KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 18


__ADS_3

Part 18


Kaila menghela napas dan menyandarkan bahunya. “Udah Tiga tempat yang kita datengin, dan sampai sekarang kita belum nemu satu jejak pun.”


Kevin tertawa. “Kamu pikir detektif-detektif itu mudah apa nyari sesuatu? Mereka juga penuh perjuangan. Tidak semudah itu Ferguso!”


Wilka mengangguk. “Ingat Kai, gak semudah itu mencari sesuatu yang sudah hilang,” lirih Wilka.


Kana mengangguki ucapan Wilka. “Bener! Kita harus cari lagi. Kita harus semangat! Ayo dong, katanya kamu pengen ketemu mereka.”


“Ayo, semangat Kaila! Semangat!” seru Wilka.


Kaila tersenyum dan mengangguk. “Ayo! Kita lanjutin.”


Kana tersenyum melihat kekasihnya, lalu kembali menghidupkan mobilnya. “Siap semuanya?”


“SIAP!” seru ketiganya dengan penuh semangat.


-o0o-


“Tadi Tante Naila bilangnya komplek ini bukan sih?” ucap Kana saat membaca nama tempat yang saat ini keempatnya datangi.


Kevin mengerutkan dahinya dan membaca tulisan di plang tersebut. “Iya, Kan. Tadi Tantenya Naila bilang perumahan ini.”


Wilka mengerutkan dahinya. “Kok Tantenya Naila sih? Itu namanya Tante Naila, Tantenya Kaila,” ucap Wilka.


Kaila tertawa. “Typo kali Kevin, Wil.”


Kevin tersenyum dan menoleh pada Wilka. “Noh dengerin, typo.”


Wilka memutar bolanya seraya melipat kedua lengannya. “Kebanyakan typo.” Wilka menghela napas. “Yaudah yuk, turun.”


Ketiganya mengangguk dan turun dari mobil.


“Ini komplek mewah, tapi kenapa Papanya Kaila daftar jadi security di kantornya Tante Naila?” ucap Kevin melihat rumah-rumah di depannya.


“Eh itu ada Bapak-bapak Kai, coba tanya sama dia,” ucap Wilka yang melihat seorang laki-laki tua berjalan mendekat.


Kaila mengangguk, mengeluarkan beberapa foto dari dalam tasnya dan menghampiri laki-laki tua tersebut.


“Permisi Pak,” ucap Kaila.


“Iya, ada apa ya?” Lelaki tua itu menaikkan kedua alisnya.


“Maaf Pak, saya mau nanya, Bapak kenal orang ini gak ya?” ucap Kaila seraya menunjukkan sebuah foto.


“Aduh, maaf ya. Saya disini berkunjung ke rumah anak saya. Jadi saya gak kenal sama orang-orang sini,” ucap lelaki itu dengan senyuman.


Kaila mengangguk dan tersenyum. “Baik Pak kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Pak. Maaf sudah menganggu waktunya.”


Lelaki itu tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Kaila menghela napas dan kembali menghampiri ketiganya. “Dia bukan orang sini.”


Kevin dan Wilka menghela napasnya sedih.


“Kamu punya berapa foto sekarang?” tanya Kana pada Kaila.


“Empat,” jawab Kaila menunjukkan empat lembar foto di tangannya.


“Yaudah, kita bagi aja. Jadi nanti nyarinya juga di bagi. Pokoknya titik kumpul kita disini. Mobilku juga aku parkirin disini aja. Gimana?” ucap Kana.


“Jadi kita cari sendiri-sendiri gitu?” tanya Wilka.


Kana mengangguk. “Gimana? Setuju gak?” tanyanya kembali.


“Setuju sih,” ucap Wilka membuat Kevin menoleh padanya.


“Memang kamu tahu lokasi disini?” 


Wilka mengerutkan dahinya. “Lah, memang Kana sama Kaila tahu?” ucapnya membuat Kana dan Kaila menggeleng.


