
Part 26
Balas desa kali ini terlihat ramai. Semua warga berkumpul untuk mendapatkan penyuluhan dari mahasiswa. Seluruh warga terlihat antusias dan kooperatif. Sebagian dari mereka banyak bertanya. Hal itu membuat para mahasiswa kewalahan. Namun, meskipun begitu, mereka sangat senang. Karena dapat berbagi ilmu kepada masyarakat setempat.
"Baik Ibu-ibu, Bapak-bapak, mungkin itu saja yang dapat kami berikan. Kami mohon maaf apabila ada kata-kata kami yang kurang berkenan di hati Bapak Ibu sekalian. Kami akhiri penyuluhan hari ini dengan mengucapkan banyak terima kasih," ucap Kaila menutup penyuluhan hari ini.
Semua warga tersenyum lebar. Mereka mulai bangkit dan meninggalkan tempat tersebut.
"Huft, akhirnya kelar!" teriak Amara lega setelah tinggal mereka berlima.
Kaila tersenyum dan memandang keempat temannya. "Ini kita kecepetan gak sih kasih penyuluhannya?"
Amara menggeleng. "Enggak sih menurutku."
"Tapi kelompok Satu belum selesai tahu," ucap Rehan— teman sekelompok Kaila.
"Iya tah?" tanya Kaila.
Rehan mengangguk. "Nih, Gisele malah bikin story WhatsApp. Captionnya 'Gak papa nunggu lama, asal ada yang bikin semangat.'" Regan menunjukkan ponselnya pada Kaila dan teman-teman lainnya.
"Coba lihat," ucap Kaila merasa aneh dengan story WhatsApp Gisele.
Rehan menyerahkan ponselnya pada Kaila.
Kaila meraihnya dan memperhatikan dengan seksama.
"Kenapa, Kai?" tanya Amara yang ikut memperhatikan dengan jeli.
Di video itu, terlihat Gisele tengah merekam wajahnya, lalu mengalihkan dengan wajah Kana yang tengah duduk dan tersenyum ke arah kamera.
"Gak papa kok," ucap Kaila tersenyum dan menyerahkan kembali ponsel tersebut pada pemiliknya.
Amara tersenyum. "Tuh 'kan Kai, baru ditinggal dikit aja, udah bikin berani dia," ucap Amara.
"Apaan sih Ra, malah manas-manasin Kaila kamu ini," ucap Rehan.
Amara menyengir kuda. "Bukan mau manas-manasih Han, cuma aku udah pernah di posisi Kaila. Yang punya cowok di depanku dingin ke cewek lain, tapi pas dibelakangku, malah sebaliknya. Apalagi kalau ceweknya itu naksir, kaya Gisele ke Kana. Malah makin jadi."
Kaila diam. Ia terlihat mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Amara.
"Udah Kai, gak usah di dengerin omongan Amara. Mending kita main aja ke desa sebelah," ucap Rehan.
"Desa sebelah 'kan desanya dia orang Kana Gisele," ujar Amara.
"Yaiya, makanya mending kita kesana aja," ujar Rehan.
"Yuk!" ucap Kaila yang sudah siap.
Amara, Rehan, dan dua teman lainnya memperhatikan Kaila tak biasa.
"Gercep amat Bund," lirih Amara lalu meraih tasnya.
"Eh, memang boleh?" tanya Rehan.
"Kenapa gak boleh? 'Kan kumpulnya juga memang disana," ucap Amara.
"Oh, yaudah. Yuk!" ucap Rehan ikut meraih tasnya.
__ADS_1
Kini lima orang itu terlihat menghampiri tukang ojek yang berada di tempat tersebut. Dan tak memakan waktu lama, kini mereka telah sampai di desa tersebut.
"Lah, itu mereka udah mulai penyuluhan," ucap Amara memperhatikan kelompok Satu.
Kaila mengangguk. "Barusan di mulai kayanya," ucap Kaila duduk di kursi bersama teman-temannya yang lain. Gadis itu tengah memperhatikan Gisele yang tengah menjelaskan materi pada seluruh warga.
"Bagaimana Bapak ibu sekalian, apa ada yang ingin di tanyakan mengenai penjelasan yang saya berikan?" tanya Gisele.
"Tidak ada!" jawab salah satu warga.
Amara tertawa. "Males kali mau nanya sama dia. Mukanya judes," ucapnya membuat Rehan terkekeh. Sedangkan Kaila, gadis itu hanya tersenyum.
"Baik, kalau begitu, materi selanjutkan akan di jelaskan oleh rekan kami yang bernama Wilka. Untuk saudari Wilka, dipersilahkan," ucap Kana.
Wilka tersenyum gugub dan maju ke depan. "Selamat pagi Bapak-bapak, ibu-ibu, saya Wilka, disini saya akan melanjutkan materi mengenai—"
Selama Wilka menjelaskan materi. Kevin, Gisele dan satu teman sekelompok mereka yang bernama Rere terlihat duduk di kursi sembari menunggu giliran untuk bicara.
