KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 30


__ADS_3

Part 30


"Kaila, Keiza, ayo. Ini Kiara udah ada," ucap Naila saat berhasil menemukan keponakannya.


Elsa terkekeh dan menggelengkan kepala. "Kemana aja lo, Dek?" tanyanya.


Kiara menyengir kuda. "Ketemu temen, Kak."


"Yaudah ayo, Clara sama Kiara ngiringin Keiza. Terus Elsa sama Wilka ngiringin Kaila ya? Itu mc-nya udah manggil supaya pengantin wanita keluar," ujar Naila.


Semuanya mengangguk dan bersiap.


"Ini Keiza di depan 'kan, Tan?" tanya Keiza.


Naila terkekeh. "Iya sayang. 'Kan kamu kakaknya."


Semua terkekeh dan mulai berbaris sebelum melangkahkan kaki keluar.


"Ayo jalan," ucap Naila yang mengikuti dari belakang.


Dua pengantin itu mulai berjalan keluar untuk menemui pengantin pria dan juga penghulu.


Satu langkah, dua langkah, mereka pun telah berjalan.


Tamu undangan, serta keluarga, baik keluarga pihak pria maupun wanita terlihat kagum akan kecantikan yang dimiliki kedua pengantin itu.


Tak hanya itu, Anggi yang berada di samping Angga pun terlihat bangga melihat kedua keponakannya yang terlihat begitu cantik.


"Mas, cantik 'kan anak-anakmu?" bisik Anggi di telinga Angga.


Angga terkekeh dan mengangguk.


Dilain sisi, kedua pengantian pria terlihat gugub menunggu kedatangan pasangan masing-masing.


"Jangan tegang, Kan," lirih Kavin yang di dekat Kana.


Kana mengulum senyumnya. "Gak sabar, Pa."


"Sabar, Aji dulu baru kamu," ucap Kavin dengan kekehan.


Penghulu saat ini berada di meja Aji, beserta dengan Angga yang berada di dekat penghulu tersebut.


Sedangkan meja Kana, terdapat Kavin dan beberapa saksi yang ada, serta keluarga dekat Kana.


Kaila tampak malu-malu saat beberapa langkah lagi ia sampai pada pengantin.


"El, Wil, deg-degan banget," lirih Kaila.


Wilka terkekeh. "Semangat, sedikit lagi sampai."


"Ayo dong, banyak bismillah," lirih Elsa.


Selain itu, di depan, Kiara terlihat meluruskan pandangannya. Gadis itu enggan menoleh kesana kemari. Karena ia sadar Aldo mantan kekasihnya pasti tengah memperhatikannya. Jelas saja.


"Bismillah," lirih Kiara dengan jantung berdebar.


Keiza dan Clara menoleh ke arah Kiara dengan tatapan bingung.


"Ini yang mau nikah siapa, yang gugub siapa," lirih Keiza membuat Clara tertawa.


Kiara tersenyum tipis. "Ikut gugub kak, hehe."


"Baik, silahkan untuk pengantin wanita duduk di samping pengantin pria."


Kaila dan Keiza pun mulai duduk di samping pasangan masing-masing. Kaila duduk disamping Kana, serta Keiza yang duduk di samping Aji.


Setelah di pasangkan selendang di kedua pasang pengantin itu, penghulu pun mulai angkat bicara. "Baik, ini pasangan yang mana dulu yang akan melangsungkan ijab qabul?"


"Keiza dan Aji, Pak," ungkap Angga seraya menunjuk pemilik nama tersebut.


"Kami, Pak," ucap Aji yang langsung mendapat sorakan semangat dari teman-temannya yang datang.


Aji terkekeh dan menaikan kedua alisnya.


"Saudara Aji dan Saudari Keiza, betul?" ucap penghulu tersebut.


"Betul, Pak."


"Baik, bisa kita mulai ya?" ucapnya.


Keiza menghela napas panjang dan menggenggam sendiri tangannya.


"Bismillah, aku bisa," lirih Aji meyakinkan calon istrinya.


-o0o-


"Saya terima nikahnya, Keiza Zeline Kirana Binti Angga Zainal dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar, tu—nai!"


Dalam sekali, Aji berhasil mengucapkan lafaz ijab qabul tersebut.


Semua tersenyum lebar dan bahagia.


