
Part 50 [End]
Empat tahun kemudian.
Tak ada yang berubah dalam diri Kana, bahkan setelah kepergian Kaila empat tahun yang lalu. Kana masih memikirkan gadis itu.
“Kan!” seru Kevin membuat Kana tersadar dari lamunannya.
“Mikirin apa? Ayo ke ruangan. Jadi sampai kita dibilang Koas pemalas.”
Koas atau coass atau co-assistant adalah sebuah istilah yang disematkan bagi seorang dokter muda yang telah menyelesaikan pendidikannya di perkuliahan.
Dan kini, Kana tengah menjalani masa tersebut.
Kana bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Kevin yang sedari tadi menunggunya.
“Lo lagi mikirin apa sih?” tanya Kavin penasaran.
Kana menggeleng dan tetap fokus dengan langkahnya.
“Masih mikirin Kaila?”
Kana menggeleng.
Kevin menghela napas. “Kana, Kana, lo udah empat tahun ditinggal dia, masih aja kepikiran. Dulu lo disuruh nyusulin ke Jerman gak mau. Sekarang? Malah jadi beban pikiran.”
Kana menelan salivanya, lalu menoleh pada Kevin. “Menurut lo? Kaila masih inget gue gak ya?”
Kevin mengedikan bahu. “Gue gak tahu. Dia aja sekarang gak ada kabar sama sekali. Nomor yang terakhir kali dia pakai buat nelpon gue udah gak aktif lagi. Kayanya dia memang bener-bener lupain Indonesia, Kan.”
Kana mengangguk. “Mungkin.”
“Lo gak papa ‘kan?” tanya Kevin.
“Hah?” Kana menaikkan kedua alisnya.
“Lo gak papa Kaila gak ada kabar sampai sekarang.”
Kana tersenyum miris. “Ya mau gimana lagi?”
Kevin mengangguk. Lalu menatap Kana dengan perasaan tak tega. “Bahkan sampai saat ini pun lo masih berharap dia balik, Kan,” ucap Kevin dalam hati.
“Kana! Kevin!” teriak seseorang membuat dua lelaki itu menoleh ke belakang.
Wilka mempercepat langkahnya dan mengejar dua lelaki itu. “Kalian tahu gak?”
Kevin menaikkan kedua alisnya. Begitupun dengan Kana.
“Hari ini kita dapat jadwal operasi!” seru Wilka.
Kevin melebarkan mata. “Serius?”
Wilka mengangguk. “Aku jadi gak sabar,” ucapnya dengan wajah ceria.
Kana membulatkan bibirnya. “Bagus deh!”
Wilka mengangguk.
‘Drrtttt! Drttttt!’
“Hpmu bunyi, Kan!” seru Wilka membuat Kana tersadar dan meraih ponselnya di saku.
Kana mengerutkan dahinya. “Aji?"
Kana menggeser tombol di layar itu dan mendekatkan ponsel ke telinga. “Halo, Ji?”
“Kan, lo dimana?”
Kana mengerutkan dahinya. Tumben sekali Aji menanyakan keberadaannya. “Gue dirumah sakit. Kenapa?”
“Gue juga lagi dirumah sakit, Kan,” ucap Aji di seberang sana.
“Lo sakit?” tanya Kana penasaran.
“Bukan. Bukan gue.”
“Terus?”
__ADS_1
“Tapi Adinda, Kan. Adinda keadaannya semakin parah. Dokter udah jadwalin operasi dia sekarang. Kita gak tahu operasi nanti bakal berjalan sesuai harapan atau enggak. Karena dokter bilang, kemungkinan Adinda berhasil melewati operasi ini sangat kecil.”
“Apa?” Kana melebarkan matanya.
“Iya, lo bisa ke ruangan ini sekarang?”
“Ruangan ini? Memang lo dirumah sakit mana?” tanya Kana bingung.
“Rumah Sakit Harapan Kita, Kan.”
“Jogja?” tanya Kana.
“Iya.”
“Gue juga lagi koas di rumah sakit ini.”
“Iya, Adinda tahu. Makanya dia minta operasi disini. Dia pengen lo ada disaat dia operasi.”
Kana mengangguk, lalu menoleh pada Wilka. “Kamu tahu gak nama pasien yang mau operasi pagi ini?”
Wilka menggeleng. “Yang aku tahu cewek, seumuran kita. Dari Jakarta.”
Kana mengangguk yakin. “Itu temen gue!”
Wilka melebarkan mata. Begitupun dengan Kevin.
-o0o-
“Aji!” teriak Kana membuat orang itu menoleh.
Aji tersenyum tipis dan memeluk sahabatnya tersebut.
Kana memeluknya dengan erat, lalu melepasnya dan membiarkan Aji menceritakan semuanya.
“Keadaan Adinda semakin hari semakin memburuk, Kan. Memang, ini udah lebih dari yang dokter prediksi beberapa tahun yang lalu.”
Kana mengangguk. Ia mengerti maksud Aji. “Kita bisa lihat Adinda sampai sekarang pun adalah sesuatu yang bisa kita syukuri, Ji. Apalagi lo, lo selalu ada disisi dia.”
Aji mengangguk lalu menunduk. “Tapi gue belum bisa bahagiain dia sepenuhnya, Kan. Masih banyak planning gue buat bahagiain dia.”
Kana tersenyum, lalu mengusap pundak sahabatnya. “Kita berdoa ya? Semoga operasi nanti berjalan lancar?”
Kana menghela napas dan melihat jam di tangannya. “Kalau gitu gue masuk dulu ya? Gue ikut operasi Adinda.”
