
Part 8
Semakin sore suasana pesta pernikahan Wilka dan Kevin semakin meriah. Dan beberapa detik lagi, kedua mempelai itu akan melemparkan bunga kepada para tamu yang berada di tempat.
Kaila tak sabar, wanita itu mengitari pandangannya dan mencari keberadaan kekasihnya. Namun, laki-laki itu tak memunculkan batang hidungnya.
Kemana Kana?
"Ah, itu dia!" seru Kaila saat melihat Kana tengah duduk sendiri seraya menikmati minuman yang berada pada gelas di tangannya.
"Nana!" seru Kaila wanita itu menghampiri Kana.
Kana tak menjawab. Laki-laki itu tak menjawab. Ia tetap fokus ke depan dan tak menoleh sedikit pun.
"Kana!" seru Kana seraya menyenggol tubuh Kana.
Kana menghela napas dan menoleh. "Udah selesai ngomong sama Justin Bieber?"
Kaila mengerutkan dahinya dan tertawa. "Dia Justin Ricardo, bukan Justin Bieber, Kana!"
"Serah deh, mau Justin Bieber, Justin Timberlake, atau Justin Ricardo, gak ada hubungannya sama aku."
Kaila semakin tertawa. "Kamu cemburu sama Justin?"
Kana menatap wajah Kaila dengan sebal. "Terus kamu pikir?"
"Astaga, Kana! Dia itu Cuma rekan kerja aku aja! Dia yang udah bantuin aku banyak hal selama di Jerman. Aku juga gak tahu bakal ketemu dia lagi disini," ucap Kaila apa adanya.
Kana menghela napas. "Okay."
Kaila mengerutkan dahinya. "Okay aja? Kamu masih ngambek nih?"
"Tau deh!" ucap Kana dan berjalan pergi.
Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala. "Kana, Kana, makin kesini kamu malah makin aneh," ucapnya lalu mengimbangi langkah Kana.
"Ngapain?" tanya Kana tanpa menoleh pada wanita di sebelahnya.
"Ikutin kamulah!" ucap Kaila.
"Kirain mau ngikutin Justin."
Kaila berdecak, menarik lengan Kana dan merangkulnya. "Buat apa aku ngikutin Justin, kalau ngikutin kamu lebih menyenangkan."
Kana tertawa.
Melihat Kana tertawa, membuat Kaila melirik dan tersenyum. "Tuh, 'kan! Gak ngambek lagi."
Senyum Kana pun menghilang. "Siapa bilang?"
Kaila terkekeh dan mencubit pipi Kana dengan gemasnya. "Udah pinter ngambek ya sekarang?"
"Iya, terus kamu juga udah pinter gombal!"
"Siapa yang ngajarin?" tanya keduanya bersamaan.
"Kana!—
"Kaila!"
Keduanya kembali menjawab secara bersamaan membuat sepasang kekasih itu semakin gemas jika diperhatikan.
"Nana udah ya jangan ngambek lagi? Masa Pak Dokter ngambek?" ucap Kaila menggoda.
__ADS_1
"Memang dokter gak boleh ngambek?" tanya Kana.
Kaila menggeleng. "Lucu dong kalau dokter ngambek! Apa kata pasien?" Kaila menaikkan kedua alisnya.
Kana menghela napas dan mengangguk. "Aku memang dokter buat mereka, tapi aku pacar buat kamu!" ucap Kana membuat Kaila tersenyum malu.
Kaila mengangguk dan tersenyum. "Okey! Jadi gak ngambek lagi 'kan?"
"Kata siapa?" tanya Kana menaikkan kedua alisnya.
"Itu tadi ngomongnya udah biasa aja," ucap Kaila.
"Aku lanjutin nanti ngambeknya!" ucap Kana lalu menarik tangan Kaila dan mendekat ke kerumunan.
-o0o-
Kevin tersenyum lebar dan menatap istrinya.
"Kita lempar sekarang?" tanya Wilka.
Kevin mengangguk. "Aku hitung sampai kita, lalu kita lempar?"
Wilka mengangguk setuju.
"Satu!"
"Dua!"
Keduanya bersiap untuk melempar.
"La, kamu bersiap dari arah sana, aku bersiap dari arah sini ya?" ucap Kana.
Kaila mengangguk dan menjauhkan diri dari Kana. Wanita itu pun bersiap untuk menangkap bunga.
"Ahhh!" teriak beberapa orang saat bunga yang pengantin itu lembar tertangkap.
Semuanya menoleh ke arah yang sama.
Kana langsung menoleh saat bunga itu berhasil tertangkap. Matanya bertemu dengan Kaila yang terlihat cemberut.
"I'm sorry," ucap Kana dan di angguki oleh Kaila.
