KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 34


__ADS_3

Part 34


Kana menghentikan mobilnya di depan galeri Kaila.


Turun dari mobil, dan berlari untuk membukakan pintu untuk Kaila.


Sebelum membuka pintu, Kana memperhatikan gedung di depannya tersebut.


Jika dilihat-lihat, galeri Kaila cukup besar dan megah. Gedung berlantai dua itu sudah dapat menggambarkan bagaimana suksesnya Kaila dibidang fashion desain.


"Kira-kira pulang jam berapa hari ini, La?" tanya Kana setelah membukakan pintu untuk istrinya.


Kaila tampak berpikir lalu menoleh pada jam yang melingkar di tangannya. "Mungkin sekitar jam 4, Na."


Kana membulatkan bibirnya. Laki-laki itu mengangguk dengan senyuman. "Oke. Nanti aku jemput jam segitu ya?"


"Memang kamu pulang jam segitu juga?" tanya Kana.


"Nanti aku usahain jam segitu juga," ucap Kana dengan senyuman.


Kaila menggeleng. "Jangan gitu, ah. Kamu harus prioritasin pasien kamu, baru aku."


Kana tersenyum dan mengusap rambut Kaila. "Intinya aku bakal usahain ada disini jam 4."


Kaila menghela napas dan akhirnya tersenyum. "Yaudah gih, berangkat ke klinik. Udah jam 8 lho."


Kana tersenyum dan mencium pipi Kaila membuat wanita itu tersipu malu.


Kana terkekeh dan mengusap pucuk kepala Kaila. "Semangat ya kerjanya. Jangan sampai kecapean."


Kaila mengangguk, lalu meraih tangan Kana dan mencium punggung tangan lelaki itu.


"Semangat juga. Tetep utamain kesehatan kamu."


Kana tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan istrinya.


Setelah mobil Kana tak terlihat, Kaila segera masuk ke dalam galeri untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda akibat pernikahannya beberapa yang lalu.


-o0o-


"Selamat pagi, Dok!" ucap beberapa perawat yang akan berjaga pagi ini.


Kana tersenyum dan masuk ke dalam.


"Dok!" teriak Ayu membuat Kana menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.


"Iya, Yu?" Kana menaikkan kedua alisnya.


"Ada dua orang yang lagi nunggu dokter," ucap Ayu sembari menunjuk ruangan kosong yang Kana jadikan sebagai ruangan untuk tamu yang datang.


"Makasih ya, Yu." Kana tersenyum dan berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.


'Ceklek!'


Kedua orang yang tengah itu menoleh ke arah pintu saat pintu itu dibuka oleh Kana.


Kana mengerutkan dahinya dan tersenyum lebar. "Wilka? Kevin?"


Sepasang suami istri itu tersenyum dan menunjukkan sebuah berkas dari masing-masing.


Kana tertawa dan duduk di hadapan keduanya. "Jadi kalian berdua yang mau lamar kerja disini?"


Kevin mengangguk. "Denger-denger, klinik Bintang semakin ramai 'kan? Nah, karena kita tahu kamu sendiri Dokter disini. Jadi kami berniat buat daftar, Kan."


Wilka mengangguk membenarkan. "Ya semoga aja kamu bisa nerima kita berdua, Kan."


Kana tersenyum. "Jujur, tahu kalian daftar kesini aku seneng banget. Dan kebetulan banget, klinik ini sangat butuh beberapa dokter muda seperti kalian."


Wilka dan Kevin tersenyum lebar mendengar hal itu. "Jadi, kita berkesempatan di terima nih?" ucap Kevin dengan senyuman lebar.


Kana terkekeh. "Udah terima!"


"Alhamdulillah," ucap sepasang suami istri itu dengan rasa bahagia.


Kana mengangguk lalu mengambil beberapa minuman dingin yang berada di dalam kulkas.


"Silahkan."


Kavin mengangguk dan meraih minuman tersebut untuk meneguknya.


