
Part 9
Kaila melangkahkan kakinya meninggalkan hotel yang sudah beberapa hari ia tinggali.
Wania itu menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas.
Taksi itu berhenti membuat Kaila tersenyum dan menghampirinya.
"Kosong, Pak?" tanya Kaila.
Supir taksi itu mengangguk. "Kosong, Mbak."
Kaila tersenyum dan membuka pintu belakang seraya mengangkat koper yang ia bawa.
"Ke alamat ini ya, Pak?" ucap Kaila menyerahkan kertas di tangannya.
Supir taksi itu membacanya dan akhirnya mengangguk. "Cukup jauh tapi, Mbak."
"Gak papa, Pak."
Supir taksi itu pun mengangguk setuju dan mulai menjalankan lajunya.
Kaila menoleh pada jendela dan membuka kaca tersebut, membuat angin pagi yang begitu segar masuk melalui celah yang ia buka.
Kaila menghela napas dan tersenyum. Suasana ini tepat seperti Delapan tahun yang lalu saat ia masih berada di Jakarta untuk mencari ibunya.
"Aku gak pernah menyesal pernah berjuang buat cari Mama disini. Meskipun saat ini Mama udah gak ada."
Lalu linta pagi itu tak seramai pagi biasanya. Mungkin karena hari ini adalah hari minggu dan banyak sekali orang yang lebih memilih untuk berdiam dirumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Sudah sampai, Mbak."
Kaila menoleh dan melebarkan mata. Tak terasa ia sudah sampai, padahal baru saja ia tinggal melamun sebentar.
Ia menoleh ke sisi kirinya dan tersenyum. Benar, ia sudah sampai.
Wanita itu segera menyerahkan uang dan turun dari taksi.
Setelah taksi itu pergi, Kaila menatap bangunan di depannya. Rumah besar bergaya Korean Style itu membuat Kaila tersenyum lega. "Aku yakin Papa udah gak susah lagi sekarang. Kak Keiza hebat!"
"Kak Kaila!" teriak seorang remaja membuat Kaila menoleh dan melambaikan tanganya.
"Kiara," ucap Kaila dengan senyuman lebar.
Kiara tersenyum dan berlari memeluk Kaila dengan penuh kerinduan. "Kakak! Kiara kangen!"
Kaila terkekeh dan mengusap punggung Kiara. "Loh? Kamu sekarang tingginya mau ngalahin kakak?" ucap Kaila membuat Kiara terkekeh. "Kamu kelas berapa sih, Dek? Kok udah tinggi gini, perasaan pas kita di Jerman kamu gak setinggi ini."
"Kiara udah kelas 3 SMP, Kakak!" seru Kiara.
Kaila tersenyum. "Gak kerasa ya? Udah gadis aja."
Kiara tertawa. "Kiara 'kan udah gadis nih, jadi Kakak kapan nikah?"
"Loh, kok malah nanya nikah sama Kak Kaila? Kak Keiza aja belum menikah kok," ucap seseorang membuat Kaila menoleh.
"Kak Keiza?" ucap Kaila saat melihat wanita itu melangkah mendekat.
"Apa kabar, Dek?" tanya Keiza yang memeluk Kaila dengan hangat.
"Kaila sehat, Kak. Maaf ya Kak, Kaila gak langsung kesini."
Keiza mengangguk. "Gak papa kok. Yang penting kamu sekarang udah disini."
Kaila tersenyum dan mengangguk. "Papa kemana, Kak?"
"Papa barusan aja pergi."
__ADS_1
Kaila menatap Keiza. "Papa masih kerja jadi security?"
Keiza tersenyum dan menggeleng. "Papa udah dapet pekerjaan baru sekarang. Kamu tahu? Tante Naira udah resmi jadi direktur sekarang berkat kerja kerasnya, dan Tante Naira minta Papa buat kerja disana."
Kaila melebarkan mata. "Serius, Kak?"
Keiza mengangguk.
"Alhamdulillah." Kaila tersenyum lega. "Tapi hari ini Papa libur 'kan?"
"Libur kok. 'Kan hari minggu," jawab Keiza dengan senyuman.
"Kakak juga?" tanya Kaila.
Keiza mengangguk. "Mau pergi jalan-jalan?"
"Mau!" seru Kaila dan Kiara bersamaan.
"Kita tungguin Papa ya?" ucap Keiza dan di angguki keduanya.
-o0o-
Suara piring yang beradu dengan sendok dan garpu memenuhi seisi ruangan.
"Jadi beneran hari ini Aji mau dijodohin?" tanya Kana pada kedua orangtuanya.
Alina dan Kavin saling menatap.
"Ma, Pa."
Alina menoleh dan mengangguk. "Tapi katanya baru pertemuan aja sih. Belum bahas ke arah sana."
