
Part 28
"Kamu kenapa sih, mukanya di tekuk gitu?" tanya Kavin pada putranya yang duduk di hadapannya.
Kana menggeleng. "Lagi kesel aja," ucapnya seraya memegang remot tv.
"Tumben," celetuk Alina yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa sepiring pisang goreng.
Kavin menatap pisang goreng tersebut dan segera meraihnya. "Ini kamu yang buat, Yang?"
"Bukan, Pak RT," jawab Alina.
Kavin melebarkan mata. "Seriusan?"
"Ya iya aku lah, Yang. Dari tadi di dapur ngapain kalau bukan goreng ini," ucap Alina membuat Kavin menyengir kuda.
Kana tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat kedua orangtuanya.
Kavin menoleh pada Kana. "Kamu gak mau pisang gorengnya? Papa abisin nanti."
Kana menggeleng. "Abisin aja, Pa. Kana mau masuk ke kamar aja." Kana bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan kedua orangtuanya di ruang tengah.
Alina memandang pungung putranya sekilas lalu beralih pada suaminya. "Dia kenapa?"
Kavin mengedikkan bahu. "Berantem kali sama pacarnya."
"Memang Kana punya pacar?"
Kavin menatap Alina serius. "Memang dia gak pacaran sama Kaila?"
Alina diam. Mendengar nama Kaila, ia teringat ucapan Ibunya saat itu. Apa benar Kaila putri dari mantan kekasih suaminya?
"Ya, Yang? Emang Kana gak pacaran sama Kaila?"
Alina berdecak. "Tau ah, kesel!"
"Loh?" Kavin mengerutkan dahinya bingung dan menatap istrinya yang berjalan masuk ke kamar. "Dia kenapa?"
'Drrtt!'
"Siapa lagi, yang nelpon malem-malem gini."
Kavin meraih ponselnya dan mendekatkan ke telinga. "Halo?"
"Halo, Pak Kavin. Saya Jeni, sekretaris Bapak," ucap seorang wanita di seberang sana.
"Iya, ada apa Jen?"
"Maaf Pak menganggu waktunya malam-malam."
"Iya gak papa, lanjut aja."
"Begini Pak, tadi saya dapet kabar kalau CEO Aksana Tower menyetujui kerjasama yang kita minta, Pak."
Kavin melebarkan mata lalu menaruh kembali pisang goreng yang sudah ia ambi. "Kamu serius?"
"Iya, Pak."
"Kalau gitu, kapan kita bisa meeting sama mereka?"
"Mereka bilang ingin secepatnya, Pak. Bahkan mereka sempat minta meetingnya di selenggarain besok."
"Tapi 'kan besok weekend, Jen. Memang mereka gak papa?"
"Gak papa, Pak. Tapi mereka gak enak sama Bapak katanya."
"Halah! Gak usah gak enak gak enakan, besok kita berangkat! Oke?"
"Iya Pak, siap Pak. Saya akan hubungi mereka, Pak."
"Sip!"
"Emm— tapi Pak."
Kavin mengerutkan dahinya. "Tapi apa lagi, Jeni?"
"Kalau weekend, berarti rapatnya gak bisa di kantor dong, Pak?"
"Yaudah, kamu cari restoran terenak ya?"
"Siap, Pak."
"Bagus!"
Kavin menatap ponselnya dan tersenyum puas. Akhirnya keinginannya untuk bekerjasama dengan perusahaan terbesar itu dapat terwujud.
"YES!"
-o0o-
Berkali-kali, Kana menutup wajahnya dengan selimut. Namun berkali-kali juga ia membuka dan meleparkan bantalnya dengan rasa kesal.
Kana berdecak. Ia bangun dari kasur dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ia berjalan menuju jendela seraya membuka kontak pada ponselnya tersebut.
"Dia udah di rumah belum ya?" ucapnya seraya memandang nomor Kaila. Tanpa ragu, Kana pun menekan nomor itu hingga terdengar suara dering.
"Angkat, Kai."
'Kaila sedang dalam panggilan lain.'
Kana berdecak. "Lo nelpon siapa sih malem-malem gini?" Kana menghela napas lalu melemparkan ponselnya ke atas kasur.
"Nyebelin."
'Drrrttt!'
