
Part 46
Kurang lebih Dua puluh jam Kana menghabiskan waktu untuk penerbangannya menuju Kanada. Dengan keinginan orangtua, mau tak mau ia harus pergi ke Negara tersebut untuk melanjutkan masa depannya.
Kanada memang tempat yang dulu Kana impikan. Lebih tepatnya, sebelum ia mengenal Kaila dan juga berjanji dengan kedua sahabatnya untuk bersama-sama melanjutkan kuliah di Yogyakarta.
Sore ini, tepatnya pukul 16.00 waktu Kanada, Kana terlihat berjalan seraya menarik kopernya. Dengan bantal leher yang terpasang, earphone yang tersumpal rapi di kedua telinga, Kana terlihat bingung harus melangkah kemana. Kakinya terasa berat untuk melanjutkan hidup di Kanada.
Sebenarnya ia sudah tak asing dengan tempat-tempat di Negara ini. Berkali-kali saat libur panjang, orangtuanya akan mengajaknya untuk berlibur ke Negara Pecahan Es tersebut. Tapi, sepertinya kali ini pikirannya tidak sedang berada disini.
Kaila.
Ya, nama itulah yang terus terbesit dalam pikiran Kana. Gadis yang berhasil membuat Kana terjatuh dalam cinta, meskipun hanya dengan mengingat nama.
Kana tahu ia sudah jahat. Pergi tanpa pamit, bahkan tanpa meninggalkan sepatah katapun.
"Maafin gue, Kai."
'Drrttt!'
Sebuah pesan masuk membuat ponselnya bergetar.
Kana tersenyum. Ia pikir, yang mengirimkan pesan tersebut adalah Kaila. Namun detik setelahnya, senyumnya memudar.
"Gak mungkin Kaila. Lagipula dari mana dia dapat nomor baru gue," ucap Kana seraya menggeser layar untuk membuka pesan yang masuk padanya.
Tertanya Mamanya-lah yang mengirimkan pesan.
Mama ♥ : Mama udah telpon temen Mama. Namanya Om Andreas, beliau yang akan bantu kamu buat cari apartemen. Sebentar lagi dia bakal nemuin kamu di Bandara kok. Kamu tunggu aja, jangan kemana-mana. Oke?
Kana menghela napas gusar. Rasanya malas sekali untuknya membalas pesan Mamanya tersebut.
Kana sudah tahu alasan orangtuanya menyuruhkan pergi kesini. Dan ia rasa, semua nampak berlebihan. Tidak seharusnya kedua orangtuanya memisahkan mereka dengan alasan konyol yang bahkan Kana rasapun, hal tersebut tak perlu diingat kembali.
Semuanya adalah masa lalu. Dan sekarang, saatnya kita untuk melihat masa depan.
Tetapi, sepertinya hal tersebut dan berlaku untuk orangtuanya.
Kana mengacak rambutnya frustasi dan melanjutkan langkahnya.
"Excuse me," ucap seseorang membuat Kana menoleh.
"Who?" tanyanya.
"Kana, 'kan?" Laki-laki itu menaikkan kedua alisnya di sertai senyum lebar seraya menunjukkan Kana.
Kana mengangguk ragu.
Laki-laki itu tersenyum dan merangkul tubuh Kana. "Akhirnya kamu sampai disini juga," ucap laki-laki itu lalu melepas rangkulannya. "Kenalin, nama Om, Andreas. Pasti Mama kamu udah cerita 'kan soal Om?"
Kana mengangguk. "Udah, Om."
"Bagus, kalau gitu, ayo ikut Om. Om bakal anterin kamu buat cari apartemen yang sesuai keinginan kamu. Kamu mau yang seperti apa?"
Kana diam membuat Andreas bingung dan menaikkan kedua alisnya.
Kana menggigit bibir bawahnya, lalu menghidupkan ponsel. Memandang foto gadis cantik yang ia gunakan sebagai wallpaper.
"Kana? Are you okay?"
"Om."
"Iya?" Andreas kembali menaikkan kedua alisnya.
"Kana minta maaf, tapi Kana harus kembali ke Indonesia sekarang," ucapnya dan berjalan pergi.