Semuanya pun menoleh pada laki-laki yang kini tengah memegang bunga. Dia berhasil mendapatkan bunga yang pengantin lempar.
"Sorry guys, gue nyusul adik gue!" ucap laki-laki itu.
Tentu saja semua tahu siapa laki-laki itu. Itu adalah Wilko.
Kaila tersenyum dan menghampiri. "Selamat ya! Semoga kamu cepet nyusul Wilka," ucapnya.
Wilko melebarkan mata. "Ka— Kaila?"
Kaila mengangguk. "Iya, Ko. Ini aku Kaila."
"Kamu apa kabar? Kamu udah lama di Indonesia? Kamu disini sama Keiza juga? Keiza apa kabar? Dia ikut kesini enggak? Ahh sorry, seharusnya aku gak nanyain Keiza."
Kaila tersenyum dan mengangguk. "Gak papa, Ko. Aku sehat, seperti yang kamu lihat. Aku di Indonesia belum lama, hampir satu minggu lebih, Kak Keiza baik-baik aja, dia gak ikut kesini karena ada operasi hari ini di rumah sakitnya. Dan sebenarnya, Kak Keiza udah lama di Indonesia."
Wilko mengangguk. "Ah, ya! Aku udah lama gak denger kabar dia. Mungkin karena kita berdua sama-sama sibuk dan aku juga—" Wilko menatap bunga di tangannya.
"Udah ada pasangan?" tanya Kaila.
Wilko tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Selamat ya!" Kaila mengulurkan tangannya.
Wilko mengangguk dan membalas jabatan tangan itu. "Aku minta maaf ya karena gak bisa jagain Keiza selama ini."
Kaila mengangguk. "Kamu gak salah. Kamu Cuma gak tahu aja apa yang terjadi sama dia."
Wilko mengangguk.
"Kaila."
Kaial dan Wilko menoleh saat Kana berada di samping keduanya.
"Hai, Kan!" seru Wilko.
"Halo! Apa kabar?" tanya Kana pada Wilko.
"Ya, seperti yang lo lihat sekarang!" Wilko tertawa. "Gue kesana dulu ya? Di tungguin," ucapnya.
Kaila dan Kana mengangguk.
"Lain kali kita ngobrol bareng!" ucap Wilko, lalu melambaikan tangannya dan berjalan pergi.
Kaila menghela napas dan tersenyum menatap punggung Wilko yang mulai menjauh.
"Dia udah gak ada hubungan lagi sama Kak Keiza?" tanya Kana.
Kaila menggeleng. "Kak Keiza bener-bener sendiri sekarang. Bahkan, hubungannya sama Erkan juga udah berhenti tiga atau empat tahun yang lalu."
"Kenapa?" tanya Kana penasaran.
Kaila menggeleng. "Aku juga gak tahu. Kak Keiza gak pernah cerita detailnya. Tapi aku yakin, ada alasan tertentu yang bikin Kak Keiza putus. Tapi aku tahu, itu bukan karena sikap Erkan, tetapi karena keadaan yang memang bikin mereka berdua gak bisa bersatu."
"Berarti ada peluang besar dong buat Kak Keiza dan Wilko balikan?" tanya Kana.
Kaila tersenyum. "Wilko udah ada calon istri."
Kana melebarkan mata. "Serius?"
Kaila mengangguk. "Waktu begitu cepat ya, Na? Semuanya udah berubah."
Kana mengangguk setuju. "Aku pikir, Kak Keiza akan berakhir dengan Wilko. Tapi ternyata aku salah."
"Ya layaknya sebuah novel, Na. Terkadang, akhir kisah tak selalu sama dengan apa yang diharapkan pembaca. Saat pembaca berharap tokoh A berjodoh dengan tokoh B, namun yang terjadi tokoh A malah berjodoh dengan tokoh C. Dan saat pembaca berharap kisah itu berhasil happy ending, namun author malah memilih sad ending untuk akhir kisahnya. Semuanya kadang tak sama dengan apa yang diharapkan, Na."
Kana tersenyum. "Semoga kisah kita seperti novel yang happy ending ya, La? Bersatu, dan berakhir bersama."
Kaila mengangguk. "Aamiin."
"Aku sayang kamu, La."
"Aku juga sayang kamu, Na."
"Aku selalu ingat kata-kata yang selalu Mama ucapin buat Papa," ucap Kana.
Kaila menaikkan kedua alisnya. "Apa itu?"
"Thank you so much for all the love you gave. I promise that only you, you, you and you will always be in my life."
Kaila tersenyum. "Aku juga bakal ucapin itu buat kamu. "Thank you so much for all the love you gave. I promise that only you, you, you and you will always be in my life."
Kana tersenyum dan mengusap pucuk kepala Kaila.
-o0o-
__ADS_1