
Part 40
Kaila berjalan keluar dari ruangan ibunya di rawat. Ia begitu senang begitu mendapat kabar jika Bima sudah berada di depan.
Dengan senyuman di wajah, Kaila mempercepat langkahnya dengan sedikit berlari.
"Kaila!"
Kaila menghentikan langkahnya seraya mengitari pandangannya. Senyumnya merekah saat orang yang akan ia temui tengah berdiri seraya melambaikan tangan ke arahnya.
"Bima!"
Kaila tersenyum lebar dan menghampiri Bima yang sudah mengulurkan tangan untuk memeluknya.
"Aaaaa, adik gue! Kangen banget gue sama lo, Kai!" seru Bima dengan suara lantangnya yang tengah memeluk Kaila.
Kaila terkekeh dan melepas pelukan itu. "Kangen juga gue sama lo, Bim."
Bima melebarkan matanya. "Bam, Bim, Bam, Bim. Kak Bima dong!"
Kaila menghela napas seraya memutar bola matanya. "Iya, Kak Bima!"
Bima terkekeh seraya mengacak pelan pucuk kepala Kaila. "Kana dimana?" tanyanya.
Kaila menoleh ke balakang dan melihat Kana sudah berdiri disana seraya tersenyum. Ia tak tahu jika Kana mengikutinya hingga kesini.
"Kan! Sini! Gue kangen banget sama lo!" seru Bima.
Kana tertawa lalu mendekat dan berhambur ke pelukan Bima.
"Makasih banyak ya, udah jaga Kaila."
Kana tersenyum dan mengangguk. "Makasih juga udah percaya sama gue."
"Bima!" teriak seseorang membuat ketiga orang itu menoleh dan melihat Adinda bersama dengan Aji tengah melambaikan tangan.
"Adinda?" ucap Bima.
Kana mengangguk dengan senyuman.
Adinda berlari mendekat, bersama dengan Aji di belakangnya.
"Baru sampai lo?" tanya Adinda saat sampai di hadapan Bima.
Bima mengangguk. "Sebenarnya jam Delapan tadi gue sampai. Cuma mampir sarapan dulu di rumah makan deket bandara. Ternyata dari bandara ke sini gak terlalu jauh ya?"
Kaila mengangguk. "Lima belas menit doang."
"Kalian semua lagi libur kuliah?" tanya Bima.
Adinda mengangguk. "Lo disana kuliah atau gimana, Bim?" tanya Adinda penasaran.
Bima tersenyum tipis. "Gue belum kuliah. Kayanya tahun depan. Tahun ini gue mau kerja dulu cari uang buat biaya kuliah gue nanti."
Senyum Adinda memudar. Ia menyesal sudah melontarkan pertanyaan tadi.
"Kenapa? Gue gak papa kali," ucap Bima yang melihat perubahan raut wajah Adinda.
Adinda menggeleng dan tersenyum. "Oh ya Kai, gimana nyokap lo? Udah sadar 'kan?"
__ADS_1
Kaila mengangguk dengan senyuman.
"Syukurlah. Kalau gitu, kita temuin dulu yuk, Ji? Sekalian pamit pulang," ucap Adinda.
Bima mengerutkan dahinya. "Kalian mau pulang ke Jakarta pagi ini?"
Aji mengangguk. "Kita itu sebenarnya gak ada rencana mau ke Jogja. Tapi pas kita denger kabar nyokap Kaila di rawat, kita langsung terbang kesini bareng Kana."
Bima membulatkan bibirnya, lalu memandang Aji dan juga Adinda. "Makasih banyak ya? Kalian udah repot-repot kesini buat jengukin nyokap kita."
Aji dan Adinda mengangguk. "Sama-sama, Bim."
"Yaudah yuk Kai, temenin gue sama Aji buat ketemu nyokap lo," ucap Adinda dan di angguki oleh Kaila.
-o0o-
"Jadi, kakak kandung Kaila kembali?" tanya Bima pada Kana yang kini duduk di sebelahnya.
Kana mengangguk. "Dia sebenarnya kakak tingkat gue sama Kaila. Tapi, kita gak pernah sadar kalau dia kakak kandung Kaila."
"Terus, orangnya gimana? Mirip Kaila? Atau lebih mirip Mama Nabila?" tanya Bima.
Kana menghela napas panjang dan menatap Bima dengan tatapan datar. "Kaila sama Mama Nabila sebelas dua belas mukanya, Bima."
"Oh iya, ya," ucap Bima.
"Entar lo liat sendiri aja deh, kalau Aji sama Adinda udah keluar," ucap Kana.
Benar, kedua orang itu memang tengah menunggu Aji dan Adinda keluar dari ruangan Nabila di rawat. Agar keduanya bisa bergantian masuk.
"Ah, itu mereka keluar!" ucap Bima bangkit dari duduknya.
