
Part 43
Cuaca Jakarta pagi ini cukup cerah. Kana menghela napas panjang setelah lelah berlari mengelilingi komplek rumahnya. Ia meraih botol minum dan meneguknya.
Hari ini, tepat satu bulan Kana berada di Jakarta. Dan genap satu bulan juga ia berpisah dengan Kaila.
Selama ini, komunikasi Kana dengan Kaila tetap berjalan lancar. Kaduanya saling menghubungi satu sama lain. Namun, pagi ini Kana lupa menghubungi Kaila karena ia tak membawa ponselnya.
"Den Kana!" teriak seseorang membuat Kana menoleh.
Kana melebarkan matanya. "Mang, kenapa sampai sini?" tanya Kana pada satpam rumahnya yang berada disini.
"Ini Den, Mamang disuruh Pak Kavin buat anter HP Den Kana, tadi Mbak Kaila nelpon soalnya," ucap Satpamnya seraya menyerahkan ponsel pada Kana.
Kana tersenyum lebar dan segera meraih ponsel miliknya. Mendial nomor Kaila dan melanjutkan larinya. "Makasih, Mang!" teriak Kana yang sudah berlari jauh.
Satpam Kana itu menggeleng. "Gak anaknya, gak bapaknya, kalau udah cinta, susah," ucapnya lalu kembali pulang.
-o0o-
"Halo?" ucap Kaila yang tengah memandang gedung perkotaan yang menjulang di hadapannya.
"Halo, kamu nelpon aku tadi?" ucap Kana yang berada di Negara berbeda dengannya.
Kaila tersenyum dan mengangguk refleks. "Aku kangen."
Kana terkekeh. "Apalagi aku? Semenit gak denger suara kamu aja, aku lemes."
Kaila tertawa. "Ya gak segitunya juga kali, ah."
"Kamu udah makan?" tanya Kana.
"Udah, aku baru aja selesai makan. Kamu sendiri lagi apa?" tanya Kaila balik.
"Aku lagi lari pagi, nih."
"Tumben?" ucap Kaila seraya mengerutkan dahinya.
"Pengen ngurusin badan, biar pas kamu pulang nanti, kamu kaget liat aku," ucap Kana di seberang sana.
Kaila tertawa. "Kamu udah kurus. Mau kurus gimana lagi?" ucap Kaila tak mengerti.
Kana terkekeh. "Selama di Jakarta, aku banyak makan. Jadi ya, gimana berat badan gak naik?"
Kaila menggelengkan kepala. "Coba video call, aku mau liat."
Kana tertawa, lalu mengubah panggilannya menjadi video call.
Kaila tersenyum saat layar di ponselnya berubah menjadi wajah Kana yang tengah menyengir kuda ke arahnya.
Kaila menghela napas. "Kamu masih sama kok."
Kana terkekeh. "Sengaja, biar kamu minta video call. Jadi 'kan aku bisa liat wajah kamu."
Kaila tersenyum malu. "Gak kerasa ya, udah sebulan kita gak ketemu."
Kana mengangguk seraya mengerucutkan bibirnya. "Sebulan gak ketemu kamu, berasa bertahun\-tahun, tahu gak!"
Kaila tertawa, lalu membenarkan rambutnya yang terkena angin.
"Kamu lagi dimana?" tanya Kana penasaran.
"Aku lagi berdiri di deket jendela."
"Gimana keadaan Mama? Udah membaik?" tanya Kana penasaran.
__ADS_1
Kaila mengangguk. "Udah jauh membaik dari sebelumnya. Tapi dokter masih nyaranin Mama buat selalu cek up."
Kana mengangguk mengerti. "Semoga Mama cepet sembuh ya? Biar kamu cepet pulang dan kita ketemu lagi."
Kaila mengangguk dan tersenyum. "Kita berdoa sama\-sama ya?"
Kana mengulas senyumnya seraya mengusap keringat yang keluar dari wajahnya.
Kaila tersenyum memandang laki\-laki itu. "Kita masuk kuliah dua minggu lagi ya?"
Kana mengangguk dengan senyuman. "Dua minggu lagi kita masuk semester Dua, La."
Kaila menunduk seraya menggigit bibir bawahnya. "Kira\-kira Mama udah bisa pulang belum ya dua minggu lagi?"
Kana mengangguk. "Aku yakin, Mama pasti sembuh."
"Aamiin," ucap Kaila.
"Pokoknya, kita harus yakin dan terus berdoa, La."
Kaila mengangguk. "Bener, kita harus yakin!"
Kana menghela napas dan berdiri dari duduknya. "Dua minggu lagi aku tunggu kamu di Jogja, La."
Kaila mengangguk siap. "Tunggu aku di sana, Na. Aku pasti pulang."
Kana tersenyum dan mematikan sambungannya.
Setelah sambungan terputus. Kaila memasukan ponselnya ke dalam saku dan menemui keluarganya di dalam.
Kaila mengangguk. "Dua minggu lagi, libur semester selesai."
Bima terdiam, lalu menoleh pada Keiza. "Kak Kei juga?"
Keiza mengangguk.
Bima menggigit bibir bawahnya sendiri lalu memandang Nabila yang masih tertidur lelap di ranjangnya. "Semoga Mama sembuh ya, sebelum kalian masuk kuliah lagi."
