KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 28


__ADS_3

Part 28


1 bulan berlalu...


Tak terasa, semua berjalan dengan seiringnya waktu.


Hari pernikahan semakin dekat. Semua persiapan telah di atur dengan sebaik mungkin. Mulai dari gaun, gedung, makanan, serta persiapan lain telah mereka atur secara rapih.


Meskipun keempatnya di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing, mereka selalu menyisipkan waktu untuk bertemu dan menyelesaikan semuanya.


Dan saat ini, Keiza dan Kaila terlihat tengah berada di kamar Keiza.


"Kak," lirih Kaila yang baru saja masuk ke kamar Keiza dan mendudukan diri di kursi.


Keiza menoleh. "Kenapa, Kai?" tanyanya.


"Badanku panas. Ada obat penurun panas gak?" tanya Kaila yang terlihat lesu.


Keiza melebarkan mata dan mendekat. Menyentuh pipi Kaila, lalu berpindah ke leher. "Badan kamu panas banget, La?"


"Iya nih, Kak. Kayanya kecapean."


Keiza tersenyum tipis, meraih thermometer beserta tensimeternya. "Jangan terlalu di porsir, La. Besok hari bahagia kita. Masa iya di hari bahagia, kamu sakit sih?" Keiza meletakan thermometernya di ketiak Kaila.


Kaila menghela napasnya dan mengulurkan salah satu tangannya untuk di cek tekanan darah oleh Keiza.


Keiza memasangkan tensimeter dan mulai memompanya. "Dari kapan kamu ngerasa gak enak badan?"


"Bangun tidur tadi, Kak. Semalem aku gak bisa tidur. Makanya bangun-bangun lemes banget."


"Gak bisa tidur karena kepikiran?" tanya Keiza dengan senyuman.


Kaila mengangguk malu.


Keiza terkekeh. "Kakak juga semalem kepikiran banget, Kai. Ngebayangin gimana nanti waktu Aji sama Kana ucap ijab qabul."


Kaila terkekeh. "Sama kak. Berapa tensiku, Kak?" tanya Kaila saat melihat Keiza melepas tensimeter itu.


"90/60 mmHg."


Kaila berdecak. "Selalu aja rendah," ucap Kaila.


Keiza mengangguk dan meraih thermometer yang sudah berbunyi.


"Berapa, Kak?" tanya Kaila penasaran.


"Tiga puluh Sembilan derajat celcius, La. Aku ambil obat penurun panas dulu ya? Kamu udah sarapan, 'kan?"


"Udah, Kak. Tapi Cuma sedikit, lagi gak enak makan. Pahit rasanya."


Keiza mengangguk mengerti. Perempuan itu meraih obat-obatan dari dalam lemarinya.


"Ini obatnya. Kakak ambil minum dulu ya di dapur." Keiza hendak berjalan keluar.


"Kak!"


Keiza mengentikan langkahnya.


"Pakai minum kakak di meja aja," ujar Kaila.


"Tapi tinggal sedikit, udah kakak minum."


"Gak papa, Kak." Kaila mengangguk mengerti.


Keiza tersenyum dan meraih gelas berisi air yang berada di atas nakas. Ia menyerahkannya kepada Kaila.


Setelah meminum obat, Keiza pun menyuruh Kaila untuk beristirahat di kamarnya.


"Gak papa kak aku tinggal tidur?" tanya Kaila.


Keiza mengangguk dengan senyuman. "Kamu 'kan abis minum obat. Istirahat gih disini. Kakak juga gak ngapa-ngapain kok."


Kaila mengangguk dan menarik bantal yang tertata.


'Tok! Tok! Tok!'


Kedua gadis itu menoleh ke arah pintu.


"Kak! Kak Kei, Kak Kai!"


Terdengar suara teriakan Kiara di luar.


"Kak, aku masuk ya?"


'Ceklek!'


Pintu terbuka dan menampilkan Kiara. Gadis itu masuk ke dalam dan menghampiri kedua kakaknya. "Kak."


"Kenapa, dek?" tanya Keiza bingung.


"Kak Bima barusan nelpon, katanya dia udah sampai bandara. Kiara mau jemput gak bisa naik mobil, tapi," ujar Kiara.


Keiza menggigit bibir bawahnya, lalu menoleh pada Kaila. "Kak Kaila lagi sakit. Yaudah yuk, kita berdua." Keiza bangkit dari duduknya.


"Ada apa?" tanya Naila, Tante mereka yang sudah berada disini sejak kemarin.


