KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 33


__ADS_3

Part 33


Siska menghela napas dan menatap layar ponsel yang berada di tangannya. Membaca beberapa pesan yang masuk, dan meletakkan kembali ke atas meja.


Ia terlihat begitu tidak nyaman hari ini. Entahlah, ia pun tak tahu alasannya.


"Kenapa, sayang?" ucap Ibundanya yang sedari tadi memperhatikan putrinya gelisah.


Siska tersenyum dan menggeleng. "Gak papa, Ma. Lagi gak mood aja buat ngapa-ngapain."


"Ada yang lagi kamu pikirin?"


Siska menggeleng. "Enggak juga, Ma."


"Terus? Kenapa kaya gelisah gitu?" ucap Ibunya yang ikut duduk sampingnya.


Siska menatap Ibunya dengan tatapan sulit di artikan. "Siska juga gak tahu Ma, kenapa gelisah gini. Kaya ada yang kurang aja gitu di hati Siska."


Ibunya tampak berpikir. "Mama tahu, pasti karena gak ada Simi?"


Siska terdiam. Sepertinya apa yang Ibunya katakan benar. "Apa iya ya, Ma? Karena gak ada Simi."


Simi adalah anjing pemberian Bima yang sudah Siska kembalikan pada Bima kemarin. Dan hari ini, Siska merasa kesepian.


"Keliatan banget dari kemarin kamu galau gini. Mama yakin pasti karena anjing itu."


Memang, tak semua orang menyukai hewan, apalagi jika itu anjing. Namun lain bagi Siska. Gadis berusia Dua puluh Tiga tahun itu sangat menyayangi anjing.


Terdapat lebih tiga ekor ia memelihara anjing. Akan tetapi, hanya anjing bernama Simi itulah yang sangat Siska sayangi.


"Yang jelas bukan karena Bima yang ngasih makanya Siska sayang banget sama Simi. Tapi karena Simi pengganti Sisil yang udah meninggal," ucap Siska menjelaskan pada Ibunya.


Ibunya tersenyum. Sebelumnya, Siska sudah memberitahu mengenai Bima kepada Ibunya. Tetapi yang Ibunya tahu, Bima adalah pelaku dari penabrakan Sisil dan orang yang memberikan Simi kepada Siska.


"Apa lebih baik kamu ambil lagi aja Simi dari dia?" usul Ibunya.


Siska mengerutkan dahinya. "Tapi kalau dia malah marah, gimana Ma?"


Ibunya tertawa. "Jadi kamu maunya gimana, sayang? Simi balik ke kamu atau kamu cari Simi baru?"


Siska berdecak. "Gak tahu, Ma. Siska bingung. Galau banget."


Ibunya terkekeh. "Yaudah, senyamanmu aja gimana. Mau mau bikin Papa kopi dulu ya?" ucapnya lalu berjalan meninggalkan putrinya sendiri di ruang tengah.


Siska menghela napas dan kembali menyandarkan kepalanya di kursi.


-o0o-


"Nih, makan," ucap Bima memberikan beberapa potong daging ayam kepada anjing yang kini menjadi peliharaannya.


"Di makan dong, gue capek loh ngerebusnya," ucap Bima yang kesal karena anjing itu enggan memakan darinya.


Bima berdecak. "Mau makan gak sih?"


Kiara tertawa. "Gak mau kali kalau Kak Bima yang ngasih."


"Masa iya sih anjing pilih-pilih? Belagu amat," ucap Bima lalu menaruh kembali daging ayam itu.


Kiara menggelengkan kepala, lalu duduk di gazebo sembari memperhatikan kakaknya yang terus membujuk anjing kesayangannya untuk makan.


"Bukan kesayangan ya, tapi keterpaksaan," ucap Bima dengan raut kesal.


Kiara terkekeh. "Udah sih Kak, kalau capek kasihin lagi aja ke Kak Siska."


"Males ah. Entar di sangka gue gak bisa ngurus nih anjing."


"'Kan memang gak bisa," ucap Kiara membuat Bima diam akhirnya.


