
Part 22
'Taksi!' teriak Kaila saat melihat sebuat taksi melintas di depan galerinya.
Malam ini wanita itu akan pulang ke rumah. Ia memang tidak membawa kendaraan pribadi, karena itu ia memutuskan untuk menaiki taksi.
Sebuah taksi berhenti tepat di depan hadapannya.
"Silahkan naik, Mbak," ucap supir taksi itu.
Kaila mengangguk dan melangkahkan kakinya. Namun ia teringat sesuatu. "Sebentar ya, Pak." Kaila meraih tasnya dan membukanya.
Wanita itu mencari keberadaan ponselnya di sana. Namun— "Gak ada!"
Kaila menghampiri supir taksi itu. "Pak, bisa tunggu disini sebentar? Hp saya ketinggalan di dalam. Saya mau ambil dulu. Gak lama kok."
Supir taksi itu mengangguk dengan senyuman. "Siap, Mbak. Saya tunggu disini."
Kaila mengangguk dan kembali ke dalam untuk mengambil ponselnya.
"Kaila, Kaila, bisa-bisanya benda penting lo tinggal!" Kaila menggelengkan kepala dan membuka pintu ruangannya.
Ia berjalan menuju meja dan melihat ponselnya tergeletak di atas sana.
Ia segera meraihnya dan menghidupkan. Berharap, ada panggilan tak terjawab di sana.
Kaila berdecak. "Kirain Kana bakal nelponin aku karena aku ngambek."
Wanita itu menghela napas dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia berjalan keluar dan kembali mengunci ruangannya.
Setelah sampai di depan, tak lupa ia juga mengunci pintu depan dan berjalan keluar untuk menghampiri taksi tadi.
Kaila sedikit mempercepat langkahnya karena takut supir taksi tadi terlalu lama menunggu.
"Maaf Pak, udah nunggu lama," ucap Kaila dengan nafas terengah-engah.
"Iya, gak papa."
Kaila melebarkan mata. "Kana?"
Kana tersenyum dan turun dari mobilnya.
"Kenapa kamu bisa disini? Terus supir taksi tadi?" Kaila menatap mobil depannya.
Benar, itu adalah mobil Kana.
Kana terkekeh dan memeluk Kaila dengan erat. "Aku suruh dia pergi."
Kaila melepaskan pelukan Kana dengan paksa. "Lepasin ah."
Kana melebarkan mata. "Kamu masih ngambek sama aku?"
"Tau ah!" ucap Kaila dan berjalan pergi.
"Lala!" Kana menahan tangan kekasihnya. "Astaga! Kamu beneran ngambek sama aku?"
Kaila berdecak dan menatap Kana. "Bener-bener gak peka," ucapnya lalu kembali ke mobil Kana dan masuk ke dalam.
Kana terkekeh seraya menggelengkan kepala. "Kaila, Kaila." Lelaki itu tersenyum lebar dan ikut masuk ke mobil.
"Nih," ucap Kana seraya menyerahkan sesuatu pada Kaila.
"Apa ini?" tanya Kaila seraya meraihnya.
"Seblak instan level pedas."
Kaila tersenyum tipis dan membukanya. "Masih panas."
Kana mengangguk. "Aku sengaja pesen buat kamu, biar bisa makan bareng." Kana tersenyum dan meraih miliknya.
Kaila tak tahu harus bagaimana. Ia sebenarnya masih kesal dengan Kana, namun melihat semangkuk seblak dengan kuah panas dan level pedas membuatnya harus melupakan sementara kekesalannya.
Kaila mengulum senyumnya dan menyuapkan seblak itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Kana tersenyum melihat pemandangan di depannya.
Bisa-bisanya Kaila, luluh hanya dengan semangkuk seblak.
"Enak 'kan?"
Kaila melirik Kana dan kembali menyantap seblaknya.
Kana terkekeh dan mengusap pucuk kepala Kaila.
-o0o-
Di lain tempat, Keiza turun dari mobil Aji dan menatapnya dengan senyuman. "Makasih banyak ya?"
Aji mengangguk. "Makasih juga atas waktunya karena mau aku ajak ke pantai panas-panasan bahkan sampai kemaleman gini."
Keiza terkekeh dan mengangguk. "Aku malah seneng, akhirnya bisa lihat sunset secara langsung untuk pertama kalinya."
Aji melebarkan mata. "Ini pertama kalinya kamu lihat sunset secara langsung?"
Keiza mengangguk membenarkan. "Norak banget ya?"
"Enggak lah!" Aji tertawa. "Malah, aku ngerasa bangga sama diri aku karena bisa bawa kamu kesana."
Keiza mengangguk dengan senyuman. "Pokoknya makasih banyak."
"Sama-sama, Keiza." Aji menoleh pada jam di tangannya dan kembali menatap Keiza. "Udah malem, aku langsung pulang ya?"
Keiza mengangguk. "Hati-hati ya!"
"Iya."
Aji menghidupkan kembali mobilnya. "Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam," ucap Keiza dan melambaikan tangannya.
Setelah mobil Aji melaju pergi, Keiza pun masuk ke dalam untuk menemui ayah dan adiknya.
-o0o-
Kana tersenyum. "Udah happy lagi 'kan sekarang?"
Kaila memutar bola matanya. "B aja."
Kana berdecak, dan meletakan mangkuknya. "Lala."
"Hmm?" Kaila menaikkan kedua alisnya tanpa menoleh pada lelaki itu.
"Will you marry me?"
Kaila melebarkan mata.
Apa?
