KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 13


__ADS_3

Part 13


Kaila tersenyum dan hendak duduk di kursi. Namun, pandangannya tertuju pada seseorang yang kini tengah duduk menghadap ke arahnya.


"Erkan lagi?" ucap Kaila membuat Wilka, Kana dan juga Kevin menoleh ke arahnya, lalu mengikuti arah pandangan Kaila.


Merasa dirinya diperhatikan, Erkan pun menoleh. Senyumnya melebar saat matanya bertemu dengan empat pasang mata yang menatap ke arahnya. "Lagi-lagi ketemu orang yang selalu ngusik hidup gue."


Kaila diam. Ia tahu Erkan tengah membicarakannya. Ia juga tahu bagaimana kesalnya Erkan padanya.


Erkan tertawa renyah, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Kaila.


Kaila menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana bisa disetiap harinya, ia harus selalu berurusan dengan laki-laki tersebut.


Erkan melipat kedua lengannya dan berdiri di samping Kaila. "Lo kenapa sih, selalu muncul di depan gue?" ucapnya pada gadis itu.


Kaila tak menjawab. Gadis itu membuang tatapannya ke arah lain.


"Heh! Gue ngomong sama lo!" teriak Erkan di telinga Kaila.


"BISA ENGGAK, GAK USAH CARI MASALAH SAMA PACAR GUE?" ucap Kana yang berdiri menatap Erkan tajam.


Erkan menoleh dan tertawa. "Oh, ada pawangnya rupanya. Yah, gak jadi deh, gak seru," ucap Erkan tersenyum miring dan kembali ke mejanya.


"Dia itu kenapa sih? Perasaan gak udah-udah cari masalah sama Kaila. Padahal kejadian yang Kaila liat itu udah agak lama 'kan? Kenapa sih masih aja gangguin?" lirih Wilka pada ketiganya.


Kaila menggigit bibir bawahnya dan mendekat. "Kemarin aku nyamperin dia sama pacarnya. Gara-gara aku liat dia kasar banget sama pacarnya di pinggir jalan."


Kana melebarkan mata. "Tapi kamu gak papa 'kan?"


Kaila menganguk. "Gak papa kok. Untungnya kemarin ada kembaran Wilka."


Wilka menaikkan kedua alisnya. "Dia ada disitu?"


Kaila mengangguk membenarkan. "Dia dateng di saat yang tepat. Untungnya dia langsung suruh pacarnya Erkan pergi."


Kana menatap kekasihnya. Meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Maaf ya, aku gak ada di samping kamu tadi."


Kaila mengangguk. "Gak papa kok," jawabnya dengan senyuman.


"Kalau dipikir-pikir, kenapa sih pacarnya mau pacaran sama Erkan?" tanya Kevin membuat ketiganya menoleh.


"Gak tahu juga. Tapi pacarnya itu kaya tertekan gitu sama dia."


Wilka menghela napas dan mendekat pada ketiganya. "Sebenarnya, pacarnya Erkan itu mantan pacar kembaranku. Dia bilang, Erkan yang udah ngerebut cewek itu dari kembaranku."


Kana mengerutkan dahinya. "Lo dari tadi bilangin kembaran-kembaran, sebenarnya siapa? Yang mana?"


Kaila tersenyum. "Kembaran Wilka itu cowok, namanya Wilko."


Kana membulatkan bibirnya, lalu melebarkan mata. "Lah, jadi kemarin dia yang nolongin kamu?"


Kaila mengangguk dengan senyuman.


Melihat jawaban Kaila, Kana pun mengerucutkan bibirnya. "Yah, seharusnya kemarin aku yang ada disana. Bukan cowok lain."


Wilka tertawa. "Yaelah, tenang aja Kana. Kaila gak bakal di rebut sama Wilko. Wilko juga udah tahu kok kalau Kaila udah punya pacar."


"Baguslah," jawab Kana membuat Kaila terkekeh pelan.

__ADS_1


"Oh ya, Wilko bilang, Erkan yang ngerebut cewek itu?" tanya Kevin.


Wilka mengangguk.


"Terus pertanyaanya, kenapa cewek itu mau?" tanya Kevin kembali.


Kana berdecak kesal mendengar pertanyaan Kevin. "Vin, lo kalau kepo, mending lo samperin tuh orang. Lo tanya satu-satu. Orang kok kepo banget," ucap Kana membuat Wilka dan Kaila tertawa.


"Yaelah, kita itu kalau mau pinter ya harus banyak tanya."


"Iya, tapi bukan hubungan orang yang ditanyain," ucap Kana membuat Kevin skakmat.


"Ah, kita malah bahasin orang, bukannya pesen makanan juga," ucap Wilka membuat ketiganya tersadar jika belum pesan makanan.


-o0o-


Setelah menghabiskan waktu bersama kekasih dan juga kedua temannya, Kana kembali ke rumah. Laki-laki itu melepaskan kemeja dan merebahkan tubuhnya di kasur dan hendak memejamkan mata.


'Drrrttt!'


