
Part 16
Jalanan malam ini terlihat begitu ramai. Selain karena malam minggu, di daerah tersebut terdapat sebuah pertunjukan yang di adakan oleh dinas pariwisata.
Kaila yang saat ini sedang keluar bersama Bima pun, memutuskan untuk berhenti dan melihat.
"Udah lama gak ngeliat ginian," lirih Kaila membuat Bima menoleh dan tersenyum.
Bima menghela napas dan memutuskan turun dari motor.
Motor yang saat ini Bima kendarai adalah milik Ayah Kaila. Motor itu sudah lama tidak digunakan, bahkan saat bepergian pun, ayahnya jarang menggunakan motor itu. Karena itulah Bima menggunakannya untuk keliling kota Jakarta malam hari dan mencari sate kambing kesukaannya. Tentu dengan Kaila yang ia paksa untuk menemani.
"Kalau dipikir, kenapa ya orang-orang ngerasa nyaman di Negara sendiri? Tapi kenapa aku enggak," lirih Bima.
Kaila terdiam dan mengangguk. "Mau bagaimana pun tempat kelahiran memang yang paling nyaman, Kak."
Bima tertawa kecil dan menoleh menatap perempuan di sebelahnya. "Termasuk karena ada Kana juga, 'kan?"
Kaila terkekeh.
"Sesayang apa sih Kai kamu sama dia? Sampai di Jerman pun kamu gak mau buka hati buat siapa pun."
Kaila tersenyum lalu menatap langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang. "Gak bisa dijelasin, Kak. Terlalu besar. Kalau ditanya kenapa, aku juga gak tahu kenapa bisa sesayang itu sama dia. Aku bener-bener beruntung bisa dapetin dia."
Bima terkekeh dan merangkul lengan Kaila. "Kamu harus bahagia, Kai. Kana yang beruntung bisa dapetin kamu."
Kaila tertawa kecil dan menatap Bima dengan senyuman. "Makasih ya, Kak."
Bima mengangguk, lalu memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengannya. "Cuaca dingin banget, pulang aja yuk!"
Kaila mengangguk setuju dan kembali naik ke motor mengikuti Bima.
"Jalan gak? Jalan gak?" Bima memainkan gas motor.
"Jalanlah masa enggak!" ucap Kaila membuat Bima tertawa dan melajukan motornya.
Sepanjang jalan pulang, Bima terus bernyanyi. Bukan Bima memang jika hanya diam, bahkan jika di motor sekalipun.
"KAI, KAI, ELSA MASIH DI LUAR NEGERI APA UDAH PULANG?" tanya Bima dengan menaikkan volumenya.
"ELSA SIAPA?"
Bima berdecak. "SAHABATMU 'LAH! ELSA SIAPA LAGI, ELSA FROZEN?"
Kaila tertawa. "SORRY, SORRY, NGEBLENG. ELSA ADA KOK DI RUMAHNYA."
"DI GANG KENANGA ITU?" tanya Bima yang memang ingat perempuan itu.
Kaila mengangguk. "TUMBEN NANYAIN DIA."
"KANGEN AJA SAMA DIA."
Kaila tertawa. "SEMUA AJA DIKANGENIN."
Bima terkekeh. "TAPI BENERAN KANGEN, KAI. KAPAN-KAPAN TEMENIN KE RUMAH DIA YA? SEBELUM AKU BALIK KE JERMAN."
Kaila mengerutkan dahinya. "KAK BIMA MAU BALIK KE JERMAN LAGI?"
Bima mengangguk. "AKU 'KAN KESINI KARENA PENGEN NEMUIN KAMU SAMA KIARA. KALAU BUKAN KARENA KALIAN BERDUA MAH, AKU MALES PULANG KE SINI."
Kaila terdiam beberapa saat. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Kak," lirih Kaila pelan namun terdengar oleh Bima.
Bima menatap kaca spion, lalu menghentikan lajunya. "Kenapa?" tanya Bima penasaran.
"Kak Bima gak ada niat buat nemuin Pak Hendery?"
Bima terdiam beberapa saat.