"Bagaimana para saksi, sah?"


"SAH!"


"SAH, Pak!"


"SAH!"


"Alhamdulillah."


Raut wajah bahagia dan rona merah menghiasi diri Keiza. Wanita itu terlihat bahagia setelah Aji— lelaki yang ia cintai telah resmi menjadi suaminya.


Tak hanya itu, pasangan Kaila dan Kana pun ikut bahagia.


Namun, di balik bahagia mereka, terdapat rasa gugub, bahagia, tak sabar yang berpadu menjadi satu.


Rasanya, ini adalah moment tergugub yang pernah ada. Menunggu giliran, mereka mengucapkan syarat dalam pengkawinan.


Setelah semua prosesi telah dilakukan, mulai dari penandatanganan hingga pemberian buku nikah, serta proses yang lain selesai. Baik punghulu dan juga Angga pun berpindah ke meja Kana dan Kaila.


Penghulu itu terkekeh menatap dua sejoli di depannya.


"Gugup gak?" tanya penghulu itu spontan.


Kana tersenyum malu. "Guguplah, Pak. Masa enggak."


Semua terkekeh, baik Kavin maupun Angga.


"Bisa dimulai sekarang?" tanya penghulu itu.


"Gaslah!" ucap Kana.


"Et— sabar dulu." Penghulu itu terkekeh.


Dalam hati Kana berkata. "Tadi waktu Aji yang ijab qabul, gas-gas aja. Ini kenapa banyak ritual dulu," ucap Kana tak habis pikir. Namun, dirinya ikut senang.


Tak apalah, setidaknya menghilangkan rasa gugub yang memenuhi dirinya dan juga Kaila.


"Saudara Kana Bintang Artana," ucap penghulu itu menatap Kana.


Kana mengangguk dan tersenyum. "Iya, Pak?"


"Apakah kamu benar-benar mencintai kekasihmu ini?"


Kana tersenyum. "Tentu, Pak."


"Apakah kamu berjanji tidak akan melukainya?"


Kana menghela napas dan menoleh pada Kaila yang berada di sampingnya. Menatap mata wanita itu sedetik, dan kembali mengangguk. "Saya berjanji!"


"Apakah kamu bisa memegang janjimu itu?"


Kana mengangguk. "Bisa!"


Penghulu itu tersenyum. "Sebesar apa cintamu terhadap dirinya?"


Kana menghela napas dan tampak berpikir. "Tidak dapat terukur."


"Berarti besar sekali ya?" ucap penghulu itu membuat semua orang terkekeh.


Kana mengangguk dengan cengiran kuda.


"Baik, sekarang saya mau bertanya dengan saudari Kaila Zeline Qirani. Ini panggilannya Kaila? Bukan Qirani?" ucap penghulu tersebut.


Kaila tersenyum dan menggeleng. "Kaila saja, Pak."


"Kalau gue sih dulu manggilnya Zeline waktu SMA," bisik Angga di telinga Elsa.

__ADS_1


"Ya, itu mah elo! Aneh sendiri," ucap Elsa dan kembali fokus dengan pemandangan di depannya.


"Baik, saudari Kaila. Sekarang saya ingin bertanya kenapa dikau." Penghulu itu menghela napas. "Apa kau mencintai laki-laki ini?" ucap penghulu itu menunjuk Kana.


Kaila tersenyum dan menoleh menatap Kana.


Mata sepasang kekasih itu saling menatap. Hangat, membuat siapapun yang melihat ikut terbawa akan suasana.


Kana terkekeh dan kembali menatap penghulu. "Sangat mencintai, Pak."


"Betul?"


Kaila mengangguk. "Betul dan sangat yakin."


Penghulu itu terkekeh. "Jadi tidak ada penyesalan ya jika nanti kamu sudah resmi menjadi istri sahnya?"


Kaila mengangguk. "Insya Allah tidak akan ada penyesalan."


Semua tersenyum.


Penghulu itu menoleh pada Angga. "Kita mulai?"


Angga mengangguk.


Kaila menghela napas dan menghembuskannya. "Semangat, jangan gugub. Kamu pasti bisa," lirihnya agar terdengar oleh Kana.


"Aku pasti bisa!" ucap Kana tak kalah lirih.


-o0o-


"Saya terima nikahnya, Kaila Zeline Qirani Binti Angga Zainal dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar, tu—nai!"