Ponsel Kana bertegar. Ia menoleh dan meraih ponsel yang berada tak jauh darinya.


Kana tersenyum saat melihat nama muncul disana.


"Halo, sayang," ucap Kana saat mengangkat telepon.


"Nana, mobil Kevin mogok di gang mawar yang di deket tempatmu. Mana di sini gak ada bengkel."


"Jadi kalian masih di gang itu?" tanya Kana.


"Iya. Tapi Wilka udah di jemput Kak Flero."


Kana melebarkan mata. "Jadi kamu berdua doang sama Kevin?"


Kana menelan salivanya. Ia segera meraih kemejanya dan kembali mengenakan. "Tunggu disana. Aku sebentar lagi sampai."


'Tut! Tut! Tut!'


Kana segera mengancingkan baju dan bersiap untuk menghampiri Kaila. Ia tak mau kekasihnya bersama dengan orang lain saat malam hari seperti ini. Meskipun orangnya adalah Kevin.


"Sorry, Vin, bukannya gue gak percaya. Cuma awal gue liat lo, lo pegang tangan Kaila. Jadi gue gak bisa biarin lo berdua doang sama Kaila malem-malem begini."


'Tok! Tok! Tok!'


Terdengar suara ketukan pintu.


"Siapa ya?"


'Tok! Tok! Tok!'


"Siapa sih?" pikir Kana. "Jangan-jangan Kaila," ucapnya dengan cengiran kuda.


'Tok! Tok! Tok!'


"Iya, iya, sebentar!" teriaknya seraya mengancingkan kemeja.


'Tok! Tok! Tok!'


Kana berdecak seraya mempercepat langkahnya menuju pintunya. "Gak sabaran bener."

__ADS_1


'Ceklek!'


Pintu terbuka.


Namun tidak ada siapa-siapa di sana. "Perasaan tadi ada yang ngetok deh." Kana menghela napas dan kembali masuk.


"SURPRISE!!!"


Kana menoleh dan melebarkan mata. "Mama? Papa?"


Alina dan Kavin tersenyum lalu memeluk putranya tersebut.


"Mama kangen banget sama kamu, sayang."


Kana tersenyum dan menikmati pelukan kedua orangtuanya. "Kana juga kangen kok. Tapi bisa 'kan lepasin dulu pelukannya. Kana malu di liat tetangga. Mana diluar lagi."


Alina tertawa dan melepas pelukannya. Begitupun dengan Kavin.


"Udah gede ya anak Mama, biasanya aja melukin Mamanya kalau lagi nulis," ucap Alina seraya memasuki rumah yang ia sewa untuk Kana.


"Enak juga rumahnya, Kan," ucap Kavin seraya memandang setiap sudut ruangan tersebut.


"Pilihan siapa dulu," ucap Kana membuat kedua orangtuanya tertawa.


"Gimana kuliahnya? Lancar?" tanya Alina.


Kana mengangguk. "Lancar, jaga, sentosa!"


"Udah mulai praktik bedah-bedah tubuh manusia belum, Kan?" tanya Kavin.


"Ya belumlah, Pa. Baru juga awal masuk," jawab Kana.


"Tau nih, Papa, perasaan dari kemarin bahas, 'Kana udah mulai bedah-bedah belum ya? Kana udah ini belum ya? Kana udah itu belum ya?" ucap Alina membuat putranya tertawa.


Kana tersenyum dan memandang kedua orangtuanya dengan tatapan bahagia. "Kenapa Mama sama Papa gak bilang kalau mau kesini?"


"Ya kalau bilang mah bukan kejutan, Kana," ucap Kavin.


"Oh ya, Kan, kamu udah makan?" tanya Mamanya yang terlihat amat rindu dengan Kana.


"Udah dong, Ma. Tadi Kana makan diluar sama—" Kana melebarkan mata. Ia baru ingat jika ia harus menghampiri Kaila yang tengah berdua dengan Kevin di luar sana.


"Sama siapa?" tanya Alina dengan senyuman.


Kana bangkit dari duduknya dan menghampiri Kavin. "Pa, pinjem kunci mobilnya."


Kavin mengerutkan dahinya. "Lah, kamu mau kemana?"


"Penting, Pa. Demi keutuhan cinta Kana. Kana gak bisa tinggal diam."


Kavin semakin tak mengerti dengan apa yang Kana ucapkan.


"Pa, bentar."


"Papa sama Mama baru dateng loh, masa mau kamu tinggal pergi?" ucap Alina.


Kana menggigit bibir bawahnya. "Maaf Ma, ini demi cinta Kana," ucap laki-laki itu dan berlalu pergi.


Alina mengerutkan dahi, lalu melebarkan mata. "KANA! KAMU MAU KETEMU KAILA YA?!" teriak Alina.

__ADS_1


Kana menoleh dan tersenyum. "MAAF MA, KAILA SUMBER KEBAHAGIAAN KANA. JADI KANA GAK BISA NGERELAIN KAILA GITU AJA! SEMOGA SUATU SAAT MAMA TERIMA KAILA UNTUK KANA!"


-o0o-


__ADS_2