Kiara menggelengkan kepala lalu menoleh ke arah gerbang. Gadis itu tersentak saat melihat Siska tengah berdiri dan berdiam di gerbang. Tidak memanggil dan tidak masuk ke dalam.


"Ngapain ya Kak Siska kesini?"


Bima menoleh saat mendengar Kiara menyebut nama Siska. Laki-laki itu ikut menoleh ke gerbang dan mengerutkan dahinya.


Mata Siska dan Bima bertemu. Keduanya saling menatap beberapa saat, lalu membuang tatapan ke arah lain.


Kiara terkekeh melihat pemandangan di depannya. Gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Siska untuk membukakan gerbang.


"Silahkan masuk, Kak." Kiara membukakan gerbang dan menyuruh Siska untuk masuk ke dalam.


Siska mengangguk dan mengikuti arahan Kiara. Gadis itu berjalan dan berhenti tepat di depan Bima.


Bima mengerutkan dahinya. Bangkit berdiri dan menatap Siska datar. "Ngapain kesini?"


Siska menggeleng. Ia berjongkok dan tersenyum pada Simi. "Halo, Simi!"


"Oh, namanya Simi?" lirih Kiara sembari membulatkan bibirnya.


Siska tersenyum memandang Simi. Gadis itu meraih daging ayam yang berada di depan kandang, dan menyerahkan pada Simi.


Simi langsung menikmati daging ayam itu membuat Bima dan Kiara melebarkan mata.


"Hebat! Nurut banget sama emaknya," lirih Bima yang membisiki Kiara.


Kiara mengangguk. "Tadi pas Kak Bima yang ngasih, gak mau. Eh, begitu emaknya yang ngasih, langsung di makan," lirihnya.


Siska tersenyum lebar saat Simi berhasil menghabiskan daging ayam tersebut. Ia meletakkan kembali wadah daging tadi, dan menoleh pada Bima.


"Boleh tolong bikinin susu putih?" ucap Siska pada Bima.


Tanpa sepatah kata, Bima mengangguk dan langsung masuk ke dalam. Sepertinya laki-laki itu benar ingin membuatkan susu putih untuk Siska.


Tak lama, Bima kembali dengan satu gelas putih di tangannya.


"Ini," ucap Bima.


Siska mengangguk. Meraih gelas itu dan menuangkan di mangkuk daging ayam milik Simi tadi.


Bima melebarkan mata. "Anjir, gue bikinin susu buat anjing?"


Kiara mengulum senyumnya, lalu tertawa terbahak-bahak.


Mendenger Kiara tertawa, membuat Siska menoleh dan menyunggingkan senyumnya. "Sorry kalau ngerepotin."


Bima memutar bola matanya. "Hmm."


Setelah menghabiskan satu gelas susu cukup lama, Siska pun bangkit berdiri dan menatap dua orang di depannya. "Makasih ya, udah jagain Simi."


Bima mengangguk dengan raut wajah datar.


"Gue kesini— karena gue kangen sama Simi. Jujur, dari semalem gue kepikiran Simi. Gue takut dia gak mau makan atau gak bisa tidur. Jadi, gue putusin kesini buat jengukin dia," lirih Siska lalu menunduk.


"Kak Siska kalau mau ambil Simi lagi gak papa, kok," ucap Kiara membuat Siska melebarkan mata dan tersenyum lebar.


Bima mengerutkan dahinya. "Eh! Apa-apaan. Nih anjing udah jadi milik gue. Gak bisa!"


"Ta—pi, Kak Bima 'kan gak bisa ngurusnya," ucap Kiara tanpa dosa.

__ADS_1


"Bisa!" Bima mengangguk. "Siapa bilang gue gak bisa. Ya, memang dia gak mau makan aja sama gue."


"Terus kalau gak mau makan, gimana dia bisa bertahan hidup. Pola makannya yang bikin dia bisa bertahan," ucap Siska.


Bima diam. Laki-laki itu tak bisa berkata-kata lagi. "Ya— yaudah! Yaudah kalau mau lo ambil."


