KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 27


__ADS_3

Part 27


Bima tersenyum, ia menghentikan mobilnya dan mengajak Kaila turun. "Kita udah sampai."


Kaila melebarkan mata menatap pemandangan di hadapannya.


Bima tak salah? Mengapa laki-laki itu membawanya kesini?


Kaila menoleh dan menatap Bima penuh tanya. "Lo ngajak gue ke pasar?"


Bima tersenyum. Ia meraih tangan Kaila dan mengajak gadis itu memasuki area pasar kaki lima tersebut.


"Bajunya dek, bajunya. Ada baju kapal yang mau kapalan sama pacarnya!"


Kaila terkekeh mendengar cara para penjual yang menawarkan barang dagangannya tersebut.


"Celana hawai bulan madunya Mbak, Mas!"


Bima terkekeh, ia menoleh pada Kaila yang tengah berusaha menahan tawa. "Abangnya lucu ya?"


Kaila mengangguk membenarkan.


Bima tersenyum lalu mengajak Kaila ke sebuah toko kecil yang terletak di ujung pasar.


"Eh, Mas Bima! Mau cari bunga ya?" ucap seorang palayan toko yang berjalan menghampiri keduanya.


"Iya, Mbak," jawab Bima dengan senyum ramahnya.


Kaila mengerutkan dahinya dan memandang Bima. "Kok lo bisa kenal?" lirihnya.


Bima mengangguk tanpa menjawabnya.


"Mas Bima mau cari bunga seperti biasa?" tanya pelayan itu.


Bima mengangguk. "Yang seger ya, Mbak."


"Siap! Kami selalu menyediakan yang terbaik untuk pelanggan terbaik."


Bima tersenyum lalu menoleh pada gadis di sampingnya.


"Buat apa?" tanya Kaila penasaran.


Bima tampak berpikir lalu menaikkan kedua alisnya. "Mau bunga juga?"


Kaila menggeleng. "Gak perlu, gue gak terlalu suka bunga."


"Sayang banget, padahal kebanyakan cewek suka bunga." Bima mengerucutkan bibirnya lalu tertawa.


Kaila terkekeh melihat raut wajah Bima tersebut. Tak lama, pelayan bunga tadi kembali datang dengan membawa bunga Lili putih.


Bima tersenyum dan meraih bunga itu. "Makasih ya, Mbak. Aku pergi dulu," ucap Bima lalu mengajak Kaila pergi.


Kaila menatap Bima bingung. "Lo dikasih bunga itu gratis?" tanya Kaila yang tak melihat Bima menyerahkan uang pada pelayan tadi.


Bima terkekeh. "Gue udah langganan sama mereka. Jadi gue udah bayar lunas semua bunga yang bakal gue ambil setiap bulannya."


Kaila nampak mencerna ucapan Bima. "Jadi, setiap bunga lo beli bunga di mereka?"


Bima mengangguk membenarkan.


"Untuk siapa?" tanya Kaila penasaran.


Bima tersenyum. "Special person," ucap Bima seraya mencium bunga di tangannya.


Kaila membulatkan bibirnya. Ia tak tahu siapa orang spesial yang Bima maksud. Yang jelas, sepertinya Bima sangat mencintai orang itu.


"Ayo!"


Kaila tersenyum tipis lalu mengikuti langkah Bima untuk kembali ke mobil.


"Kalau kita pulang agak maleman, gak papa 'kan? Gak malem banget sih, tapi kemungkinan menjelang malem kita baru sampai rumah lo," ujar Bima.


Kaila mengangguk. "Gak papa, kok. Lagipula gue udah ngabarin Tante Naira."


Bima tersenyum lega. Ia menyerahkan bunga yang ia beli tadi pada Kaila. "Pegangin ya."


Kaila mengangguk dan meraih bunga itu. Kaila menatap bunga di hadapannya dengan penuh tanya. "Siapa orang spesial yang Bima maksud?" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


-o0o-


"Aji, aji, itu motor Kana jalan. Ayo kejar!" pekik Adinda.


