KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 2


__ADS_3

Part 2


Kaila memungut beberapa sampah plastik yang berada di sekelilingnya. Setelah ketahuan tidak membawa makanan yang sesuai, ia dan yang lainnya di hukum untuk memungut sampah yang berada di area kampusnya.


Tak sendiri. Kaila memungut sampah-sampah tersebut bersama teman-temannya yang lain.


"Udah?" tanya Kevin yang kini berada di sebelahnya.


Kaila menoleh dan menangguk. "Kamu dihukum karena gak bawa apa?"


"Ikan kembung juga."


Kaila tertawa kecil dan berjalan menuju kotak sampah yang berada di ujung.


"Kai!" panggil Kevin yang mengikuti langkah Kaila.


"Hmm?" Kaila menjawab tanpa menoleh pada laki-laki itu.


"Gue dapet panggilan alam. Kalau panitia nanyain, bilang aja gue lagi boker ya?"


Kaila tertawa. "Iya-iya."


Kevin tersenyum malu dan berlari karena sudah tidak tahan lagi menahan hasratnya untuk buang air.


Setelah laki-laki itu tak terlihat, Kaila menggelengkan kepalanya. "Ada-ada aja, Kevin."


"Eh-em!"


Kaila menoleh begitu mendengar dehaman seseorang di belakangnya.


"Kana?"


Kana melipat kedua lengannya dan memutar bola matanya. "Asik ya dapet kenalan."


"Kana, maksud kamu cowok tadi?" tanya Kaila.


Kana mengangguk. "Yang tadi pagi pegangan tangan sama kamu."


Kaila mengerutkan dahinya. "Pegangan tangan?" Kaila tampak mengingat. Matanya melebar akan pagi tadi. "Kana, aku gak sengaja. Dia narik tangan aku gitu aja."


"Dan kamu diem aja?"


Kaila berdecak. "Enggak."


Kana menghela napas dan membuang pandangannya.


Melihat Kana seperti ini, membuat Kaila galau. "Kan," lirih gadis itu menyentuh lengan Kana.


Kana tak merespon. Laki-laki itu masih membuang pandangannya.


"Kan, jangan marah."


Kana menatap Kaila. "Aku gak suka aja pacar aku dipegang sama cowok lain."


"Hey, kamu!" teriak seseorang membuat Kana dan Kaila menoleh.


"Kamu yang saya hukum di atas podium 'kan?" tanya ketua panitia yang melihat Kana berada disini.


Kana mengangguk. "Iya."


"Kamu kenapa di sini? Saya 'kan belum suruh kamu turun!" bentak ketua panitia itu.


Kana menghela napas. "Rempong!" ucapnya lalu berjalan pergi menuju podium.


"Udah tahu telat, masih gak mau ngaku salah," ucap ketua panitia itu memandang punggung Kana.


Melihat Kana pergi, membuat Kaila semakin galau. Gadis itu berdecak dan menunduk.


Selama ini Kana tak pernah marah dengannya. Jadi, melihat Kana sekali marah, membuat Kaila galau bertubi-tubi.


"Nama kamu siapa?"


Kaila mengerutkan dahi dan mengangkat wajahnya. Ternyata ketua panitia itu masih berada di depannya. "Sa-saya, Kak?"


Katua panitia itu mengangguk. "Siapa nama kamu?"


"Kaila, Kak."


Ketua panitia itu tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Nama saya Erkan."


Kaila memandang tangan di depannya dengan tatapan ragu. Ia tak ingin mambalasnya, namun— laki-laki di depannya adalah ketua panitia. Bagaimana pun Kaila harus sopan terhadapnya.


Dengan ragu, Kaila membalas uluran tangan tersebut.


Namun belum sempat tangannya bertaut, seseorang menahannya. "Gak perlu salaman bisa 'kan? Nanti mahasiswa yang lain iri kalau cuma dia doang yang di ajak salaman," ucap Kana menatap Erkan dengan senyuman.

__ADS_1


Erkan menatap Kana tajam dan berjalan pergi.


"Hati-hati, banyak buaya disini," lirih Kana di telinga Kaila dan berjalan pergi.


Kaila menghela napas menatap punggung Kana. "Dia marah, tapi masih peduli."


-o0o-


"Semuanya! Hitungan kesepuluh, kalian harus sudah berada disini! Satu! Dua!" teriak salah satu panitia yang tengah mengarahkan seluruh mahasiswa baru memasuki kursi aula.


"Tiga! Empat!"


Kaila menoleh ke sekeliling. "Kevin belum balik. Kenapa lama banget sih dia?"


"Lima!"


Kaila segera berlari memasuki aula dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Matanya menoleh kesana kemari, mencari Kana yang sudah tidak lagi di hukum di atas podium.


"Ka-Kaila?" ucap seseorang membuat Kaila menoleh.


Mata Kaila melebar. "Wilka?"


Wilka tersenyum girang dan memeluk Kaila. "Ahhh! Ternyata kita satu jurusan!"


Kaila terkekeh. "Iya!"


Wilka menyengir kuda dan menatap Tiga bangku kosong yang berada di samping Kaila. "Aku boleh duduk samping kamu?"


Kaila mengangguk. "Silahkan!"


Wilka tersenyum dan mendudukkan dirinya di samping Kaila. "Kok aku tadi gak liat kamu sih?"


Kaila terkekeh. "Aku tadi di barisan lain."


"Kamu telat?"


Kaila mengangguk membenarkan.


"Sama Kevin juga?"


"Iya."


"Terus Kevin sekarang dimana?" Wilka mengedarkan pandangannya.