Tak ingin kalah dengan Aji, Kana pun berhasil dalam sekali ucap.


Penghulu itu tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Kana, lalu menoleh pada para saksi. "Bagaimana para saksi? Sah?"


"SAH, PAK!"


"SAH!"


"SAH, Pak!"


Penghulu itu mengangguk. "Alhamdulillah."


Kana melebarkan mata tak percaya. "Sah, Pak?"


Semuanya mengangguk.


Kana tersenyum lebar dan menoleh pada Kaila. "Kita udah sah!"


Kaila mengangguk. "Iya."


"Sah, La! Udah halal!" ucap Kana sekali lagi.


Kaila terkekeh. "Iya, Kana."


Kana mengepalkan tangannya dan bersorak ria. "YES!"


Semua tamu dan keluarga nampak tertawa dengan ekspersi yang Kana tampilkan.


"Kana, Kana," lirih Kevin menggelengkan kepala.


Wilka terkekeh. "Persis kamu waktu kita nikah," lirihnya.


Kevin mengangguk dan tertawa.


Setelah semua rangkaian selesai. Kedua pengantin itu pun mulai bangkit dari duduknya dan melakukan sebuah tradisi yang di sebut 'sungkeman.'


Yang di awali dengan Aji dan Keiza, lalu diikuti dengan Kana dan Keiza.


"Pa, makasih banyak ya, udah besarin Keiza selama ini," lirih Keiza pada Angga.


Angga menitihkan air mata. "Maafin Papa ya, nak. Belum berhasil jadi ayah yang baik buat kamu dan adik kamu."


Keiza menitihkan air mata dan mencium kedua tangan Angga.


"Ma, makasih ya atas kasih sayang Mama selama ini," ucap Aji pada Nana.


Nana mengangguk dan mengusap kepala Aji. "Sama-sama, nak. Makasih juga kamu udah jadi sumber kebahagiaan Mama sama Papa."


Di lain itu, terlihat pasangan Kana dan Kaila yang mulai menghampiri kedua orangtua mereka. "Mama, Kana sayang banget sama Mama. Makasih banyak Mama udah mendidik Kana dan besarin Kana selama ini."


Alina tersenyum. "Sama-sama sayang."


"Oh tentu jelas!" ucap Kavin.


Kana menghela napas. "Papa, kita mau bikin momen sedih loh. Malah narsis gini," bisik Kana.


Kavin menahan tawa. "Maaf, Kan. Papa gak bisa mellow. Kamu ngomong sedih, Papa malah pengen ketawa."


Kana mengulum senyumnya. "Ah, Papa, Ma."


Kavin menahan tawa dan menunduk, berupaya agar ekspresinya tidak tertangkap oleh kamera.


Dan kini, giliran Kaila bersungkem pada ayahnya.


"Papa."


Angga tersenyum dan mengusap punggung putrinya.


"Kaila minta maaf, Pa. Kalau selama ini Kaila udah nyakitin perasaan Papa. Ataupun bikin Papa sedih."


Angga mengangguk. "Iya, nak. Papa yang minta maaf. Papa gak belum berhasil jadi ayah yang baik buat kamu dan juga kakakmu. Papa gagal."


Kaila menggeleng dengan senyuman. "Enggak, Pa. Papa adalah ayah terhebat buat Kaila. Papa terbaik." Kaila tersenyum mencium tangan ayahnya.


Angga merasa sedih. Laki-laki itu mengangkat wajah Kaila dan mencium dahi putrinya tersebut.


'Cup!'


"Jadi istri yang baik buat Kana ya? Nurut apa kata Kana. Kamu sudah menjadi tanggung jawab Kana sekarang."


Kaila mengangguk lalu menoleh dan menatap punggung Kana yang berada di dekatnya.


"Kaila beruntung punya suami kaya dia."


Angga mengangguk. "Dia sayang sama kamu. Gak hanya sama kamu. Sama keluarga juga. Semoga dia beneran bisa jaga kamu dan cucu-cucu Papa nanti."


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Kana dan Kaila akan lakukan yang terbaik."


-o0o-


Setelah beberapa rangkaian acara selesai.


Keempat pengantin pun kembali ke ruangan ganti masing-masing, sebelum melanjutkan ke acara resepsi.


