KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 19


__ADS_3

Part 19


"Ada gak sih Kak, pasien kakak yang jatuh cinta sama kakak?" tanya Bima pada Keiza.


Keiza tertawa. "Kalau jatuh cinta sih gak tahu ya. Tapi kalau ganjen gitu, ya banyak. Kadang ada yang pura-pura sakit supaya diperiksa sama kakak."


Bima tertawa renyah. "Jadi di godain gitu dong?"


Keiza mengangguk. "Hal paling nyebelin sih, itu. Makanya kakak lebih seneng dapet pasien perempuan daripada pasien laki-laki."


"Tapi 'kan kalau laki-lakinya udah tua, biasanya gak ganjen sih, Kak?" ucap Bima.


Keiza tertawa. "Gak juga. Gak tahu sih kalau di tempat lain. Tapi entah kenapa setiap kakak dapet pasien cowok, pasti ada aja hal yang bikin mereka tebar pesona."


"Ya karena kakak cantik sih," ucap Bima yang langsung mendapat pukulan oleh Keiza.


'Ceklek!'


Pintu terbuka membuat Keiza dan Bima yang tengah duduk di ruang keluarga pun menoleh.


"Mau kemana, Kai?" tanya Keiza.


Kaila tersenyum. "Mau ke toko bahan busana, Kak."


"Udah dapet klien disini?" tanya Bima.


Kaila mengangguk. "Iya. Sepasang kekasih yang mau menikah."


"Waw, berat pasti," ucap Keiza.


Kaila terkekeh dan mengangguk. "Perlu ketelitian agar klien puas."


"Mau di anter gak?" tanya Bima.


Kaila menggeleng. "Gak usahlah. Aku bisa naik taksi. Lagipula mobil Kak Bima juga 'kan masih kantor polisi."


Bima melebarkan mata. "Astaga gue lupa!" ucap Bima.


"Kenapa?" tanya Keiza.


"Kak Kei, Kak Kei ada rencana mau keluar gak?" tanya Bima pada wanita di sampingnya.


"Kapan?" tanya Keiza.


"Sekarang."


Keiza menggeleng. "Sekarang sih belum ada rencana mau pergi."


"Yaudah temenin aku ke kantor polisi ya? Anterin aja, abis itu Kak Kei langsung pulang aja."


"Gak papa?"


Bima mengangguk.


"Yaudah yuk." Keiza menoleh pada Kaila. "Kakak anterin ke toko bahan busana sekalian aja. Nanti baru pulangnya kamu naik taksi."


Kaila mengangguk dan mengenakan tasnya.


"Sebentar! Aku ganti baju dulu," ucap Bima yang langsung berlari menuju kamarnya.


Benar, kamarnya. Kamar yang sudah Ayah Kaila siapkan untuk Bima, anak tirinya.


Jika diperhatikan, terlihat sekali jika Bima benar-benar di sayang oleh keluarga Kaila. Dari Keiza yang menganggap Bima seperti adik kandung, Kaila yang meganggapkan seperti kakak kandung, Ayah Kaila yang menganggap Bima seperti anak kandung, serta Kiara yang menyayanginya tanpa batas. Meskipun Kiara dan Bima bukan terlahir dari Ibu yang sama.


"Kuy!" teriak Bima yang sudah siap dengan kemeja dan celana jeans yang membaluti tubuhnya.


"Sekarang?" tanya Keiza yang sama sekali tak berganti pakaian.


Kaila dan Bima mengangguk.


"Kak Kei gini aja? Gak mau ganti dulu?" tanya Kaila.


Keiza menggeleng. "Gak ah! Lagian gak turun mobil juga." Keiza tersenyum dan meraih kunci mobilnya. "Kuy!"

__ADS_1


"Kuy! Kuy! Kuy!" seru Bima seraya merangkul Kaila dan Keiza.


"Kak mau kemana?" teriak Kiara yang keluar dari kamarnya.


"Mau ikut?" tanya Keiza.


Kiara mengangguk dan berlari mengimbangi langkah ketiga kakaknya.


-o0o-


Di tempat lain, tepatnya di klinik Bintang. Kana terlihat begitu jeli membaca rekam medik klien yang saat ini tengah rawat inap di kliniknya.


"Maaf dok, jadi sekarang klinik ini udah buka 24 jam?" tanya Ayu.


Kana tertawa. "Kalau gak 24 jam, terus gimana nasib pasien yang udah masuk ruangan buat rawat inap?" tanya Kana.


Ayu tersenyum malu. "Iya, Dok. Maaf."


Kana mengangguk dengan senyuman. "Oh ya, perawat-perawat baru itu dimana?" tanya Kana.


"Ada di ruangan pasien, Dok. Sebagian dari mereka ada yang lagi cek tanda-tanda vital klien," jelas Ayu.


Kana mengangguk mengerti, lalu kembali membaca rekam medik di tangannya. "Oh ya, Ayu. Pasien atas nama Azahra ini udah demam dari kapan?"


"Dari Dua hari yang lalu, Dok. Tetapi baru kemarin keluarga bawa kesini," ucap Ayu.


Kana membulatkan bibirnya. "Udah di cek laboratorium belum? Karena takutnya dia kena DBD atau tifus."


"Belum, Dok."


"Ya sudah, nanti coba di cek laboratorium ya?" ucap Kana.


"Siap, Dok."


Kana mengangguk. "Saya cek pasien dulu. Kamu tolong bawa rekam mediknya."