“Walaupun rumah gue gak jauh dari sini, gue snediri gak paham sama tempat-tempat disini,” ujar Kana membuat Wilka menjulurkan lidahnya pada Kevin.


“Yaudah deh, yuk, gas!” seru Kevin. 


Kaila tersenyum dan menyerahkan satu lembar foto pada masing-masing.


“Ganteng juga ya bokapnya Kaila,” ucap Wilka menatap foto tersebut.


“Awas aja lo naksir sama bokapnya,” ucap Kevin yang langsung mendapat toyoran dari Wilka.

__ADS_1


Kana menghela napas dan menggelengkan kepala melihat kelakuan Kevin dan Wilka yang selalu bertengkar.


“Eh setelah gue lihat-lihat, kok papanya Kaila mirip papaku ya?” ucap Kevin ketiganya menoleh.


“Wah, jangan-jangan papanya Kaila adiknya papamu!” celetuk Wilka.


“Mana ada! Papaku aja anak tunggal.” Kevin memutar bola matanya. “Udah yuk, cari!”


Kaila mengangguk.


“Oh ya, kita gak pake foto kakakmu juga, Kai?” tanya Wilka.


Kaila tersenyum. “Aku cuma punya foto kecilnya. Lagipula kalau aku nunjukkin foto kecilnya pun, orang-orang gak bakal paham.”


Kana mengangguk. “Bener.”


“Yaudah yuk, kita mulai cari masing-masing,” usul Kevin.


“Daritadi yak yuk yak yuk, jalan enggak!” ucap Wilka kesal pada Kevin.


“Ya ‘kan ngajakin, kalian aja gak ada yang ngerespon!” Kevin memutar bola matanya.


Kana tertawa. “Yaudah, ayo! Ayo!” Nanti kalau udah mau magrib, kita kumpul lagi disini ya?” ucap Kana pada ketiganya.


“Oke, siap!” seru Wilka.


“Kita mulai lagi petualangan ini!” seru Kevin.


“Semangat!” seru Kana.


“Fighting!” seru Kaila dengan senyuman lebar.


-o0o-


“Permisi.”


Wilka menghampiri beberapa orang yang tengah mengobrol di pinggir jalan.


“Iya? Kenapa ya, Mbak?” tanya salah satu di antara mereka.


Wilka tersenyum. “Maaf Bu, Ibu asli orang sini ya?” 


“Kalau boleh tahu, ibu kenal sama orang ini gak ya?” Wilka menunjukkan sebuah foto pada mereka.


“Waduh, gak kenal saya Mbak. Tapi coba aja Mbak cari tahu bagian sana. Soalnya masih banyak rumah di sana.”


Wilka mengangguk. “Baik, Bu. Makasih ya Bu ya?”


“Iya, Mbak. Sama-sama.”


Wilka tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya.


-o0o-


“Permisi, Kak,” ucap Kaila menghampiri seorang wanita yang tengah menggendong anaknya.


“Iya, kenapa ya?”


Kaila tersenyum. “Saya mau nanya, Kak. Kira-kira, kakak kenal orang ini gak ya?”


“Coba lihat.” Wanita itu meraih foto dari tangan Kaila.


“Kira-kira ibu kenal gak bu?” tanya Kaila penuh harap.


“Mukanya sih gak asing. Cuma, saya lupa pernah lihat orang ini dimana,” ucapnya.


Kaila mengerutkan dahinya. “Tapi sebelumnya ibu pernah lihat dia?”


Wanita itu mengangguk. “Tapi saya lupa dimananya. Coba kamu tanya sama yang lain ya, barangkali mereka kenal.”


Kaila mengangguk dengan senyuman. “Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi ya Bu. Terima kasih banyak, Bu.”


“Iya, Mbak. Sama-sama.”


Kaila menghela napas. “Gue harus cari sampai ketemu! Iya, harus!”