Dengan gaun silver yang dibuat oleh tangan Kaila sendiri. Wanita itu tampak cantik dan anggun dengan gaun buatannya tersebut.


"Cantik?" tanya Kaila setelah gaun dan make up telah menyatu dalam dirinya.


Kana menangguk.


Laki-laki berjas silver tersebut pun terlihat tampan dan menahan. Tentu saja membuat hati Kaila semakin bergejolak melihatnya.


Kana tersenyum dan menatap Kaila. "Kok senyum-senyum?"


Kaila terkekeh dan mendekat. "Ganteng banget suami aku."


Kana tertawa. "Dari dulu," ucapnya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan jika tak ada orang di ruangan ini.


"Kenapa sih? Kaya mau maling aja," ucap Kaila terkekeh.


Kana menggeleng. Laki-laki itu menghela napas dan memeluk Kaila dengan hangat.


Kaila hampir terjatuh karena pelukan yang Kana berikan. Namun segera mengimbangi dan ikut mengeratkan pelukannya.


"Udah sah, 'kan? Bebas 'kan mau peluk-peluk gini?" tanya Kana dengan manjanya.


Kaila terkekeh dan mengangguk. "Sah sih. Tapi 'kan susah kalau gini. Aku pakai heels loh. Nanti kalau jatuh gimana?"


Kana menghela napasnya dan mengerucutkan bibirnya kesal. "Padahal pengen mesra-mesraan dulu sebelum capek nyalamin tamu undangan."


Kaila terkekeh dan berbisik di telinga Kana. "Nanti malam aja."


"Apanya?" ucap Kana dengan mata melebar. Seolah tengah mengharapkan sesuatu dari wanita itu.


Kaila tersenyum malu. "Itunyalah."


"Apanya ih?" tanya Kana semakin kegirangan.

__ADS_1


Kaila berdecak. "Ih, Nana ah! Apaan ah?"


Kana terkekeh dan menatap Kaila dengan mata berbinar. "Dapat jatah 'kan?"


"Nana, malu!"


Kana terkekeh dan menggandeng tangan istrinya. "Ayo, kita cus ke pelaminan!"


Kaila mengangguk dan mengimbangi langkah Kana.


"Semakin gak sabar," lirih Kana seraya melirik istrinya.


Pipi Kaila semakin merona. Tentu saja. Semua ini ulah suaminya yang terus saja menggodanya.


-o0o-


"Kaila!" teriak Mela beserta sang suami saat menaiki pelaminan untuk bertemu Kaila dan Kana.


Kaila tersenyum dan melambaikan tangannya. "Halo, Mel!"


Mela tersenyum lebar. "Makasih ya, udah undang kita!" ucapnya menunjuk dirinya dan sang suami.


Kaila mengangguk. "Sama-sama."


"Ini gaun buatan kamu juga?" tanya Mela yang fokus dengan gaun yang Kaila gunakan.


Kaila mengangguk dengan senyuman.


"Bagus, banget!" ucap Mela dengan senyuman bangga.


Kaila terkekeh malu. "Makasih ya?"


Mela mengangguk, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Kaila. "Temen-temen designer kamu pada dateng ya? Aku tadi liat di depan banyak banget mereka yang penampilannya waw banget. Aku sih langsung yakin kalau itu temen-temen kamu. Gimana ya, aura designernya tuh keliatan banget."


Kaila tersenyum malu. "Ada-ada aja, Mela. Aura designer tuh kaya mana? Aku aja bingung."


Mela tertawa. "Ya intinya waw aja gitu."


Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala.


"Sayang, lihat belakang. Pada antri loh," bisik suami Mela.


Mela melebarkan mata. "Astaga, ayo sayang."


Kana tertawa setelah sepasang suami istri itu turun. "Dia klien kamu yang waktu itu?"


Kaila mengangguk membenarkan. "Dia udah kaya temen sendiri malah."


Kana mengangguk membenarkan. "Dari gaya bicara dia juga udah kaya temen sendiri."


Kaila mengangguk dengan senyuman.


"Kaila! Kana!" teriak seseorang membuat Kana menoleh.


"Justin?" ucap Kaila dengan raut wajah bahagia.


"Justin bieber datang rupanya," umpat Kana.


Justin melebarkan senyumnya. "Kaila, Kana, congratulations!" ucapnya.