"Kalau boleh tahu, biasanya jam berapa 'kan pasien mulai berdatangan?" tanya Wilka.


"Gak mesti sih. Biasanya—"


'Tok! Tok! Tok!'


Ketiganya menoleh ke arah yang sama.


"Masuk!" teriak Kana.


'Ceklek!'


Pintu terbuka dan menampilkan Ayu disana.


"Permisi Dok, ada kecelakaan beruntun di depan. Semua pasien dilarikan kesini."


Ketiga dokter muda itu melebarkan mata terkejut.


"Ayo!" Ketiganya bangkit untuk melakukan aksi mereka dalam menyelamatkan sesama.


-o0o-


Aji turun dari mobil di sertai Keiza. Keduanya berjalan masuk menuju rumah sakit setelah memarkirkan mobil.


"Uhuy! Pengantin baru udah berangkat kerja aja," ucap beberapa dokter yang melihat keduanya sudah mulai bekerja.


Aji terkekeh. "Bisa aja, Dokter Langga."


Dokter bernama Langga itu terkekeh. "Bulan madu dulu dong. Baru kerja," ucapnya.


Keiza tersenyum malu.


"Nanti ah, minta cuti lagi kalau boleh," ucap Aji membuat beberapa dokter itu tertawa.


"Yaudah, Dokter Aji, Dokter Keiza, saya ke ruangan dulu ya?" ucap Dokter Langga dan berjalan pergi meninggalkan pasangan baru itu.


Aji tersenyum dan menoleh pada istrinya. "Kamu mau ke ruangan juga?"


Keiza mengangguk.


"Yaudah, aku anter sampai ruangan ya?"


Keiza melebarkan mata dan terkekeh. "Ngapain, sayang? Ruangan kamu sama aku jauh banget loh. Ujung sama ujung."


Aji menyengir kuda. "Mau mastiin aja biar kamu sampai di ruangan dengan selamat."


Keiza terkekeh dan menyenggol lengan Aji. "Ada-ada ah, kamu ini." Keiza menghela napas. "Yaudah, aku ke ruangan dulu ya? Jam istirahat nanti, jangan lupa dimakan bekal yang aku bikin."


"Siap, sayangku!" seru Aji membuat Keiza terkekeh dan berjalan pergi.


"Sayang!" ucap Aji menahan lengan Keiza membuat wanita itu menghentikan langkah dan menoleh.

__ADS_1


"Iya?"


Aji berjalan mendekat. Menoleh ke kanan kemari memastikan tidak ada orang yang melihat.


'Cup!'


Satu kecupan mendarat dipipi Keiza.


Keiza melebarkan mata dan segera menoleh kesana kemari. "Sayang, kalau orang lihat gimana?"


Aji tersenyum lebar. "Gak papa. Bonus buat mereka."


Keiza menggelengkan kepala tak habis pikir dengan suaminya. Wanita itu terkekeh dan berjalan pergi menuju ruangannya yang berada di ujung.


Jarak antara mereka berdiri tadi sampai ruangan Keiza berjarak hampir dua puluh lima meter.


Sehingga tak butuh waktu lama, Keiza sudah berdiri di depan ruangan perinatologi.


Ruang perinatologi merupakan sebuah unit pelayanan khusus bagi bayi baru lahir yang mempunyai masalah/sakit. Fasilitas yang disediakan dalam ruang perinatologi disesuaikan dengan kebutuhan perawatan bagi bayi. Mulai dari bayi baru lahir dengan resiko tinggi, bayi dengan kelainan bawaan sampai dengan bayi sakit.


Dan kebetulan sekali, Keiza memang telah mengenyam pendidikannya sebagai dokter spesialis anak.


"Dokter Keiza!" teriak Clara yang sudah berada di ruangan tersebut.


Keiza tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Dokter, kok udah berangkat kerja aja sih?" ucap Clara seraya memegang lengan dokter muda itu.


