KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 11


__ADS_3

Part 11


"Maafin aku, Ca. Aku beneran minta maaf. Aku gak tahu kalau akhirnya bakal seperti ini." Nana menoleh pada putri Deca. "Maafin Tante, Nak. Tante gak bisa tahan Aji."


Deca tertawa bingung. "Gak papa kok, Na. Lagipula kalau memang Aji gak mau, masih ada—" Deca menoleh pada Kana.


Merasa di perhatikan, Kana pun menunjuk dirinya.


"Kana?" tanya Nana dan juga Anan.


Deca menyengir kuda dan mengangguk. "Kayanya ide bagus."


"GAK!" teriak seseorang dari luar membuat semuanya menoleh.


"GAK! KANA UDAH PUNYA CALON ISTRI!" teriak Alina.


Kana menghela napas lega. Untunglah ibunya datang disaat yang tepat.


Jika tidak? Habislah ia di tempat ini.


Alina menghela napas panjang dan berkacang pinggang di depan Deca. "Kana gak bisa di jodoh-jodohin! Lagipula anak-anak kita bukan Siti."


"Siti siapa?" sahut Anan.


"Nurbaya," jawab Kavin.


Anan membulatkan bibirnya dan kembali bersandar di kursi.


"Kana, dari lahir sampai segede ini, gak pernah yang namanya aku comblang-comblangin apalagi aku jodohin!" ucap Alina.


Kavin mengangguk membenarkan.


"Lagipula please lah, anak kita itu bisa nentuin mana yang baik buat dia dan mana yang buruk buat dia. Mereka juga pasti bakal cari yang terbaik menurut mereka," lanjut Alina.


Gadis cantik yang merupakan putri dari Deca pun berdiri. "Aku setuju apa yang diucapin sama tante Alina." Gadis itu mengangguk. "Bener, aku, Aji dan juga Kana udah besar. Usia kami udah Dua puluh enam tahun. Jelas kami bisa mencari mana yang memang baik dan terbaik buat kami. Dan kami, belum juga menikah bukan karena kami gak bisa cari pendamping, tapi kami berusaha memperbaiki diri, mensukseskan diri, dan kami yakin jodoh akan datang dengan sendirinya jika kita memang sudah matang baik usia maupun finansial."


Kana mengangguk dan bangkit berdiri. "Bener! Kadang, apa yang orang pikirkan, belum tentu sama dengan apa yang selama ini terjadi sama kita. Orang hanya bisa menilai, mengkritik dan mencaci. Tanpa mereka tahu yang sebenarnya."


"Dan aku tahu, kenapa Mama sama Tante Nana mau jodoh-jodohin kami karena kalian malu 'kan sampai sekarang kalian belum punya cucu? Malu karena tetangga selalu bilang 'kok anaknya belum nikah bu? Kok anaknya belum nikah bu?' gitu 'kan Ma, Tan?" tanya gadis itu.


Nana menghela napas dan mengangguk. Lalu diikuti oleh Deca.


Alina tersenyum. "Tenang aja, kalian itu masih terlalu muda buat punya cucu. Dan soal omongan tetangga, buat apa di dengerin? Biarin aja kali."


Nana mengangguk. "Iya. Kalian semua benar."


"Jadi kesimpulannya? Perjodohan ini batal?" tanya Aji yang sudah muncul di balik pintu.


Deca menoleh dan mengerucutkan bibirnya.


"Batal?" tanya Aji sekali lagi dengan senyuman lebar.


Anan mengangguk. "Iya, batal."


Aji tersenyum lebar dan bersorak.


"Loh, kamu mau kemana?" ucap Deca saat melihat putrinya meraih tas dan berjalan pergi.


"Nemuin pacar," ucapnya dan melambaikan tangan pada semuanya.


Deca memukul dahinya pelan dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Gak ada perjodohan lagi 'kan?" Aji menaikkan kedua alisnya. "Kalau gitu Aji mau ajak Kana keluar," ucapnya dan menarik tangan Kana.


"Lah, mau kemana?!" teriak Kana.


"Double date, Om!" jawab Aji yang sudah jauh.


"Double date?" ucap Nana bingung.


-o0o-


"Kita mau kemana sih, Ji?" tanya Kana penasaran.


Aji tak menjawab. Laki-laki itu fokus dengan kemudinya. "Tenang aja, nanti sampai."


Kana berdecak. "Lo bilang tadi mau double date? Maksudnya ajak Kaila ke makam Adinda bareng gue juga?"


'Chit!!'


Ucapan Kana membuat Aji mengeremkan mobilnya secara mendadak.


"Ya gak gitu!" ucap Aji dengan tatapan tajam.


Kana tersenyum miring dan menatap lurus depan.


Selanjutnya, tak ada obrolan lagi di antara keduanya. Hingga akhirnya, kedua pun sampai di tempat tujuan.


"Lah, kok lo ajak gue ke tempat ini? Gue gak butuh refreshing, Ji."