"Tapi Kana, kamu baru aja sampai di sini!" teriak Andreas memandang tubuh Kana yang berjalan menjauh darinya. "Kana! Kalau Mama kamu nelpon, Om harus jawab apa? Kana!"
-o0o-
Terhitung, Dua hari penuh Kana menghabiskan waktu di perjalanan. Meskipun lelah, baginya tak masalah. Sebab, yang saat ini ia pikirkan adalah Kaila. Ia harus menemui gadis itu dan melanjutkan hidupnya di Indonesia. Tentunya bersama Kaila.
Kana sampai di Bandara Soekarno Hatta tepat pada pukul 18.00 WIB. Laki-laki itu memesan dua taksi. Satu taksi untuk mengantarkan barang-barangnya ke rumah, dan Satu taksi untuk membawanya menuju rumah Kaila.
"Sudah sampai, Mas," ucap supir taksi yang membawanya ke rumah Kaila.
Kana mengangguk seraya mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya untuk membayar.
Ia memandang rumah yang berada di hadapannya. Rumah itu terlihat sepi.
__ADS_1
"Apa Kaila gak di rumah?" ucapnya yang menyadari kamar Kaila terlihat gelap. Tidak ada lampu yang menyinari.
Detik setelahnya, Kana teringat sesuatu dan refleks memukul dahinya. "Hari ini 'kan acara promnight!" ucapnya.
Kana menoleh ke jalan dan melihat sebuah taksi melintas. Ia segera menghentikan taksi itu dan naik.
Tujuan Kana kali ini adalah sekolahnya.
Butuh waktu Tiga puluh menit bagi Kana sampai di sana. Namun, sesampainya disana, bukannya masuk, Kana malah memandang ruangan besar yang kini menjadi tempat berlangsungnya acara.
"Gue harus temui Kaila," ucapnya mengangguk mantap.
Belum sempat Kana melangkah, ia melihat seorang gadis berlari dari ruangan tersebut. Kana jelas tahu itu siapa.
Ya, itu adalah Kaila.
Kana tersenyum lebar. Akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan gadis yang ia cintai.
"Kaila!" teriaknya.
Namun sepertinya Kaila tak mendengar. Gadis itu melangkah menuju tangga.
"Dia mau kemana?" ucap Kana penuh tanya.
Dengan rasa penasaran yang kuat, Kana mengikuti langkah Kaila hingga sampai di rooftop. Rooftop ini benar-benar sepi. Hanya ada Kaila dan dirinya.
Kana memandang tubuh gadis yang kini berada di depannya. Gadis itu terlihat tengah menangis.
"Gue gak tahu apa-apa, gue gak tahu semuanya jadi gini karena gue!" teriak Kaila menutup kedua wajahnya dan menangis.
Kana menggelengkan kepalanya. Ia tak mengerti dengan maksud ucapan Kaila. Ada apa dengan gadis itu?
Ia melangkah mendekat. Berharap, Kaila akan senang melihatnya kembali.
"Gue mau sendiri! Tolong pergi dari sini!" teriak Kaila.
Kana menggeleng. Ia tak mau meninggalkan gadis itu sendiri.
"Ji, gue tahu ini lo. Please, biarin gue sendiri!"
Aji?
Kana menghela napas dan menggeleng. "Gue gak mungkin biarin lo sendiri, Kai."
Kaila menoleh dan menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Kana?"
Kana mengangguk dan langsung memeluk gadis itu. "Maafin gue, Kai."
Kaila tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia menangis sekuat-kuatnya dalam pelukan Kana. "Gue gak mau jauh dari lo, Kan."
"Maafin gue Kai udah bikin lo sedih." Kana mengusap pucuk kepala Kaila. "Gue janji, gue gak akan ninggalin lo lagi."
"Lo gak akan pergi lagi 'kan?"
"Enggak, gue janji!"
Kaila melepas tubuhnya dari pelukan Kana, lalu mengusap air matanya.
"Lo kenapa, Kai? Lo kenapa tadi nangis disini?" tanya Kana penasaran.
Kaila tersenyum dan menggeleng. "Gak papa. Karena lo udah ada disini, semuanya udah baik-baik aja kok."
