KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 7


__ADS_3

Part 7


Kaila tersenyum saat melihat Kana membuka mata. "Alhamdulillah! Gue panggil perawat dulu." Kaila bangkit dari kursinya.


"Tunggu!" Kana meraih tangan Kaila dan menahannya. "Gue gak butuh perawat."


"Hah?" Kaila menaikkan kedua alisnya.


"Gue butuh lo disini."


'Deg!'


"Ma— maksud lo?" tanya Kaila yang tak paham dengan ucapan Kana.


Kana mengangguk. "Gue butuh lo untuk tanggung jawab atas apa yang udah lo lakuin ke gue!"


"Tapi gue gak sengaja," ucap Kaila berusaha melakukan pembelaan.


Kana memutar bola mata dan melipat lengannya. "Terus lo pikir gue peduli?"


Kaila menatap Kana tajam. "Terus mau lo apa?!"


Kana menyunggingkan senyum dan mendekatkan wajahnya pada Kaila. "Kata Oma, lo pinter masak?"


Kaila diam. Lagipula untuk apa Kana menanyakan hal itu.


"Gue ingin lo masakin gue makanan gue setiap hari selama Sembilan Puluh Satu hari."


Kaila melebarkan matanya. "SE—SEMBILAN PULUH SATU HARI?!" pekik Kaila.


Kana mengangguk.


Kaila menggelengkan kepala tak percaya dengan laki-laki di depannya. "Kenapa harus Sembilan puluh satu hari?"


"Jadi lo gak mau?" Kana menaikkan kedua alisnya. "Oh, yaudah! Kalau gitu gue—"


"Iya! Iya! Gue mau!"


Kana tersenyum miring. "Gue tunggu masakan lo!" ucapnya dan berjalan pergi meninggalkan Kaila sendiri di ruangan tersebut.


Kaila masih terdiam. Ia masih tak percaya dengan hukuman yang Kana berikan.


"Sembilan Puluh Satu hari gue harus masakin dia?" Kaila memandang seluruh jemarinya. "Kenapa gak suruh gue buka warteg sekalian aja di depan rumahnya?!"


-o0o-


Aji memandang gadis yang tengah duduk terdiam di ujung. Gadis itu terlihat tengah melamun dengan pandangan kosong. Sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.


"Gue tahu Din lo cinta banget sama Kana. Tapi please, gue minta lo sadar gimana perasaan gue sama lo."


Aji menghela napas dan bangkit menghampiri Adinda.


"Din," lirihnya namun tak membuat Adinda menoleh.


Aji menyenggol lengan gadis itu membuat gadis itu menoleh.


"Lo kenapa?"


Adinda menggeleng dengan senyuman. "Gue gak papa. Oh ya, Bu Andini belum masuk ya?" tanyanya. Bu Andini adalah guru Kimia mereka.


Aji menggeleng. "Mungkin sebentar lagi."

__ADS_1


Adinda mengangguk.


"Lo lagi mikirin Kana ya?"


Adinda diam dan menunduk. "Lo udah dapet kabar soal Kana?" tanyanya berharap.


Aji menggeleng.


'Ceklek!'


Pintu terbuka membuat semua murid 12 IPA 1 menoleh ke arah pintu.


"KANA!" teriak Adinda saat menyadari itu adalah Kana.


Kana tersenyum dan berjalan menghampiri kedua sahabatnya.


"Lo baik-baik aja 'kan?" tanya Aji.


Kana mengangguk. "Kalian tahu lah, gimana kuatnya gue!" ucap Kana seraya menaikkan kerah bajunya.


Adinda tertawa. "Kalau lo kuat, kenapa lo bisa sampai pingsan?"


Aji tertawa mendengar pertanyaan Adinda.


Kana tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. "Ya, karena— karena cewek itu aja yang gak bisa santai. Masa pala gue di timpuk pakai bola baseball!"


"Terus lo marahin dia?" tanya Aji.


Kana menggeleng. "Gue gak marahin dia, tapi gue kasih dia hukuman."


"Hukuman?" Adinda menaikkan kedua alisnya.


Kana mengangguk dan menyunggingkan senyumnya.


-o0o-


"Stttt!" Kaila menutup mulut Elsa. "Lo jangan teriak-teriak!"


Elsa mengangguk dan melepas tangan Kaila dari bibirnya. "Lo seriusan?"


Kaila mengangguk. "Gila 'kan?"


Elsa tersenyum dan menggeleng. "Gak gila dong! Malah bagus."