"Sorry kalau pertanyaanku bikin Kak Bima gak nyaman."
Bima mengangguk mengerti dan tersenyum. "Gak papa, Kai." Bima menghela napas dan mencoba tersenyum tipis. "Orang itu masih di penjara ya?"
Kaila mengangguk membenarkan.
"Baguslah."
Kaila mengerutkan dahinya. "Kak Bima— gak ada niatan buat jengukin dia gitu?"
__ADS_1
"Biarin ajalah, Kai. Orang itu gak pantas di jengukin," ucap Bima yang terlihat masih menyimpan dendam terhadap Ayah kandungnya.
"Tapi mau bagaimana pun, Pak Hendery adalah papa kandung Kak Bima."
Bima mengangguk. "Memang bener. Tapi aku gak pernah mau punya Papa seperti dia." Bima tersenyum miring dan menghidupkan kembali mesin motor. "Udah yuk, kita langsung pulang aja. Kasian Kiara sama Papa sendiri di rumah. Kak Keiza pasti belum pulang."
Kaila mengangguk dan mengikuti arahan Bima.
Keduanya kembali melanjutkan perjalan pulang yang hanya tinggal memakan waktu sepuluh menit lagi.
-o0o-
"Ini rumah kamu?" tanya Aji setelah menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah.
Keiza mengangguk membenarkan dan meraih tasnya. "Mau mampir dulu?"
Aji melebarkan mata. Bukankah ini kesempatan bagus?
"Gak usah. Lain kali aja," ucapnya.
Keiza mengangguk dengan senyuman. "Baguslah," lirihnya namun tak terdengar oleh Aji.
"Eum— mau aku bukain pintunya?" tanya Aji yang melihat Keiza masih di dalam mobil dan belum turun.
Keiza menggeleng. "Biar aku aja," ucapnya Keiza malu dan segera membuka pintu mobil.
Tangan Keiza meraih knop yang berada di pintu, namun sulit sekali untuk membukanya.
Melihat Keiza kesusahan, Aji pun bertanya, "Gak bisa ya?"
Keiza menoleh dan mengangguk. "Kayanya masih kamu kunci," ucapnya.
Aji melebarkan mata dan segera mengecek. Malunya laki-laki itu saat menyadari ia masih mengunci pintu mobil itu.
"Sorry ya, aku gak tahu kalau masih kekunci."
Keiza mengangguk dan kembali membukanya setelah Aji melepaskan kunci.
"Kei."
Keiza menghentikan niatnya dan kembali menoleh. "Iya?"
Keiza terkekeh. "Besok minggu, aku libur."
"Oh iya!" Aji menggaruk kepalanya merasa malu. "Terus besok schedule-nya ngapain? Ada acara kah?"
Keiza terdiam.
Ada apa Aji menanyakan hal itu? Apa dia ingin mengajaknya pergi bersama.
Keiza menggeleng. "Besok gak ada acara," ucapnya.
Keiza diam. Ia menunggu balasan Aji. Apa yang akan laki-laki itu ucapkan?
Aji mengangguk. "Semangat liburnya!"
Keiza terkekeh kaku. "Hehe iya."
"Kalau gitu aku pulang ya?" ucap Aji.
Keiza menggangguk dan kembali membuka pintu untuk turun.
'Tin!'
Terdengar suara klakson dan lampu motor dari depan mereka. Aji mengerutkan dahinya dan melihat dengan jeli siapa dua orang yang berada di motor itu.
"Itu Kaila sama Bima," ucap Keiza yang belum menutup kembali pintu mobil.
Bima menaikkan kedua alisnya. "Bima?"
Keiza mengangguk. "Gak mau nemuin dia dulu?" tanyanya.
"Iya," ucap Aji dan segera turun dari mobil untuk menemui Bima.
Bima menoleh pada Kaila di belakangnya. "Sejak kapan mereka deket?" bisiknya.
"Dua hari ini," lirih Kaila.
__ADS_1
Bima membulatkan bibirnya dan melihat Aji berjalan menghampiri.
"Hai, Bim!" ucap Aji menyapa meskipun terlihat canggung.