Kedua gadis di sebelah Bima mengangguk dan berharap hal yang sama.
-o0o-
"Gimana keadaan Mamanya Kaila?" tanya Alina saat melihat Kana sampai di rumah dan tahu jika Kaila menelponnya.
"Udah membaik, Ma. Tapi harus sering cek up."
Alina membulatkan bibirnya. "Syukurlah. Lagipula kalian bentar lagi masuk kuliah, kasian Kaila sama Kakaknya kalau Nabila gak sembuh\-sembuh juga."
Kana mengangguk. "Oh ya, Ma. Kita gak ada niat liburan ke Jerman?"
Alina terbatuk mendengar pertanyaan Kana. Ia tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Mama tahu kamu pengen ke Jerman supaya bisa ketemu Kaila. Tapi Papamu lagi sibuk\-sibuknya, Kan. Dan Mama juga harus urus buku terbaru Mama yang akan terbit minggu depan."
Kana menghala napas dan mengangguk. "Okelah! Kayanya kita memang gak bisa terbang kesana," ucap Kana lalu berjalan menuju kamarnya.
Alina tersenyum memandang punggung putranya. "Kamu secinta itu sama Kaila, sampai di Jerman pun pengen kamu susulin," ucap Alina lalu kembali ke kamarnya.
-o0o-
Di lain tempat, Wilka terlihat tengah memilih buah-buahan segar untuk ia bawa pulang ke rumah. Sudah dua hari Wilka kembali ke Jogja setelah beberapa pekan ia berada di pulau sumatera.
"Cepetan sih, milihnya!" seru Wilko yang sudah tak tahan lagi menunggu kembarannya memilih\-milih buah yang menurutnya sama saja.
__ADS_1
"Tante Nabila enak dikasih mangga atau apel aja?" ucap Wilka seraya menunjukkan dua buah itu di tangannya.
"Tante Nabila siapa? Orang dia aja gak disini geh!"
Wilka melebarkan mata. "Serius? Dia balik ke Jakarta lagi? Sama Kaila juga?"
Wilko memutar bola matanya. "Bukan! Tapi ke Jerman!"
Wilka melebarkan mata terkejut. "Demi apa? Kok gue gak tahu!"
"Memang Kaila gak ngabarin?" tanyanya.
Wilka menggeleng.
Wilko menghela napas. "Kayanya dia lupa mau ngabarin lo."
Wilka mengerucutkan bibirnya. "Memang keadaan Tante Nabila sebegitu parahnya ya sampai di bawa ke Jerman?"
Wilko mengedikkan bahu. "Setahu gue, dia punya anak disana. Dan, mungkin mereka semua sepakat buat bawa tante Nabila kesana."
"Terus kuliah Kaila gimana?" tanya Wilka dengan raut wajah sedih.
"Ya, 'kan masih libur, Wilka! Astaga," ucap Wilko seraya menggelengkan kepala.
Wilka berdecak. "Padahal gue cepet\-cepet pulang ke Jogja supaya bisa main sama Kaila. Eh, malah Kaila ke Jerman."
"Kaila ke Jerman?" ucap seseorang yang berada di belakangnya.
Wilka menoleh dan memandang malas gadis di hadapannya itu.
"Kebiasaan, dari dulu doyannya nongol tiba\-tiba," lirih Wilka seraya memutar bola matanya.
"Kaila ke Jerman, Wil?" tanya Gisele kembali.
Wilko mengangguk. "Kok lo bisa disini, sih Sel?" tanya Wilko terheran\-heran.
Gisele berdecak. "'Kan rumah gue depan situ."
Wilka menepuk dahinya. Bisa\-bisanya ia lupa dengan rumah sahabatnya dulu.
Entah mengapa, setelah masuk dunia perkuliahan, Wilka semakin melihat sifat asli Gisele yang membuatnya muak dan malas berteman dengan gadis itu lagi.
"Terus kalau Kaila ke Jerman, hubungan dia sama Kana gimana?" tanya Gisele kembali.
Wilka memutar bola matanya malas dan menoleh pada gadis itu. "Ya masihlah! Ya kali mereka putus cuma karena ke Jerman doang!"
Gisele membulatkan bibirnya. "Terus dia balik ke sini lagi?"
Wilka menghela napas berusaha menahan sabar. "Kaila ke Jerman buat sementara, bukan buat pindah Negara!" ucap Wilka lalu berjalan pergi.
Gisele berdecak. "Apa sih dia ini. Semenjak ada Kaila, jadi berubah gitu sama gue."
"Bukan Wilka yang berubah, tapi lo merubah topeng lo ke wujud asli," ucap Wilko lalu ikut berjalan pergi.
"Tapi 'kan—" ucap Gisele membuat Wilko menghentikan langkahnya.
"Kalau lo mau sahabat lo kembali, lo buang obsesi lo buat dapetin pacar orang!" lanjut Wilko dan berjalan menjauh dari pandangan Gisele.
__ADS_1
Gisele mengerutkan dahinya. "Apa salahnya sih gue suka sama orang? Lagian itu hal normal! Lagian, cewek mana coba yang gak kepincut kalau liat Kana?" ucapnya lalu menaruk ujung bajunya dan berjalan pergi dengan perasaan kesal.
-o0o-