Kaila mengangguk. "Thank you, Justin. Aku gak nyangka kamu bakal dateng. Aku pikir kamu di Jerman sama Catelin," ucap Kaila seraya menoleh pada Catelin yang ikut bersama Justin.


Catelin tersenyum. "Kami sengaja pulang ke Indonesia untuk datang ke pernikahan kalian," ucap Catelin menggunakan bahaha Indonesia yang masih terdengar kaku.


Kaila mengangguk dengan senyuman dan menggenggam tangan Catelin. "Thank you so much Catelin. I am happy you and Justin come here."


Catelin mengangguk dan memeluk Kaila. "I hope you always happy."


Kaila tersenyum dan mengangguk.


Setelah Justin dan Catelin turun, tamu undangan lain pun mulai naik ke atas panggung untuk memberikan selamat kepada kedua pasang pengantin yang menikah hari ini.


-o0o-


Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat.


Kaila, Kana, Aji, dan juga Keiza terlihat begitu lelah.


"Capek banget ya?" ucap Kaila pada ketiganya.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju hotel.


Benar, malam ini kedua pasang pengantin itu akan menginap di hotel beberapa malam.


Begitupun dengan keluarga mereka yang lain. Ada yang menginap di hotel dan ada juga yang pulang ke rumah.


Untuk Bima dan Kiara, ia memutuskan pulang ke rumah bersama Angga.


Sedangkan saudara-saudara yang lain, yang kebetulan tinggal di luar kota, mereka memutuskan untuk menginap di hotel. Namun, mereka memilih hotel yang berbeda dengan kedua pasang pengantin tersebut.


"Sampai, Guys," ucap Aji setelah menaruh mobilnya ke parkiran.


"Yuk, turun!" ucap Kaila mengajak yang lainnya untuk turun.


Setelah mengurus penginapan, keempatnya pun mulai naik ke atas untuk menuju kamar masing-masing.


Tentu saja dua kamar yang mereka pesan. Hanya saja ruangan yang berhadapan.


"Masuk dulu ya kami," ucap Aji seraya menggandeng Keiza.


Kaila dan Kana mengangguk dan melambaikan tangannya.


Saat ini, tinggal Kana dan Kaila yang berada di lorong.


"Masuk?" ucap Kana.


Kaila mengangguk. "Ayo."


"Huft, capek banget!" ucap Kana setelah berhasil merebahkan tubuhnya dikasur.


Kaila terkekeh dan meletakkan koper ke depan lemari.


"Lala, sini!" teriak Kana seraya menepuk sisi kasur sebelahnya.


Kaila menoleh dan tersenyum. "Kenapa?"


"Sini geh," ucap Kana dengan manjanya.


Kaila terkekeh dan mendekat.


Belum sempat merebahkan tubuhnya, Kana sudah menariknya dan membawanya ke dalam pelukan.


"Seneng banget udah jadi suami kamu. Bisa meluk kamu sepuasnya," ucap Kana seraya memejamkan mata memeluk tubuh Kaila.


Kaila terkekeh dan membalas pelukan itu.


Saat ini keduanya tengah berpelukan dengan penuh kasih sayang.


Tanpa meminta izin lagi, Kana pun mulai mengecup dahi Kaila penuh cinta.


"La."


Kaila membuka mata dan menaikkan kedua alisnya.


Kana tersenyum jahil. "Ya? Ya?"


Kaila mengerutkan dahinya. "Apasih?"


Kana berdecak dan pura-pura kesal. "Yang tadi."


Kaila tersenyum malu. Pipinya merah padam.


Kana terkekeh dan mengusap rambut Kaila. "Ya? Okey?"


Kaila menghela napas. Jujur, wanita itu sangat malu.


"Ngapain minta izin sih?" umpat Kaila.


Kana menaikkan kedua alisnya dengan senyum menggoda.


Karena tak ingin penuh drama, Kaila pun mengangguk.


Kana bagai mendapat emas berlian, laki-laki itu bangun dan--


'Tok! Tok! Tok!'


Kana menghela napasnya saat terdengar suara ketukan pintu.


"Siapa sih ganggu aja?"

__ADS_1


Kaila terkekeh. Perempuan itu segera turun dari kasur dan berjalan untuk membukakan pintu.


-o0o-


__ADS_2