
Part 36
Kaila membulatkan bibirnya takjub saat keduanya sampai di sebuah rumah besar nan megah.
Sebenarnya Kaila tak heran jika Bima memiliki rumah semegah ini. Sebab, dari cerita yang ia dengar, Ayah Bima adalah CEO dari perusahaan ternama di ASIA sekaligus penyumbang terbesar setiap sekolahnya mengadakan sebuah acara.
Ya, meskipun ia sendiri belum pernah bertemu atau melihat wajah Ayah Bima. Wajar saja, Kaila adalah murid baru di sekolahnya saat ini. Jadi tak banyak yang ia tahu tentang hal tersebut.
"Ayo masuk!" seru Bima.
Kaila mengangguk dan mengikuti langkah laki-laki itu.
"Jam segini rumah gue memang sepi, Kai. Kayanya Kiara juga belum pulang deh. Gue panggil nyokap gue dulu ya?" ujar Bima.
"Iya Bim," jawabnya dan membiarkan Bima meninggalkannya sendiri di ruang tamu.
Kaila mengedarkan pandangannya. Matanya tak henti mengitari setiap sudut ruangan tersebut. Hingga ia berhenti di sebuah foto besar yang terpasang di sana.
Kaila mengerutkan dahinya. Ia berjalan mendekat ke arah foto itu dan memandang dengan seksama.
Itu adalah sebuah foto keluarga. Disana terdapat Bima, Kiara, dan Dua orang dewasa yang adalah orangtua Bima dan Kiara.
"Gak mungkin!" Kaila menggelengkan kepala dan mundur beberapa langkah. Kepalanya terasa pusing. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Gak mungkin."
"Kaila!"
Kaila menoleh.
Bima tersenyum dan berjalan menghampiri gadis itu dengan seorang wanita. "Kaila, kenalin, ini—"
"Mama?" Kaila menatap wanita di samping Bima dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia tak percaya wanita yang ia cari-cari selama ini telah berada di hadapannya.
Bima melebarkan mata. "Mama?" tanya Bima tak mengerti.
Nabila menitihkan air matanya melihat putrinya sudah berada disini. Ia berjalan menghampiri Kaila dan memeluk putrinya tersebut.
Kaila menangis. Ia begitu rindu dengan Nabila.
"Maafin Mama, nak." Nabila memeluk Kaila dan mengusap lembut rambut putrinya. Air matanya tak kalah deras. Ia juga rindu dengan putrinya, sangat rindu.
Nabila melepas pelukannya dan menatap wajah Kaila. "Kamu apa kabar?"
Kaila mengangguk. "Kaila baik, Ma. Mama kenapa ningalin Kaila?" tanyanya dengan dada yang terasa begitu sesak.
Nabila menatap Kaila dan mengusap air mata di wajah putrinya tersebut. "Maafin Mama, nak. Maafin Mama udah ninggalin kamu. Mama minta maaf, sayang."
Kaila menangis tersedu-sedu. Dadanya begitu sesak. "Kenapa selama ini Mama gak pernah cari Kaila?"
Nabila menatap mata putrinya. "Mama udah cari kamu, nak. Tapi Mama belum bisa munculin wajah Mama di hadapan kamu. Mama malu sama kamu."
"Kaila kangen sama Mama."
Nabila menangis. Ia kembali menitihkan air mata dan kembali memeluk putrinya. "Mama juga kangen kamu, nak. Kangen banget."
Kaila mengangguk seraya menggigit bibir bawahnya untuk menahan air matanya tak kembali jatuh.
"Kaila, Mama minta maaf." Nabila benar-benar merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan pada putrinya.
"Kiara mana, Ma? Kiara adik Kaila, anak Papa."
__ADS_1
"Kiara adik kamu—" Nabila menunduk. Lututnya terasa begitu lemas dan terjatuh pingsan.
"Mama!" teriak Bima dan langsung menghampiri wanita itu.
"Bim, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kaila tak mengerti.
Bima menggigit bibir bawahnya. "Kita bawa Mama ke kamar dulu aja." Bima mengangkat tubuh Nabila dan membawa wanita itu ke dalam kamar.
Kaila mengikuti langkah Bima. Ia terlihat panik. Sebenarnya apa yang terjadi hingga Nabila pingsan?
"Ma, bangun Ma." Bima mendekatkan minyak kayu putih pada hidung Nabila.
Kaila bersandar di ujung pintu. Ia memandang dua orang di hadapannya. Ia terlihat tak berdaya kali ini. Ia merasa tak berdaya melihat Bima begitu panik karena Nabila pingsan.
"Ma, bangun Ma," lirih Bima kembali.
Tak lama, Nabila membuka matanya. Kepalanya terasa begitu berat. Ia memegang kepalanya dan mencoba bangun.
"Mama tiduran aja," ujar Bima.
"Kaila mana?" tanya wanita itu.
Bima menoleh ke arah pintu membuat Nabila ikut menoleh.
