
Part 6
"Mama!" teriak Kana memenuhi seisi ruangan.
"Mama!" teriaknya sekali lagi.
"Kana, jangan teriak-teriak ih," lirih Kaila menarik lengan Kana.
Kana tertawa. "Biarin, aku lagi seneng soalnya!" serunya membuat Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala.
"Mama! Ma! Ada calon menantu Mama nih!" teriak Kana membuat Kaila semakin malu.
"Kana, pelan ih, malu sama yang lain," lirih Kaila.
"Tenang aja, disini cuma ada Mama sama Papa sama Bibi di belakang," ucapnya membuat Kaila kembali diam.
"Mama!" teriak Kana sekali lagi.
Kaila menghela napas dan menggelengkan kepala. Sudahlah biarkan, Kana sedang terlalu senang saat ini.
"Ma!"
"Maaf Den, Bu Alina sama Pak Kavin lagi gak dirumah," ucap asisten rumah tangganya yang menghampiri.
Kana menoleh. "Kemana, Bi?"
"Ke Jerman."
Kana melebarkan mata. "Ke Jerman?"
Asistennya mengangguk.
"Loh, bukannya gak jadi ya?"
Asistennya menggeleng. "Maaf Den, bibi kurang tahu." Asistennya menoleh pada Kaila. "Mbak, mau minum apa?"
Kaila menggeleng dengan senyuman. "Gak usah, Bi. Tadi udah minum di luar."
Asisten itu mengangguk dan berjalan masuk ke dalam.
Kana menghela napas dan menoleh pada Kaila. "Maaf ya, kamu jadi gak bisa ketemu Mama sama Papa."
Kaila mengangguk. "Gak papa kok. Oh ya, memang mereka beneran ke Jerman?"
Kana menggeleng. "Aku juga gak tahu. Tapi tadi pagi Mama sama Papa masih ada di rumah kok."
Kaila membulatkan bibirnya.
'Tin!'
Terdengar suara klakson membuat keduanya saling menatap.
"Udah kayanya Mama sama Papa," ucap Kana lalu membawa kaila ke depan.
Sesampainya di depan. Terlihat Alina yang turun dari mobil bersama dengan Kavin.
Alina tersenyum dan melambaikan tangannya. Begitupun dengan Kavin.
"Hallo Kaila! Wie geht's?" teriak Kavin membuat Kaila terkekeh. Tentu saja Kaila terkekeh, sebab Kavin menanyakan kabarnya menggunakan bahasa Jerman.
"Danke, sehr gut!" jawab Kaila yang juga menggunakan bahasa jerman yang artinya 'aku baik-baik saja.'
Alina tertawa membuat Kaila menoleh. "Kaila, bogo sipeo!" serunya memeluk Kaila.
__ADS_1
Kaila tersenyum dan menerima pelukan itu dengan hangatnya.
"Bogo sipeo bukannya bahasa Korea?" ucap Kana membuat Kavin mengangguk.
"Oh iya! Ah, Mama mah! 'Kan kita mau seharian ngomong pakai bahasa Jerman," ucap Kavin.
Alina yang tengah memeluk Kaila pun melepaskannya dan menoleh. "Oh iya, Pa. Lupa. Abisnya susah banget bahasa Jerman itu," ucapnya lalu kembali menatap Kaila. "Kaila, kamu mau 'kan ajarin Tante bahasa Jerman?"
Kaila tersenyum dan mengangguk. "Siap, Tan!"
"Ajarin Om juga ya, Kai?" timpa Kavin.
Kaila mengangguk. "Siap, Om!"
Kana menghela napas dan menggelengkan kepala. "Dan La, kamu buka les bahasa Jerman aja di rumah ini."
Kaila terkekeh.
"Lah, kalau Kaila gurunya, memang Papa mampu bayar? Ini gurunya spesial loh! Mampu gak?" tanya Alina.
Kavin melebarkan mata. "Mampu lah! Nanti Papa bayar pakai anak ini," ucap Kavin menunjuk Kana. "Mau 'kan Kai kalau Om bayar pakai anak ini?"
Kaila terkekeh. "Mau om!"
Kana melebarkan mata. "Heh, serius?"
Alina terkekeh lalu mengusap lembut pucuk kepala Kaila. "Kana beruntung nak, punya kamu."
Kaila menggeleng. "Enggak, Tan. Tapi Kaila yang beruntung punya Kana."
"Aduh, so sweet banget sih kalian ini," ucap Kavin.
Alina tertawa lalu merangkul lengan Kaila. "Ayo masuk ke dalam! Tante pengen cerita banyak sama kamu," ucapnya membawa Kaila masuk.
"Kamu udah dari hari apa di Indonesia?" tanya Alina saat ia sudah duduk bersandingan dengan Kaila di sofa.