Kaila menaikkan alisnya dan menatap Elsa tak mengerti. "Bagus apanya? Astaga!"


"Baguslah, jadi lo bisa deket sama dia."


"Deket? Jadi budaknya lah iya!" ucap Kaila lalu berjalan menuju kursinya.


Elsa mengikuti langkah Kaila dan duduk di depannya. "Tapi ya Kai, gara-gara lo panik dan nungguin Kana yang lagi pingsan, semua cewek di SMA ini bilang kalau kalian berdua cocok. Bayangin Kai, semua cewek! Bayangin! Padahal lo tahu sendiri 'kan semua cewek disini cinta mati sama Kana, dan mereka dengan terang-terangan bilang kalian berdua cocok!"


"Beneran Kai yang di bilang Elsa. Gue aja ngerasa lo sama Kana cocok," sahut Ajeng, teman sekelas mereka.


"Iya Kai, bener! Apalagi saat kita liat lo panik. Gue semakin ngerasa lo punya rasa yang lebih sama Kana," timpa Ega.


Kaila melebarkan matanya. "Gue? Punya rasa sama Kana? Gak banget! Lagipula sejak kapan gue suka sama tuh cowok? Udah dingin, belagu, sok ganteng, sok berkuasa lagi. Dih!" Kaila melipat kedua lengannya.


"Tunggu-tunggu! Bukannya lo sering ngeliatin Kana dari bawah pohon ya?" tanya Ajeng membuat Elsa dan Ega melebarkan mata.


"Seriusan?" tanya Elsa tak menyangka. "Kai, seriusan Kai? Lo naksir Kana?"

__ADS_1


Kaila menghela napas. "Ya! Tapi itu dulu, sekarang gue gak suka lagi sama tuh cowok. Gue udah ilfiel! Lo tahu gimana rasanya ilfiel sama cowok? Deket-deket aja bikin kesel, apalagi kalau di jodoh-jodohin kaya gitu!" ucap Kaila lalu menenggelamkan wajah di lipatan kedua lengannya.


-o0o-


'Tringgggg!'


"Asik, pulang!" ucap Elsa saat mendengar suara bel sekolah.


"Baik anak-anak, ibu akhiri selamat siang!"


"Siang, Bu!" jawab seluruh murid dan mulai memasukkan bukunya ke dalam tas.


"Kai, lo mau langsung kerja?" bisik Elsa pada Kaila.


Kaila mengangguk. "Gue duluan ya!" ucapnya dan berlalu pergi.


Siang ini Kaila akan langsung menuju ruko Raisa dan melaksanakan kerja part time-nya.


"Hai, Zeline!"


Kaila menghentikan langkahnya dan menoleh pada sumber suara. "Lo lagi, lo lagi," ucap Kaila saat menyadari seseorang yang memanggilnya adalah Bima.


Bima tersenyum dan mengimbangi langkah Kaila. "Lo mau langsung pulang?"


Kaila menggeleng.


"Terus mau kemana? Nongki?"


Kaila menggeleng.


"Ke mall?"


Kaila berdecak. "Bukan!"


"Terus mau kemana?" tanya Bima yang seperti ingin tahu semua tentang Kaila.


"Bukan urusan lo!" ucap Kaila dan berjalan lebih dulu.


Bima terkekeh dan mencoba mengimbangi langkah Kaila. "Gitu aja ngambek. Dasar cewek!"


"Gue? Ngambek sama lo? Apa faedahnya? Gak penting tahu gak!"


Bima terkekeh. "Oh ya, foto gue mana?"


Kaila merogoh sakunya dan mengeluarka sesuatu. "Nih!"


"Cie nyimpenin foto gue di saku. Biar gak ilang ya?" tanya Bima dengan senyuman di wajahnya.


"Kepedean jadi cowok!"


"Yee, gue mah bukan kepedeean. Tapi feeling aja gitu."


"Feeling, feeling. Belagu lo, kaya bisa baca perasaan orang aja," ucap Kaila membuat Bima terkekeh.


"Lo gak tahu kalau gue bisa baca perasaan orang?" tanya Bima seraya menaikkan kedua alisnya.


"'Kan gue udah bilang sama lo, gue gak tahu dan gak mau tahu tentang lo!"


"Kalau tentang itu?" Bima menunjuk seseorang di belakang Kaila.


Kaila mengerutkan dahinya dan menoleh. "Astagfirullah!" ucap Kaila yang terkejut melihat Kana berada di belakangnya dan menatapnya datar.

__ADS_1


"Mau pulang bareng gue?"


...-o0o-...


__ADS_2