
Part 2
Matahari telah memancarkan sinarnya. Semua orang telah bersiap untuk melakukan aktivitas hariannya.
Begitupun dengan Dokter muda yang kini terbilang sukses dengan klinik mandirinya.
"Pagi!" ucap Kana pada perawat Ayu yang sudah berada di klinik.
"Pagi, Dok." Ayu tersenyum dan melihat Kana sudah masuk ke ruangan.
"Aduh, lupa bilang kalau Dokter Aji ada disini."
Ayu menghela napas dan kembali menulis catatan pasien yang sudah berkunjung.
Dilain sisi, Kana terlihat memperhatikan bingkai foto diruangannya. Foto itu adalah foto dirinya yang mengenakan jas putih kebanggannya. Dengan senyuman lebar, Kana terlihat bahagia dalam foto itu. Meskipun sebenarnya, ada kerinduan yang membekas dalam dirinya.
"Kan."
Kana tersentak dan refleks menoleh ke belakang. "Elo, dari kapan lo disini?" tanya Kana yang tak menyadari Aji berada di ruangannya.
Aji tertawa lalu bangun dari tidurnya. "Gue jaga malem."
Kana memutar bola mata. "Jaga malem, gundulmu! Klinik ini aja gak buka 24 jam."
Aji menyengir kuda. "Iya, iya." Aji pindah dan duduk di kursi pasien. "Gue lagi galau semalem. Makanya kesini, buat nenangin pikiran."
"Galau kenapa?" tanya Kana.
Aji menunduk lalu menatap Kana. "Gue mau di jodohin sama anak temennya nyokap. Anaknya Tante Deca kalau gak salah. Gue juga gak tahu yang mana. Belum pernah ketemu juga sama anaknya," ujar Aji.
"Temen nyokap lo, temen nyokap gue juga dong?" tanya Kana.
Aji mengangguk. "Katanya sih anaknya lulusan Harvard. Gak tahu juga deh. Lagi males buat buka hati."
Kana tersenyum miring. "Memang sulit ya Ji?"
Aji mengangguk. "Lo juga ngerasain 'kan?"
Kana mengangguk membenarkan.
Aji menghela napas panjang dan bangkit dari duduknya. "Gue numpang kamar mandi lo ya? Mau mandi."
Kana menoleh. "Abis ini lo mau kemana?"
"Rumah sakit, lah. Kemana lagi?"
"Tapi besok lo beneran mau gantiin gue di klinik 'kan?" tanya Kana.
Aji mengangguk. "Tenang aja! Gue udah ambil cuti di rumah sakit buat gantiin lo disini kok," ucap Aji dengan senyuman manis lalu melangkah menuju kamar mandi.
Kana tersenyum dan menggelengkan kepala. Tak menyangka Kana bisa memiliki sahabat dan saudara sebaik Aji. "Lo memang limited edition, Ji."
'Tok! Tok! Tok!'
Kana menoleh ke arah pintu.
"Masuk!"
Seseorang membuka pintu dan berjalan masuk.
Kana menaikkan kedua alisnya saat melihat Ayu berjalan menghampirinya.
"Permisi, Dok?"
Kana menaikkan kedua alisnya. "Ada apa?"
"Ada pasien yang mau bertemu dengan Dokter."
"Pasien?" tanya Kana lalu menoleh pada jam yang melingkar di tangannya. Jarang sekali ada pasien yang datang sepagi ini.
Ayu mengangguk. "Dia udah buat janji dari kemarin, Dok."
Kana mengangguk dan tersenyum. "Suruh dia masuk."
Perawat itu mengangguk dan berjalan keluar menemui pasien yang tengah menunggu di luar.
Kana membuka berkas di hadapannya dengan seksama. Memperhatikan tulisan itu dengan jeli, sembari menunggu pasien yang ingin bertemu dengannya masuk ke dalam.
"Permisi."
Kana menoleh dan tersenyum. "Silah—" Senyum Kana perlahan memudar.