Keiza terkekeh. "'Kan memang cutinya cuma sebentar."


"Yah, padahal 'kan diperpanjang gak papa, Dok. Pasti diizinin-diizinin. 'Kan sekarang dokter Keiza udah jadi cucu menantu dari ketua dirut."


Keiza terkekeh dan merangkul lengan Clara. "Gimana? Beberapa hari ini? Banyak pasien?"


Clara mengangguk. "Banyak banget, Dok. Banyak bayi-bayi baru lahir yang punya masalah kesehatan."


Keiza menghela napas dan menatap Clara dengan raut wajah sedih. "Kasian banget ya?"


Clara mengangguk. "Orangtuanya sampai pingsan, Dok. Gak tega sebenarnya liatnya. Bahkan kemarin juga ada yang meninggal Lima jam setelah dilahirkan."


Keiza berdecak dan menggelengkan kepala sedih. "Aku bisa ngerasain gimana perasaan orangtuanya, pasti terpukul banget."


Clara mengangguk dan merangkul lengan Keiza. "Dokter Afi aja sampai gak tega liatnya. 'Kan dia kemarin yang gantiin Dokter Keiza selama ambil cuti menikah."


"Oh ya?" ucap Keiza.


Clara mengangguk. "Dokter Afi seneng banget tahu waktu dapat tugas buat gantiin dokter Keiza disini. Tapi sayangnya, sekarang dia harus balik lagi ke IGD."


"Iya, Dokter Afi pernah bilang juga sama aku, katanya enak disini."


Clara mengangguk.


"Dokter Keiza!" teriak beberapa perawat yang tengah berada di nurse station.


Keiza tersenyum dan melambaikan tangannya, serta berjalan mendekat untuk menghapus rasa rindunya terhadap rekan kerjanya tersebut.


-o0o-


Di galeri, Kaila terlihat tengah menggambar desain gaun yang akan ia buat untuk kliennya.


Sekarang waktu sudah menujukkan pukul 11 siang. Dan Kaila, hampir sedikit lagi menyelesaikan desain gaun buatannya tersebut.


"Seperti ini?" ucap Kaila menunjukkan hasil gambarannya.


Kliennya itu melebarkan mata. "Waw! Keren banget, Kak. Ini sih gila banget. Aku mau deh, desain kaya gini."


Kaila tersenyum. "Jadi mau yang ini?"


Kaila tersenyum dan memotret hasil gambarannya.


"Oh ya, Kak. Aku boleh lihat hasil gaun buatan kakak yang di depan?"


Kaila mengangguk. "Silahkan, Kak."


Setelah kliennya pergi untuk melihat-lihat gaunnya. Kaila bangkit dari duduknya mencari pawarna untuk mewarnai desain gaun buatannya.


'Drttt!'


Ponsel Kaila bergetar. Terlihat Kana tengah menghubunginya melalui panggilan video. Kaila segera menggeser tombol hijau pada layar ponselnya dan mensejajarkan dengan wajahnya.


"Hai!" ucap Kaila saat sambungannya berhasil tersambung dengan Kana.


Kana tersenyum. Laki-laki terlihat sangat lelah.


"Kamu, kayanya capek banget, sayang." Kaila memperhatikan wajah suaminya.


Kana mengangguk dengan raut wajah sedih. "Barusan ada kecelakaan beruntun depan klinik aku. Jadi semua korban dilariin kesini. Untung aja aku gak sendiri. Udah ada dokter baru di klinik ini yang udah bantu aku."


Kaila melebarkan mata. "Oh ya? Dua dokter muda yang katanya mau ngelamar pekerjaan di klinik?"


Kana mengangguk membenarkan. "Dan tahu gak? Dua dokter muda itu pengen ngobrol sama kamu sekarang."


Kaila mengerutkan dahinya. "Ngobrol? Sama aku?"


Kana mengangguk.


