
Part 49
Siang ini, dengan terik matahari yang tak terlalu mencolok, Kana bersama dengan Kaila terlihat memarkirkan motor di pinggir jalan di sebuah area pantai.
Setelah berjanji untuk menghabiskan waktu bersama, keduanya pun memutuskan untuk pergi ke pantai lebih dahulu, sebelum menghabiskan waktu bersama di tempat lain.
Pantai menjadi tempat yang sangat Kaila gemari. Selain karena airnya yang segar, Kaila merasa dengan di pantai, ia bisa berlari dengan bebas. Menghirup udara yang segar, dan bermain air sepuasnya. Memang alasan yang aneh. Namun demikianlah Kaila mendefinisikannya.
"Kamu, lebih suka pantai atau pegunungan?" tanya Kaila pada laki-laki di sebelahnya.
Kana menoleh mamandang wajah kekasihnya tersebut dengan tatapan penuh arti.
"Apa? Lebih suka apa?" Kaila menaikkan kedua alisnya.
"Lebih suka kamu," jawab Kana dengan senyum manis dan mata sipitnya.
Kaila berdecak. "Kana, udah dong! Malu," ucap Kaila dengan wajah yang tak henti merona.
Kana tertawa. "Satu hal yang bikin aku jatuh cinta sama kamu. Kamu pemalu."
Kaila menunduk, menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum malu.
Kana terkekeh melihat kekasihnya. Ia meraih tangan Kaila, menautkan jemarinya dengan jemari Kaila. Lalu mengajak gadis itu berjalan memasuki area pantai.
"Aku udah lama banget gak ke pantai. Terakhir ke pantai, waktu SD," ucap Kana.
Kaila menoleh dan melebarkan mata tak percaya. "Seriusan? Udah Enam tahunan dong!"
Kana mengangguk membenarkan. "Aneh 'kan?"
"Kenapa gitu?" tanya Kana penasaran.
"Aku gak pernah semangat kalau ke pantai. Tapi karena sekarang kamu yang ngajak, aku jadi semangat."
Kaila tertawa. "Kamu serius gak sih ngomong gini?"
"Seriuslah, masa bohong. Memangnya aku ada tampang tukang bohong?" Kana mendekatkan wajah ke Kaila dan melebarkan matanya.
Melihat mata Kana, Kaila malah tertawa. "Jangan melotot gitu. Lucu, tahu gak?"
Kana tersenyum malu dan menggaruk tengkuknya. "Memang aku melotot ya?"
"Iyalah, mata mau lepas gitu geh."
Kana tertawa kecil, lalu memandang ke arah lain.
"Ayo cepetan, aku udah gak sabar." Kaila berjalan lebih dulu dan berlari menuju bibir pantai.
"Kaila, tunggu!"
Sesampainya di pinggir pantai, Kaila berdiri dan memejamkan mata. Merasakan indahnya pantai dan menghirup udara dengan bebasnya.
Kana yang tengah duduk di atas pasir pun tersenyum memandang gadis yang kini berdiri di sebelahnya. Ia lega sudah membawa Kaila ke tempat ini. Rasanya bahagia melihat gadis itu bahagia.
"KA-NA! MA-KA-SIH BA-NYAK U-DAH BA-WA A-KU KE-SINI!" teriak Kaila.
Kana tertawa kecil. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri. "Sama-sama, sayang."
Kaila tersenyum dan kembali menatap luruh ke depan.
"Ayo main air!"
Kaila mengerutkan dahinya dan memandang kekasihnya dengan tatapan bingung. "Mau main air?"
Kana mengangguk. "Kenapa enggak? Kita udah sampai sini."
Kaila ingin sekali berlari ke air dan bermain sepuasnya. Namun—
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kita gak bawa baju lain," ucap Kaila sedih.
Kana tertawa. "Pulang dari pantai kita beli baju baru," ucap Kana lalu menarik gadis itu menuju air.
Senyum Kaila semakin lebar saat dinginnya air menyentuh kakinya.
"Lala!" teriak Kana seraya menyiramkan air ke wajah Kaila.
Kaila melebarkan mata terkejut. "Nana!" Kaila terlihat kesal. Gadis itu ikut mengambil air dengan kedua tangannya dan menyiramkan ke arah Kana.
Namun sayangnya, Kana malah berlari membuat Kaila tak bisa tinggal diam dan akhirnya mengejar.
"Nana! Awas kamu ya!" teriak Kaila mengejar laki-laki di hadapannya.
Kana tertawa dan berlari menuju bibir pantai. "Ayo, kejar!"
"Memangnya aku gak bisa kejar kamu? Ha?" Kaila mempercepat larinya, dan mengejar Kana.
"Coba, buktiin!" teriak Kana.
