KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 37


__ADS_3

Part 37


"BIMA! BUKA PINTUNYA! PAPA TAHU KAMU DI DALAM SAMA SIAPA!"


"Bim, gimana?" Kaila meraih lengan Bima dan merasa ketakutan.


Bima mengangguk dan mencoba menenangkan Kaila. "Lo tenang aja ya? Gue akan cari cara untuk bantu lo keluar dari sini."


Kaila mengangguk. Meskipun perasaannya sudah takut dan tidak tenang.


"BIMA! BUKA! BUKA ATAU PAPA DOBRAK PINTU KAMU!"


Kana melebarkan mata. "Bim, gimana?" Wajah Kaila terlihat begitu pucat.


-o0o-


'Ceklek!'


Aji masuk ke dalam kamar Kana dengan membawa beberapa kantong plastik berisikan makanan.


"Udah kelar, Ji?" tanya Adinda.


Aji mengangguk dan tersenyum. "Untung aja prosesnya gak lama," jawabnya lalu menoleh pada ranjang Kana. "Kana dimana?"


Adinda menghela napas. "Dia pergi."


"Pergi?"


Adinda mengangguk. "Tadi Kaila kesini sama Bima. Terus Kaila lihat gue lagi nyuapin Kana. Kayanya dia cemburu."


Aji diam beberapa saat. "Jadi Kana nyusulin Kaila?"


Adinda mengangguk membenarkan. Raut sedih terlihat jelas di wajah Adinda.


Aji tersenyum tipis dan menghampirinya. "Jangan sedih. Ada gue disini kok."


"Tapi sakit Ji ngeliat orang yang kita cinta pergi demi perempuan lain."


Aji mengangguk. "Gue ngerti, Din. Tapi lebih sakit ngeliat orang yang kita cinta mencintai sahabat sendiri."


Adinda tertawa. Namun detik setelahnya ia diam. Ia menoleh dan menatap mata Aji. "Maksud lo?"


Aji tersenyum dan mengangguk. "Gue suka sama lo."


Adinda melebarkan mata. Ia tak percaya dengan apa yang Aji ucapkan. "Gak mungkin, Ji."


"Apa yang gak mungkin, Din?"


"Lo gak mungkin suka sama gue," lirih Adinda dengan suara parau.


Aji menggeleng. "Gak ada yang gak mungkin di dunia ini. Gue beneran suka sama lo, Adinda."


"Tapi gak bisa, Ji."


"Kalau lo bisa suka sama Kana, kenapa gue gak bisa suka sama lo?"


"Tapi kita sahabat!"


"Terus lo sama Kana? Kalian bukan sahabat?"


Adinda diam. Ia menunduk dengan perasaan bimbang. "Kita gak bisa saling suka, Ji. Gue yakin, kalau kita punya perasaan, setelahnya kita gak bisa kaya gini lagi. Kita gak bisa sahabatan kaya gini lagi."


Aji duduk dan menatap Adinda lekat. "Apa lo pernah mikirin hal itu saat lo suka sama Kana?"


Adinda diam.


"Kalau lo bisa suka sama Kana, kenapa gue enggak bisa, Din? Kalau Kana lo ijinin buat suka sama lo, kenapa gue enggak?"


Adinda diam. Tangannya gemetar.


Aji meraih tangan Adinda. "Gue suka sama lo, Adinda. Gue suka sama lo dari dulu. Dari kecil."


"Tapi itu Cuma cinta monyet, Ji."


"Sekarang bukan cinta monyet lagi, Din. Kita udah dewasa, dan gue suka sama lo. Ini bukan sekedar cinta monyet atau semacamnya. Gue bener-bener tulus suka sama lo."


Adinda menggeleng. "Enggak, Ji."


Aji menghela napas. Ia berjongkok di hadapan Adinda. "Din, gue memang sahabat lo. Kana juga sahabar lo. Gue dan Kana, sama. Sama-sama sahabat lo."


"Maafin gue Ji, tapi—"

__ADS_1


Aji menghela napas dan bangkit. "Oke! Kalau gue memang gak bisa dapetin lo. Semoga Kana bisa peka sama perasaan lo," ucap Aji dan berjalan pergi.


Adinda berdiri. Ia menatap punggung Aji dengan perasaan sedih.


Aji mengusap wajahnya gusar. "Oke, gue udah di tolak." Aji tertawa kecil dan berjalan meninggalkan rumah Kana.


Maafin gue, Ji," ucap Adinda yang melihat Aji menaiki motornya dan berlalu pergi.


-o0o-


"BIMA! BUKA!"


'Tok! Tok! Tok! Tok!'


"Bim," lirih Kaila takut.


Bima menghela napas dan meraih ponselnya. Senyumnya mengembang dan kembali meletakkan ponselnya. "Ayo!"


"Kemana?" tanya Kaila tak mengerti.


Bima menghampiri jendela dan menggeser tirainya. "Ayo! Kana udah nungguin lo."


"Kana?"


Bima mengangguk.


Tak lama, seseorang muncul dari balik jendela dan tersenyum.


"Kana," lirih Kaila dengan senyuman.


Kana terkekeh dan mengangguk.


"Ayo, gue bantu keluar," ucap Bima dan berjongkok.


Kaila mengangguk dan naik ke punggung Bima. Ia berusaha hati-hati dan pelan-pelan. Setelah berhasil, Kana segera membantunya untuk turun.


Senyum Kaila mengembang saat ia berhasil keluar dari Kamar Bima.


Bima tersenyum. "Lo hati-hati ya. Jangan sampai ketahuan Papa."


Kaila mengangguk. "Lo juga hati-hati ya, kabarin gue kalau terjadi apa-apa sama Mama."


Kana mengangguk.