Tak lama, muncul dua orang di belakang Kana membuat Kaila melebarkan mata.


"Wilka? Kavin?" ucap Kaila.


"Kavin, Kavin, Kevin sayang. Kavin mah mertua kamu," ucap Kana.


Kana menepuk dahinya. "Astaga, maaf yang, typo," ucap Kaila membuat ketiga orang itu tertawa.


Wilka terkekeh dan tersenyum lebar. "Kaila udah aktif lagi di butik?"


Kaila mengangguk. "Iya, nih Wil. Bye the way, jadi kalian berdua yang daftar di klinik bintang?"


Wilka tersenyum dan menyengir kuda. "Aku sama Kevin udah mutusin buat tinggal di Jakarta. Dan kita pikir, daripada daftar kerja di rumah sakit, mendingan daftar di klinik Kana 'kan?" ucap Wilka membuat Kana terkekeh.


Kaila mengangguk. "Bener bener, aku setuju."


Kevin tersenyum. "Kapan-kapan ajakin Kana main ke rumah kita ya, Kai. Rumah kita gak jauh kok dari rumah kalian. Mungkin cuma sepuluh kilo meter."


Kaila terkekeh. "Siap! Siap! Nanti kalau libur, aku ajakin Kana buat main tempat kalian."


"Yaelah, daripada nunggu libur, mending nanti malam aja? Gak sibuk 'kan?" ucap Wilka.


Kaila terkekeh, lalu menunjukkan hasil gambarannya. "Lagi banyak kerjaan. Jadi bakal lembur malam ini."


"Yahhh," ucap Wilka dan Kevin.


Kana tersenyum. "Yaudah yang, nanti malam aku temenin kamu lembur ya?"


Kaila mengangguk dengan senyuman.


"Yaudah yang, kamu lanjutin aja. Aku sama mereka juga ada kerjaan kok."


Kaila mengangguk dan tersenyum. "Kalian jangan sampai telat makan ya?"


"Siap, Kaila!" ucap sepasang suami istri yang berdiri di belakang Kana.

__ADS_1


Kana mengerutkan dahinya. "Jadi mereka aja nih yang diingetin?"


Kaila terkekeh. "Kamu juga, dong. Jangan sampai telat makan ya?"


Kana mengangguk siap.


"Yaudah gih, matiin," ucap Kaila.


"Cium online dulu geh."


Kaila terkekeh dan mengerucutkan bibirnya. "Emm—"


"Hihihi . . ."


Terdengar suara gelak tawa membuat Kaila melebarkan mata dan menoleh.


Ternyata kliennya tadi sudah berdiri disini.


Kaila tersenyum menahan malu dan segera mematikan sambungannya.


Wanita itu menaruh kembali ponselnya dan menoleh pada kliennya. "Maaf ya, Kak."


Kliennya itu terkekeh dan mengangguk, lalu duduk di hadapan Kaila. "Gak papa kok, Kak. Santai aja."


Kaila tersenyum dan mengangguk.


"Ngomong-ngomong, Kakak baru menikah ya?"


Kaila melebarkan mata. "Kok tahu, Kak?"


Kliennya tersenyum. "Siapa sih yang gak tahu pernikahan spektakuler kakak kemarin. Sampai heboh loh. Bahkan sampai masuk akun lambe turah."


Kaila melebarkan mata. "Yang bener, Kak?"


Kliennya mengangguk. "Memang kakak gak tahu? Pernikahan kakak kemarin menjadi pernikahan termewah di Indonesia loh." Kliennya tersenyum. "Dan tahu gak sih, Kak? Aku sebenarnya aku fans berat suami kakak loh."


Kaila melebarkan mata. Ia cukup terkejut dengan pernyataan kliennya itu.


Kliennya terkekeh. "Dulu kok, Kak. Waktu masih di SMA."


Kaila melebarkan mata. "SMA?"


Kliennya mengangguk. "Aku 'kan adik kelas kakak juga."