"Santai, santai, Kana 'kan gak bisa bawa motor kenceng. Jadi kita pelan-pelan aja ikutinnya," ucap Aji seraya mengikuti motor Kana dari kejauhan.


Saat ini kedua orang itu tengah mengikuti Kana yang juga Kana tengah mengikuti Bima dan Kaila.


Namun karena kelemahan yang Kana miliki, Kana tak bisa mengejar mobil Bima yang sudah berlalu jauh.


"Menurut lo, Kana bisa gak kejar Bima?" tanya Adinda pada laki-laki di hadapannya.


Aji menggeleng. "Kayanya enggak. Lo lihat sendiri aja, Bima bawa mobil udah kaya orang ngajak balapan. Untung Kaila orangnya gak takutan di bawa kebut, cuma teriaknya gak karuan aja sih."


Adinda mengerutkan dahinya. "Kok lo paham banget sih sama cewek itu?"


"Emm—"


"Oh iya, gue lupa! Oma Raisa 'kan pernah deketin lo sama Kaila," ucap Adinda membuat Aji diam.


"Bukan deketin, cuma minta tolong aja."


Adinda tersenyum miring. "Lo gak ada rasa juga 'kan sama cewek itu?"


Aji menggeleng. "Mana mungkin gue suka sama dia, gue 'kan—" Aji diam membuat Adinda mengerutkan dahinya.


"Lo kenapa?"


Aji menggeleng dengan senyuman. "Gue belum kenal banget sama dia."


Adinda tersenyum membuat Aji keringat dingin muncul di wajah Aji.


"Kalau lo suka juga gak papa, kok. Gue malah seneng. Apalagi kalau lo bisa ngerebut cewek itu dari Kana, gue seneng banget."


Aji tersenyum tipis. Gadis di belakangnya itu masih belum menyadari perasaannya. "Lo seneng Din kalau gue jadian sama Kaila?"


Adinda mengangguk. "Sangat seneng. Meskipun gue keliatan kesel sama dia, bukan berarti gue benci dia kok. Lo tenang aja."


Aji tersenyum tipis. Ia tak tahu harus mengatakan apalagi. Adinda terlalu tak peka dengan perasaannya.


-o0o-


"Silahkan, Nona."


Kaila tersenyum dan turun. Matanya tertuju pada halaman hijau yang menjadi tujuan ia dan Bima siang ini.


Kaila menatap Bima dengan penuh tanya. "Kita mau ke makam?"


Bima mengangguk membenarkan. "Gue mau ngenalin lo sama seseorang yang sangat spesial buat gue. Dia cinta pertama dalam hidup gue, Kai." Bima tersenyum dan meraih tangan Kaila untuk mengajak gadis itu masuk.


Keduanya berdiri tepat di depan sebuah nisan yang bertuliskan—


"Bina?"


Bima mengangguk. "Beliau nyokap gue." Laki-laki itu tersenyum. "Pasti lo bingung?"


Kaila mengangguk.


Bima tersenyum. "Nyokap kandung gue sebenarnya udah meninggal, Kai. Mama Bina meninggal setelah melahirkan gue."


"Bim?"


Bima tersenyum. "Maaf ya kalau gue gak pernah cerita soal ini ke elo."


Kaila mengangguk dan menyentuh pundak Bima berusaha menenangkan. "Kalau boleh tahu, Tante Bina sakit apa?"


Bima menunduk. "Mama depresi pasca melahirkan gue, Kai. Gue gak tahu detailnya. Tapi yang gue denger dari orang-orang, Mama depresi karena Papa suka main di belakang Mama. Saat hamil besar pun, Papa masih sempet-sempetnya bawa perempuan ke rumah. Karena itu Mama ngelukain diri sendiri sampai meninggal."


"Bim," lirih Kaila.


Bima menaikkan kedua alisnya.


"Udah, cukup. Gue gak mau bikin lo nambah sedih."


Bima tersenyum dan mengusap tangan Kaila yang berada di pundaknya. "Makasih banyak ya, Kai?"


