KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 45


__ADS_3

Part 45


12 tahun yang lalu...


"Kaila! Jangan kemana-mana, nenek mau beli sayuran sebentar ya!" teriak seorang wanita paruh baya pada gadis kecil yang saat ini genap berusia 6 tahun.


Gadis kecil itu adalah Kaila Zeline Qirani. Gadis kecil yang tinggal bersama kakek dan neneknya setelah perceraian kedua orangtuanya.



Kaila berjalan menghampiri seekor kucing yang berdiri tepat di depan rumahnya. Ia tersenyum dan menghampiri kucing itu.



"Halo, meow!" sapa gadis kecil yang memiliki gigi ompong itu. "Kamu ngapain berdiri disini? Laper?"



"Memang kucing bisa ngomong ya?" ucap seseorang membuat Kaila menoleh ke belakang.



Kaila berdiri dan menatapnya dengan tatapan intens. Mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.



Kaila rasa, ia belum pernah melihatnya.



"Kamu siapa?" tanya Kaila pada anak laki\-laki yang mungkin seumuran dengannya.



"Aku orang," ucap anak laki\-laki itu dengan dinginnya.



Kaila memutar bola matanya seraya melipat kedua lengan di depan dada. "Udah tahu, kali!"



Anak laki\-laki itu mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan Kaila yang masih kesal dibuatnya.



"Tunggu!" teriak Kaila menghampiri anak laki\-laki itu.



Anak laki\-laki menghentikan langkahnya dan menatap Kaila dengan tatapan datar. "Kenapa?"



"Kamu baru disini?" tanya Kaila penasaran.



Anak laki\-laki itu menggeleng. "Aku kesini Cuma main ke rumah nenekku."



Kaila membulatkan bibirnya. "Siapa nenekmu?"


"Siapa aja, kamu juga gak perlu tahu."



Kaila mengerutkan dahinya. "Sombong!"



Anak laki\-laki itu melebarkan mata. "Sombong?!" bentak laki\-laki itu membuat Kaila tersentak.



Raut wajah Kaila berubah. Matanya memerah. "Nenek!" teriaknya dengan tangisan membuat anak laki\-laki itu melebarkan mata takut.



"Nenek! Dia nakal!" teriak Kaila lalu berlari masuk ke rumahnya dengan memanggil neneknya yang masih pergi untuk membeli sayuran.



Melihat Kaila berlari dengan tangisan, membuat anak laki\-laki itu menggaruk kepala bingung. Ia takut, akan dimarahi neneknya karena telah membuat menangis anak orang.


-o0o-


Kaila menangis sejadi-jadinya. Gadis itu memang cengeng. Bahkan ia bisa saja langsung menangis begitu mendengar suara bentakan. Meskipun bukan membentak dirinya.


Gadis itu memang benar\-benar lemah.



"Mama, Kaila di marahin, Ma," ucap Kaila dengan terisak.



"Kaila?" ucap kakeknya yang keluar dari kamar setelah mendengar cucunya menangis. "Kamu kenapa nangis?"



"Kakek, Kaila di marahin," ucap Kaila mengadu.



"Dimarahin siapa? Siapa yang berani marahin cucu kakek? Sini, bawa kesini orangnya! Biar kakek marahin," ucap lelaki tua itu sembari memelankan suaranya takut cucunya semakin menangis.



Kaila bangkit berdiri dan meraih tangan kakeknya. "Ayo kek, kita cari dia."


__ADS_1


Kakeknya tertawa. Namun, ia akan menuruti keinginan cucunya tersebut. Setidaknya dengan begitu, Kaila akan berhenti menangis.



'Ceklek!'



Pintu terbuka.



"Ayo kek kita cari dia," ucap Kaila menarik tangan kakeknya.



"Loh, ini siapa?" tanya Kakek Kaila yang melihat di depan rumahnya berdiri seorang anak laki\-laki dengan membawa sesuatu.



Kaila ikut menatap anak itu. "Itu kek! Dia yang marahin Kaila," ucap Kaila menyandar di pinggang kakeknya.



Kakeknya tersenyum dan mendekat ke anak laki\-laki itu. "Kamu namanya siapa?"



Anak laki\-laki itu tak menjawab. Ia masih menunduk.



"Hey," lirih kakek Kaila seraya menyentuk wajah anak itu.



Anak itu akhirnya mengangkat wajahnya dan memandang kakek Kaila dengan rasa takut.



"Nama kamu siapa?"



"Kana, Kek," jawab anak laki\-laki tampan yang bernama Kana.



"Kana?" tanya kakek Kaila kembali.