"Udah hampir seminggu lebih, Tan. Tapi abis dari Jerman Kaila langsung ke Jogja. Dan dari Jogja, baru ke Jakarta," ucap Kaila.
"Sama Mama kamu?" tanya Alina.
Kaila tersenyum tipis. "Mama udah meninggal, Tan."
Alina melebarkan mata, begitupun dengan Kavin.
"Inalillahi," lirih Alina. "Maafin Tante ya, Tante gak tahu. Soalnya Kana juga gak cerita ke kami."
Kaila tersenyum dan mengangguk. "Iya gak papa kok, Tan."
Alina tersenyum dan menatap wajah Kaila. Entah mengapa, ia menjadi semakin tak enak hati dan merasa kasihan dengan gadis itu.
Wanita itu langsung menarik Kaila ke dalam pelukannya. "Kamu yang kuat ya?"
Kaila mengangguk. "Makasih, Tan."
Alina tersenyum dan menatap kedua mata Kaila. "Mulai sekarang, kamu panggil Tante Mama aja ya?"
Kaila tersenyum. "Iya, Ma."
"Mama akan berusaha menjadi Mama buat kamu. Mau bagaimana pun, Mama juga sayang sama kamu layaknya anak sendiri. Kamu dan Kana sama di hati Mama." Alina tersenyum dan menoleh pada Kana. "Kan, gak papa 'kan kalau posisi kamu setara sama Kaila di hati Mama?"
Kana terkekeh lalu menghampiri kedua wanita itu. "Gak papa dong! Kana malah seneng kalau Mama anggep Kaila kaya anak Mama sendiri. Itu artinya Mama udah setuju banget kalau nanti Kaila nikah sama Kana."
"Setuju-lah! Kalau kalian nikah sekarang aja Mama setuju kok. Ya 'kan, Pa?" ucap Alina.
__ADS_1
Kavin mengangguk. "Iya, setuju kok. Setuju banget malah!"
Kana tertawa. "Nantilah, Ma, Pa, soal itu Kana harus bicarain juga ke keluarga Kaila ya lain."
Kaila tersenyum. "Iya, Na."
"Yaudah gimana baiknya kalian aja. Intinya kami berdua udah kasih restu buat kalian. Selebihnya, semuanya ada di tangan kalian," ucap Kavin dan di angguki oleh Alina.
"Intinya juga, Mama udah anggep kamu kaya anak sendiri," timpa Alina.
Kaila tersenyum dan meraih tangan Alina. "Makasih ya, Ma?"
"Iya, sayang. Yang penting kamu ajarin Mama bahasa Jerman ya?" ucap Alina.
"Siap Ma, soal itu!" seru Kaila.
"Oh ya, Ma, Pa," ucap Kana membuat orangtuanya menoleh. "Ngomongin Jerman, kok tadi Bibi bilang Mama sama Papa ke Jerman?"
Alina tertawa. "Restoran Jerman. Kayanya Bibinya dengernya Jermannya doang."
Kana memutar bola matanya. "Pantes aja! Lagian, ya kali ke Jerman dadakan gitu. Mana pagi tadi Kana lihat Papa masih nonton tv sama pakai boxer doang," ucap Kana yang langsung mendapat tatapan tajam dari ayahnya.
"Malu ada Kaila," ucap Kavin.
Alina tertawa. "Ya beginilah, Kai," ucap Alina mendeskripsikan keluarganya.
Kaila mengangguk. "Kaila suka sama keluarga ini. Selalu hangat," ucapnya membuat ketiganya tersenyum.
"Sebentar lagi juga kamu bakal jadi bagian dari keluarga ini," ucap Kavin dan di angguki oleh Alina.
"Nanti kapan-kapan kalau kalian berdua ada waktu longgar yang panjang, kita liburan ke Jerman yuk!" ucap Alina.
Kaila mengangguk. "Ayo, Ma!"
"Minggu depan gimana?" tanya Kavin.
"Tapi minggu depan Wilka menikah, Ma," ucap Kana.
"Wilka teman kuliah kalian?" tanya Alina.
Kana mengangguk.
"Yaudah, nanti kita atur waktu lagi buat liburan bareng!" seru Alina dengan senang hati.
'Tok! Tok! Tok! Alina!" teriak seseorang membuat keempat orang itu menoleh ke arah yang sama.
"Mama kayanya itu, yang," ucap Kavin.
"Oma, La," lirih Kana.
Kaila menoleh. "Oma Raisa?" tanya Alina.
Kana mengangguk.
Kaila melebarkan mata dengan senyuman dan bangkit dari duduknya.
"Kaila!" seru Oma Raisa saat melihat Kaila.
"Oma," lirih Kaila dan berlari ke pelukan Oma Raisa.
Alina, Kavin dan juga Kana tersenyum saat melihat Oma Raisa begitu senang melihat Kaila.
-o0o-
__ADS_1