Sedari kemarin, Naila ikut andil dalam kesibukan persiapan pernikahan kakak beradik ini.


"Gini Tan, aku sama Kak Kei mau jemput Kak Bima di bandara," ujar Kiara.


"Bima udah sampai Indonesia?" tanya Naila.


Kiara mengangguk.


"Yaudah, kalau gitu Tante aja yang jemput. Kaila sama Keiza kalau bisa jangan keluar dulu-lah. Mereka 'kan besok mau menikah," ucap Naila.


Kiara mengangguk mengerti. "Jadi kita berdua aja, Tan?" tanya Kiara.


Naila mengangguk. "Kamu ada tugas gak?"


"Ada sih, Tan. Bentar lagi ada zoom. Tapi gak papalah. Bisa zoom dimobil," ujarnya.


Naila menggeleng. "Jangan deh. Nanti kamu gak konsen malah."


Kiara menggigit bibir bawahnya. "Gak papa, Tan?"


Naila mengangguk dengan senyuman. "Gak papa, sayang. Oh ya, Bima jadi sama pacarnya kesini?" tanya Naila.


Keiza dan Kaila menggeleng tak tahu.


"Kak Bima gak bilang apa-apa sih, Tan. Tadi Cuma bilang kalau udah di Bandara, gitu aja," ucap Kiara.


Naila membulatkan bibirnya. "Yaudah, tante langsung ke bandara aja, ya."


Ketiga kakak beradik itu mengangguk dengan senyuman.


Setelah Naila beranjak pergi, Kiara pun ikut beranjak keluar.


"Kiara mau ke gazebo dulu ya, Kak? Mau zoom," ucap Kiara.

__ADS_1


Keiza mengangguk. "Semangat!"


"Semangat juga besok yang mau nikah!" ucap Kiara dengan senyuman menggoda.


Keiza terkekeh kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Kaila.


"Aku tidur ya, Kak," lirih Kaila dengan suara lemas.


Keiza terkekeh. "Iya, sayang." Keiza tersenyum dan kembali menyentuh dahi Kaila.


'Drtttt!'


Ponsel Keiza bergetar. Senyumnya mengembang saat sebuah pesan masuk dari Aji.


"Kak jangan bilang Kana atau Aji kalalu aku sakit ya?"


Keiza mengangguk. "Tenang aja."


-o0o-


"Gimana Kan, Papa cocok gak pakai jas ini?" tanya Kavin yang sudah rapih dengan jas yang akan ia gunakan esok, di pernikahan putranya.


Kana tersenyum lebar. "Cocok banget, Pa!"


Kavin tersenyum miring. "Iyalah! Siapa dulu, Kavin Artana. Gak ada yang gak cocok. Pesona Papa memang masih paripurna."


Alina berdecak seraya menggelengkan kepala. "Udah tua juga, masih aja narsis."


Kana terkekeh.


"Kan, gimana, Mama cocok gak pakai kebaya ini?" tanya Alina kali ini.


Kana mengacungkan ibu jarinya. "Cocok banget! Cantik banget!"


Alina tersenyum lebar, lalu memandang kebaya yang ia kenakan. "Pinter banget ya Kaila, bikin kebaya secantik ini."


Kavin mengangguk. "Pokoknya cocok banget Ma, dia jadi menantu kita. Kamu yang sering ada acara, kayanya gak perlu jauh-jauh lagi bikin gaun."


Kana tersenyum bangga. "Bangga 'kan punya calon menantu seperti Kaila."


Alina tersenyum. "Angga juga pasti bangga punya menantu seperti kamu, Kan."


"Duh, Mama, jadi malu," ucap Kana dengan cengiran kuda.


Kavin terkekeh dan menggelengkan kepala.


"Oh ya sayang, nanti kamu jemput Mama Iva di bandara ya? Mungkin setengah jam lagi udah sampai bandara," ucap Alina.


Kavin mengangguk mengerti. "Nanti pulangnya aku sekalian jemput Mama Raisa sama Papa Arman biar nanti malem kita bisa ngobrol bareng Mama Papa."


Kana tersenyum lebar dan menyandarkan kepalanya di sofa. "Seneng banget kalau semua kumpul gini."


Alina mengangguk. "Kapan lagi 'kan ada moment seperti ini? Makanya Kana, Mama dari dulu selalu ngebet supaya kamu cepet nikah."


"'Kan udah mau kesampaian, Ma," ujar Kana.


"Ya iya," ucap Alina terkekeh.


Kavin meletakkan jas yang sudah ia coba tadi dan duduk di samping Kana. "Besok Aji dulu apa kamu dulu yang ijab qabul?"


