
Part 41
"Jadi Bima, ini tuh Kirana. Anak sulung Mama. Tapi sekarang panggilannya Keiza," ucap Nabila dengan senyuman tipis.
Keiza tersenyum dan merangkul Nabila. "Tapi meskipun gitu, aku tetep Kirananya Mama."
Nabila terkekeh.
Bima mengangguk. "Jadi, anak Mama cewek semua ya?" ucapnya.
Nabila mengangguk membenarkan.
"Untung ada aku ya Ma, jadi anak Mama lengkap, cewek cowok," ucap Bima membuat Nabila terkekeh.
"Bener. Untung ada kamu."
Keiza ikut terkekeh, lalu menatap ibunya. "Jadi Bima ini seumuran sama Kaila, Ma?"
Nabila mengangguk. "Umur mereka beda dua bulan."
"Iya, terus tuaan gue Kak Kei daripada Kaila," ucap Bima.
Kaila memutar bola matanya. "Tua dua bulan aja pakai minta panggil Kak segala. Gue sama Kana aja yang beda Sembila bulan aja manggil dia Kana."
Bima menghela napas dan menatap Kaila. "Ya 'kan beda. Elo juga nanti kalau nikah sama dia manggil dia Mas atau Kak. Gak mungkin juga lo manggil dia Kana. Lo kira kawan lo!"
Keiza terkekeh melihat keduanya.
"Mereka memang gitu. Dari awal ketemu juga bawaannya berantem," ucap Nabila.
Bima melebarkan mata dan mengangguk. "Bener banget, Ma. Dan Kak Kei tahu gak? Dulu, waktu Bima pertama kali liat Kaila. Nih anak tuh lagi berdiri di bawah pohon sambil ngeliatin Kana."
Kaila melebarkan mata dan memukul lengan Bima.
Bima tertawa. "Kurang kerjaan gak sih?"
Keiza terkekeh seraya menggelengkan kepala. "Jadi ceritanya Kaila lagi naksir Kana?"
Kaila tersenyum malu.
BIma mengangguk membenarkan. "Makanya itu dia gak mau buka hati buat gue."
Keiza melebarkan mata. "Lah? Kok?"
Kaila menghela napas. "Jadi Kak, dulu. Sebelum aku ketemu sama Mama dan Bima gak tahu kalau aku anak Mama Nabila. Bima itu naksir aku. Tapi dia gengsi. Jadi kerjaannya ngusilin aku deh. Supaya bisa deket-deket gitu."
Bima menatap Kaila dengan tatapan tajam. Namun memang benar apa yang Kaila ucapkan.
"Tapi, karena hatiku terlalu buat Kana. Ya, udah deh. Skip aja nih orang!" ucap Kaila.
Bima melebarkan mata dan menarik pelan pundak Kaila. "Heh! Lo juga pernah naksir gue kali!"
"Kapan?" tanya Kaila.
Bima berdecak. "Dulu, pas kita lihat Adinda di rumah Kana. Terus gue ajak lo ke rumah dan ketemu Mama."
Kaila berdecak. "Ih, enggak Bima!"
"Kak Bima!" ucap Bima.
"Iya, Kak Bima. Enggak!"
"Ngaku lo, Kai! Ya 'kan? Masa iya sih orang kaya lo gak pernah naksir gue sedikit pun," ucap Bima.
Kaila menghela napas. "Pas itu gue Cuma nyaman karena sebatas kakak. Ya lo gue anggep kaya kakak gue lah!"
Bima memutar bola matanya. "Iya, iya, iya, terserah lo. Yang penting sekarang lo adek gue. Jadi lo harus nurut sama kakak lo ini."
__ADS_1
"Siap, Kakak!" seru Kaila membuat Keiza dan Nabila tertawa.
Nabila tersenyum dan menghela napas. "Bima."
Bima menoleh. "Iya, Ma?"
"Kamu udah jengukin Papamu?" tanyanya.
Bima menunduk dan menggeleng. "Biarin dia menderita di penjara, Ma. Dia harus menerima balasan dari apa yang udah di lakuin selama ini."
Nabila tersenyum. "Mau bagaimana pun dia papa kandung kamu, nak."
Bima mengangguk. "Bener. Tapi Bima gak mau punya papa kaya dia." Bima tersenyum. "Udahlah, Ma. Gak usah bahas orang itu. Sekarang Mama fokus sama kesembuhan Mama."
Nabila tersenyum. Namun, tiba-tiba raut wajah berubah. Ia seperti merasa kesakita.
"Ma. Mama kenapa?" tanya Keiza panik.
"Mama kenapa, Ma?" tanya Kaila yang mendekat.
"Ma," ucap Bima.
Nabila memegang dadanya. "Da— dada Mama sakit. Nyeri banget."
"Kak, panggilin dokter aja, Kak," ucap Bima pada Keiza.
"Mama gak kuat banget," ucap Nabila lalu memejamkan mata.
"Mama!"
-o0o-
Kana mengantarkan kedua sahabatnya sampai di bandara. Ia melambaikan tangan saat keduanya berjalan menjauh darinya.
Senyum Kana merekah. Ia begitu senang melihat kedua sahabatnya begitu peduli dengan Kaila.
"Gue gak pernah nyangka kalau akhirnya Adinda bakal sepeduli ini sama Kaila," lirih Kana yang melihat punggung Adinda mulai menjauh.
Kana mengangguk dan berbalik badan. Sebelum kembali ke rumah sakit, ia ingin pulang ke rumah untuk mandi.
"Drrttt!"
Kana menghentikan langkahnya saat ponselnya berbunyi.
