KANA (The Series)

KANA (The Series)
Extra Part 3


__ADS_3

Extra Part 3


Waktu terus berlalu.


Semua semakin sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Begitupun dengan keluarga kecil Kana. Dimana Naka dan Kala yang sudah harus mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah dasar, Kana yang semakin sibuk dengan kliniknya yang saat ini semakin maju dan di kenal banyak orang, serta galeri Kaila yang semakin besar ditambah dengan Kaila yang semakin dikenal sebagai designer handal masa kini.


Meskipun sibuk dengan kedua anaknya yang begitu aktif, Kaila tak pernah lelah untuk terus berkarya. Setiap hari, selalu ada gaun yang ia kerjakan.


Meskipun wanita itu sangat sibuk, ia tak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu bagi kedua anaknya.


Dan disini, terlihat Kaila tengah fokus dengan gaun panjang berwarna cokelat tersebut.


Setelah melakukan fitting kemarin, kliennya meminta ada beberapa perubahan pada bagian tangan. Hal itu membuat Kaila harus bekerja keras memenuhi keinginan kliennya agar merasa puas.


'Tok! Tok! Tok!'


Kaila menoleh dan melihat Keiza tengah berdiri di depan pintu.


Kaila tersenyum. "Masuk, Kak."


Keiza mengangguk dan menutup kembali pintu itu. "Lagi ngerjain gaun, La?" ucapnya seraya meletakkan kue brownies ke atas meja.


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Klienku kali ini lumayan banyak keinginannya, Kak. Awalnya dia pengen polos gini, maksudnya gak rame banget gitu. Tapi setelah fitting, dia pengen bagian tangan ada daun-daun 3D gitu. Alhasil, aku harus pasangain satu-satu supaya hasilnya lebih nyata gitu, Kak."


Keiza mengangguk sembari mengunyah kue brownies di tangannya. "Itu di pasang sendiri satu-satu?"


Kaila mengangguk.


"Apa gak ribet, La?" ucap Keiza.


Kaila terkekeh. "Ya ribet sih, Kak. Dan perlu ketelitian gitu."


"Kamu udah dari tadi ngerjain ini?"


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Udah hampir selesai, sih." Kaila meletakkan semua alatnya dan menghampiri Keiza.


"Gimana, Kak? Tumben kesini?" ucap Kaila mecoba bertanya maksud dan tujuan Keiza kemari.


Keiza tersenyum dan menggeleng. "Gak papa, La. Tadi kakak dari klinik Bintang, terus sekalian aja deh kesini. Jengukin adik kakak."


Kaila tersenyum dan meraih brownies yang Keiza bawa.


"Enak, Kak!" ucap Kaila setelah brownies itu masuk ke dalam mulutnya.


Keiza terkekeh. "Beli di toko kue depan klinik Bintang itu."


Kaila melebarkan mata. "Cabangnya Oma, dong."


Keiza mengangguk. "Tapi beda pelayannya. Kalau diruko utama 'kan, Mbak Susi yang ngelayanin."


Kaila mengangguk membenarkan. "Udah lama aku gak ketemu Mbak Susi. Kayanya terakhir ketemu waktu Serra ulang tahun. Pas Mbak Susi anter kue kesana."


Keiza tersenyum dan mengangguk. "Sama, La."


Keiza menghela napas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi seraya mengitari pandangannya pada gaun-gaun yang terpasang di manekin itu.


"Hebat banget sih, La. Sekali aksi, bisa bikin gaun sebanyak ini."


Kaila terkekeh. "Ini juga penuh perjuangan, Kak. Belum di tambah klien yang pengen ini, itu. Belum ditambah kalau ada perubahan lagi." Kaila tertawa kecil seraya menggelengkan kepala. "Harus sabar-sabar intinya."


Keiza tersenyum dan mengangguk. "Ya, hampir sama kaya pasienlah, ya."


Kaila mengangguk. "Bener banget, Kak."


"Kamu sempet nyesel gak sih, La? Keluar dari kedokteran terus masuk ke desaigner gini?" tanya Keiza penasaran. Sebenarnya wanita itu ingin menanyakan hal ini sejak dulu.


Kaila tersenyum dan menggeleng. "Enggak, Kak. Malah aku ngerasa kaya aku bener-bener menemukan passion aku, sih."


Keiza terkekeh dan mengangguk.

__ADS_1


"Eh, Kak."


Keiza menaikkan kedua alisnya.


"Kok kakak manggil aku, La? Gak biasanya aja gitu."


Keiza terkekeh. "Keikut Kana. Dia 'kan manggil kamu Lala, jadi ikutan manggil La juga, 'kan."


Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala.


"Oh ya, La. Sebenarnya aku sesuatu yang pengen aku tanyain, loh," ucap Keiza membuat Kaila mengerutkan dahinya penasaran.


"Apa, Kak?" Kaila menaikkan kedua alisnya.


Keiza menghela napasnya. "Sebenarnya ini baru omongan Aji sama Kana aja, sih. Rencananya pengen liburan ke Jerman. Bareng Bima juga."


"Ke Jerman?" Kaila menaikkan kedua alisnya. Ada perasaan senang di hati wanita itu.


Keiza mengangguk. "Niatnya sih pengen ziarah ke Makam Mama."


Kaila mengangguk mengerti. "Iya, Kak. Terus? Terus?"