Jika di ingat, Aji dan Bima memang tidak terlalu dekat. Mereka bahkan pernah bersaing dalam hal cinta.
Yaitu cinta Adinda, dan dilanjutkan cinta Kaila yang malah di menangkan oleh Kana.
Namun meskipun demikian, tak ada kebencian ataupun dendam di antara keduanya. Keduanya akan menggangap semuanya masa lalu yang indah untuk di kenang.
Bima tersenyum. "Udah jadi dokter sekarang lo?" ucapnya yang melihat jas putih terpasang di tubuh Aji.
Aji terkekeh. "Seperti yang lo lihat."
Bima mengangguk. " Bagus deh, kalau most wanted sekolah pada jadi dokter semua. Bye the way, gue seneng lo deketin kakak kami," ucap Bima menyebut Keiza.
Keiza menggeleng. "Enggak, Bim. Aji gak deketin aku. Kami berdua cuma rekan kerja. Iya 'kan Dokter Aji?" ucap Keiza.
Aji mengangguk membenarkan. "Iya."
"Deket juga gak papa kali, Kak," timpa Kaila yang langsung mendapat tos-an ria dari Bima.
"Apa sih kalian berdua ini. Udah cepet masuk sana," ucap Keiza.
"Ohh, nyuruh masuk biar kalian bisa berduaan disini?" goda Bima.
"Biasalah," timpa Kaila membuat pipi Aji dan Keiza semakin memerah.
Keiza berdecak. "Astaga, kalian." Keiza menoleh pada Aji. "Dokter Aji kalau mau pulang gak papa. Makasih udah di anterin."
Bima tertawa. "Ji, makan sate dulu aja."
Keiza menatap Bima tajam.
"Lagian masih jam tujuh ini. Ayolah, hitung-hitung reuni kita."
"Iya, ayok!" ucap seseorang membuat semua menoleh.
"Elsa?" ucap Kaila. "Lo dari tadi disini?"
Elsa mengangguk. "Abis magrib tadi gue kesini. Eh kata Kiara lo pergi sama Bima," ucap Elsa melirih Bima. "Gak nyangka Bim lo balik lagi ke Indo."
Bima terlihat senang, laki-laki itu segera turun dari motor dan menghampiri Elsa. "Kangen banget anjir gue sama lo!"
Elsa tertawa. "Gue juga anjir! Kuylah ngobrol disono. Banyak banget yang pengen gue ceritain ke elo."
Bima mengangguk dan keduanya pun berjalan menuju gazebo.
Kaila menghela napas. "Perasaan niat Elsa kesini buat nyamperin gue," ucap Kaila lalu memasukkan motornya ke dalam dengan wajah masam.
Keiza yang masih di depan dengan Aji pun menoleh menatap Aji.
Merasa di lihat, Aji pun tersenyum. "Aku pamit dulu ya?"
Keiza mengangguk.
"Eh Ji! Sini dulu! Kita makan sate rame-rame!" teriak Bima.
"Iya, Ji! Jarang-jarang kita bisa kumpul gini!" timpa Elsa.
Aji menoleh pada Keiza.
"Ayo masuk," ucap Keiza.
Aji menaikkan kedua alisnya. "Gak papa?"
Keiza tertawa. "Ya gak papalah!"
Aji mengangguk gugub dan masuk ke dalam dan berkumpul di gazebo bersama dengan Bima, Elsa dan juga Keiza.
Keila yang baru kembali dari dalam pun menatap pemandangan di depannya.
Terlihat mereka tengah mengobrol, namun terbagi dua. Bima mengobrol serius dengan Elsa, dan Aji yang terlihat tengah mencari topik obrolan dengan Keiza.
Kaila menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. "Jadi gue harus nyamperin yang mana?" Kaila berdecak. "Ah, coba aja ada Kana!"
"Iya, Kai, iya, emang Kana yang bisa bikin lo bahagia," ucap Elsa dan membuat yang lain tertawa.
__ADS_1
Kaila tersenyum malu, rupanya mereka mendengar apa yang ia ucapkan.
-o0o-