KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 29


__ADS_3

Part 29


'Drrrtttt!'


Ponsel Kaila bergetar membuat keduanya menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja.


Kana menatap Kaila tajam membuat gadis itu diam membeku.


Kaila menggigit bibir bawahnya. Lalu meraih ponselnya tersebut— menggeser tombol hijau dan mendekatkan ke telinga.


"Halo, Bim?" ucap Kaila seraya memandang Kana yang kini menatapnya datar.


"Kai, buku lo ketinggalan di mobil gue!" ucap Bima di seberang sana.


Kaila melebarkan mata. "Ah, apa iya?"


"Iya. Ini gue anter sekarang ya?"


Kaila menggeleng refleks. "Ga— gak usah, Bim."


"Kenapa? Terus lo belajarnya gimana?"


Kaila tersenyum. "'Kan libur sekolah."


"Oh iya. Ya udah, kalau gitu gue besok ke rumah lo sekalian anter ini ya?"


Kana berdeham membuat Kaila bingung.


"Lo sama siapa, Kai?"


"Emm, gue— gue sama—" Kaila menggantungkan ucapannya.


"SAMA GUE, KENAPA?" pekik Kana. "Hidupin speakernya Kai," lirih Kana yang mau tak mau harus Kaila turuti.


"Itu siapa, Kai?" tanya Bima.


"Kana, Bim," jawab Kaila.


"EH, LO NGAPAIN MALEM-MALEM KE RUMAH KAILA?" pekik Bima di seberang sana.


"Memang kenapa? Gak boleh?" balas Kana tak mau kalah.


Kaila menghela napas mendengar perdebatan antara Kana dan Bima. Sampai kapan keduanya harus berdebat di sekelilingnya.


"Gue gak suka, tahu gak? Lo deket-deket sama Kaila."


Kana tersenyum miring. "Terus lo pikir, gue peduli?"


"Udah lo pulang aja sana! Ganggu Kaila istirahat aja."


"Dih, kok lo yang sewot?"


Kaila menghela napas. Ia menekan tombol merah membuat Kana diam dan menyandarkan bahunya di kursi.


Kaila menatap Kana tajam. "Kalian gak capek apa berantem terus tiap hari?"


Kana diam.


"Kan."


Kana menghela napas. "Sorry, Kai."


Kaila berdecak. "Gue gak ngerti sama kalian berdua. Kenapa tiap hari adanya berantem, mulu. Gak di sekolah, gak di luar, gak di telpon. Sampai kapan coba kalian bisa akur?"


"Sampai Bima nyerah buat dapetin lo," jawab Kana membuat Kaila diam.


Kaila menghela napas dan memandang wajah Kana. "Kalau gitu, kenapa lo gak tegas Kan? Kenapa lo gak nyatain perasaan lo kalau lo suka sama gue? Kenapa lo gantungin gue kaya gini?" umpat Kaila dalam hati.


"Kai," panggil Kana.


Kaila menoleh dan menatapnya penuh tanya.


"Maafin gue ya?" lirih laki-laki itu.


Kaila mengangguk dan mencoba tersenyum. "Yaudah yuk, udah malem."


Kana mengangguk, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan tadi dan mengantarkan Kaila sampai di halaman depan rumah gadis itu.

__ADS_1


"Gue langsung pulang ya? Titip salam buat Tante Naira." Kana meraih helm dan mengenakannya.


Kaila mengangguk. "Hati-hati!"


"Jadi Bima besok kesini ya?" tanya Bima sebelum meninggalkan rumah gadis itu.


Kaila mengangguk membenarkan.


"Dia jam berapa kesini?"


"Gak tahu. Tapi biasanya sih kalau weekend dia suka kesini pagi."


Kana melebarkan mata. "Jadi dia sering main ke rumah lo?"


Kaila mengangguk membenarkan. "Sebenarnya bukan Bimanya sih yang main. Tapi adiknya, si Kiara."


"Tapi Bima ikut 'kan?"


Kaila tersenyum tipis.


"Yaudah besok jam Enam gue kesini."


Kaila melebarkan mata. "Lo— serius? Jam Enam?"


Kana mengangguk. "Gue gak mau keduluan orang itu," ucapnya lalu tersenyum.


Kaila terkekeh.


"Lo seneng 'kan gue kesini besok?"


Kaila melebarkan mata. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus. "Eng— enggak!"


Kana tertawa. "Lo gak bisa bohongin gue."


Kaila mengerucutkan bibirnya membuat Kana semakin gemas melihatnya.


"Ya udah, tutup gih gerbangnya. Gue langsung pulang."


Kaila mengangguk. "Hati-hati ya!" seru Kaila setelah motor Kana menjauh dan meninggalkan rumahnya.


Kaila tersenyum dan mengunci gerbang. Sebelum kembali ke dalam, Kaila menyenderkan tubuhnya di gerbang dan menatap langit malam. "Bener, gue memang gak bisa bohongin lo."


-o0o-


"Selamat ya, Yang. Aku bangga banget sama kamu," ucap Alina pada suaminya.


Kavin tersenyum. "Makasih ya, sayang." Kavin meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.


"Memang Papa menang apa sampai Mama kasih selamat kaya gitu?" tanya Kana yang tak tahu apa yang terjadi.


"Yah, kudet lu!" ucap Kavin tertawa.