Kaila tersenyum. "Kamu apa kabar, Na?"
__ADS_1
Kana tersentak. Ia terdiam dan membeku di tempat.
Kana menggeleng. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia meraih kacamatanya dan mengenakannya. Kana kembali menggeleng. "Aku gak salah lihat 'kan?"
Kaila tersenyum dan menggeleng. "Enggak, Na."
Kana kembali melepas kacamatanya, bangkit dari duduk dan berlari memeluk Kaila.
Kaila tersenyum. Ia memejamkan mata saat Kana memeluknya.
"Eum— sorry, Na," ucap Kana lalu melepas pelukan itu.
Kaila tersenyum dan mengangguk.
"Silahkan duduk," ucap Kana lalu ikut duduk di kursinya.
Kaila mengangguk dan duduk di hadapan Kana.
Entah mengapa, suasana berubah menjadi canggung.
"Eumm—" ucap keduanya bersamaan.
Kaila tertawa kecil. "Kamu dulu."
Kana menggeleng. "Enggak, kamu dulu aja."
Kaila mengangguk dan tersenyum canggung. "Aku gak sengaja mampir."
"Loh bukannya udah buat janji?"
Kaila melebarkan mata. "Ah, iya! Itu, hehe. Aku udah buat janji," ucap Kaila kembali.
Kana tersenyum. Melihat Kaila canggung, justru membuatnya ikut canggung juga. "Sakit apa?"
Kana memenjamkan mata, lalu memukul pahanya sendiri. Bisa-bisanya ia menanyakan hal itu.
"Aku gak ada keluhan sih sebenarnya," ucap Kaila malu-malu.
"Iya, syukur," ucap Kana.
Kaila memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya sendiri. "Astaga Kaila, lo ngapa canggung gini sih?" umpatnya dalam hati.
"Kaila."
"Kamu—"
'Tok! Tok! Tok!'
"Maaf Dok, mengangggu, di depan ada pasien darurat, Dok."
Kana bangkit dan berdiri, lalu menoleh pada Kaila. "Kaila, kamu tunggu sini dulu ya. Aku mau ke depan dulu."
Kaila mengangguk dan membiarkan Kana pergi.
Kaila menghela napas dan tersenyum. Melihat Kana sigap dengan profesinya membuat Kaila tersenyum bangga.
'Ceklek!'
"Kaila?"
Kaila menoleh dan melihat seseorang keluar dari kamar mandi. "Aji?"
Aji tersenyum dan menghampiri gadis itu. "Kamu apa kabar?"
"Aku baik, kamu?"
Aji mengangguk. "Ya, yang seperti kamu lihat." Aji terseyum lebar. Melihat Kaila berada disini membuat Aji ikut bahagia. "Kamu dari kapan di Indonesia?"
Kaila tersenyum. "Aku udah seminggu. Sebelumnya aku di Jogja beberapa hari dan kemarin aku ke Jakarta."
Aji menggelengkan kepala tak percaya. "Masih kaya mimpi Kai kamu ada disini," ucap Aji membuat Kaila terkekeh. "Udah ketemu Kana?"
Kaila menganguk. "Udah. Sekarang dia lagi nanganin pasiennya di depan."
Aji tersenyum. "Gitulah, Kana. Banyak pasien dia disini. Bisa dibilang Kana itu dokter terlaris di kota ini. Ya meskipun statusnya masih Dokter umum. Tapi kalau kata orang, banyak yang cocok sama dia. Maksudnya kaya manjur gitu," ucap Aji tertawa. "Padahal mah, manjur gak manjurnya tergantung kita rajin gak minum obat dan olahraganya," lanjut Aji membuat Kaila mengangguk membenarkan.
"Oh ya? Kamu kerja disini juga?" tanya Kaila.
Aji menggeleng. "Aku kerja di rumah sakit. Tapi rumah sakit kakekku. Jadinya ya bisalah di ngaret-ngaretin dikit datengnya."