-o0o-


“Halo, Adek!” ucap Kevin menghampiri beberapa anak kecil yang tengah bermain di taman.


Anak-anak itu menoleh begitu Kevin sampai di hadapan mereka.

__ADS_1


“Adek-adek, kakak boleh nanya gak?” ucap Kevin dengan senyuman andalannya.


“Hah? Kaburrrrrr!” seru anak-anak itu dan berlari meninggalkan Kevin.


Kevin melebarkan matanya. “Lah, kok kabur?”


-o0o-


“Permisi, Kak,” ucap Kana pada seorang wanita yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


“Maaf Bu, saya kesini mau—”


“Aduh, maaf ya. Tadi udah ada mahasiswa yang minta sumbangan,” ucap wanita itu, lalu masuk dan menutup pintunya.


Kana melebarkan mata. “Lah, dikira minta sumbangan, gue.” Kana menggelengkan kepala dan mencari orang lain untuk ia tanyai.


Kana berjalan dengan mata yang tak lepas mengitari jalanan. Niatnya untuk membantu Kaila sangat kuat. Ia ingin, kekasihnya tersebut cepat berkumpul dengan keluarganya. Meskipun tak mungkin untuk kedua orangtua Kaila kembali, namun, mempertemukan mereka adalah keinginan Kaila.


“Gue bakal pastiin lo bahagia, Kai. Gue bakal berusaha untuk wujudin semua keinginan lo.” Kana tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Iya juga! Kenapa gue gak langsung nemuin RT atau RW sini?”


Kana tersenyum dan berlari untuk menuju rumah RW yang kebetulan tak jauh dari Kana berdiri.


‘Tok! Tok! Tok!’


Kana mengetuk pintu sembari menunggu jawaban dari dalam.       


‘Tok! Tok! Tok!’


“Permisi!” seru Kana.


‘Tok! Tok! Tok!’


“Permisi!”


“Iya!” jawab orang dari dalam.


Kana tersenyum dan menunggu pintu di buka oleh pemiliknya.


‘Ceklek!’


“Iya? Cari siapa ya?” ucap seorang wanita paruh bawa.


“Maaf Bu, bisa bertemu dengan Pak RW?” ucap Kana dengan sopan.


Wanita itu mengangguk. “Sebentar ya, saya panggilkan dulu.” Wanita itu tersenyum. “Ayo, duduk dulu.”


Kana mengangguk dan duduk di kursi yang berada di depan.


Tak lama, seorang lelaki menghampiri Kana. Sepertinya itu adalah ketua RW yang Kana cari.


“Cari saya ya?” ucap lelaki itu.


Kana mengangguk dan bersalaman. “Saya Kana, Pak.”


Lelaki itu mengangguk. “Saya Jaya, ketua RW disini.”


Kana tersenyum dengan anggukan.


“Kalau boleh tahu, nak Kana ada apa ya cari saya?” tanya Jaya.


“Begini Pak, saya kesini pengen cari seseorang. Tapi saya udah coba tanya-tanya ke warga sini. Tapi mereka gak tahu, Pak. Makanya itu saya langsung kesini. Barangkali bapak tahu,” ucap Kana menjelaskan.


Jaya mengangguk. “Kalau boleh tahu, nama orang yang nak Kana cari namanya siapa?”


Kana menggigit bibir bawahnya dan tersenyum. “ Nah, masalahnya saya gak tahu namanya, Pak.”


Jaya tertawa. “Kamu mau cari orang, tapi gak tahu namanaya?” ucapnya membuat Kana menyengir kuda.


“Tapi saya ada fotonya, Pak!” ucap Kana seraya mengeluarkan foto dari saku jaketnya. “Ini Pak, orangnya.”


Jaya meraih foto itu dan menatapnya. Dan detik setelahnya, raut wajah Jaya berubah. Hal itu yang membuat Kana penasaran.


“Bapak kenal?”


Jaya mengangguk.


Seketika, senyum Kana tercipta.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2