Adinda tersenyum menghampiri dua laki-laki itu. "Bim, Kan, kita berdua balik ke Jakarta ya?"
Aji mengangguk. "Kita balik dulu ya?"
"Ji, Din, gue anter sampai Bandara ya?" ucap Kana.
Aji dan Adinda mengangguk.
"Bim, titip Kaila ya? Gue mau anter mereka dulu," ucap Kana.
Bima mengangguk. "Hati-hati, Kan."
Setelah ketiganya pergi. Bima meraih tasnya dan berjalan masuk ke ruangan itu. Matanya mengitari setiap sudut ruangan, hingga terhenti pada empat pasang mata yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Bima," ucap Nabila denga suara lemah.
Bima menjatuhkan tasnya dan berlari ke pelukan Nabila.
"Bima, Mama kangen banget sama kamu, Nak," lirih Nabila.
Bima mengangguk. "Bima juga, Ma," ucap laki-laki itu lalu menangis dalam pelukan Nabila.
Nabila terkekeh. "Jangan nangis. Mama gak papa. Hei, Mama gak papa."
Bima menggeleng. Ia semakin erat memeluk Nabila. "Bima gak tenang Ma, waktu denger Mama sakit. Mana kenapa bisa sakit sih?"
"Ya, bisalah, Kak Bima," ucap Kiara.
__ADS_1
Bima melepas pelukan itu dan menoleh pada Kiara. "Kiara! Kakak kangen banget dek!" seru Bima seraya mengangkat tubuh Kiara dan memeluknya.
Kaila tersenyum, begitupun dengan Keiza. Meskipun Keiza belum mengenal Bima, namun ia bahagia karena Bima terlihat begitu menyayangi Ibunya seperti ibu kandung sendiri.
"Kak Bima," ucap Kiara.
"Iya, sayang?" Bima menaikkan kedua alisnya.
"Kakak belum pernah ketemu Kak Kirana, 'kan?" ucap Kiara.
"Kirana?" tanya Bima.
Kiara mengangguk. "Ini, Kak Kirana," ucap Kiara menunjuk gadis yang kini berdiri di samping Nabila.
Bima tampak berpikir. "Terus Kak Keiza yang mana? Soalnya tadi di ceritain Kana, namanya Kak Keiza."
Keiza tertawa. "Keiza itu aku. Dan Kirana juga aku. Namaku Keiza Zeline Kirana," ucap Keiza seraya mengulurkan tangannya kepada Bima.
Bima tersenyum dan membalas jabatan tangan itu. "Bima Aksana."
Keiza mengangguk dan melebarkan senyumnya.
Bima tak melepaskan senyumnya. Ia lalu menoleh pada Nabila. "Ma, kok bisa sih?"
"Hah?" tanya Nabila tak mengerti.
"Kok bisa ngelahirin anak cantik-cantik?" ucap Bima membuat Kaila dan Keiza tersenyum malu. Begitupun dengan Nabila.
"Anak yang cantik, bersumber dari ibunya yang cantik. Jadi, mereka cantik karena apa?" tanya Nabila.
"Karena Mama cantik," jawab Kiara membuat keempatnya tertawa.
"Kamu kemarin dari Jerman jam berapa?" tanya Nabila.
"Jam berapa ya? Siang kayanya, Ma. Pokoknya pas gue nelpon elo itu, Kai," ucapnya pada Kaila.
Kaila mengangguk.
"Bima udah siap-siap di Bandara."
Nabila tersenyum. "Terus kamu bisa tahu Mama dirumah sakit kata siapa?"
"Nih, Kiara yang nelpon Bima sambil nangis-nangis," ucap Bima membuat Kiara tersenyum malu seraya memamerkan deretan giginya yang ompong.
"Mama seneng, anak Mama kumpul semua disini. Besok kalau Mama udah keluar dari rumah sakit, kita liburan ke Bali ya?" ucap Nabila.
"Asikkkk!" seru Kiara yang mendengar hal tersebut.
Kaila tersenyum. "Kalau gitu, Mama banyakin istirahat dulu ya? Biar cepet sembuh."
"Iya, sayang," ucap Nabila dengan senyuman tulus, lalu beralih pada Bima dan juga Keiza. "Bima sama Kirana, bakal tinggal sama Mama dan Kaila Kiara 'kan?"
Keiza mengangguk. "Mulai detik ini, Kirana akan selalu ada di sisi Mama," ucapnya membuat Nabila tersenyum lega.
"Kalau Bima?" tanya Nabila.
Bima menunduk, lalu meraih tangan Ibu tirinya tersebut. "Bima akan ada disamping Mama sampai Mama sembuh."
Nabila tersenyum. Jawaban putra dan putrinya benar-benar membuat hatinya terasa tenang.
__ADS_1
"Kalian berempat adalah sumber kebahagiaan Mama," ucap Nabila membuat keempat anaknya tersenyum haru dan memeluknya.
-o0o-