Aji tersenyum miring. "Yakin gak butuh refreshing?"


Kana mengangguk. "Yakinlah!"


"Kalau ada itu gimana?" ucap Aji sembari menunjuk perempuan yang tengah duduk.


"Ya kalau itu maulah!" seru Kana yang langsung turun dari mobil Aji dan berjalan menghampiri Kaila disana.


Aji menggelengkan kepala. "Kalau ada Kaila aja, gak bisa nolak."


-o0o-


Kaila menyunggingkan senyumnya saat terlihat sebuah mobil berhenti.


"Lah, Aji tadi 'kan?" ucap Keiza yang sadar jika mobil itu adalah mobil yang ia lihat tadi.


Kaila mengangguk. "Tau deh, apa yang buat dia nyuruh kita buat tetep disini."


"Jangan-jangan dia mau ngajak Kana kesini," ucap Keiza.


Kaila tersenyum. "Mungkin aja, Kak."


"Aji itu orangnya memang kaya gitu ya?" tanya Keiza.


Kaila menoleh. "Kaya gitu gimana?"


"Dewasa," jawab Keiza.


Kaila tertawa. "Hayolo nanyain Aji, kenapa tuh?"


Keiza memutar bola matanya. "Gak gitu, Kaila. Lagipula ya mungkinlah aku suka Aji, dia aja seumuran kamu."


"Terus yang dulu? Si Wilko. Dia juga seumuran aku 'kan?" ucap Kaila dengan senyuman menggoda.

__ADS_1


Keiza menghela napas. "Terserah deh."


Kaila tertawa lalu kembali menoleh ke arah mobil. Senyumnya semakin melebar saat Kana turun dari mobil dan menghampirinya. Lalu diikuti oleh Aji di belakangnya.


"Asik, pacar dateng," goda Keiza.


"Asik, Aji dateng," balas Kaila yang langsung mendapat cubitan dari Keiza.


"Hai!" seru Kana pada dua perempuan di hadapannya. "Assalamualaikum pacar, Assalamualaikum calon kakak ipar," ucap Kana memberi salam.


"Waalaikumsalam," jawab Kaila dan Keiza.


"Kalian nunggu lama ya?" ucap Aji membuat Kaila melirik ke arah Keiza.


Keiza tersenyum dan menggeleng. "Gak lama kok."


"Mau lama juga gak papa kok, Ji. Kak Keiza ikhlas," ucap Kaila.


Keiza melebarkan mata dan mencubit pelan lengan Kaila.


Kana tertawa. "Kok, aku ngerasa seperti ada—"


Kaila ikut tertawa. "Biasalah!" serunya yang semakin membuatnya dan Kana tertawa.


"Eum— La, kita jalan kesana yuk! Aku pengen naik wahana itu," ucap Kana.


Kaila mengangguk dan bangkit. "Yuk!" serunya.


Kana tersenyum dan meraih tangan Kaila, lalu mengajak perempuan itu ke wahana yang ada.


-o0o-


"Aku lihat-lihat, kayanya kamu pengen Aji deket sama Kak Kei," ucap Kana saat keduanya sudah jauh dari Aji dan Keiza duduk.


Kaila tersenyum dan mengangguk. "Aku pengen Kak Kei lupain Erkan. Aku bukannya mau jodoh-jodohin Kak Kei sama Aji. Lagipula gak ada hak juga buat aku jodoh-jodohin mereka. Kak Kei punya jalannya sendiri buat cari pasangan, begitupun Aji. Tapi, aku kaya ngerasa ada ketertarikan di antara mereka. Ya, mungkin itu Cuma perasaan aku aja. Tapi apa salahnya kalau aku pastiin 'kan?"


Kana tersenyum. "Kita berdoa yang terbaik aja," ucap Kana merangkul kekasihnya tersebut.


Kaila tersenyum dan bersandar pada pundak Kana.


"Oh ya, Na, besok aku udah mulai buka usaha aku di Indonesia. Sebelumnya aku udah cari gedung dan tempat-tempat yang bagus untuk usaha aku. Dan aku udah survey semuanya."


"Dan udah dapet yang terbaik dari terbaik?" tanya Kana.


Kaila mengangguk. "Kamu tahu? Tempatnya deket banget sama klinik kamu!"


Kana melebarkan matanya. "Oh ya?"


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Besok calon rekan-rekan kerja aku bakal dateng."


"Termasuk Justin Bieber itu?" tanya Kana.


Kaila menggigit bibir bawahnya dan mengangguk.


Kana menghela napas dan memutar bola matanya.


"Kamu gak marah 'kan?"


"Gak! Enggak! Gak marah kok! Enggak marah!" ucap Kana dengan raut wajah kesal.


Kaila terkekeh, Mengecup pipi Kana dan berlari.

__ADS_1


"Lala!" teriak Kana dan berlari mengejar perempuan itu.


-o0o-


__ADS_2