
Part 20
Angga menatap putrinya dengan tatapan sedih. “Kita bicarain disana ya?” ucap Angga agar ia bisa berbicara berdua dengan putrinya.
Kaila mengangguk dan mengikuti langkah Ayahnya dan duduk di bangku yang berada di pinggir jalan.
“Kaila,” ucap Angga membuat putrinya menoleh dan menatapnya. “Sebelumnya Papa mau minta maaf ke kamu karena Papa belum bisa jadi Papa yang baik dan bertanggung jawab untuk kalian.”
Kaila mengangguk dan menunggu Angga kembali melanjutkan ucapannya.
Angga menghela napas panjang dan memandang jalanan dengan tatapan kosong. “Dua belas tahun yang lalu, hari dimana Mamamu dan Papa cerai, Papa bawa Kirana ke sini. Papa fikir, dengan disini Papa bisa memulai hidup baru lagi dan menghidupi Kirana. Tapi ternyata, Papa malah jadi Papa yang gak becus buat Kirana. Papa malah mabuk-mabukan, judi, bahkan secara gak sadar Papa sering menampar Kirana.”
Kaila menggelengkan kepala. Ia tak menyangka Ayahnya akan seperti itu.
Tanpa Angga sadari, air matanya lolos. Ia tak bisa lagi menutupi kesedihan karena kebodohannya sendiri. “Tiga tahu Kirana hidup sama Papa di Jakarta, malah membuat Kirana semakin menderita. Di tambah dengan hutang-hutang Papa yang ada di mana-mana yang membuat Papa harus menjual semua barang-barang yang ada. Sampai disitu, Papa semakin gak tega sama Kirana. Beberapa hari setelahnya, tetangga Papa yang di sini dateng dan minta izin untuk menghidupi Kirana dan mengangkat Kirana sebagai anaknya.”
Kaila diam. Ia masih mendengarkan ucapan Ayahnya.
“Awalnya Papa nolak. Karena Papa pikir, Papa masih bisa menghidupi Kirana. Tapi, melihat matanya, Papa semakin gak tega. Papa sadar dia gak bahagia hidup sama Papa. Dia gak bisa seperti temen-temennya yang bisa ketawa bebas dan lepas. Akhirnya, Papa setuju dengan keinginan tetangga Papa yang saat itu mau mengangkat Kirana sebagai putrinya.”
Dada Kaila terasa panas mendengar ucapan Angga.
“Dua tiga bulan, Papa masih bisa nemuin Kirana. Dan saat Papa lihat, anak itu begitu bahagia tinggal sama keluarga barunya. Semua keinginnya selalu dituruti oleh keluarga barunya. Hingga di bulan ke empat, keluarga itu pindah. Papa gak tahu mereka pindah kemana. Bahkan sampai sekarang Papa masih mencoba mencari keberadaan mereka. Tapi sayangnya Papa belum juga dapat kabar.”
“Mereka gak ninggalin nomor telepon ke Papa?” tanya Kaila.
Angga menggeleng. “Mereka bahkan gak ninggalin sepatah kata pun. Papa tanya ke tetangga yang lain, keluarga itu pindah ke luar kota. Tapi mereka gak tahu persis dimana.”
Kaila menghela napas panjang dan menatap lurus ke depan. “Kaila pikir, Kaila bakal bisa ketemu Kakak dan mempertemukan Kakak sama Papa. Ternyata Kaila salah, Kaila gak berhasil.”
“Maafin Papa, nak,” ucap Angga meraih tangan putrinya.
Kaila mengangguk dan tersenyum. “Semua udah terjadi, Pa. Gak ada yang bisa kita sesalin.” Kaila tersenyum tipis dan mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.
“Ini Mamamu?” ucap Angga.
Kaila menganguk. “Cantik ‘kan Pa, Mama?”
Angga mengangguk. “Mamamu dari dulu memang cantik. Tapi sayangnya cintanya bukan untuk Papa.”
Kaila menunduk. “Ia mengerti apa yang terjadi. Pernikahan orangtuanya bahkan bukan didasari rasa cinta, melainkan perjodohan yang diinginkan pihak keluarga.”
“Ini siapa?” tanya Angga menunjuk gadis kecil yang berada di samping Nabila.
Kaila tersenyum. “Itu Kiara, Pa. Adik Kaila.”
“Kiara Zeline Qireni?” ucap Angga dengan senyum lebar.
Raut wajah Kaila berubah sendih. Ia menghela napas, menatap ayahnya dengan tatapan tegar dan menggeleng. “Dia udah meninggal, Pa.”
__ADS_1
“Meninggal?”
Kaila mengangguk. “Kiara kecelakaan di hari yang sama saat Mama dan Papa cerai.”
Angga seolah tertampar mendengar kalimat itu. Ia menarik rambutnya frustasi dan menunduk. “Semua ini salah, Papa.”
Kaila menggeleng dan memeluk Papanya. “Enggak, Pa. Ini semua bukan salah Papa. Memang keadaannya udah kaya gini, Pa.”
