
Part 13
"Badannya panas."
Suara khawatir itu menggema membuat beberapa anggota keluarga merasa khawatir.
"Keiza udah suruh dia makan dan udah coba kasih paracetamol buat nurunin panasnya."
"Tapi demamnya gak bahaya 'kan?" tanya ayahnya.
Keiza menggeleng tak tahu. "Semoga aja panas Kaila cepet turun, Pa." Keiza menoleh pada jam yang melingkar di tangannya. "Pa, Keiza harus ke rumah sakit sekarang. Ada pertemuan antara ketua direktur sama semua dokter yang kerja disana."
Ayahnya mengangguk. "Yaudah kamu berangkat aja, sekalian anterin Kiara ke sekolah ya? Kamu 'kan searah. Untuk Kaila, biar Papa dirumah aja. Papa gak kerja hari ini."
"Gak papa, Pa?" tanya Keiza kembali.
Ayahnya mengangguk.
Keiza tersenyum dan meraih jas dokter beserta tasnya. "Kalau gitu Keiza berangkat dulu ya, Pa? Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
-o0o-
Kana menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Kaila. Laki-laki itu turun dari mobil dan mencoba membuka gerbang.
Namun, belum sempat ia membuka, gerbang sudah di buka terlebih dahulu oleh Keiza.
"Kana?" ucap Keiza yang melihat Kana pagi-pagi sudah di depan rumahnya.
Kana menyunggingkan senyumnya. "Halo, Kak. Kaila ada?"
Keiza mengangguk. "Kaila ada. Tapi dia lagi demam sekarang."
"Kaila demam?" Kana menaikkan kedua alisnya. Laki-laki itu terlihat begitu panik.
Keiza mengangguk. "Kayanya dia kecapean karena acara kemarin." Keiza menghela napas. "Kak Kei gak bisa jagain Kaila, Kan. Kak Kei harus ke rumah sakit sekarang."
Kana mengangguk mengerti. "Gak papa, Kak. Biar Kana aja. Kana gak ada jadwal ke klinik kok hari ini."
Keiza tersenyum. "Gak papa, Kan?"
Kana mengangguk dengan senyuman. "Gak papa kok, Kak."
"Yaudah, makasih banyak ya, Kan? Oh ya, tadi Kak Kei udah coba kasih Kaila paracetamol. Nanti kamu cek suhu dia lagi ya. Untuk obat-obatan lain ada di kamar depan. Itu kamar buat naruh barang-barang sama obat-obatan. Kamu ambil disana aja kalau mau cari obat," ujar Keiza.
Kana mengangguk. "Siap, Kak."
Keiza tersenyum dan pergi menuju mobilnya.
Sementara itu, Kana kembali menuju mobilnya dan memasukkan ke dalam garasi rumah tersebut.
Setelah Keiza pergi bersama dengan Kiara, Kana pun kembali menutup gerbang dan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum."
Suara Kana menggema membuat Sang pemilik rumah pun keluar.
"Waalaikumsalam. Kana?" ucap Ayah Kaila.
Kana tersenyum dan mendekat, menjabat tangan itu dan memberikan rasa hormat.
"Kamu sama siapa?" tanya Ayah Kaila dengan ramahnya.
"Sendiri, Pa. Kaila lagi sakit ya?" tanyanya.
Laki-laki paruh baya itu mengangguk. "Badan dia panas. Kayanya dia kecapean. Kamu mau temuin dia?"
Kana mengangguk.
"Yaudah ayo?" ucapnya dan mengajak Kana memasuki kamar bernuansa cokelat muda tersebut.
Kamar itu adalah kamar yang sudah ayahnya siapkan untuknya. Bahkan saat Kaila masih tinggal di Jerman.
"Kamu masuk aja ya. Papa mau bikin minum buat kamu."
Kana menahan tangan laki-laki itu. "Gak usah, Pa."
"Yang bener?"
Kana mengangguk, lalu menoleh pada jam dinding yang berada di dinding.
"Pa."