"Tapi Aji bilang gak rela Ma, Pa, sama perjodohan ini. Dia belum bisa ngelupain Adinda."
Alina tersenyum. "Aji pasti bisa, Kan! Kamu 'kan tahu Aji gimana."
"Tapi Nabila udah gak ada, Kana. Sampai kapan Aji terus begini, memang kamu tega melihat Aji menjomblo terus menerus? Memang kamu tega saat kamu menikah nanti sama Kaila, Aji Cuma bisa diem sambil liatin tanpa bawa pasangan?" tanya Kavin membuat Kana terdiam.
Kana berdecak, lalu bangkit dari duduknya. "Kana mau nemuin Aji."
Alina dan Kavin mengangguk, membiarkan putranya berjalan pergi.
"Yang jodohin Aji siapa, yang di protes siapa," ucap Kavin menghela napas panjang.
-o0o-
'Tok! Tok! Tok!'
"Aji!" teriak Nana yang akan membawakan makanan untuk Aji.
'Tok! Tok! Tok!'
"Ji, buka pintunya! Sarapan dulu," ucap Nana sekali lagi.
"Aji gak mau sarapan, Ma?" tanya Anan yang melihat Aji belum membuka pintu.
Nana menggeleng. "Kayanya dia masih gak setuju sama perjodohan ini."
Anan berdecak dan menghela napas. "Sini, biar Papa aja yang coba masuk."
"Gimana mau masuk, orang pintunya aja dikunci."
"Maaf nyonya, tuan, Den Aji belum pulang dari semalam," ucap asisten rumah tangganya.
"Jadi Aji gak ada di kamar, Bi?" tanya Nana.
Asistennya menggeleng. "Belum, nyonya."
__ADS_1
Anan menghela napas panjang. "Kemana anak itu?"
-o0o-
"Permisi Mas, waktunya udah habis. Masnya bisa turun dan gantian sama pengunjung lain," ucap petugas bianglala.
Aji tak menjawab. Laki-laki itu masih melamun seraya menyandarkan kepalanya.
"Mas! Mas!"
Aji tersentak dan menoleh. "Kenapa?"
"Waktunya udah habis, Mas. Masnya naik bianglala dari semalam dan gak mau turun."
Aji menguap seraya menutup mulutnya, lalu menoleh pada jam yang melingkar di tangannya. "Jam Sembilan?"
Petugas itu mengangguk.
Aji berdecak dan segera turun dari bianglala.
Laki-laki terlihat begitu lelah, di tambah dengan kantung mata yang menghitam. Aji segera mempercepat langkahnya dan—
'Brugh!'
"Aw!" teriak wanita yang tak sengaja Aji tabrak.
"Aduh, sorry, gue gak sengaja," ucap Aji.
Wanita itu tersenyum. "Iya, gak papa."
Melihat wanita itu tersenyum membuat Aji ikut tersenyum.
"Kak Keiza!"
Wanita itu melebarkan mata, lalu menoleh pada Aji. "Sorry ya, gue harus pergi," ucapnya dan berlalu pergi.
Aji masih diam di tempat, menatap wanita itu yang mulai menjauh dari pandangannya.
Tanpa sadar, senyum Aji merekah. Lalu menggaruk kepalanya. "Tapi kenapa muka dia gak asing, kaya mirip siapa gitu," ucapnya seraya mengingat.
"Kakak! Awas!" teriak anak-anak yang melihat Aji menghalangi jalannya.
Aji menghela napas dan menyingkir.
"Kenapa gue masih kepikiran cewek tadi ya?" ucap Aji. Laki-laki itu menggeleng dan berlalu pergi.
Sebelum benar-benar pergi dari tempat wisata ini, Aji menghampiri sebuah tempat makan. Sepertinya ia ingin memesan sarapan terlebih dahulu.
"Selamat datang! Mau pesan apa?" tanya pelayan yang melihat Aji berjalan masuk.
"Ayam makan sama teh anget ya?" ucap Aji.
Pelayan itu mengangguk. "Silahkan duduk."
Aji mengangguk dan mengitari seisi ruangan mencari kursi dan meja yang kosong.
"Aji!" teriak seseorang yang tak asing lagi bagi Aji.
Aji menoleh ke sumber suara. "Kaila?" ucapnya dengan senyuman saat melihat Kaila tengah sarapan bersama keluarganya.
Kaila tersenyum dan melambaikan tangannya. "Makan disini aja!"
Aji mengangguk dan mendekat. Namun tunggu!
"Cewek yang disamping Kaila cewek tadi," ucapnya. Aji melebarkan mata. "Astaga. Gue baru sadar, dia 'kan kakaknya Kaila."
Dan seketika Aji begitu gugub untuk mendekat.
__ADS_1
-o0o-