Ia tak salah dengar?
Kaila menoleh pada Kana dan tercengang melihat sebuah cincin berada di genggaman Kana.
Kaila menggelengkan kepala tak percaya. Kana melamarnya? Hari ini? Disini?
"Lala, will you marry me?" ucap Kana sekali lagi.
Kaila masih tercengang. Wanita itu benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. Ia begitu bahagia.
Lagipula wanita mana yang tidak bahagia saat melihat kekasihnya melamarnya.
Ah, Kaila tak bisa menyembunyikan semuanya. Ia benar-benar bahagia kali ini.
Kepada langit dan seiisinya, tolonglah Kaila. Dia benar-benar tak bisa berkata-kata lagi.
"Aku seneng banget."
Kalimat itu spontan keluar dari bibir Kaila.
__ADS_1
Tentu saja ia tak bisa lagi menyembunyikannya.
Kana tersenyum dan segera melepas cincin itu dari kotaknya. Meraih jari manis Kaila, dan mengenakannya.
"Aku tahu mungkin ini terlambat. Dan aku rasa, kamu sebel sama aku karena aku gak lamar-lamar kamu. Tetapi harus kamu tahu, aku sebenarnya udah siapin cincin ini udah lama. Kalau kamu mau lihat, masih ada kwintansi pembelian cincin ini. Dan cincin ini, aku beli sengaja untuk ngelamar kamu."
Kaila mengangguk mengerti. "Gak perlu kamu tunjukin pun, aku percaya." Kaila menghela napas dan menatap cincin itu. "Maafin aku karena udah ngambek sama kamu. Kesel karena kamu gak peka, dan yah! Aku bener-bener minta maaf." Kaila tersenyum malu. "Kekanakan banget aku ini."
Kana tersenyum dan menyentuh pipi Kaila. "It's okay! Aku ngerti gimana perasaan cewek saat lihat teman sebayanya menikah."
Kaila mengangguk dengan senyuman. "Jadi, ini kamu beneran lamar aku?"
Kana tertawa. "Yaiyalah! Masa aku main-main." Kana menghela napas dan meraih tangan Kaila yang sudah terpasang cincin di jari manisnya. "Aku— serius pengen nikahin kamu. Dan besok, aku sama Mama Papa mau dateng ke rumah kamu buat ketemu Papa dan juga kakak dan adik kamu. Aku beneran mau seriusin niat dan maksud aku buat nikah sama kamu."
Kaila menggigit bibir bawahnya dengan rasa haru. Ia memeluk lelaki di depannya dan memejamkan mata. "Makasih Nana, kamu udah nepatin janji kamu buat nikahin aku."
"Iya, sayang. Makasih juga karena kamu mau nepatin janji kamu buat nerima aku untuk jadi suami kamu."
Kaila tersenyum dan melepas pelukannya.
"Kok di lepas," ucap Kana dan kembali menarik Kaila ke dalam pelukannya.
-o0o-
"Good night everybody!" teriak Bima pada seluruh anggota keluarganya yang tengah berkumpul di ruang tv.
Angga tersenyum dan meletakkan remot tv di tangannya. "Baru pulang?"
Bima mengangguk. "Bima abis ajak jalan cewek yang kemarin Bima tabrak anjingnya, Pa. Ya sebenarnya gak ajak jalan sih, lebih ke tanggung jawab."
Angga mengerutkan dahinya. "Tanggung jawab dengan ajak jalan?"
Bima terkekeh. "Bukan, tapi jalan sambil cari anjing baru buat dia."
Kiara menggelengkan kepala. "Pasti sambil modus juga dong!" celetuknya membuat Angga— ayah tirinya dan juga Keiza tertawa.
Bima mengerecutkan bibirnya. "Nah 'kan malah di bully satu family."
Keiza menggelengkan kepala dan terkekeh. "Terserah, Bim."
Bima tersenyum dan menoleh pada mangkuk besar yang berada di atas meja. "Wah, ada jagung bakar?"
Kiara mengangguk. "Tadi Kiara sama Papa yang bakar. Nungguin kakak-kakak lama banget, yaudah deh ajak Papa aja buat bakar," ucap Kiara seraya menyandarkan kepalanya di pundak Angga.
Angga terkekeh. "Tau nih, Papanya baru pulang kerja, langsung di tarik aja suruh bakar jagung."
"Abisnya sayang mau di apain. Nanti Alda sedih jagung pemberiannya gak dimakan," ucap Kiara.
Keiza memutar bola matanya. "Alda apa Aldo?"
"Aldo siapa?" tanya Angga.
Kiara melebarkan mata dan melototi Keiza. "Alda, Pa. Aldo mah siapa. Gak kenal."
Keiza terbatuk, namun langsung mendapatkan cubitan dari Keiza.
"Jangan bilang-bilang Papa, nanti dimarahin," bisik Kiara.
Keiza tertawa. "Astaga Bima! Kamu ini punya pacar gak dikenalin sama Papa!" ucap Keiza menyindir Kiara.
Bima menoleh dan menatap Keiza bingung. "Pacar aku di Jerman, Kak. Jauh juga kalau mau dibawa kesini dan dikenalin ke Papa."
Kiara tersenyum lebar. Untunglah kakaknya ini tak mengerti maksud dan tujuan ucapan Keiza.
'Tok! Tok! Tok!'
Semua menatap menoleh dan menatap ke arah yang sama.
"Assalamualaikum."
"Kak Kaila!" teriak Kiara yang paham akan suara itu.
-o0o-
__ADS_1