"BIMA! BUKA ATAU PAPA DOBRAK PINTUNYA!"


Bima melebarkan mata. "Cepet pergi!" ucapnya dan kembali menutup jendelanya.


"BIMA!"


Bima menghela napas dan membuka pintunya. Ia menatap Hendry dengan tatapan dinginnya. "Ada apa?"


"Dimana anak itu?" tanya Hendry yang langsung masuk ke kamar Bima.


"Siapa?" tanya Bima.


Hendry berdecak dan berjalan menuju jendela. Ia melebarkan mata dan mengepalkan tangannya. "Dimana anak itu?!"


"Siapa? Siapa yang Papa maksud?!"


Hendry menatap Bima tajam dan berjalan menghampiri. "Kamu gak usah sok gak tahu, ya! Kamu bawa Kaila kesini 'kan?"


Bima menggeleng. "Enggak! Kaila siapa?"


Hendry menghela napas kasar dan menarik kerah baju Bima. "Kamu bawa anak itu kesini 'kan?"


Bima menggeleng.


"Jawab!"


Bima menatap Hendry dengan penuh kebencian.


"Kamu bawa anak itu kesini 'kan?!" tanyanya lagi dengan penuh penekanan.


Bima tetap diam. Ia bahkan membuang tatapannya ke arah lain.


"JAWAB! KAMU BAWA ANAK ITU KESINI 'KAN?!"


"KALAU IYA MEMANG KENAPA?"


'Plak!'

__ADS_1


"CUKUP, MAS!" teriak Nabila yang melihat Hendry menampar Bima.


Napas Hendry memburu, ia menoleh dan menatap Nabila tajam. Sedangkan Bima, pipinya terasa panas. Tamparan Papanya benar-benar menyakitkan untuknya.


"Gak usah ikut campur kamu," lirih Hendry dengan aura dingin.


Nabila menggeleng. Ia berjalan mendekat dan berdiri di depan Bima. "Tampar aku! Tampar aku! TAMPAR AKU, SEKARANG!" bentak Nabila pada suaminya. Tangannya menggenggam Bima mencoba menguatkan putranya.


"TAMPAR AKU, MAS!" teriak Nabila.


Hendry diam. Ia mundur beberapa langkah dan berjalan pergi meninggalkan kamar Bima.


Nabila menangis dan berbalik badan. Ia menarik Bima ke dalam pelukannya. "Kamu gak papa 'kan, nak?"


Bima mengangguk. "Bima gak Papa, Ma."


Nabila tersenyum dan melepas pelukannya. Ia menyentuh pipi Bima dengan tatapan tak tega. "Pasti sakit ya?"


Bima menggeleng. "Ini gak ada apanya dari perlakuan Papa ke Mama selama ini, Ma." Bima mencoba tersenyum. "Mama udah gak papa 'kan? Apa masih pusing?"


Nabila menggeleng. "Mama gak papa." Ia tersenyum dan memandang sekeliling. "Kaila gimana?" bisiknya.


"Kaila udah aman, Ma," jawab Bima membuat Nabila tersenyum lega.


-o0o-


"Jadi Bima yang minta bantuan lo?" tanya Kaila saat keduanya sudah berada dalam mobil Kana.


Kana mengangguk. "Gue tadi ke rumah lo. Tapi gak ada siapa-siapa di sana. Gak lama, Bima ngabarin gue kalau lo kejebak di rumah dia." Kana menghela napas dan menatap Kaila. "Sebenarnya apa yang terjadi, Kai?"


Kaila menunduk dan menghela napas. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk ia menceritakan semuanya pada Kana.


"Kai."


Kaila tersenyum. "Nyokap Bima, Mama gue."


Kana melebarkan mata. "Jadi lo sama Bima Kakak adik?" Senyum Kana melebar. Entah mengapa ia merasa senang mendengar hal tersebut.


"Kita saudara tiri."


Kana membulatkan bibirnya. "Tapi kenapa tadi Bima bilang lo diincar bokapnya? Jujur, gue masih gak ngerti."


Kaila menghela napas. "Mama gue nikah sama Pak Hendry. Dan Pak Hendry gak suka gue muncul di kehidupan Mama. Dia pengen gue pergi dan gak cari-cari Mama lagi."


"Kenapa gitu?"


Kaila menggeleng. "Gue juga gak tahu. Tapi lo perlu tahu Kan, Pak Hendry yang udah nyulik gue waktu itu."


Kana melebarkan mata. "Dia?"


Kaila mengangguk.


"Kurang ajar!" Kana menghela napas dan kembali menatap Kaila. "Lo kenapa baru bilang sekarang, Kai?"


"Gue takut lo khawatir, Kan." Kaila menunduk.


Kana menatap gadis di hadapannya dengan tatapan tak tega. Ia menarik Kaila ke dalam pelukannya. "Gue sayang sama lo, Kai. Jelas gue khawatir kalau lo kenapa-napa."


Kaila diam. Ia merasa nyaman dalam pelukan Kana.


"Kalau ada apa-apa, cerita sama gue ya?"


Kaila mengangguk.


Kana tersenyum dan melepas pelukannya. Ia menatap wajah Kaila dan mengacak lembut pucuk kepalanya.


"Jangan pernah ngerasa sendiri ya, Kai? Gue akan selalu ada di samping lo. Kalau lo butuh apa-apa, lo langsung kabarin gue aja ya?"


Kaila mengangguk dan tersenyum. "Makasih banyak ya, Kan."


Kana mengangguk dan tersenyum.


"Kana."


Kana menaikkan kedua alisnya.


"Jangan pernah berubah ya?" ucap Kaila seraya menunjukkan jari kelingkingnya di hadapan Kana.


Kana tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Kaila.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2