Kana melebarkan mata. Ia segera kembali meraih ponselnya. "Kaila?"
Senyumnya mengembang, Kana segera menggeser tombol hijau dan ia dekatkan ponselnya pada telinga.
"Halo?"
Kana tersenyum lebar mendengar suara Kaila. Laki-laki itu hendak menjawab, namun ia tak ingin terlihat baik-baik saja. Ia harus menunjukkan pada Kaila jika ia cemburu.
"Halo, Kana?"
"Apa?" tanya Kana dengan dinginnya.
__ADS_1
"Lo lagi marah sama gue?"
Kana menahan senyumnya mendengar suara Kaila yang begitu menggemaskan.
"Kana?"
"Enggak," jawab Kana cuek.
"Lo tadi nelpon gue? Ada apa?"
Kana memejamkan mata. Ia harus jawab apa.
"Yaudah kalau gak ada yang mau di omongin, gue matiin telponnya."
"Eh, tunggu-tunggu!"
"Kenapa?"
"Lo tadi lagi telponan sama siapa?"
"Sama Elsa."
Kana membulatkan bibirnya.
"Kenapa emangnya?"
"Enggak. Gue pikir lo telponan sama Bima."
Kaila tertawa.
"Kok ketawa?"
"Lo cemburu kalau gue telponan sama Bima?"
"Yaiyalah! Pakai nanya lagi."
Hening. Tak ada suara di seberang sana.
"Halo, lo masih denger suara gue 'kan?"
"Iya."
"Lo dimana?"
"Di rumah."
"Gue boleh ke sana?"
"Bo—leh."
Kana tersenyum ia meraih jaket beserta kunci motornya. "Jangan dimatiin tunggu gue sampai disana."
"Iya."
"Ma! Pa! Kana keluar bentar!"
"Eh, mau kemana?" tanya Kavin yang masih berada di ruang tengah.
Kana tersenyum dan mencium tangan Kavin. "Malem mingguan."
-o0o-
Kaila tersenyum memandang ponsel di tangannya. Sudah cukup lama ia berada di luar menunggu Kana. Namun sampai sekarang, laki-laki itu belum menunjukkan batang hidungnya.
"Kok di luar, Kai?"
Suara Naira cukup mengagetkan Kaila.
Kaila menoleh. "Emm— iya, Tante. Lagi nunggu Kana."
"Dia mau kesini?"
Kaila mengangguk. Di waktu yang bersamaan, suara motor terdengar membuat keduanya menoleh ke arah yang sama.
"Itu kayanya Kana."
Kaila mengangguk.
"Yaudah, Tante ke dalam dulu ya? Mau istirahat. Kana jangan lupa bikinin minum. Oh ya Kai, di kulkas ada kue. Bawa keluar aja."
"Iya, Tante."
Naira tersenyum dan masuk ke dalam.
Kana melepaskan helmnya dan berjalan menghampiri Kaila yang tengah duduk di gazebo.
"Hai!" sapa Kana dengan senyuman di wajahnya.
Kaila tersenyum. "Gue pikir lo gak jadi dateng."
"Gak mungkinlah."
Kaila mengangguk dan menatap laki-laki di hadapannya.
Merasa di tatap, Kana terlihat salah tingkah. Ia menghela napas dan membuang tatapannya ke arah lain.
Kaila terkekeh. Ia bangkit dari duduknya membuat Kana menoleh dan menatapnya penuh tanya.
"Mau kemana?" tanya Kana penasaran.
"Gue ke dalem dulu. Mau bikin minum buat lo."
"Gak usah, Kai!" ucap Kana membuat Kaila mengurungkan niatnya.
"Kenapa?"
"Gue pengen ngajak lo makan di luar. Mau 'kan?"
Kaila tampak berpikir. Ia menoleh pada jam yang melingkar di tangannya. "Tapi ini udah mau jam Sembilan, Kan."
"Kalau gitu kita makan mie ayam depan aja," ucap Kana seraya menunjuk warung mie ayam yang berada di depan rumah Kaila.
Kaila mengerutkan dahinya. "Lo gak papa makan mie ayam?"
Kana tertawa. "Memang kenapa? Mie ayam bisa dimakan'kan?"