"Kata Papa Angga sih, Aji dulu. Menghargai Kak Keiza sebagai Kakaknya Kaila. Supaya kesannya juga Kaila gak melangkahi Kak Keiza," ujar Kana menjelaskan apa yang ada.


Kavin mengangguk setuju. "Bener, sih. Yaudah, siapa pun besok yang ucap ijab qabul duluan, semoga di beri kelancaran."


"Aamiin," ucap Alina dan Kana secara bersamaan.


-o0o-


Naila meletakkan ponselnya ke dalam saku dan melambaikan tangan. "Bim!"


Bima tersenyum lebar dan berjalan menghampiri Naila.


"Alhamdulillah kamu udah sampai Indonesia lagi dengan selamat. Gimana perjalanannya? Menyenangkan?"


Bima tersenyum tipis. "Ya begitulah, Tan."


Naila terkekeh. "Kok lemes gitu jawabnya? Are you okay? Nothing problem with you?"


Bima menunduk sebentar dan kemudian mencoba tersenyum. "I'm okay. Nothing problem with me."


Naila mengangguk lega dan tersenyum. "Mana pacar kamu?"


Mendengar pertanyaan itu, senyum Bima memudar.


-o0o-


"Aji."


Aji menoleh kepada Anan yang tengah bicara padanya.


"Iya, Pa?" tanyanya.


"Besok 'kan acara pernikahan kamu."


Aji mengangguk dan menunggu ayahnya melanjutkan ucapannya.


"Kalau boleh tahu, kamu udah ngabarin langsung orangtua Almarhum Adinda? Karena mau bagaimana pun juga, mereka udah nganggep kamu seperti anak sendiri. Gak enak kalau mereka gak denger itu dari kamu langsung."


Aji mengangguk mengerti. "Aji udah kesana kok Pa kemarin. Malah Aji ajak Keiza kesana."


"Apa respon mereka waktu lihat kamu bawa Keiza?" tanya Nana.


"Ya, seneng gitu Ma. Mereka baik banget sama Keiza. Bahkan Keiza sampai di ajakin makan bareng." Aji tersenyum. "Tapi ya itu— Keiza 'kan anaknya agak pemalu ya? Jadi Cuma kebanyakan senyum sama ngangguk-ngangguk."


Anan tertawa mendengar hal tersebut.


Tak hanya Anan, Nana pun demikian. Kini wanita itu menatap putranya dan tersebut. "Kamu tahu gak sih, Ji? Sebenarnya selama ini Mamanya Adinda sama Papanya selalu ngekhawatirin kamu. Setelah kepergian Adinda, mereka selalu mencemaskan kamu. Mamanya aja sampai nelponin Mama buat nanya keadaan kamu. Kamu udah punya pacar belum, kamu udah nemuin pengganti Adinda belum. Mereka selalu nanya gitu."


"Iya, Ma?" tanya Aji yang baru tahu.


Nana dan Anan mengangguk. "Mama Adinda itu sayang banget sama kamu. Makanya dia keliatan seneng pas tahu kamu udah ada pengganti Adinda. Karena mereka takut, setelah kepergian Adinda kamu bener-bener gak mau buka hati."


Aji terdiam lalu tersenyum. "Aji gak nyangka mereka sebegitunya."


"Karena itu, Mama minta, setelah kamu menikah nanti sama Keiza. Sering-sering ya main ke rumah Mamanya Adinda. Jangan ngerasa gak enak. Mereka malah seneng."


Aji mengangguk dengan senyuman. "Siap, Ma." Aji tiba-tiba tersadar. "Ma, Pa. Aji baru sadar."


"Kenapa?" tanya Anan dan Nana bersamaan.


"Kamarin waktu Aji ajak Keiza ke rumah orangtua Adinda, 'kan Mamanya Adinda baik banget ya sama Keiza. Bahkan memperlakuin kaya anak sendiri gitu. Terus waktu pulang, Keiza nangis. Katanya dia kangen sama Mamanya yang udah meninggal. Terus setelah ketemu Mamanya Adinda dan perlakuannya ke Keiza, Keiza senengnya luar biasa."


Nana mengangguk dan mencoba merasakan perasaan Adinda. "Mama bisa ngerasain gimana perasaan Keiza. Mungkin gitu juga sama Mamanya Adinda. Dia kangen sama putrinya dan lihat Keiza dateng, dia jadi bahagia luar biasa."