Siska tersenyum lebar. "Beneran?"


Bima mengangguk. Laki-laki itu berjongkok. Mengangkat anjing kecil tersebut dan menyerahkannya kepada Siska. "Jagain ya bener."


Siska meraihnya. "Siap!" ucapnya dan menatap Bima dengan senyuman.


Melihat Siska tersenyum, justru membuat laki-laki itu ikut tersenyum.


"Asik senyum-senyum," ucap Kiara.


Bima melebarkan mata. "Dih, siapa yang senyum-senyum?" ucap Bima lalu masuk ke dalam.


Kiara terkekeh dan mendekat kepada Siska. "Maafin sikap Kak Bima ya, Kak?"


Siska mengangguk dengan senyuman. Menatap Simi, dan kembali menoleh pada Kiara. "Mau ke taman gak? Aku pengen ajak Simi ke taman, siapa tahu kamu mau ikut."


"Taman?"


Siska mengangguk membenarkan. "Denger-denger, di taman kota lagi ada pertunjukkan."


"Seru dong? Ayo kak!" ucap Kiara yang langsung mengambil ponselnya di atas meja.


Siska mengangguk dan membenarkan posisi Simi, lalu keduanya pun berjalan pergi.


"Mau kemana?" teriak Bima membuat keduanya menghentikan langkah.


-o0o-


'Srenggg!'


Suara pertempuran antara wajah dan spatula terdengar jelas dari arah dapur.


Itu adalah kerjaan Kaila.


Wanita itu terlihat tengah memasak di dapur dengan jurus andalan yang ia miliki.


Kana yang memang libur bekerja pun menyusuli istrinya yang tengah asik dengan spatula yang dipegang dengan tangan kanannya, serta pegangan wajan yang di pegang dengan tangan kirinya.


Kana tersenyum dan langsung memeluk Kaila dari belakang.


Kaila tidak terkejut. Suara langkah kaki Kana sudah terdengar sebelumnya.


Wanita berusia dua puluh enam tahun itu membalikkan badannya dan menatap suaminya. "Laper ya?"


Kana mengangguk dengan wajah gemasnya.


"Sebentar ya, nasi gorengnya bentar lagi mateng kok." Kaila tersenyum, mengecup pipi Kana sekilas dan kembalui melanjutkan aktivitasnya.


Kana berjalan mundur dan duduk di kursi, memperhatikan istrinya, sembari sesekali memakan buah yang berada di atas meja.


Rumah tangga Kana dan Kaila memang terlihat begitu harmonis. Meskipun pernikahan mereka baru seumur jagung, namun mereka terus memberikan yang terbaik bagi satu sama lain.


Seperti halnya Kaila yang tengah memasakkan makanan untuk Kana.


Sebelumnya mereka sudah sarapan pagi tadi. Namun, tiba-tiba Kana mengatakan lapar dan ingin memakan nasi goreng buatan istrinya.


Dengan penuh semangat, Kaila pun segera merealisasikan keinginan suaminya tersebut.


Kana meraih ponselnya dan membuka pesan yang masuk baru saja.


Kana membulatkan bibirnya, lalu mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Ayu.


Kana tampak berpikir. "Dua orang dokter muda? Siapa ya?"


"Nasi goreng sudah siap!" seru Kaila yang sudah membawa dua piring berisi nasi goreng ke hadapan Kana.


Kana tersenyum lebar dan meraih sendok yang tersusun di atas meja.


"Aku makan ya?" ucap Kana.


Kaila mengangguk dengan senyuman.


Satu suapan masuk ke dalam mulut Kana.


"Gimana?" tanya Kaila menunggu jawaban Kana mengenai masakan buatannya.


Kana mengunyah nasi goreng itu dan tersenyum lebar. "Enak banget!"


Kaila terkekeh, lalu menuangkan segelas air untuk Kana.


"Makasih ya, udah bikin aku kenyang terus."


Kaila terkekeh. "Sama-sama. Aku malah seneng kalau kamu suka sama masakanku."


