
Part 11
"Kaila, Kaila, lo sadar gak sih suara lo kedengeran sampai perpustakaan tahu gak?"
Kaila melebarkan mata. "Seriusan?"
Elsa mengangguk.
Kaila memegang wajahnya. "Gue malu banget, El."
Elsa memutar bola matanya. "Lagian lo juga sih. Terkenal pendiem, tapi sekali teriak dah kaya toak masjid."
Kaila terkekeh. "Abisnya Kana ngeselin banget, El. Gue 'kan gak suka sama dia, tapi dia kepedean gitu."
Elsa tertawa. "Namanya juga Kana. Dingin-dingin gitu anaknya kepedean abis loh. Tapi mau gimana pun, hampir semua cewek disini suka sama dia."
"Tuh 'kan! Gue gak mau di sangka suka sama dia juga," ucap Kaila ingin menangis.
"Lah, lo 'kan emang suka sama Kana?" ucap Elsa.
Kaila menggeleng. "Gue gak suka lagi."
Elsa melebarkan mata dan menatap Kaila serius. "Jangan bilang lo suka sama Aji?"
"Hmm?" Wajah Kaila memerah.
Elsa menggeleng. "Kai, jangan bilang lo suka sama Aji? Iya?" tanya Elsa menginterogasi Kaila.
Kaila menggeleng dengan wajah yang merah padam. "Enggak, gue gak suka."
Elsa berdecak. "Gak usah bohong Kai, lo suka 'kan sama Aji?"
Kaila menghela napas. "Gue gak yakin sih soal ini. Cuma—"
"Cuma apa?" Elsa menaikkan kedua alisnya.
"Gue semakin penasaran sama Aji."
Elsa menepuk jidatnya. "Tuh 'kan! Lo suka sama dia."
Kaila mengerucutkan bibirnya.
"Waktu itu lo muji-muji Aji di depan gue, ya gue jadi penasaranlah," ucap Kaila pada akhirnya.
"Ya tapi—"
Kaila berdecak. "Gue gak yakin sih sama perasaan gue ini. Cuma entah kenapa setiap gue deket Aji, gue ngerasa nyaman. Berbanding terbalik kalau gue deket Kana, malah rasanya pengen emosi mulu."
Elsa menghela napas. "Jelas lo nyaman sama Aji, karena Aji emang anaknya dewasa banget. Cuma lo harus inget Kai, Aji itu sukanya sama Adinda."
"Tapi Adinda sukanya sama Kana 'kan?" potong Kaila membuat Elsa diam. "Tuh 'kan, lo gak bisa jawab."
Elsa berdecak. "Mending lo jangan penasaran lagi deh sama Aji. Please banget ini Kai," pinta Elsa. "Bukan apa, gue gak mau nantinya lo sakit hati doang kalau lo suka sama Aji. Aji itu cinta mati sama Adinda."
"Dan Adinda cinta mati sama Kana." Kaila mengangkat kedua tangannya. "Dahlah, yang paling bagus itu emang jomblo."
"Kaila!" ucap Elsa membuat Kaila tersentak. "Kenapa lo gak pacaran aja sama Bima?"
Kaila melebarkan mata. "Gue? Pacaran sama bocah sinting kaya dia? Wah, lo becanda El?"
Elsa menggeleng. "Enggak, gue gak becanda. Seriusan! Meskipun Bima otaknya sedikit berkurang, anak itu gokil abis Kai. Gue yakin lo bakal ngakak terus kalau pacaran sama dia."
"Lo nyuruh gue pacaran atau nonton acara lawak?" tanya Kaila membuat Elsa tertawa akhirnya.
__ADS_1
"Ya gak gitu. Maksud gue tuh gini, lo 'kan anaknya agak-agak flat gitu ya. Agak loh ini, bukan flat. Nah, jadi gue rasa lo cocok aja gitu kalau sama Bima. Supaya hidup lo lebih berwarna."
Kaila menggeleng. "Please deh El, gak usah ngada-ngada. Ya kali gue pacaran sama dia."
Elsa menghela napas dan berjalan menuju jendela. "Sini geh Kai!" panggilnya membuat Kaila bangkit dari duduknya dan menghampiri Elsa. "Lo lihat," Elsa menunjuk seseorang yang tengah memegang bola di lapangan.
"Bima?"
Elsa menangguk. "Lo lihat, Bima itu ganteng, tinggi, putih, ya cuma— agak miring aja anaknya. Tapi lo tahu gak sih Kai?"
"Apa?" Kaila menaikkan kedua alisnya.
"Bima itu mantan pacar Adinda."
Kaila melebarkan mata. "Adinda lagi?"
Elsa mengangguk.
"Kenapa sih semua cowok ganteng di SMA ini berurusan sama Adinda?" tanya Kaila tak mengerti.