"Halo, La?" ucap Kana yang menerima panggilan dari Kaila.
"Na, Mama," ucap Kaila dengan suara tangis.
"Mama kenapa?" tanya Kana panik.
"Tadi Mama tiba-tiba ngeluh nyeri dada. Dan sekarang Mama gak sadar lagi. Kamu cepet kesini ya?"
Kana mengangguk. "Iya, aku langsung jalan kesana!"
Kana menutup sambungannya dan berlari.
-o0o-
Kaila tak henti menangis. Begitupun dengan Keiza dan Kiara. Bima sudah menenangkan ketiganya. Namun, tak berhasil.
Beberapa perawat dan dokter telah datang.
"Dok, tolong Ibu saya dok," ucap Kaila.
Dokter itu mengangguk. "Kita akan usahakan ya," ucapnya lalu memeriksa Nabila.
"Maaf, silahkan keluar dulu ya? Dokter akan memeriksa," ucap perawat itu meminta Kaila, Keiza, Kiara dan juga Bima untuk keluar.
__ADS_1
Keempatnya mengangguk dan berjalan keluar. Kita semua tahu, perasaan mereka jelas tidak tenang. Baru beberapa menit mereka merasakan kebahagiaan, namun semuanya sirna setelah Nabila tak sadarkan diri kembali.
"Apa jangan-jangan prosedur yang udah dilakuin ternyata gak berhasil, Kak? Kakak lihat gak sih, tanda-tanda Mama tadi seperti kena serangan jantung," ucap Kaila pada Keiza.
Keiza menunduk. "Kakak juga gak tahu. Tapi kakak takut, kondisi Mama ini akibat dari penyakit Mama."
Bima mengerutkan dahinya. "Memang Mama sakit apa sih, sebenarnya?"
"Arteri perifer," ucap Keiza.
"Ada hubungannya sama jantung?" tanya Bima.
Keiza mengangguk membenarkan.
Bima menghela napas seraya mengacak rambutnya. "Kenapa aku baru tahu sekarang? Sejak kapan Mama punya penyakit itu?"
Kaila menggeleng. "Kita juga baru tahu, Bim. Kita gak tahu Mama selama ini menyembunyiin penyakitnya atau Mama baru tahu pun, kita gak tahu."
"Kalau seandainya Dokter disini gak sanggup gimana?" tanya Bima.
Kaila dan Keiza menggeleng tak tahu.
"Kita bawa aja Mama ke Jerman," ucap Bima membuat kedua gadis itu melebarkan mata.
"Bim, tapi 'kan—"
"Lo tahu? Tante Naira sekarang ada di Jerman," ucap Bima.
"Lo kata siapa?" tanya Kaila.
"Tadi pagi waktu gue sampai Indo, gue nelpon Tante Naira. Dia bilang, dia gak dapet kabar dari lo kalau Mama di sakit. Dan dia bilang, sekarang dia ada di Jerman karena urusan pekerjaan. Gue gak tahu berapa lama dia disana, karena dia juga gak bilang. Tapi gue rasa, kalau memang Dokter disini gak bisa nanganin Mama, kita bawa aja ke Jerman."
Kaila menggelengkan kepala tak yakin.
"Kai, Kak Kei, gue punya tetangga Dokter spesial jantung disana. Dan gue rasa, pengobatan disana jauh lebih hebat. Kenapa gak kita coba?" ucap Bima kembali. "Selain itu, kita bisa minta bantuan Tante Naira kalau memang dia masih disana."
"Tapi gimana sama biaya, Bim? Biaya pasti disana jauh lebih besar," ucap Kaila.
"Gue ada tabungan direkening. Kita bisa pakai itu buat pengobatan Mama disana," ucap Bima.
Kaila menghela napas lalu menoleh pada Keiza. "Gimana, Kak? Menurut kakak gimana?"
Keiza tampak berpikir. "Ini baru planning 'kan kalau seandainya dokter disini gak sanggup?"
Bima mengangguk. "Seenggaknya kita udah ada rencana."
Keiza mengangguk. "Oke! Gak papa sih menurut gue. Soal biaya juga, gue punya tabungan. Tapi memang gak banyak."
Kaila diam. Baiklah, jika memang keputusan mereka seperti itu, ia akan ikut.
"Ceklek!"
Pintu terbuka dan menampilkan dokter disana.
"Bagaimana Dok keadaan Ibu kami?" tanya Kaila mengawali.
"Bu Nabila sudah sadar, namun keadaannya saat ini masih lema." Dokter itu menunduk. "Kami mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, penyakit Bu Nabila sudah dalam tahap komplikasi. Bu Nabila mengalami serangan jantung yang merupakan komplikasi dari penyakit yang Bu Nabila derita. Untunglah, serangan jantung yang di alami Bu Nabila tadi adalah serangan jantung ringan. Namun meskipun begitu, Bu Nabila harus mendapatkan penanganan khusus, sebab kita tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Dokter itu.
"Jika kami bawa Mama kami ke Jerman untuk mendapatkan perawatan khusus disana bagaimana, Dok?" tanya Bima.
Dokter itu mengangguk. "Semua keputusan itu berada di tangan kalian dan kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi keadaan Ibu Nabila yang semakin memburuk bahkan setelah di lakukan tindakan Angioplasti."
Bima mengangguk. "Iya dok, kami akan segera membawa Ibu kami ke Jerman."
Kaila menunduk lalu menatap Keiza.
Keiza tersenyum dan menggenggam tangannya. "Semua ini demi Mama."
__ADS_1
Kaila mengangguk dan tersenyum tipis.
-o0o-