Alina menggelengkan kepala melihat suaminya. "Ini loh, Kan, jadi Papa kamu berhasil kerjasama sama perusahaan Aksana Tower."


Kana terbatuk. "Aksana Tower? Yang dipegang sama Pak Hendry?"


Kavin melebarkan mata. "Kamu kenal sama CEO Aksana Tower?" tanyanya.


Kana mengangguk. "Dia terkenal di sekolah, Pa. Karena perusahaannya sering banget jadi sponsor setiap ada acara sekolah."


"Orangnya kaya gimana sih, Kan? Sombong apa gimana gitu?" tanya Kavin penasaran.


Kana menggeleng. "Kalau sombong enggak sih, Pa. Tapi yang kita tahu sih orangnya baik, dermawan, terus apa lagi ya?" Kana terlihat tengah berpikir.


"Intinya baiklah ya?" tanya Kavin dan di angguki oleh Kana.


"Kalau gak salah dia punya anak seumuran kamu, 'kan?" tanya Alina.


Kana mengangguk. "Anaknya dia musuh Kana, Ma."


Kavin terbatuk mendengar pernyataan dari putranya tersebut. "Kenapa bisa jadi musuh?"


Kana mengedikkan bahu. "Ada sesuatu, Pa." Ia menenguk segelas air dan bangkit dari duduknya. "Kana pergi dulu ya, Ma, Pa."


"Kamu mau kemana?" tanya Alina yang terkejut putranya hendak pergi sepagi ini.


Kana tersenyum lalu menoleh pada jam dinding yang berdenting tepat di pukul 06.00 WIB.

__ADS_1


-o0o-


"Kamu tumben pagi-pagi gini udah mandi? Biasanya kalau weekend mandinya siang-siangan," ucap Naira yang melihat keponakannya sudah tampil cantik dengan kaos merah muda dan rambut di kepang.


"Malah ketawa," ucap Naira. Ia menengok makanan yang tengah Kaila buat. "Kamu bikin salad buah?"


"Iya, Tante. Tiba-tiba Kaila pengen makan salad buah."


Naira tersenyum. "Pengen apa karena mau ada yang dateng?" goda Naira membuat Kaila tertawa malu.


"Tante tauan, aja."


"Iyalah. Tante 'kan udah berpengalaman." Naira tertawa lalu mencicipi salad buah yang Kaila buat. "Enak, Kai."


"Tante mau aku taruh di piring atau di mangkuk juga?"


"Piring aja deh," ucap Naira.


Kaila tersenyum. "Oke, nanti kalau udah siap, Kaila anter ke depan."


"Oke." Naira meraih botol minum dan berjalan menuju ruang keluarga.


Kaila yang tengah berfokus dengan salad buahnya pun nampak membagi menjadi Enam bagian. "Satu untuk aku, Satu untuk Tante Naira, Satu untuk Kana, Satu untuk Bima, Satu untuk Kiara kalau dateng, dan Satu lagi untuk— Elsa!"


Ya, hari ini Elsa juga akan datang ke rumahnya. Pagi-pagi sekali Elsa menghubunginya dan mengatakan jika ia akan datang. Karena itulah Kaila menyiapkan salad buah untuk mereka.


"SELESAI!"


"Kaila, ada Kana!" teriak Naira.


Kaila melebarkan mata mendengar Kana sudah sampai. Ia segera mencari ponselnya untuk berkaca, namun—


"Udah siap aja."


Kaila menghela napas panjang karena kehadiran Kana secara tiba-tiba. "Kana! Bikin kaget, tahu gak!" ucap Kaila seraya memukul lengan Kana.


Kana tertawa. "'Kan tadi Tante Naira udah bilang kalau gue dateng."


Kaila berdecak. "Ya iya, cuma 'kan—"


"Cuma apa?" tanya Kana menggoda.


Kaila menggeleng dengan senyuman. "Bukan apa-apa."


"Kaila, Kaila." Kana menggelengkan kepala lalu menoleh pada meja di hadapannya. "Mau ada pengajian?"


"Hm?" tanya Kaila tak mengerti.


"Itu, banyak banget."


Kaila tertawa. "Ini buat kita-kita."


Kana membulatkan bibirnya. "Itu lo yang buat?"


"Bukan. Pak RT."


Kana tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Kaila.


Kaila mengerutkan dahinya. "Apanya yang lucu, coba?"


Kana menggeleng. Ia memegang lengan Kaila. "Lo tahu gak sih? Jawaban lo barusan mirip sama jawaban nyokap gue waktu di tanya bokap."


Kaila tersenyum. "Bisa gitu, ya."


"Jangan-jangan jodoh," lirih Kana pelan. Namun terdengar oleh Kaila.


Kaila menggelengkan kepala dan tersenyum. Ucapan Kana benar-benar masuk ke dalam hati dan pikirannya.


"Semoga ucapan lo jadi kenyataan," ucap Kaila dalam hati seraya memandang laki-laki di hadapannya.


Keduanya saling memandang dan tersenyum.


Jika di lihat, keduanya nampak jelas saling menyukai. Kana menyukai Kaila, begitupun sebaliknya. Namun entah apa yang membuat Kana belum menyatakan perasaannya pada gadis itu. Apakah ia ragu? Atau— ia hanya main-main saja?


Kana berdeham. Ia memandang gadis di hadapannya dengan penuh arti. "Kaila, gue—"


"HEI!" teriak seseorang membuat Kana dan Kaila tersentak kaget.

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2