Kaila tertawa. "Aji, Aji, ada-ada aja kamu ini."
"Oh ya, Kai. Mama kamu apa kabar? Udah sembuh?"
__ADS_1
Kaila tersenyum tipis. "Mama udah meninggal Dua tahun yang lalu, Ji."
"Innaililahi, aku turut berduka cita ya, Kai."
Kaila mengangguk. "Makasih ya?"
"Terus dimakaminnya dimana?"
"Di Jerman. Sehari sebelum meninggal Mama bilang pengen dimakamin disana."
Aji membulatkan bibirnya. "Terus Bima, adik kamu, sama kakak kamu gimana?"
Kaila tersenyum. "Kak Keiza sama Kiara sebenarnya udah di Jakarta udah lama. Sekarang mereka tinggal di Jakarta sama Papa kandung aku. Kalau Bima, dia lagi nyelesain S2nya di Jerman. Tahun ini dia Wisuda."
Aji melebarkan mata. "Hebat banget dia!"
Kaila mengangguk. "Ya walaupun kuliah dia sempet ketunda, tapi akhirnya dia bisa kuliah sampai S2."
Aji mengangguk. Lalu menoleh pada jam di tangannya. "Yah, Kai. Padahal aku masih pengen ngobrol banyak sama kamu. Tapi udah jam segini, aku harus ke rumah sakit."
Kaila mengangguk dan tersenyum. "Gak papa, Ji. Next time kita lanjutin lagi ngobrolnya."
"Gak papa nih ya? Yaudah kalau gitu aku berangkat ke rumah sakit dulu ya? Kamu yang sabar nunggu Kana. Dia tiap hari rame pasien, biasanya sih kalau malem udah mulai berkurang pasiennya."
Kaila membulatkan bibirnya dan mengangguk.
"Yaudah deh, aku pergi dulu. Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam," ucap Kaila lalu membiarkan Aji menghilang dari pandangannya.
Setelah sendiri, Kaila menghela napas panjang dan memandang isi ruangan itu. Ia bangkit dan menatap foto-foto yang terpasang di dinding. Banyak sekali foto disana.
"Kamu hebat, Kan."
Setelah melihat isi ruangan, Kaila kembali berjalan menuju meja dan mengambil pena yang tertata di atasnya.
-o0o-
"Alhamdulillah," ucap Kana setelah pasien yang ia tangani sadar. "Pak, Pak? Bapak namanya siapa?" tanya Kana pada pasien itu.
"Ahmad."
"Siapa?"
"Ahmad," jawab pasien itu kembali dengan suara lemah.
Kana tersenyum. "Sekarang hari apa, Pak?"
"Hari selasa."
Kana mengangguk dan tersenyum, lalu menoleh pada perawat di sampingnya untuk melanjutkan tindakan keperawatan.
Kana menaikkan kerah jasnya dan menoleh ke ruangannya. "Tunggu aku ya, La," ucapnya lalu pindah ke pasien berikutnya.
Setelah pasien dirasa sepi. Kana pun berjalan ke ruangannya. Laki-laki itu akan menghampiri gadis pujaannya kembali.
'Ceklek!'
Pintu terbuka.
Kana mengitari seisi ruangan.
"Kaila kemana?" ucapnya sendiri mencari keberadaan Kaila.
Akan tetapi laki-laki itu tak melihatnya. Kana menoleh ke arah meja dan terdapat secarik kertas disana.
To : Nana
Na, kamu hebat.
Aku salut sama kamu. Kamu bener-bener Dokter yang baik.
Aku gak tega mau ganggu kerja kamu, jadi aku pulang.
Tapi malam nanti kamu harus temui aku di kafe dekat sekolah kita dulu. Aku pengen ngobrol banyak sama kamu.
Semangat kerja!
-Lala.
Kana tersenyum. Ia meremas kertas itu dan tersenyum lebar. Hatinya benar-benar berdebar.
-o0o-
__ADS_1