Kaila kembali melebarkan mata. "Kak, serius ini?"


Kliennya tertawa. "Ya ampun kak. Yang serius dong. Bahkan aku juga dulu seneng banget lihat kakak deket sama Kak Kana. Daripada Kak Kana deket sama Kak Adinda." Wanita itu menutup mulutnya. "Astagfirullah, aku lupa dia udah meninggal."


Kaila tersenyum. "Minta maaf gih."


Kliennya itu mengangguk. "Maafin ya Kak Adinda. Aku gak bermaksud mau ngatain kakak."


Kaila terkekeh dan mengelengkan kepala. "Jadi gimana soal gaun?"


"Ah, iya! Aku tadi di depan liat beberapa gaun yang bagus. Aku berniat mau ambil tiga gaun di depan bisa 'kan, Kak? Rencana mau aku kasih ke kakak sama adik aku. Soalnya aku lihat tadi, motifnya hampir mirip. Jadi cocoklah."


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Bisa kok. Nanti kalau seandainya gaunnya kebesaran di adik atau kakaknya, bisa langsung kesini aja kak. Biar aku sesuain."


Kliennya mengangguk. "Siap, Kak. Makasih banyak ya?"


Kaila mengangguk disertai senyuman manisnya.


-o0o-


Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat.


Matahari mulai menyembunyikan wujudnya. Langit sudah berwarna jingga membuat beberapa orang mengabadikan melalui kamera ponsel.


Kaila. Wanita itu keluar dari galerinya dengan membawa beberapa bahan gaun yang akan ia kerjakan nanti malam. Serta buku yang berisi desain buatannya.


'Tin!'


Suara klakson Kana memecah lamunan Kaila.


Wanita itu segera mengangkat barang-barangnya untuk membawa ke mobil.


Namun, dengan sigap, Kana langsung berlari menghampiri dan membawa barang-barangnya.


Kaila tersenyum. "Aku bisa sendiri kok."


Kana menggeleng. "Ini berat. Biar aku aja." Kana mengangkat barang-barang itu dan memasukkannya ke mobil.


Kaila tersenyum dan mengikuti Kana menuju mobil, lalu naik ke kursi depan.


Setelah memasukkan semua barang-barang ke dalam kursi belakang. Kana segera masuk ke dalam mobil sebelum istrinya menunggu terlalu lama.


"Gimana? Jadi lembur nanti malam?" tanya Kana setelah sampai di hadapan istrinya.


Kaila mengangguk. "Permintaan dia banyak. Terus deadlinenya juga sebentar lagi. Jadi aku harus gerak cepat."


Kana tersenyum, lalu mengusap rambut belakang Kaila. "Yang penting kalau udah capek, istirahat aja ya? Jangan terlalu dipaksain. Nanti yang ada kamu malah sakit. Terus kalau kamu sakit, yang sedih siapa? Suami kamu ini," ucapnya menunjuk dirinya sendiri.


Kaila terkekeh dan mengangguk. "Iya, sayang."


"Yaudah, sebelum kita pulang ke rumah, mampir beli seblak kesukaan kamu yuk?"


"Seblak?" Kaila melebarkan mata.


Kana mengangguk. "Kita makan disana, sama dibungkus buat dibawa pulang."


Kaila mengangguk setuju, membuat Kana terkekeh dan mulai melajukan mobilnya.


'But you won't see me break


Call you up in three days


Or send you a bouquet,


Saying, "It's a mistake"


Drink my troubles away


One more glass of champagne


And you know"


Lagu berjudul Here's Your Perfect itu memutar dalam mobil Kana, membuat keduanya menikmati lagu itu dengan sesekali saling memandang.


Sungguh, mereka adalah pasangan harmonis yang diimpikan semua orang.


'I'm the first to say that I'm not perfect


And you're the first to say you want the best thing


But now I know a perfect way to let you go


Give my last hello, hope it's worth it


Here's your perfect'


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2