Siska dengan senyum manisnya.


Bima tersenyum dan mengangguk. "Aku mau ajak kamu barbeque-an sama adik dan suaminya."


"Yang namanya Kak Kaila?" ucap Siska.


Bima mengangguk. "Kamu mau?" ucapnya ragu.


Takut Siska menolaknya.


Siska tersenyum. "Tentu! Yaudah aku ganti baju dulu ya?"


Bima mengangguk dan membiarkan Siska masuk.


Siska menghentikan langkahnya dan menatap Bima. "Kamu gak mau masuk dulu? Ada Mama sama Papaku loh, mereka pasti senang kenalan sama kamu."


"Kenalan sama aku?" ucap Bima yang terlihat seperti patung.


Siska tertawa, lalu menarik tangan Bima untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Mati gue! Gimana kalau bokap dia galak?"


-o0o-


__ADS_2