"Tentu suka lah, La. 'Kan kamu istri aku, jadi apapun yang kamu buat, aku pasti suka."


Kaila mengangguk dengan senyuman.


"Sayang, tadi Ayu ngabarin kalau ada dua dokter muda yang mau ngelamar kerja di Klinik."


Kaila melebarkan mata. "Oh ya?"


Kana mengangguk. Ia kembali menyendok nasi goreng itu dan mengunyahnya. "Siapa ya? Perasaan klinikku masih kecil, kok udah ada dua dokter yang mau ngelamar."


Kaila tersenyum. "Jangan bilang gitu. Diem-diem klinik kamu udah sukses banget loh. Aku bangga sama kamu."


Kana tersenyum dan mengusap punggung tangan Kaila.


Keduanya kembali menikmati nasi goreng itu sembari diselangi gelak tawa.


Sungguh keluarga kecil yang sangat bahagia.


-o0o-


"Ini masuknya lewat mana sih?" tanya Bima yang mengendarai mobil Siska.


Saat ini, Siska, Bima dan Kiara, serta anjing kecil itu tengah berada di mobil untuk menuju taman kota.


Awalnya Bima tak ingin ikut, namun atas dorongan Kiara yang memaksanya, akhirnya Bima mengiyakan.


"Lewat sana bisa kok," ucap Siska menunjuk jalan yang biasa ia lewati untuk menuju taman kota.


Bima membulatkan bibirnya, lalu melirik Siska yang duduk di belakang bersama Kiara melalui kaca.


"Kiara udah nyiapin bakal daftar SMA mana?" tanya Siska pada gadis di sebelahnya.


Kiara tersenyum dan menggeleng. "Masih bingung, Kak. Antara daftar di sini atau ikut Kak Bima ke Jerman."


Siska melebarkan matanya lalu melirik ke laki-laki yang saat ini tengah mengemudi. Wanita itu hanya membulatkan bibirnya. Ia sebenarnya malas jika membahas sesuatu hal lebih panjang apalagi jika itu ada sangkut pautnya dengan Bima.


'Drrrttt!'

__ADS_1


Ponsel Kiara bergetar membuat Siska yang berada di sampingnya ikut menoleh.


Kiara segera meraih ponselnya dan membuka pesan yang masuk.


Kiara sedikit membulatkan bibirnya, lalu meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku.


"Kak Siska, Kak Bim."


Siska dan Bima reflek menoleh saat nama mereka di sebut.


"Kak, sorry. Tapi Kiara harus turun disini sekarang. Kiara lupa kalau hari ini ada les tari hari ini."


Bima melebarkan matanya. "Yaudah, kalau gitu kakak anter ya?"


Kiara menggeleng. "Gak usah. Kiara turun sini aja, temen aku mau jemput di halte itu kok. Kita memang mau berangkat bareng," ucap Kiara sembari menunjuk halte yang berada di samping mereka.


Bima tampak ragu untuk menurunkan adiknya. "Kamu yakin?"


Kiara mengangguk. "Kiara udah besar, Kak. Jadi gak usah khawatir."


Bima tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Yaudah, kamu hati-hati ya? Kabarin kakak kalau udah sampai di sekolah."


Kiara mengangguk dengan senyuman dan segera turun dari mobil itu.


Setelah Kiara turun, kini tinggalah Siska dan Bima saja. Bima belum melajukan mobilnya. Ia melirih Siska melalui kaca yang terpasang di bagian atas.


"Yaudah, ayo jalan," ucap Siska.


Bima mengerutkan dahinya tanpa menoleh ke belakang. "Enak banget ya, kaya nyuruh supir sendiri," ucapnya lalu melajukan mobil itu kembali.


Siska hanya tersenyum tipis dan menoleh ke arah jendela, melihat Kiara yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Tak ada obrolan lagi selanjutnya. Keduanya saling diam dan asik dengan pikiran masing-masing.


Sebenarnya Bima ingin mengajak Siska bicara. Namun, rasa gengsinya lebih besar.