Ayu mengangguk dan mengambil semua rekam medik pasien yang berada di ruang rawat.


-o0o-


"Eh itu cewek kemarin, Kak," ucap Kaila dengan senyuman jahilnya.


Bima tertawa. Meraih kaca dan sisir untuk mempebaiki rambutnya.


"Elah, mau ketemu cewek cantik dandan dulu," goda Kiara yang duduk di belakang bersama Kaila.


Bima menyengir kuda. "Harus tampil perfect kalau depan cewek cantik."


"Kami bertiga juga cewek cantik loh!" ucap Kiara. "Ya gak kak? Ya gak kak?" ucap Kiara pada Kaila dan Keiza.


Kaila mengangguk. "Bener tuh! Kalau depan kita aja, tampilan kaya gempel," ucap Kaila membuat kedua saudarinya tertawa keras.


Bima menatap ketiganya tajam. "Enak bener ya kalau ngomong!"


Kiara tertawa keras seraya memegang perutnya. "Kak Kaila ini gak banyak omong, sekali ngomong fakta banget!"


Keiza terkekeh. "Kalian ini, bukannya ngedukung Bima deketin cewek, malah ngetawain gini."


Kaila memegang pundak Keiza. "Masalahnya kak, dia ini ada cewek di Jerman, terus semua cewek di friendly-in sama dia. Gimana mau ngedukung coba?"


Keiza menggelengkan kepala tak habis pikir.


"Bohong, Kak! Memang dasar Kaila aja yang suka ngejekin Bima," ucap Bima.


Keiza terkekeh. "Tapi kalau dilihat-lihat, memang ucapan Kaila keliatan bener, Bim."


Bima berdecak. "Tau ah, ngambek!" ucap laki-laki itu dengan wajah kesal dan turun dari mobil.


Kaila, Kiara dan Keiza tertawa keras melihat tingkah Bima yang semakin membuat mereka tertawa.


"Rame ya kalau lagi lengkap gini," ucap Kiara.


Kaila mengangguk. "Tapi bakal sepi lagi kalau Kak Bima balik ke Jerman."

__ADS_1


"Kak Bima bakal balik ke Jerman lagi?" tanya Kiara.


Kaila mengangguk.


"Kok dia gak cerita ke kakak juga ya?" ucap Keiza.


Kaila mengerutkan dahinya. "Masa sih, Kak?"


Keiza mengangguk. "Iya, dia gak cerita ke kakak."


Kiara mengangguk membenarkan. "Kak Bima juga gak cerita ke Kiara."


"Mungkin nanti dia bilang," ucap Kaila.


Kiara dan Keiza mengangguk.


"Yaudah yuk kak, kita jalan lagi," ucap Kaila.


"Iya." Keiza tersenyum dan menghidupkan kembali mobilnya.


-o0o-


Kana menghela napas lega setelah menemui semua pasien yang ada di ruang rawat. Laki-laki itu meletakkan stetoskop ke atas meja dan mendudukkan dirinya di kursi.


"Lagi apa ya, Kaila?"


'Tok! Tok! Tok!'


Kana menoleh ke arah pintu.


"Permisi, Dok."


"Masuk!" teriak Kana,


'Ceklek!'


Pintu terbuka dan menampilkan Aji disana.


Kana tersenyum miring. "Katanya gak kesini lo?"


"Niatnya sih gak mau kesini. Cuma kayanya gak afdol kalau sehari gak ke klinik Bintang," ucap Aji yang langsung mendudukkan dirinya di kursi.


Kana tertawa. "Dah Ji, lo pindah kesini aja deh. Gue juga udah buka 24 jam sekarang. Jadi kalau lo daftar, sangat di butuhin banget."


Aji melebarkan mata. "Lah, iya, gue baru sadar klinik ini jadi rame. Jadi ruang rawat yang di ujung itu udah di pake sekarang?"


Kana mengangguk. "Gimana? Mau pindah kesini gak lo?"


Aji tampak berpikir. "Pengen sih. Cuma, gue sayang banget kalau mau ninggalin rumah sakit."


Kana mengerutkan dahinya. "Tumben, biasa lo selalu cari cara supaya gak kesana."


Aji memutar bola matanya. "Itu dulu! Sebelum gue sadar ternyata ada bidadari tersembunyi disana."


Kana tertawa keras. "Kakak ipar gue itu!"


"Elah, belum juga jadi kakak ipar. Masih calon! Inget, calon!"


"Ya kalau gue nikah sama Kaila, dia jadi kakak ipar gue."


"Terus kalau gue nikah sama Keiza, kita seiparan dong!" ucap Aji menaikkan kedua alisnya.


Kana tertawa dan menggelengkan kepala. "Gaya lo bilang gini. Sekarang gue tanya, berani gak lo ajak dia jalan?"


"Beranilah! Ini aja gue mau kesana," ucap Aji seraya menaikkan kerah bajunya.


"Beneran?" tanya Kana.


Aji mengangguk. "Mau ikut lo? Entar kita double date."


Kana berdecak. "Enak bener lo kalau ngomong, kerjaan gue masih banyak."


Aji menghela napas panjang. "Yaudah deh, next time ya!" Aji tersenyum lebar dan bangkit dari duduknya. "Gue pergi dulu calon seiparan!" ucap Aji dengan cengiran kuda.

__ADS_1


Kana terkekeh dan menggelengkan kepala. "Calon seiparan? Ada-ada aja lo, Ji," ucapnya dan kembali melanjutkan tugasnya.


-o0o-


__ADS_2