KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 3


__ADS_3

Part 3


"Angkot, neng!"


Gadis berambut panjang itu menggeleng saat sebuah angkot melintas di depannya. Ia terlihat tengah berdiri di depan gerbang dengan kedua earphone yang tersumpal di telinga.


Setelah Satu minggu ia di tuntut untuk berangkat pagi, kini akhirnya ia bisa berangkat ke kampus dengan bebasnya seperti mahasiswa pada umumnya.


Ya, masa pengenalan kampus telah selesai. Dan hari ini, tepatnya hari senin, gadis itu terlihat mengenakan baju berwarna krim di padukan dengan rok di bawah lutut yang berwarna cokelat.


"Lala! Selamat pagi!" ucap seseorang yang baru saja sampai di depannya.


Kaila tersenyum dan segera mengenakan helm-nya.


"Maaf ya lama. Tadi berhenti dulu di depan gang. Ada anak kecil nangis soalnya," ucap Kana.


Kaila mengerutkan dahinya. "Nangis? Karena kamu?"


Kana tertawa. "Ya bukanlah! Masa iya aku bikin anak orang nangis. Bukan gue banget!" ucapnya seraya menaikkan kerah bajunya.


Kaila menggelengkan kepala dengan senyuman dan langsung naik ke atas motor Kana.


"Kok naik? Memang udah disuruh?"


"Memang harus nunggu di suruh ya?" ucap Kaila yang kembali turun dari motor Kana.


Kana terkekeh. "Canda sayang. Polos banget sih kamu."


"Ish! Nyebelin," ucap Kaila memukul pundak Kana dengan tasnya dan kembali naik ke atas motor Kana.


"Tadi Aji nelpon aku, tau," ucap Kana yang sudah mulai melajukan motornya.


"Terus? Dia bilang apa?" tanya Kaila penasaran.


"Dia bilang, mereka kangen sama aku."


Kaila mengerutkan dahinya. "Mereka? Maksud kamu, termasuk Adinda?"


Kana mengangguk. "Kamu jangan mikir yang enggak-enggak ya, La. Aku gak pernah punya perasaan kok sama Adinda."


Kaila mengangguk. "Iya, aku paham kok. Mau gimana pun juga Adinda sama Aji sahabat kamu dari kecil. Aku juga gak ada hak buat cemburu sama sahabat-sahabat kamu."


"Tapi mau gimana pun juga aku akan tetep jaga perasaan kamu kok, La. Sekarang kamu prioritas aku. Kamu satu-satunya perempuan yang harus aku jaga perasaannya setelah Mamaku."


Kaila tersenyum dan mengeratkan pegangannya pada pinggang Kana.


"Maaf ya La, sampai saat ini Mamaku belum bisa nerima kamu," ucap Kana seraya memandang kekasihnya melalui kaca spion.


Kaila mengangguk. "Gak papa, kok. 'Kan kita udah bilang, kita bakal terus berusaha untuk ngambil hati Mama kamu."


Kana tersenyum. "Aku gak pernah nyangka Kai bisa kenal perempuan kaya kamu. Kamu yang jutek kaya macan betina terus ditambah polosnya kamu, berhasil buat aku jatuh hati. Bukan jatuh hati aja sih, jatuh cinta, jatuh sayang, jatuh—"


"Jatuh apa lagi?" tanya Kaila yang menyenderkan kepalanya di pundak Kana.


"Jatuh dalam pelukanmu," lanjut Kana membuat Kaila tertawa.


"Kamu makin kesini makin beda tahu gak," ucap Kaila tertawa.


"Beda gimana?" tanya Kana tak mengerti.


"Dulu, kamu tuh dingin, nyebelin, ngomong cuma sepatah dua patah, kalau ngeliat orang kaya mau ngebunuh."


Kana terkekeh. "Ya karena dulu aku belum nemu pawangnya."


"Maksud kamu, jadi sekarang aku pawangnya?" ucap Kaila seraya mencubit pinggang Kana membuat laki-laki itu tertawa.


"Kaila, Mah! Jangan nyubit! Geli!" teriak laki-laki itu membuat Kaila berhenti.

__ADS_1


"Iya, iya maaf. Gak nyubit lagi."


"Aku tuh gak mau di cubit."


"Terus maunya apa?"


"Di cium."


Kaila melebarkan mata dan semakin memperkuatan cubitannya.


"Aw! Aw! Ampun Lala! Ampun! Gak deh enggak! Canda doang!"


Kaila melepaskan tangannya dan menatap Kana tajam melalui kaca spion.


"Jangan maen-maen ya!"


-o0o-


"Selamat pagi, dunia!" teriak Wilka saat memasuki kelas bersama dengan Kevin.


"Kamu ini, baru masuk udah mau ngajak war aja," gerutu Kevin.


"War apaan? Orang aku menyapa para teman-teman baru yang nantinya akan menjadi teman-temanku," ucap Wilka lalu tersenyum pada gadis yang berdiri di dekat meja dosen. "Hai, namaku Wilka. Salam kenal ya," ucap Wilka menyalami teman sekelasnya tersebut.


Kevin menghela napas dan berjalan menuju kursi kosong. "Bukan temen gue."


"Wilka! Kevin!" teriak seorang gadis yang baru saja memasuki kelas.


"Huffftt!" hela napas Kevin. "Baru bilangin satu, satunya dateng lagi."


"Gisel!" teriak Wilka yamg langsung memeluk temannya tersebut. "Jadi kamu masuk kelas ini juga?"


Gisel mengangguk. "Aku gak tahu loh kalau kalian berdua masuk kelas ini."