Kaila mengangguk dengan senyuman.

__ADS_1


Bima menghela napas dan menatap nisan di depannya. "Ayo samperin Mama gue."


Kaila mengangguk dan mengekori langkah Bima.


"Assalamualaikum, Ma." Bima menatap nisan di hadapannya dengan tatapan rindu yang amat sangat. "Mama apa kabar?"


Kaila tersenyum dan menyerahkan bunga yang ia pegang pada Bima.


Bima meraih bunga itu. "Makasih ya?" bisiknya.


Kaila mengangguk dan kembali memandang nisan di depannya.


"Ma, Bima kesini bawa bunga dan perempuan cantik. Mama pasti belum tahu 'kan dia siapa?" Bima memandang Kaila sekilas dan kembali pada nisan di depannya. "Bima kesini bawa perempuan yang sangat spesial buat Bima. Seperti Mama Bina dan Mama Bila." Bima tersenyum. "Namanya Kaila, Ma."


Kaila tersenyum tipis. Perasaannya sungguh dilema, laki-laki itu menganggapnya sebagai perempuan spesial.


"Mama inget 'kan? Bima selalu bilang, kalau suatu saat Bima akan datang nemuin Mama dengan perempuan yang bisa bikin Bima bahagia. Dan sekarang, waktu yang tepat untuk Bima tepatin, Ma." Bima kembali memandang Kaila sekilas dan tersenyum. "Ma, Bima tahu dan Bima sadar, hati Kaila bukan hanya untuk Bima. Kaila harus pilih seseorang yang bisa buat Kaila bahagia, Ma. Entah itu Bima, atau laki-laki lain."


Kaila diam. Ia memandang laki-laki di sampingnya dengan tatapan sedih.


Merasa di perhatikan, Bima pun menoleh. "Jangan nangis, ih." Bima mengusap air mata yang turun dari mata Kaila.


Kaila mengangguk. Ia mencoba mengusap air matanya sendiri.


"Tuh 'kan, Ma, belum suruh milih aja, Kaila udah dilema."


"Bima, maafin gue," ucap Kaila seraya memegang lengan laki-laki di sampingnya.


Bima mengangguk. "Belum lebaran, jangan maaf-maafan dulu," ucap Bima yang malah membuat Kaila tertawa.


"Bima, serius."


Bima menggelengkan kepala. "Tuh 'kan, Ma. Malah ketawa dia. Dia itu lucu, Ma. Makanya Bima suka sama dia."


"Bim," lirih Kaila.


"Apa?" tanya Bima dengan wajah konyolnya.


Kaila mengerucutkan bibirnya. "Jangan kaya gini."


Bima menghela napas. "Mending sekarang lo kenalan sama nyokap gue. Lo gak mau dikata sombong 'kan?"


Kaila menggeleng. Ia memandang nisan di hadapannya. "Halo, Tante. Saya Kaila."


"Kenalin nama panjangnya," bisik Bima.


Kaila mengangguk. "Nama saya Kaila Zeline Qirani, Tante."


"Umurnya," bisik Bima.


"Umur saya Tujuh Belas Tahun, Tante."


"Tempat lahir," bisik Bima.


"Saya lahir di Jogjakarta, Tante."


"Hobi, hobi," bisik Bima.


"Hobi saya memancing."


Bima menaikkan kedua alisnya.


"Memancing emosi Bima," lanjut Kaila membuat Bima tertawa.


"Tuh 'kan, Ma. Anaknya lucu-lucu gemesin gini!"


Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala.


"Ma, tahu gak sih Kaila itu—"


Tanpa keduanya sadari, di belakang mereka terdapat Kana yang memandang keduanya dengan tatapan tak rela. "Gue gak rela Bima bikin lo ketawa, Kai," lirih Kana.


"Ih, Bima! Jangan ngada-ngada!" ucap Kaila tertawa.


Kana mengepalkan tangannya dan berlalu pergi. Matanya terlalu sakit menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia tak sanggup berlama-lama disini. Hatinya sudah panas akiat api cemburu.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2