Elsa mengedikan bahunya. "Namanya juga cewek populer, pasti berurusannya sama cowok populer."
Kaila berdecak dan kembali duduk di kursinya.
Melihat Kaila duduk, Elsa pun mengikuti sahabatnya tersebut. "Jadi gimana? Cowok mana yang mau lo pilih? Bima atau Kana?"
"Aji gimana?" tanya Kaila.
Elsa berdecak. "Jangan Kaila. Aji itu sulit."
"Tapi Aji yang bikin gue melting, El."
"Sebelumnya Kana?" tanya Elsa yang sudah tahu jika sebelumnya Kaila menyukai Kana.
"Gue yakin cinta itu bakal balik—"
"GAK AKAN!"
Elsa menghela napas dan akhirnya tertawa melihat sahabatnya yang kesal jika membahas Kana.
-o0o-
Jam istirahat sudah di mulai sejak Lima menit yang lalu, dan siang ini Kaila terlihat duduk di mejanya seraya menyantap makanan yang ia bawa dari rumah.
Saat ini ia di kelas sendiri. Elsa dan teman sekelas lainnya memutuskan untuk ke kantin ataupun ke tempat lain yang jauh dari papan tulis dan segala hal yang memuakkan— bagi mereka.
Kaila meraih telur gulung yang ia buat menggunakan sumpit.
Ini adalah menu yang sama yang ia berikan pada Kana. Jadi, dapat di bilang menu makanan Kana dan Kaila hari ini sama— yaitu telur gulung dan ayam suir.
Nyam!
Mulut Kaila mengunyah telur gulung. Namun—
"Asin!" teriaknya yang menyadari jika telur gulung buatannya begitu asin.
'Ceklek!'
Kaila menoleh saat pintu terbuka dan menampilkan Kana di sana tengah menatapnya. Laki-laki itu berjalan menghampiri Kaila dengan membawa kotak makan yang pagi tadi Kaila berikan.
"Jadi lo pakai kotak makan yang sama kaya gue?" tanya Kana yang menyadari jika kotak makan keduanya sama, hanya berbeda warna.
Kaila mengangguk. "Lo ngapain kesini?" tanyanya.
__ADS_1
"Mau makan bareng lo."
Kaila terbatuk mendengar jawaban Kana.
"Ya, gue khawatir aja lo ngeracunin gue. Makanya gue kesini untuk memastikan bahwa menu gue sama kaya menu lo," ucap Aji seraya melirik makanan yang Kaila makan.
"Jadi itu belum lo makan?" tanya Kaila.
Kana menggeleng.
Kaila bernapas lega. Untung saja laki-laki itu belum menyantap telur gulungnya yang begitu asin.
Kana duduk di depan Kaila dan ikut membuka kotak makannya.
Mata Kaila melirik ke arah kotak makan itu dan melihat telur gulung buatannya masih utuh di sana.
"Wah, telur gulung!" pekik Kana yang sepertinya sangat menyukai menu makanan itu.
Dengan wajah sumringah, Kana meraih sumpit yang Kaila bawakan dan hendak mengambil telur gulung itu.
Namun, belum sempat sumpitnya menyentuh— telur gulung itu telah raib di ambil oleh Kaila.
"Kok lo ambil sih?" ucapnya yang melihat Kaila memakan jatah telur gulungnya.
"Gue suka," ucap Kaila seraya mengunyah telur gulung itu dalam mulutnya.
Kana berdecak. "Pantes aja gak ada yang mau makan bareng lo, lo aja rakus anaknya."
"Ih, enak aja!"
"Memang 'kan?" Kana menaikkan kedua alisnya.
"Ya gue gak rakus!" ucap Kaila kesal.
"Terus kalau gak rakus apa namanya? Maruk?"
Kaila melebarkan mata dan memukul Kana dengan kesalnya.
"Aw! Ampun! Sakit tahu gak!"
"Makanya gak usah ngatain gue kaya gitu!"
"Ya memang lo kaya gitu!"
"Kana!"
"Kaila!"
Kaila berdecak dan bangkit dari duduknya. "Gue kesel sama lo!" ucap Kaila dan berjalan pergi.
"Gue suka sama lo," lirih Kana seraya memandang tubuh gadis yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Kana menghela napas dan menggelengkan kepala mengingat Kaila tadi. Gadis itu begitu lucu saat marah. Wajah mungilnya sangat menggemaskan bagi Kana.
"Kenapa gue jadi suka sama lo sih?"
Kana meraih kotak makan tadi dan hendak kembali ke kelasnya. Namun saat ia lihat, ternyata masih ada satu telur gulung di kotak makan Kaila.
"Ini dia ada, ngapain ngambil punya gue?"
Kana meraih telur gulung itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
Beberapa detik kemudian— "Asin!"
__ADS_1
-o0o-