"Gue pusing loh," ucap Gisele pada Kevin.
Kevin menoleh. "Laper kali," ucapnya.
Gisele menggeleng. "Gak tahu," ucapnya lalu memegang perutnya.
Kevin mengerutkan dahinya. "Lo pusing? Kenapa perut yang lo pegang?"
Gisele memutar bola matanya malas. "Ya gue pusing sama sakit perut juga," ucapnya.
"Kebanyakan acting lo," ucap Kevin meraih ponselnya.
"Vin, tapi Gisele beneran pucet loh!" ucap Rere yang memperhatikan wajah Gisele.
Gisele menggigit bibir bawahnya seraya memejamkan mata. "Gue pusing. Anterin gue Vin," ucap Gisele terasa lemah.
"Baik, materi selanjutkan akan di jelaskan oleh rekan kami yang bernama Kevin. Untuk saudara Kevin, dipersilahkan," ucap Kana.
Kevin terlihat bingung. Ia menoleh pada Kana. "'Kan, anterin dia ya?" ucapnya menunjuk Gisele.
"Hah? Anterin kemana?" tanya Kana bingung.
Dan di waktu yang bersama, tubuh Gisele terasa ringan. Gadis itu tak sadarkan diri dan terjatuh.
Kana terlihat panik. Laki-laki itu menyerahkan microfonnya pada Wilka, lalu menggendong tubuh Gisele.
"Eh, Gisele kenapa itu!" teriak Amara membuat Kaila menoleh ke depan.
Kana terlihat menggendong tubuh Gisele dan membawa gadis itu memasuki ruangan.
Sesampainya di ruangan yang terdapat sofa, Kana meletakkan tubuh Gisele ke atas sofa tersebut.
Laki-laki itu terlihat panik. Ia meraih minyak kayu putih dan mendekatkan ke hidung Gisele.
"Bangun, Sel," ucap Kana menggoyangkan lengan gadis itu.
Gisele belum juga membuka matanya.
Kana menggigit bibir bawahnya. Tak ada respon sama sekali dari gadis itu. Kana menoleh ke sekeliling dan tak ada seorang pun yang menghampiri untuk membantunya.
__ADS_1
"Sel, bangun," lirihnya.
Kana berdecak. Ia ingat apa saja yang harus ia lakukan untuk memberikan pertolongan pertama pada orang yang pingsan.
Laki-laki membantu mengangkat tubuh Gisele sedikit dan memposisikan dengan kepala miring.
"Sel, bangun."
Kana terdiam. Ia mendekatkan telinganya pada hidung gadis itu.
Tanpa Kana sadari, lengan Gisele merangkul pada lehernya. Hal itu membuat Kana terkejut dan mencoba melepaskan.
"Gisele lepas!" ucap Kana.
"Gak mau," ucap Gisele seraya mengeratkan pegangannya pada leher Kana.
"Sel, gak usah gila. Lepas!" ucap Kana.
Gisele tertawa kecil. "Kalau gue gak mau gimana?"
"Gila lo ya? Lepas gak! Orang bakal ngira-ngira aneh-aneh kalau lo kaya gini!" bentak Kana.
"Ya biarin. Memangnya gue peduli," ucap Gisele lalu mengeratkan pegangannya.
Kana berdecak dan mencoba melepas lengan Gisele dari lehernya. Namun semakin ia berupaya melepas, Gisele semakin memperkuatnya.
"Gisele, lepas!"
"Gak mau, Kana. Biarin aja sih. Gue capek di depan."
"Yaudah lepas!"
"Gak mau loh," ucap Gisele dengan kekehan.
Kana menghela napas panjang dan mencoba berdiri dengan paksa. Namun, yang terjadi malah ia terjatuh dan mengenai Gisele.
Gisele tersenyum. "Thanks ya lo udah peduli dan bawa gue kesini."
"Gisel, lepas gak!" ucap Kana dengan penuh penekanan.
"GAK MAU LOH KANA, JANGAN MAKSA! NANTI KALAU KAILA LIHAT GIMANA?" teriak Gisele.
'Prak!'
Suara barang terjatuh membuat Kana dan Gisele menoleh ke sumber suara.
"Kaila?" ucap Kana terkejut.
Gisele tersenyum. Rencananya telah berhasil.
"Kaila! Dengerin aku!" teriak Kana seraya melepas lengan Gisele dari leher. "Lepas Gisele!"
"Hmm? Mau lepas?" Gisele tersenyum dan melepaskan lengannya.
Kana menatap Gisele dengan tatapan tajam dan berlari mengejar Kaila yang sudah pergi.
Gisele tersenyum. "Gak sia-sia juga nahan napas," ucap Gisele tertawa lalu memandang lengannya yang sudah menyentuh leher Kana.
__ADS_1
-o0o-