Wilka tertawa mendengar ucapan Kaila. "Kebiasaan, Kevin mah."


Kaila terkekeh dan kembali mengedarkan pandangannya.


Tak perlu di tanya Kaila mencari siapa, tentu saja Kana-lah yang ia cari.


"Gak usah di cari, aku udah disini."


Kaila tersentak dan menoleh. Rupanya Kana sudah duduk di sampingnya.


"Kamu udah dari tadi disini?" tanya Kaila.


"Sejak kalian bahas Kevin," lirih Kana.


Kaila berdecak. "Kan."


"APA?"


"Kai, dia siapa?" tanya Wilka saat menyadari Kaila tengah berbicara dengan laki-laki di sebelah Kaila.


Kaila tersenyum pada Wilka. "Wilka. Kenalin, dia Kana."


"Pacar Kaila," timpa Kana.


Wilka tersenyum mengangguk. "Salam kenal," ucapnya.


Kana mengangguk dan menyenderkan kepalanya di pundak Kaila.


"Kan, jangan gini," lirih Kaila berupaya menjauhkan kepala Kana dari pundaknya.


Wilka tertawa kecil melihat sepasang kekasih tersebut, lalu mengendarkan pandangannya ke arah lain. Namun tiba-tiba, senyumnya melebar saat seseorang melintas di hadapannya.


"Gisel!" teriak Wilka membuat Kana bangun dari pundak Kaila dan menoleh.


Mendengar namanya di panggil, Gisel pun menoleh ke sumber suara.


"Gisel, sini!" teriak Wilka padanya.


Gisel tersenyum pada Wilka, namun pandangnya beralih pada laki-laki yang berada di dekat Wilka dan gadis di sebelah Wilka.

__ADS_1


Dengan semangat, Gisel pun berjalan menghampiri Wilka. "Aku dari tadi nyariin kamu tahu, gak!"


Kana memutar bola matanya melihat gadis yang di hukum dengannya tadi berada di sini.


Wilkan tertawa. "Aku tadi baris di belakang. Makanya gak keliatan. Dan pas aku liat kamu di hukum di podium, aku ketawa ngakak tahu, gak!"


Gisele mengerucutkan bibirnya. "Kaya gitu ngakunya temen!"


Wilka terkekeh. "Oh ya Sel, kenalin, ini Kaila."


Gisel tersenyum pada Kaila. "Gisel."


"Kaila," jawab Kaila dengan senyum di wajah.


"Kalau sebelah Kaila, namanya Kana," timpa Wilka.


Gisel mengangguk. "Kita udah kenalan, kok," ucap Gisel dan tersenyum.


Kana menoleh dan mengerutkan dahinya. Sejak kapan ia berkenalan dengan gadis itu? Bahkan ingin tahu namanya saja pun, ia enggan.


"Ah iya, tadi Kana ya yang di hukum di atas podium sama Gisel ya?" ucap Wilka yang baru menyadari.


Gisel tersenyum dan duduk di samping Wilka. "Kebetulan banget," lirih Gisel namun terdengar di telinga Wilka.


"Oh ya, kita pindah ke belakang aja yuk!" ajak Kana pada Kaila.


"Kenapa?" tanya Kaila bingung.


"Udah, ayo!" ucap Kana meraih tangan Kaila.


Kaila mengangguk dan meraih tasnya.


"Kai, mau kemana?" tanya Wilka.


"Aku pindah ke bekalang gak papa ya?" ucap Kaila.


Wilka mengangguk. "Iya, gak papa kok," ucapnya tersenyum.


Setelah sepasang kekasih itu pergi, Wilka menyenderkan punggungnya ke kursi.


"Mereka pacaran?" tanya Gisel.


Wilka menoleh. "Apa, Sel?"


"Mereka berdua pacaran?" tanya Gisel kembali.


"Kaila sama Kana?" tanya Wilka memastikan.


Gisel mengangguk.


"Iya."


"PACARAN?!" teriak Gisel membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.


"Kontrol, Mbak, kontrol!" ucap Wilka.


Gisel menghela napas panjang dan mengangguk.


"Kenapa sih memang? Kok kamu nanyain mereka berdua?" tanya Wilka penasaran.


"Gak papa, pengen tahu aja."


Wilka membulatkan bibirnya. "Menurutku mereka berdua cocok. Kaila cantik, Kana ganteng!"


"Gak juga."


Wilka menoleh dan melirik Gisel yang sepertinya terlihat kesal.


-o0o-


"Kamu kenapa sih pengen pindah ke belakang?" tanya Kaila pada laki-laki di sampingnya.


"Aku gak nyaman aja duduk bareng-bareng cewek tadi."


"Wilka?" tanya Kaila.


Kana menggeleng. "Yang baru dateng."


Kaila membulatkan bibirnya. Benar, bukan hanya Kana yang merasa tak nyaman, dirinya pun demikian. Sebab, saat Kaila perhatikan, gadis bernama Gisel tadi terus memperhatikan Kana. Bahkan sejak keduanya di hukum di atas podium.


"Aku gak mau bikin kamu sakit hati kalau terus duduk deket sama dia. Aku punya firasat gak baik soal cewek itu," ucap Kana yang mengeratkan tangannya di tangan Kaila.


Kaila menoleh dan menatap kekasihnya. "Kamu udah gak marah soal tadi?"


Kana menggeleng. "Buat apa marah lama-lama, kalau akhirnya juga baikan."

__ADS_1


Kaila membuang pandangannya kea rah lain seraya mengulum senyumnya. Ucapan Kana benar-benar membuatnya tersentuh.


-o0o-


__ADS_2