"Iya?" Ayah Kaila menoleh.
"Papa gak berangkat ke kantor?" tanya Kana.
Laki-laki itu terdiam. "Sebenarnya pagi ini ada acara penting di kantor."
__ADS_1
"Yaudah Pa, kalau gitu Papa berangkat ke kantor aja. Biar Kana yang jagain Kaila. Kana akan jadi dokter buat Kaila."
Ayah Kaila tersenyum dan menyentuh pundak Kana. "Gak papa?"
Kana mengangguk mantap. "Kana akan menjadi pacar dan dokter yang baik. Kana bakal ngerawat Kaila sampai sembuh!"
Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk. "Makasih ya?"
Kana tersenyum. "Sama-sama, Pa. Kalau gitu Papa siap-siap ke kantor aja."
Ayah Kaila mengangguk dan berjalan pergi menuju kamarnya.
Kana tersenyum, lalu menoleh pada perempuan yang saat ini tengah terbaring dengan selimut yang menutupinya. Perempuan itu sedang tertidur. Sepertinya karena demam yang menyerang tubuhnya.
Kana berjalan pelan. Menatap wajah perempuan itu dengan tatapan tak tega. Ia meletakkan tangannya di dahi Kaila beberapa saat.
"Panasnya belum turun."
-o0o-
Keiza berjalan sedikit berlari. Matanya sesekali menoleh pada jam di tangannya.
"Aduh, kayanya telat."
'Brugh!'
"Aduh, maaf!" ucap Keiza lalu membantu laki-laki yang tak sengaja ia tabrak.
"Keiza?"
Keiza menaikkan kedua alisnya, lalu menatap jeli wajahnya lelaki itu. "Aji?"
Aji tertawa. "Ini kedua kalinya loh kita tabrakan."
Keiza terkekeh malu. "Iya. Dan lagi-lagi aku yang nabrak."
Aji tersenyum lebar. "Tapi gak papa. Aku seneng kok."
"Hmm?" Keiza menaikkan kedua alisnya seperti orang bingung.
Aji tertawa. "Enggak! Enggak! Bercanda."
Keiza tersenyum malu dan mengangguk.
"Bye the way, kamu ngapain disini?" tanya Aji.
Aji mengangguk membenarkan.
"Kerja," jawab Keiza. "Aku kerja disini."
"Kamu kerja disini?" tanya Aji.
Keiza mengangguk membenarkan. "Kamu sendiri? Ngapain disini? Mau ketemu seseorang?"
Aji terkekeh dan menggeleng. "Aku kerja juga disini."
Keiza melebarkan matanya. "Kamu kerja disini?"
Aji mengangguk. "Iya, seperti yang kamu lihat," ucap Aji seraya menujukkan kartu identitasnya.
Keiza menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. "Tapi kenapa aku baru liat kamu sekarang ya?"
Aji terkekeh. "Aku memang jarang masuk. Mungkin seminggu bisa Cuma sekali."
Keiza melebarkan mata. "Seminggu sekali?"
Aji mengangguk.
Keiza terdiam. "Apa Aji udah spesialis?" pikirnya karena tahu Aji hanya seminggu sekali disini.
"Aku masih dokter umum kok. Ya, memang aku bisa dibilang semau-mau," ucap Aji yang seolah-olah bisa membaca pikiran Keiza.
Keiza menaikkan kedua alisnya. "Kamu gak takut dipecat?"
"Di pecat?" tanya Aji.
Keiza mengangguk.
Aji terdiam beberapa saat. Sial, Keiza tidak tahu jika Aji adalah cucu dari ketua direktur rumah sakit ini. Ya, meskipun Aji adalah cucu dari ketua direktur, tak seharusnya Aji semau-mau seperti ini.
"Kok kamu diem?" tanya Keiza. Namun, beberapa saat Keiza teringat sesuatu. "Astaga!"
"Kenapa?" tanya Aji bingung.
"Kita cepet ke aula. Acara pasti udah dimulai," ucap Keiza.