“Jadi lo ada diruangan itu?” tanya Aji.
Kana mengangguk. “Gue masuk dulu ya,” ucapnya dan melangkah pergi.
“Kana! Tunggu!” teriak Aji membuat Kana menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
Aji berjalan mendekat dan menyerahkan sesuatu pada Kana.
“Apa ini?” tanya Kana menatap amplop berwarna biru di tangannya.
“Surat Adinda. Dia pengen lo baca ini setelah operasi selesai,” ucap Aji lalu melangkah pergi.
Kana menatap amplop itu beberapa saat, lalu memasukannya ke dalam saku.
-o0o-
Pintu kamar operasi telah ditutup. Semua dokter, perawat, anastesi pun sudah berkumpul diruangan ini. Pasien terlihat sudah tak sadarkan diri setelah mendapatkan obat bius.
Kana menelan salivanya dengan susah payah. Pasien di hadapannya adalah sahabatnya sendiri. Dan kini, ia harus menyaksikan apakah sahabatnya nanti akan selamat atau bahkan, harus pergi untuk selama-lamanya.
“Maaf Dokter, bisa kita mulai?” ucap salah seorang perawat kepada Dokter yang mengetuai operasi kali ini.
Dokter itu mengangguk dan menatap semua yang berada disini untuk bersiap.
“Sebelum mulai, mari kita berdoa terlebih dahulu untuk keselamatan pasien.”
Semua mengangguk dan berdoa. Kana berdoa dan memohon agar operasi ini berjalan dengan lancar. Ini ingin melihat sahabatnya tersenyum kembali seperti dulu. Sebelum sebuah penyakit menimpanya.
“Lo pasti bakal baik-baik aja, Din,” ucap Kana dalam hati lalu tersenyum memandang tubuh gadis yang sudah tak sadarkan diri itu.
-o0o-
Di lain tempat. Aji terlihat begitu panik. Ia berjalan mondar-mandir dan menunggu kabar dari dalam.
__ADS_1
“Adinda, lo harus sembuh. Lo harus sembuh, Din. Gue yakin lo pasti bisa sembuh.”
Aji memejamkan matanya dan bersadar di dinding yang menjadi saksi kesedihannya menunggu Adinda.
Operasi sudah berjalan Tiga jam yang lalu, namun sampai saat ini dokter belum juga keluar dari ruangan. Aji mengusap wajahnya dan terus berdoa.
Tak lama, pintu terbuka dan menampilkan dokter yang keluar disana. Disana, Aji juga melihat Kana keluar dengan langkah lemas.
“Dokter! Gimana dok?” teriak Aji.
Dokter itu belum menjawab. Semua masih diam. Begitupun dengan Kana.
“Kana, Adinda gimana, Kan?” ucap Aji dengan sangat panik.
Kana menunduk. “Operasinya gagal."
Aji melebarkan mata, lalu menggeleng. “Gak mungkin,” ucap Aji lalu terduduk di lantai.
Kana menghela napas dan menatap langit, berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.
Kana melangkah pergi dan berjalan menuju taman.
-o0o-
Suasana taman siang ini sangat sepi. Bahkan, langit pun berwarna gelap. Benar, hujan akan turun setelah ini.
Kana menatap amplop di tangannya. Perlahan, tangannya membuka amplop itu dan mengeluarkan kertas putih di dalamnya.
Detik setelahnya, Kana membaca surat itu. Surat yang Adinda tulis untuk dirinya.
“Hai, Kan!
Pasti saat lo baca surat ini, gue udah gak ada ya? Hehe
Tenang, gue udah bahagia kok sekarang. Gue bahagia karena gue gak lagi ngerasain sakit, Kan.
Gue bahagia karena bisa ninggalin lo dan Aji dengan tenang. Gue bahagia banget, Kan. Jadi jangan sedih ya, Kan.
Cukup kepergian Kaila yang bikin lo sedih, gue jangan. Gue gak mau lihat sahabat gue yang satu ini terus merasakan sedih.
Lo pernah bilang ‘kan ke gue, kepergian bukan akhir dari segalanya.
Seperti lo dan Kaila, Kan.
Kepergian Kaila bukan akhir dari segalanya.
Bisa aja ini semua rencana Allah.
Di pertemukan karena pendidikan, dipisahkan karena keadaan, dan akhirnya disatukan karena takdir Tuhan. Kita gak pernah tahu, Kan.
Tapi lo juga harus ingat. Gak semua yang pergi akan kembali. Dan yang kembali akan tetap bertahan.
Itulah hidup, Kan.
Dan gak semua kisah akan selalu berakhir bahagia.”
Kana terdiam. Ia meletakkan kembali kertas itu dan menangis.
Tak berselang lama, Kana menghela napas dan mengusap air matanya. Tiba-tiba suatu keyakinan muncul dalam hatinya.
Ia menatap langit melawan air hujan yang turun membasahi.
“Ya Allah, jika Kaila memang jodohku, tolong kembalikan Kaila padaku. Namun jika memang dia tak berakhir denganku, lupakanlah nama di hatiku."
Kana kembali menghela napas panjang dan bangkit. Mencoba tersenyum meskipun hatinya terasa sakit.
-END-
a/n :
Hmm. Gais. Yap! This is ending for this season.
Aku harap, kalian memahami dengan akhir kisah ini.
Kalian tenang aja, setelah ini, masih ada season 3.
Kita berharap, semoga Kaila disatukan dengan Kana di season 3.
__ADS_1
Tunggu aku update kisahnya ya! ^^
Setelah ini ada spoilernya loh!