Kaila berhenti. Mengatur napasnya, dan kembali berlari. "Nana! Berhenti!" teriak Kaila kesal karena tak berhasil mendapatkan laki-laki itu.
Kana terus tertawa. Ia menjulurkan lidahnya dan kembali berlari.
Kaila menggelengkan kepala melihat kelakuan kekasihnya tersebut. "Awas kamu ya!"
"Ayo, sini! Kejar!" Kana berlari di atas pasir dengan bahagianya.
Untungnya siang ini pantai tak ramai dengan pengunjung. Sehingga sepasang kekasih itu bisa menghabiskan waktu dengan sepuasnya. Tanpa malu-malu.
Kaila kembali mengatur napasnya. "Kana, tung—" Kaila terlihat memegang kepalanya.
'Brugh!'
"Lala!" teriak Kana dan berlari menghampiri kekasihnya. Ia terkejut saat mendapati Kaila memejamkan matanya.
Apa gadis itu pingsan?
"La, bangun La!" teriak Kana menyentuh pipi kekasihnya.
Kaila masih tak bergerak. Hal itu membuat Kana semakin panik. Ia menarik kepala Kaila ke pangkuannya dan kembali membangunkan gadis itu. "Bangun, La. Jangan pingsan. Aku mohon. Maafin aku La. Please bangun, jangan pingsan."
"Memangnya kalau aku pingsan kenapa?" Kaila membuka matanya dan tersenyum miring.
"Kaila!" teriak Kana terkejut.
Kaila tertawa dan meraih tangan Kana dan menahannya. "Mau lari kemana lagi?" tanya Kaila seraya menjulurkan lidahnya. "Memang bisa lari dari aku?"
Kana berdecak. "Gitu ya? Ngerjain orang!"
"Memang kenapa? Hmm?" Kaila menaikkan kedua alisnya dan tertawa.
Kana memutar bola matanya. "Gak tahu apa, orang udah panik?"
Kaila tertawa dan bangun. Ia merapihkan rambutnya dan berdiri. "Makasih loh udah panik."
Kana memutar bola matanya. "Bukannya minta maaf, malah makasih."
Kaila menggelengkan kepala, lalu mencubit pipi Kana dengan gemasnya.
"Aw! Sakit," lirih Kana memandang tajam kekasinya.
"Sakit ya?" tanya Kaila lalu mengusap pipi Kana.
Kana tersenyum. Menyatukan tangannya dengan tangan Kaila yang masih berada di pipinya. "Seneng liat orang sakit?" Kana menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
Kaila menggeleng dengan senyuman. "Gak mungkinlah aku seneng lihat kamu sakit."
Kana tertawa kecil, menoleh ke arah lain, dan kembali memandang kekasihnya. "Foto yuk?" ajaknya.
"Ayo!" seru Kaila setuju.
"Ulurin tangan kanan kamu ya?" perintah Kana pada Kaila.
"Tangan kanan?"
Kana mengangguk. "Kamu tangan kanan, aku tangan kiri."
Kaila mengangguk. "Oke, oke."
"Siap?"
"Siap!"
"Satu, dua," Kana menghitung.
'Cekrek!'
Ponsel Kana berhasil memotret.
"Coba lihat," ucap Kaila hendak melihat ponsel Kana.
Kana mengangguk dan menunjukkan hasil jepretannya. "Bagus gak?" tanyanya.
"Bagus!" seru Kaila dengan senangnya.
"Kamu suka?" tanya Kana.
"Suka banget!" jawab Kaila seraya memamerkan deretan giginya.
Kana tertawa. "Ayo lagi?"
Kaila mengangguk, meraih kayu yang berada di bawah kakinya, lalu berjongkok.
Melihat Kaila, Kana pun melipat kedua kakinya dan ikut berjongkok. "Mau bikin apa?"
Kaila tersenyum. "Senyum kamu sama senyum aku."
Kana membulatkan bibirnya dan menunggu Kaila menyelesaikan gambarannya.
"Udah, ayo!" Kaila menarik Kana untuk kembali berdiri dan mundur beberapa langkah, menyesuakan dengan hasil gambarannya.
"Ayo," titah Kaila.
"Foto sekarang?" tanya Kana.
Kaila mengangguk.
Kana membuka menu kameranya dan kembali berhitung. "Satu, dua—"
'Cekrek!'
Ponselnya kembali berhasil memotret.
"Coba lihat!"
Kana menyerahkan ponselnya pada Kaila.
"Bagus!" seru Kaila. "Lagi-lagi ayo lagi. Kita habisin memori kamu sama foto kita!" ucap Kaila membuat Kana tertawa dan mengacak rambut gadis itu karena gemasnya.
"Habisin aja ya, sampai kamu puas!" ucap Kana membuat Kaila tertawa bahagia.
-o0o-
__ADS_1