Aji mengangguk. "Ayo!"
Keduanya pun berlari bersama. Keiza terlihat begitu takut, sedangkan Aji, laki-laki itu bahkan seperti kurang berniat untuk berjalan.
__ADS_1
"Ayo, Aji!"
Aji mengangguk dan tersenyum. Lalu mengimbangi langkah Keiza untuk berlari.
-o0o-
Dilain tempat, Kana terlihat sedih.
Laki-laki itu memandang Kaila dengan raut wajah sedihnya. Ia benar-benar tak tega melihat kekasihnya terbaring sakit seperti ini.
Kana menghela napas dan menyandarkan kepalanya di lengan Kaila. "Cepet sembuh, La."
Tangan Kaila bergerak, sontak membuat Kana terkejut dan membenarkan posisi duduknya.
"Nana?" ucap Kaila yang menyadari kekasihnya berada disini.
Kana tersenyum dan membantu Kaila untuk memperbaiki posisinya setengah dudu k. "Pelan, pelan."
"Kamu kok ada disini?" tanya Kaila bingung.
Kana tersenyum dan duduk di hadapan Kaila. Meraih tangan perempuan itu dan menggenggamnya. "Aku kesini buat jagain kamu."
Kaila tersenyum. "Papa sama Kak Kei udah berangkat kerja?"
Kana mengangguk. "Kak Kei udah berangkat dari tadi. Papa juga. Terus kalau Kiara tadi berangkat bareng Kak Kei."
Kaila membulatkan bibirnya. "Kamu udah dari tadi disini?"
Kana mengangguk. "Aku bahkan sampai ketiduran."
Kaila tertawa kecil. "Maafin ya? Karena aku sakit, kamu jadi ada disini."
Kana terkekeh. "Karena kamu sakit, makanya aku harus ada disini, Lala. Jagain kamu dan ngerawat kamu. Aku tadi udah cek suhu tubuh kamu, untunglah panas kamu udah turun. Sekarang gimana, badannya udah enakan? Masih pusing?"
Kaila mengangguk. "Rasanya masih pusing."
"Selain pusing, apalagi yang dirasain?" tanya Kana dengan seksama.
Kaila tersenyum. "Laper."
Kana terkekeh, lalu bangkit dari duduknya. Laki-laki itu berjalan menuju meja dan mengambil piring yang sudah ia siapkan. "Tadi pas kamu masih tidur, aku pesen bubur ayam."
Kaila menyunggingkan senyumnya. "Kamu pesen ini buat aku?"
"Yaiyalah! Masa iya aku pesen buat tetangga kamu," ucap Kana terkekeh.
"Makasih ya, Na."
Kana menggeleng. "Jangan bilang makasih. Ini udah kewajiban aku sebagai pacar kamu buat ngerawat kamu."
Kaila menyunggingkan senyumnya. Wanita itu begitu bahagia mendengar kalimat yang keluar dari bibir Kana.
"Yaudah, aku suapin ya?"
Kaila mengangguk dan menerima suapan dari Kana.
'Drtttt!'
Sebuah ponsel bergetar membuat keduanya menoleh.
"Hp aku bunyi," ucap Kaila.
Kana mengangguk dan meraihnya. "Ada yang nelpon," ucap Kana lalu menyerahkannya pada Kaila.
Kaila meraihnya dan menggeser tombol hijau dilayar tersebut.
"Halo?"
Kana tersenyum. Laki-laki itu memandang Kaila yang tengah menerima telepon.
"Iya, saya Kaila Zeline."
Kana terdiam. Sepertinya telpon itu lumayan serius.
"Bima?"
Kana melebarkan mata saat Kaila menyebut nama Bima.
"Iya, iya. Saya akan segera kesana."
Kaila meletakkan ponselnya dan menatap Kana.
"Kenapa?" tanya Kana penasaran.
"Bima ternyata ada di Indonesia. Dia abis nabrak orang."
Kana melebarkan mata mendengar hal tersebut.
-o0o-
__ADS_1