Siska menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya. "Kalau mau ngomong, ngomong aja kali. Gak usah sok cool!"


Bima melebarkan mata. "Siapa yang sok cool?"


"Elo!"


"Dih, ngomong aja kalau lo pengen ngobrol sama gue? Atau jangan-jangan lo pengen duduk di depan bareng gue? Silahkan. Silahkan."


Siska melipat kedua lengannya. "Ogah. Mending gue duduk sama Simi." Siska meraih Simi ke dalam pangguannya. "Ya Simi ya?"


"Sinting. Ngobrol sama anjing."


Siska tak mendengarkan. Ucapan Bima barusan hanya ia jadikan sebagai angin lalu.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih lima menit. Keduanya pun sampai di taman kota.


Siska segera turun dari mobil itu dan disusul oleh Bima di belakangnya.


'Sebenarnya ngapain sih gue kesini?' batin Bima yang mengikuti langkah Siska menuju kursi taman.


Siska mendudukan dirinya, lalu di ikuti oleh Bima.


Siska menoleh dan menatap Bima datar.


"Apa?" ucap Bima dengan muka sangarnya.


Siska menggeleng dan kembali fokus dengan pertunjukkan di depannya.


Simi duduk di pangkuan Siska. Anjing itu terlihat nyaman, bahkan tak bergerak ataupun turun ke jalan.


"Beda ya kalau sama emak sendiri," ucap Bima memperhatikan anjing itu.


Siska hanya tersenyum tipis dan menggendong Simi seperti seorang bayi.


Bima menggelengkan kepala. Seumur hidup, baru kali ini ia melihat orang begitu menyayangi anjing seperti anak sendiri.


"Kenapa sih? Ngeliatinnya gitu amat? Kaya gak suka banget," ucap Siska kesal lalu mencium pipi Simi.


Bima menelan salivanya dengan susah payah. "Gak papa. Gue heran aja. Baru kali ini gue nemu orang aneh kaya lo."


"Gue aneh? Lo lebih aneh."


Bima memutar bola matanya malas dan menatap lurus ke depan memperhatikan pertunjukkan itu.


Pertunjukkan kali ini, adalah pertunjukkan teater yang ditampilkan oleh beberapa mahasiswa jurusan seni dari beberapa universitas di Jakarta. Dimana saat ini mereka tengah melakukan pengumpulan dana untuk membantu beberapa daerah yang terkena bencana.


"Hahahaha . . " tawa Siska saat ada beberapa adegan lucu.


Bima mengerutkan dahinya dan menoleh. "Gitu doang lucu? Menurut gue kurang lucu, ah."


Siska menoleh dan menatap Bima kesal. "Bukan teaternya yang kurang lucu. Tapi humor lo yang sok ketinggian."


Bima mengerucutkan bibirnya, lalu mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya menggunakan korek api.


Siska menoleh dan memperhatikan Bima.


Bima melirik dan menaikkan kedua alisnya.


"Gak usah ngerokok disini bisa 'kan?"


Bima menggeleng.


Siska berdecak dan bangkit untuk pergi.


"Eh, lo mau kemana?" tanya Bima yang menahan tangan Siska.


"Males gue duduk samping orang yang ngerokok."


"Elah, lebay amat," ucap Bima.


"Bukan apa, gue punya Asma," ucap Siska menatap lelaki itu.


Bima terdiam. Laki-laki itu membuang rokoknya ke tanah dan menginjaknya.


"Kok?" ucap Siska bingung.


"Lo duduk aja disini. Gue gak bakal ngerokok samping lo lagi."


Siska terdiam.


Seorang Bima. Rela membuang rokoknya demi Siska?


Siska menggigit bibir bawahnya sendiri dan kembali duduk di samping Bima.


"Makasih."


Bima tersenyum tipis dan kembali menonton pertunjukkan itu. Hingga beberapa detik, Bima pun tertawa.


Siska tersenyum melihat Bima tertawa.


"Katanya gak lucu?" lirih Siska membuat Bima mengulum senyum malunya.

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2