Senyum wanita itu mengembang saat melihat putrinya masih disini. "Kaila."
Kaila tersenyum. Ia berjalan mendekat dan kembali memeluk Mamanya. "Mama."
Nabila mengusap lembut pucuk kepala Kaila. "Mama sayang banget sama kamu, nak. Maafin Mama udah ninggalin kamu."
Kaila mengangguk. "Iya, Ma. Kaila gak papa."
"Ma, apa yang sebenarnya terjadi? Kiara kemana, Ma? Kiara Zeline Kirana."
"Adik kamu—" Nabila menghentikan ucapannya dan menatap mata Kaila.
"Kiara kenapa, Ma? Kiara dimana?"
"Adik kamu—"
'Bim! Bim!'
Terdengar suara klakson mobil.
Nabila melebarkan mata. "Itu Papa kamu," ucap Nabila pada Bima.
Bima mengangguk. "Memang kenapa, Ma?"
"Cepat sembunyiin Kaila. Jangan sampai Papa kamu tahu!" ucap Nabila panik.
"Memang kenapa, Ma?" tanya Bima penasaran.
"CEPAT!" pekik Nabila membuat Bima panik dan menarik tangan Kaila untuk pergi.
Kaila terlihat gugub. Ia tahu alasan Mamanya memintanya bersembunyi.
Bima membawa Kaila ke sebuah kamar dan segera mengunci kamar itu. Ia menoleh pada Kaila. "Lo disini dulu gak papa 'kan?"
Kaila mengangguk.
Bima bernapas lega dan menyandarkan tubuhnya di balik pintu. "Sebenarnya ada apa Kai? Kenapa Mama nyuruh lo sembunyi?" tanya Bima tak mengerti.
__ADS_1
Kaila menunduk. Ia menoleh ke kasur di depannya dan mendudukkan diri di sana. Kakinya terasa begitu lemas mengingat apa yang sudah terjadi padanya dan Ayahnya Bima.
"Kenapa Kai?"
Kaila menautkan jarinya dan menunduk. "Papa lo yang udah nyulik gue, Bim."
Bima melebarkan mata. Rahangnya mengeras. "Papa gue yang udah nyulik lo?"
Kaila mengangguk.
Bima menggelengkan kepala. Ia mengepalkan kedua tangannya. "Kurang ajar!"
"Bim, tahan emosi lo," pinta Kaila.
"Tapi dia udah kurang aja sama lo, Kai!" ucap Bima dengan napas memburu. "Jadi dia juga yang bikin wajah lo babak belur? Dia juga yang udah jambak rambut lo?"
Kaila menunduk. Ia tak berani mengatakannya.
Bima menghampiri Kaila dan berjongkok di hadapannya. Ia mengangkat dagu Kaila dan menatap wajah gadis itu. "Kenapa harus lo, Kai?"
Kaila diam dan memberanikan diri menatap mata Bima. Ia melihat ada luka di wajah Bima.
"Kenapa harus lo?"
Kaila menggeleng tak tahu.
Dada Bima terasa sesak. Matanya memerah. Ia menarik Kaila ke dalam pelukannya.
Kaila tak menolak. Gadis itu menangis dalam pelukan Bima.
"Kenapa harus lo sih Kai? Kenapa harus lo adik tiri gue? Kenapa lo harus tersiksa karena bokap gue?" Bima mengatakan itu dengan menangis.
Mendengar suara parau Bima, hati Kaila ikut sakit. Ia melepas pelukan Bima dan menyeka air mata di wajah Bima.
"Gue gak papa, Bim."
Bima menggeleng. "Gue terluka lihat lo, Kai. Gue gak bisa diem aja lihat orang yang gue sayang di sakitin sama bokap gue sendiri!"
Kaila menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Gue sayang sama lo, Kai. Gue cinta sama lo. Gue gak pernah main-main sama perasaan gue. Dan gue gak akan diem aja lihat orang yang gue cinta dan gue sayang terluka!"
"Lo Kakak gue, Bim."
"Enggak, Kai!" pekik Bima. "Gue gak mau jadi Kakak lo. Gue gak mau lo jadi adik gue. Lo bukan adik gue, Kai. Lo bukan adik gue." Bima mengusap wajahnya frustasi. Ia meraih tangan Kaila dan menggenggamnya. "Gue mau lo jadi istri gue nanti, Kai. Bukan adik gue."
Kaila menggeleng. Ia menunduk dan kembali menangis. "Lo kakak gue, Bim. Kita punya adik yang sedarah sama kita."
Bima memejamkan mata dan kembali mengacak rambutnya frustasi.
'Tok! Tok! Tok! Tok!'
"BIMA! BUKA PINTUNYA!"
Kaila melebarkan mata. Begitupun dengan Bima.
"Itu Papa."
"BIMA! BUKA PINTUNYA! PAPA TAHU KAMU DI DALAM SAMA SIAPA!"
-o0o-
__ADS_1