"Yah, apalagi aku. Aku loh gak pernah ngecek-ngecek, yang penting ada namaku aja, udah!" ucap Wilka membuat Gisel tertawa.


"Tadi kamu berangkat bareng Kevin?" tanya Gisel.


"Dimas mantanku?"


Wilka mengangguk. "Dia nanyain kamu dong! Nanya-nanya ; Gimana Gisel? Dia sekarang dah jadi calon dokter ya? Terus banyaklah nanya-nanya gitu," ucap Wilka.


Gisel hanya tersenyum miring.


"Kamu beneran udah move on dari dia? Gak ada rencana buat balikan?"


Gisel menggeleng dengan senyuman.


"Hebat banget!"


"Aku udah nemuin yang baru."


"Hah? Maksud kamu?" tanya Wilka.


Gisel mengangguk. "Nanti juga kamu tahu siapa. Aku yakin aku bisa dapetin dia. Gak peduli dia punya pacar atau enggak," ucap Gisel membuat Wilka terdiam.


Wilka menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat tersentak dengan ucapan Gisel.


"Aku cari kursi dulu ya," ucap Gisel dan berjalan menghampiri bangku kosong.


Wilka masih terdiam. Ia benar-benar tak menyangka dengan sahabatnya tersebut. "Kenapa Gisel jadi gini sih?"


Wilka mengusap wajahnya dan menatap ke arah pintu. Namun senyumnya merekah saat melihat Kaila berjalan memasuki kelas.


"Kaila?" ucap Wilka membuat Gisel yang mendengar pun menoleh.


Kaila yang berjalan bersama Kana pun tersenyum dan menghampiri Wilka.

__ADS_1


"Udah dari tadi datengnya?" tanya Kaila.


Wilka menggeleng. "Baru Lima menit yang lalu," ucapnya lalu beralih pada Kana. "Kan," sapanya.


Kana mengangguk dengan senyuman tipis.


"Kai, tadinya Kevin mau ngajakin kamu berangkat bareng juga tahu!"


"KEVIN?" tanya Kana dengan nada tinggi.


"Apa? Kenapa? Gue disini?" tanya Kevin yang sudah berdiri memandang Kana. "Kenapa? Mau marah? Sorry, gue baru tahu kalau Kaila punya pacar," ucapnya dan kembali duduk.


Wilka tertawa. "Maklumin aja ya, Kan. Kevin memang anaknya suka ngegas."


Kana hanya memutar bola matanya dan berjalan menuju kursi kosong.


Kaila bersama Wilka pun demikian. Keduanya ikut berjalan menuju bangku kosong. Kaila memilih bangku kosong yang berada di samping Kana. Sedangkan Wilka, gadis itu mengambil bangku kosong yang berada di antara Kaila dan Gisel.


Jika di gambarkan, Kana berada di kursi nomor Satu, lalu sebelahnya ada Kaila. Di sebelah Kaila ada Wilka, dan di sebalah Wilka ada Gisel. Sedangkan Kevin, laki-laki itu duduk tepat di belakang Kana.


"Teman! Ini udah dateng semua belum ya?" tanya seorang mahasiswa yang baru saja masuk dengan membawa spidol dan map di tangannya.


"Kenapa memang?" tanya Kevin.


"Kita mau pembagian struktur kelas. Tadi aku ketemu staff kemahasiswaan di depan. Terus dia nyuruh aku buat bagi struktur kelas kita. Katanya harus di setor hari ini. Biar dosen mata kuliah bisa langsung masuk," jelas mahasiswa tadi.


"Daftar yuk, Kai!" seru Wilka membuat Kaila melebarkan mata.


"Ah, enggak deh."


"Ay, ayolah!" ucap Wilka. "Teman, maaf, kamu namanya siapa?" tanya Wilka pada mahasiswa di depan.


"Faiz," jawab mahasiswa yang bernama Faiz tersebut.


"Oh iya, Faiz. Kaila jadi Sekretaris!" teriak Wilka.


"Hah apaa? Enggak! Enggak!" seru Kaila.


"Oke, siapa tadi namanya?" tanya Faiz yang hendak menuliskan ke papan putih.


"Kaila! Kaila Zeline Qirani!" seru Wilka.


"Oke," ucap Faiz. "Yang mau jadi bendahara?"


"WILKA!" teriak Kaila.


Sang pemilik nama hanya tersenyum. Ia tak masalah di usul menjadi bendahara, sebab, memang itulah keinginannya.


"Wilka ya yang jadi Bendahara. Terus yang jadi ketua siapa?" tanya Faiz kembali.


"KANA!" teriak Kevin membuat semua menoleh.


"EH, APA-APAAN LO! ENGGAK-ENGGAK!" ucap Kana menatap Kevin tajam.


"KANA, FAIZ. TULIS NAMA KANA. TADI DIA BILANG SAMA GUE MAU JADI KETUA! DIA DARI SD BELUM KESAMPAIAN JADI KETUA!" teriak Kevin.


"Oke, Kana ya," ucap Kevin menuliskan nama Kana. "Terus yang jadi wakil ketuanya siapa?"


Hening!


Tak ada jawaban dari teman-teman sekelasnya.


"Halo! Yang mau jadi wakil ketua siapa?"


Hening.


"Temen-temen, gak ada nih yang mau jadi wakilnya Kana?" tanya Faiz kembali. "Oke deh, kalau gak ada yang mau aku—"

__ADS_1


"GUE!" teriak seorang gadis membuat seisi kelas menoleh ke arahnya. "Gue siap jadi wakil dia." Gadis itu tersenyum dan memandang Kana dengan tatapan penuh makna.


-o0o-


__ADS_2