"Lo yakin?"
Kaila mengangguk. Ia memandang wajah Kana dengan seksama. "Jadi lo beneran pergi ke Kanada?"
Kana mengangguk membenarkan.
"Tapi kenapa sekarang lo ada disini?"
Kana menunduk. "Gue gak bisa jauh dari lo, Kai. Gue kepikiran lo terus."
"Gue juga, Kan. Dua hari gak ada kabar dari lo, gue ngerasa kesepian."
Kana melebarkan mata. "Lo serius kesepian gak ada gue?"
Kaila mengangguk dengan wajah sembab. "Gue cinta sama lo, Kan. Gue sayang sama lo."
__ADS_1
Kana menggelengkan kepala mendengar kalimat yang keluar dari bibir Kaila. "Fix, lo harus jadi pacar gue sekarang!"
Kaila melebarkan mata mendengarnya.
"Lo harus jadi pacar gue Kai," ucap Kana sekali lagi.
"Kok lo maksa?"
Kana diam. "L-lo gak mau?"
"Ya mau-lah! Ya kali, enggak!"
Kana tersenyum. "Gitu dong, ngegas," ucap Kana dan kembali memeluk Kaila erat.
"Jangan tinggalin gue ya, Kan?"
"Enggak Kaila. Gue gak akan ninggalin Kaila lagi. Ninggalin Dua hari aja, rasanya kaya bertahun-tahun."
Kaila mengangguk. "Bahkan, gak dapet kabar dari Kana Dua hari aja pun, rasanya hampa banget."
Kana terkekeh. "Kenapa kita baru jadian sekarang sih, Kai?"
Kaila menghela napas dan melepas pelukan Kana. "Kenapa lo baru nembak sekarang?"
"Ya— gue ragu aja, mau nembak lo. Gue pikir, lo gak cinta sama gue. Apalagi, selama ini saingan gue banyak."
"Jadi lo gak yakin?"
Kana tersenyum. "Ya kalau sekarang yakin. Malah yakin banget!"
Kaila terkekeh mendengar jawaban Kana.
"Tipe pacar idaman lo sebenarnya seperti apa sih, Kai?" tanya Kana seraya memandang bintang di langit.
"Tipe pacar idaman gue? Ya kaya lo, Kan."
Kana melebarkan mata. "Kaya gue?"
Kaila mengangguk.
Kana mengulum senyumnya malu.
"Kenapa? Lo keliatan seneng banget."
"Gue seneng kalau tipe idaman lo seperti gue. Jadi gue gak perlu jadi orang lain untuk buat lo bahagia."
Kaila tersenyum. "Jangan pernah jadi orang lain, Kan. Tetep jadi diri lo sendiri aja. Dan jangan berubah."
Kana mengangguk. "Siap, Kai."
Kaila tersenyum. "Oh ya, lo udah buka hasil SNMPTN?"
"SNMPTN? Hari ini ya pengumumannya?"
Kaila mengangguk. "Ayo buka! Gue penasaran."
"Lo keterima?" tanya Kana.
Kaila mengangguk dengan senyuman. "Atas do'a lo juga, gue keterima di Jogja."
Kana tersenyum lebar. "Kalau gitu gue buka dulu punya gue."
Kana meraih ponselnya dan membuka link SNMPTN untuk melihat hasil miliknya.
Selama garis 'loading' berjalan, Kaila terlihat penasaran dan terus memandang layar persegi yang berada di tangan Kana.
Detik setelahnya, warna hijau ikut muncul dalam hasil SNMPTN Kana.
"Lo di terima, Kan!" teriak Kaila.
Kana mengangguk. Ia menggeser layarnya dan membaca dengan seksama. Senyumnya melebar dengan sempurna. "Kita satu jurusan, Kai!" teriaknya.
"Jadi kita bisa bareng-bareng?" ucap Kaila.
"Tentu!" jawabnya dan langsung memeluk tubuh Kaila dengan bahagianya.
Kaila tersenyum. Rasanya nyaman sekali berada dalam pelukan Kana, dan menerima kabar bahagia.
-o0o-
__ADS_1