Kana mengangguk. "Kana Bintang Artana. Anaknya Papa Kavin sama Mama Alina."



Kakek itu tersenyum. "Kamu disini tinggal sama siapa?"



Kaila mengerutkan dahinya. "Memang kamu udah sekolah?"


Kana menggeleng. "Tahun depan aku baru masuk SD. Tapi aku siap\-siap sekarang, karena takut tahun depan gak bisa kesini."



Kakek Kaila tertawa. "Jadi kamu ke Jogja buat itu?"



Kana mengangguk. "Aku juga gak nakalin dia kok, Kek. Tapi kalau dia bilang aku nakalin dia, yaudah aku minta maaf. Ini buat kamu," ucap Kana seraya menyerahkan sesuatu pada Kaila.



Kaila meraihnya dan melihatnya. "Ini cokelat?"



Kana mengangguk. "Kata Papa, kalau mau bikin cewek gak nangis lagi, kasih cokelat aja."



Kaila mengerucutkan bibirnya, membuat gadis itu terlihat gemas.



"Yaudah, jadi kalian udah baikan 'kan?" tanya kakek Kaila.



Kana mengangguk.



"Yaudah, kalau gitu kakek masuk dulu ya? Kakek mau nonton bola dulu. Dah!" ucapnya lalu masuk ke dalam.



Dan kini, tinggallah dua anak kecil yang tengah berdiri saling berhadapan dengan tatapan bingung.



"Kamu mau mainan sama aku?" tanya Kaila.



Kana mengangguk. "Tapi aku gak mau ngajak ngobrol kucing."



Kaila tertawa, lalu menggeleng. "Enggak kok. Gimana kalau kita main boneka? Aku punya banyak boneka dari kakek."


Kana menggeleng. "Aku cowok. Aku gak suka main boneka."

__ADS_1



Kaila menghela napas. "Terus main apa? Aku Cuma punya boneka."



Kana terlihat berpikir. "Mau foto\-foto gak?"



"Foto?" tanya Kaila.



Kana mengangguk. "Aku punya ini," ucap Kana seraya mengeluarkan benda persegi dari dalam sakunya. "Mau lihat?"



Kaila mengangguk dan meraih benda itu. "Nokia?" ucap Kaila membaca nama yang tertulis di benda itu.



"Hp ini ada kameranya. Ada gamenya juga. Kamu mau coba?" tanya Kana menawarkan.



Kaila mengangguk. "Ayo!"



Kana tersenyum dan mengajak gadis itu ke bangku yang terbuat dari kayu.



"Ajarin aku ya?" ucap Kaila dan di angguki oleh Kana.



Keduanya terlihat asik memainkan game. Mungkin, dimasa ini, Kana satu\-satunya anak kecil yang terlihat gaul dengan benda itu.



Disaat anak sebayanya hanya tahu boneka, mobil\-mobilan dan juga uang mainan. Kana menguasai banyak hal. Namun satu kekurangan anak itu. Ia begitu takut dengan kecepatan. Dan semua itu, terturun dari ibunya yang juga takut akan ketinggian.



"Seru gak?" tanya Kana.



Kaila mengangguk.



"Kamu jangan nangis lagi ya? Aku gak marahin kamu kok," ucap Kana dengan manisnya.



Kaila tersenyum dan mengulurkan jari kelingkingnya. "Mulai sekarang, kamu sahabat aku ya?"



Kana terdiam.



"Kenapa? Kamu gak mau sahabatan sama aku?"



Kana menggeleng. "Bukannya gak mau. Tapi aku punya sahabat di Jakarta."


"Siapa?"



"Kamu gak kenal. Namanya Aji sama Adinda. Dia sahabat aku. Nanti kalau aku punya sahabat baru, mereka bakal marah," ucap Kana.



Kaila menunduk. "Yaudah, gak papa aku gak jadi sahabat kamu."



Kana tersenyum. "Maaf ya?"



Kaila mengangguk. "Tapi kalau jadi pacar kamu?"



"Kana! Pulang nak!" teriak seseorang membuat Kana menoleh.



"Aduh, aku dicariin Mama. Aku pulang dulu ya. Ini buat kamu aja," ucap Kana menyerahkan ponselnya.



Kaila melebarkan mata. "Ini 'kan mahal?"


Kana mengangguk. "Buat kamu aja, nanti aku bilang ke Mama hilang, biar di beliin lagi. Aku pergi dulu ya?"



Kaila terdiam dan membiarkannya pergi.



Kaila menghela napas. "Ini 'kan mahal," ucap Kaila menatap benda persegi di tangannya.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2