"Ya untuk Bima pribadi, dia bakal nyesuain kita. Kita bisanya kapan. Dan untuk Kana, Aji sama aku sih, berhubung kami gak ada tanggungan di rumah sakit. Dan kita bener-bene mengabdi di klinik. Terus semua dokter dan manajemen klinik fine-fine aja kalau kami bertiga ambil cuti dua minggu, ya kita oke aja. Jadi, sekarang kami tinggal nyesuain kamu nih. Kamu kira-kira waktu kosongnya kapan?"


Kaila tampak berpikir dan mengangguk. "Sebenarnya masih ada dua gaun lagi sih, Kak. Yang harus aku kerjain. Tapi kalau memang semuanya udah siap, dan tinggal nunggu aku. Aku bisa handle ini ke asisten aku."


Keiza melebarkan mata. "Beneran, La?"


Kaila mengangguk. "Lagipula dua gaun itu udah hampir setengah jadi, sih. Terus klienku juga udah lihat dan katanya cocok. Jadi, kalau memang kita mau liburan ke Jerman, aku bisa kok."


Keiza melebarkan mata dengan senang. "Jadi bisa, ya?"


Kaila mengangguk. "Nanti aku bilang ke Kana."


"Oke, oke." Keiza terkekeh. "Gak sabar pengen jengukin makam Mama."


Kaila mengangguk. "Aku juga gak sabar, Kak. Udah lama banget kita gak ziarah ke sana."


Kaila mengangguk setuju. "Bener banget, Kak." Kaila terkekeh. "Kayanya Kala sama Naka seneng banget kalau tahu mau liburan ke Jerman."


Keiza terkekeh dan mengangguk.


-o0o-


"Ke Jerman, Ma?"


Suara Naka dan Kala menggelengar memenuhi ruangan itu.


Kaila terkekeh dan mengangguk. "Kita bakal ziarah ke makam nenek."


Kala dan Naka terdiam.


"Nenek Nabila?" ucap Naka.


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Katanya 'kan kalian pengen ketemu Nenek Nabila 'kan? Jadi sebentar lagi kita bakal kesana."


"Asikkkk!" seru keduanya.


Kaila terkekeh dan memeluk keduanya.


"Ma, terus kita ke Jerman sama siapa aja?" tanya Kala penasaran.


Kaila tampak berpikir. "Ramean dong pastinya! Ada Mama, Papa, Kakek Angga, Tante Keiza, Om Aji, anaknya, terus Om Bima, Tante Siska, anaknya, sama Tante Kiara."


"Yeay! Rame!" seru Naka dengan senang hati.


Kaila terkekeh. "Kalian senang?"


Kedua anaknya mengangguk.


"Nanti kita beli baju baru ya, Ma? Kita belanja baju lagi!" seru Kala.

__ADS_1


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Iya, nanti sebelum berangkat. Kita beli baju dulu. Sekalian beli koper yang besar supaya cukup untuk pakaian kita berempat."


Kala dan Naka mengangguk.


'Tok! Tok! Tok!'


Ketiga orang itu menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ketukan.


"Siapa, Ma, malem-malem?" lirik Kala.


Kaila menggeleng. "Gak tahu."


'Tok! Tok! Tok!'


"Assalamualaikum, sayang-sayang Papa!"


Kaila, Naka dan Kala melebarkan mata.


"Papa ternyata," lirih Kaila.


"Aku aja yang bukain!" seru Naka.


"Aku aja!" ucap Kala tak mau kalah.


"Aku!"


"Aku!"


Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala melihat keduanya berebut untuk membuka pintu.


Karena tak ingin melihat keributan, Kaila pun melangkah lebih cepat dan membuka pintu itu lebih dulu.


"Halo!" seru Kana saat pintu telah terbuka dan menampilkan istri beserta kedua anaknya.


Kaila terkekeh dan langsung mencium punggung tangan Kana, dan dibalas ciuman hangat oleh suaminya.


Kana tersenyum dan menoleh pada kedua anaknya yang menampilkan raut wajah kesal.


"Kok, cemberut gitu?" ucap Kana bingung.


Kala mengerucutkan bibirnya seraya melipat kedua lengannya. "Mama nyebelin! Orang aku aja yang buka pintu buat Papa, malah Mama."


Naka mengangguk. "Padahal 'kan aku juga pengen."


Kana mengerutkan dahinya, lalu menoleh pada istrinya.


Kaila tertawa. "Gini loh sayang, mereka berdua tadi rebutan mau bukain kamu pintu. Yaudah deh, daripada berantem nih anak berdua, mending aku aja yang buka."


Kana tertawa dan menggelengkan kepala. "Jadi ini judulnya Kakak, adik dan Mama yang berebut membukakan pintu untuk Papa?"


Kaila tertawa. "Bisa aja."


Kana tersenyum dan menoleh kembali pada kedua anaknya. "Masih ngambek nih? Hmm?"


Kala mengerucutkan bibirnya dan mengangguk.


"Naka juga?" ucap Kana.


Naka menunduk dan menggeleng. "Enggak. Naka gak ngambek kok, Pa. Biar Kala aja yang ngambek."


Kala melebarkan mata. "Enggak! Kala gak ngambek kok."


"Yaudah sini, yang gak ngambek peluk Papa!"


Naka terkekeh dan langsung memeluk ayahnya, dan diikuti oleh Kala di belakangnya.


Kaila tersenyum puas dan menatap pemandangan di depannya dengan penuh kehangatan.


"Sini," lirih Kana agar Kaila masuk ke dalam pelukan itu.


Kaila mengangguk dan ikut berpelukan bak teletubis.

__ADS_1


...[SELESAI]...


__ADS_2