Kaila berdecak. "Ya bukan gitu. Maksud gue itu—"
__ADS_1
"Udah ayo jalan, gue laper." Kana menarik tangan Kaila membuat gadis itu mengikuti langkah Kana.
"Silahkan duduk." Kana menyiapkan kursi untuk Kaila.
Kaila tersenyum dan duduk di kursi tersebut.
"Mau pesen apa, Mbak? Mas?" ucap seorang pelayan yang menghampiri meja keduanya.
Kaila menatap Kana agar laki-laki itu lebih dulu memilih.
Kana tampak berpikir. "Mie ayam berapaan?"
"Mau mie ayam apa?"
"Mie pakai ayam," jawab Kana membuat Kaila tak dapat menahan tawa.
"Iya, Mas. Maksudnya mau yang apa? Mie ayam biasa atau gimana?"
"Yang luar biasa ada?"
Pelayan itu menghela napas dan tersenyum dengan sabarnya. "Masnya mau mie ayam biasa? Mie ayam bakso? Atau mie ayam bakso jumbo?"
Kana memandang Kaila. "Yang apa Kai yang enak?"
"Ya terserah elo, maunya yang apa."
Kana berdecak. "'Kan lo yang orang sini. Pasti tahu yang enak yang apa."
Kaila menghela napas. "Enak semua, Kana. Bedanya cuma di tambah bakso doang."
Kana membulatkan bibirnya, lalu beralih pada pelayan tadi. "Berapaan sih harganya?"
"Mie ayam biasa, harganya Delapan ribu."
"Murah banget!" pekik Kana membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya.
Kaila menepuk dahinya melihat Kana menjadi pusat perhatian.
"Terus kalau yang pakai bakso, berapaan?"
"Mie ayam bakso, harganya Dua Belas ribu. Kalau yang mie ayam bakso jumbo, harganya Dua Puluh Dua ribu."
Kana kembali berpikir. "Yaudah, kalau gitu mie ayam bakso jumbo Dua porsi."
Kaila melebarkan mata. "Gue yang biasa aja, Kan."
"Lah, kenapa?"
"Gue abis makan. Masih kenyang."
Kana membulatkan bibirnya. "Yaudah Mas, mie ayam bakso jumbo Satu porsi sama mie ayam biasa satu porsi."
Pelayan itu mengangguk. "Minumnya mau apa, Mas?"
Kana menoleh pada Kaila. "Mau minum apa, Kai?"
"Es jeruk aja."
Kana mengangguk. "Es jeruknya Dua ya?"
"Siap. Kalau begitu, di tunggu ya." Pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan keduanya.
Kana menggelengkan kepala membuat Kaila bingung.
"Lo kenapa?"
"Gue heran. Kok murah banget sih disini?"
Kaila tertawa mendengar pertanyaan Kana.
Kana tersenyum. Ia menopang dagunya dan memandang gadis di hadapannya. "Kai."
Kaila menaikkan kedua alisnya.
"Gue cemburu liat lo sama Bima."
Kaila tersenyum tipis. Ia tak tahu harus menjawab apa.
"Kai."
"Iya?"
Kana menggeleng. "Seneng aja manggil lo," ucap laki-laki itu dan tersenyum memandang Kaila.
"Kan," balas Kaila.
"Iya?" jawab Kana dengan senyum lebar.
"Mie ayamnya dateng."
Kana menoleh dan melihat pelayan tadi sudah membawa Dua mangkuk mie ayam biasa dan mie ayam bakso jumbo.
"Silahkan, Mbak. Silahkan, Mas."
"Es jeruknya mana?"
"Sabar, Kana!" ucap Kaila membuat laki-laki itu diam.
"Sebentar ya, masih dibikinkan."
Kana mengangguk dan langsung menyantap mie ayam bakso jumbo tersebut.
Setelah menghabiskan Satu porsi mie ayam, keduanya saling memandang.
"Enak 'kan mie ayamnya?"
Kana mengangguk. "Kapan-kapan makan disini lagi ya?"
Kaila tersenyum. "Iya."
'Drrrtttt!'
Ponsel Kaila bergetar membuat keduanya itu menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja.
Kana menatap Kaila tajam membuat gadis itu diam membeku.
-o0o-
__ADS_1