Angga terlihat lemas. Ia bahkan tak tahu harus berkata apa lagi. Keluarganya benar-benar hancur. Dan itu karena ia yang tidak becus mempertahankan keharmonisan keluarganya.
“Mana menikah lagi dan lahir Kiara. Tapi, Mama udah cerai sama suami barunya karena—“ Kaila menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. “Suaminya punya masalah kejiwaan.”
Angga terdiam. Sebenarnya jika dipikir, Angga masih mencintai Nabila. Bahkan hingga saat ini ia sendiri belum menikah, karena perasaannya masih berada pada mantan istrinya tersebut.
“Pa,” lirih Kaila membuat Angga menoleh.
“Kaila pengen punya keluarga yang utuh kaya dulu,” ucapnya membuat Angga semakin tak tega.
Angga tersenyum dan menarik Kaila ke dalam pelukannya. “Maafin Papa ya, nak.”
Kaila mengangguk. Ia masih berada dalam pelukan Angga. Rasanya nyaman sekali berada dalam pelukan seorang Ayah. Kaila sendiri bahkan tak ingin melepasnya. Ia masih ingin berlama-lama dalam pelukan Angga.
Angga tersenyum, dan mencoba melepas pelukannya.
Namun saat akan Angga lepas, Kaila semakin mengerutkan pelukannya.
“Kaila masih pengen di peluk Papa,” ucap Kaila membuat hati Angga semakin sakit.
“Kamu sekarang udah kuliah ya?” ucap Angga seraya mengusap lembut rambut putrinya.
Kaila mengangguk.
“Kaila ambil jurusan apa?”
“Kedokteran, Pa.”
“Wah, anak Papa hebat. Belajar yang bener ya, Nak. Jangan kaya Papamu.”
Kaila terkekeh. “Bagi Kaila, Papa orang yang hebat. Gak ada seorang anak yang gak mengangkat ayahnya hebat, Pa.”
“Tapi Papa gak pantes nak kamu anggap hebat.”
Kaila menggeleng dan mengerutkan pelukannya. “Bagi Kaila, Papa tetap Ayah yang hebat.”
Angga tersenyum dan kembali mengusap lembut rambut puterinya. “Satu pesan Papa buat kamu, nak. Menikahlah dengan orang yang kamu cintai dan juga mencintaimu..”
Kaila mengangguk. “Iya, Pa. Kaila pasti dengerin pesen Papa.”
Angga tersenyum. “Di antara dua cowok tadi, yang mana pacar kamu?” tanya Angga membuat Kaila malu dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Kaila menggigit bibir bawahnya dan menoleh ke seberang jalan, memandang Kana yang kini tengah tersenyum ke arahnya.
“Itu yang senyum sama kamu?” tanya Angga.
Kaila mengangguk malu.
Angga tertawa kecil. “Siapa namanya?” tanyanya.
“Kana, Pa,” jawab Kaila dengan malu.
“Kana!” seru Angga membuat Kana menoleh padanya.
“Saya, Pa?” ucap Kana menunjuk dirinya.
Angga tertawa kecil dan menoleh pada Kaila. “Lihat, dia udah manggil Papa, ‘Pa’.”
Kaila tersenyum. “Dia memang kaya gitu Pa orangnya. Biasanya malah manggil Mama Nabila dengan sebutan Mama, Bunda, Ibu mertua kadang.”
Angga tertawa.
Tak lama, Kana sampai di hadapan keduanya. Kana tersenyum dan langsung menunduk hormat di hadapan Angga.
“Salam kenal, Om Papa. Saya Kana Bintang Artana, calon menantu Om kalau memang Om Papa restui,” ucap Kana tanpa malu-malu.
Angga tertawa kecil. “Jadi kamu pacarnya Kaila?”
“Lebih ke teman hidup sih, Om,” jawab Kana.
“Kamu cinta sama anak saya?” tanya Angga kembali.
“Kalau itu, udah pasti, Om.”
“Bisa jagain anak saya?”
Kana tersenyum. “Kalau itu, gak perlu di raguin lagi, Om.”
Angga mengangguk. “Saya memang belum kenal kamu orang yang seperti apa. Tapi saya harap, kamu jangan kecewain anak saya. Cukup saya yang udah pernah kecewain dia, kamu jangan.”
Kana tersenyum. “Doain saya Om, semoga saya bisa membahagiakan anak, Om Papa.”
Angga mengangguk dan berdiri. Ia mendekat dan merangkul pundak Kana. “Delapan tahun lagi, saya tunggu kamu.”
Kana melebarkan mata. “Untuk apa, Om?”
“Loh, kamu gak mau ngelamar anak saya?” ucapnya membuat Kaila dan Kana melebarkan mata.
“Om ngijinin?” ucap Kana dengan takjub.
Angga tertawa. “Asal kamu bisa menjamin kebehagiaannya.”
__ADS_1
“Siap, laksanakan, Om Papa!” ucap Kana dengan hormat membuat Kaila dan juga Angga tertawa.
-o0o-