Aji mengangguk setuju, lalu menoleh pada jam yang terpasang di dinding. "Udah jam segini, kok kakek sama nenek belum dateng ya?" ucap Aji menyebut kakek dari pihak ibunya.


"Halo!"


"Itu mereka!"

__ADS_1


-o0o-


"Seneng ya Kak, keluarga pada kumpul," ucap Kiara yang sedang berada di gazebo.


Setelah Kiara menyelesaikan meeting zoom bersama teman sekelas dan juga gurunya. Keiza datang menghampiri dengan membawa roti gulung buatan Tantenya.


"Moment kaya gini jarang, dek," ucap Keiza.


Kiara mengangguk. "Gak bisa ditemuin setahun sekali ya, Kak?" ucap Kiara seraya meraih roti gulung di depannya. "Ini Tante siapa kak yang buat?"


"Tante Anggi."


Anggi adalah adik Angga yang kebetulan datang jauh-jauh dari Medan untuk menghadiri pernikahan keponakannya.


Kiara membulatkan bibirnya. "Kak Kaila belum turun panasnya?"


Keiza menggeleng. "Tadi sih masih panas. Gak tahu kalau sekarang. Kakak cek dulu."


"Gak usah, Kak," lirih Kaila yang sudah berjalan menghampiri.


Keiza dan Kiara menoleh pada Kaila.


"Kakak udah enakan?" tanya Kiara khawatir.


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Abis minum obat dan tidur sebentar, badan kakak udah enakan. Panasnya juga udah turun." Kaila tersenyum. "Kak Bima belum dateng?" tanyanya seraya mengitari pandangannya.


Keiza menggeleng. "Belum. Mungkin mereka lagi mampir kemana dulu. Apalagi 'kan Bima katanya mau bawa pacarnya."


"Iya, juga. Mungkin dia anterin pacarnya ke hotel dulu kali ya?" ujar Kaila.


Keiza mengangguk. "Bisa jadi."


'Tin!'


"Lah, itu orangnya. Baru aja diomong," ucap Kiara yang melihat mobil Naila kembali.


Naila menghentikan mobilnya tepat di depan dan segera turun. Lalu diikuti dengan Bima yang juga ikut turun.


"Kak Bima!" teriak Kiara berlari menghampiri Bima dan memeluknya. "Kak, maafin Kiara."


Bima tersenyum dan mengangguk. "Iya, sayang. Kakak malah yang minta maaf."


Kiara menggeleng. "Enggak! Kakak gak salah. Buat apa kakak minta maaf?"


Bima tersenyum dan menyentuh pipi Kiara. "Karena kelakuan kakak, kamu jadi kena imbasnya."


Kiara menggeleng. "Enggak! Semua itu gak bener. Apa yang terjadi sama Kiara gak ada hubungannya sama kakak."


"Ada apa sih?" tanya Naila yang penasaran.


Bahasa Kiara terlihat begitu serius, membuat Naila bingung dan ingin tahu sebenarnya apa yang telah terjadi.


Kiara menyengir kuda. "Bukan apa-apa, Tan."


"Di selingkuhin pacarnya, Tan," celetuk Keiza membuat semuanya menatap ke arah Keiza.


"Ih, kakak!" ucap Kiara kesal.


Keiza tertawa dan kembali mengunyah roti gulung.


"Kiara, Kiara, hati-hati ya sama buaya. Kadang ucapannya memang manis," lirih Naila dan berjalan masuk.


Kaila masih tertawa mendengar ucapan Tantenya. "Dengerin Kiara, ucapannya memang ma-nis," lirihnya seraya melirik Bima.


Bima hanya terkekeh dan tersenyum tipis.


"Kak Bim kenapa sih? Kok lemes amat dah!" ucap Kiara bingung.


Kaila mengangguk. "Ada masalah, Kak? Atau kecapean?" tanyanya.


Bima tersenyum dan menatap Kaila dengan tatapan sulit di artikan. "Maafin kakak ya?"


Kaila mengerutkan dahinya. Ia benar-benar tak mengerti.


"Kakak gagal nepatin janji."


Kaila masih diam. Ia juga belum mengerti, janji mana yang Bima maksud.


"Maksudnya, Kak?"


"Kakak gagal bawa pacar kakak yang di Jerman kesini."


Ketiga saudaranya melebarkan mata.


"Kenapa, Kak?" tanya Kaila tak mengerti.


Bima tersenyum, menghela napas dan kembali tersenyum. Meskipun senyumnya terlihat begitu berat.


"Bim, kenapa?" tanya Keiza kali ini.


"Dia ninggalin aku sama laki-laki lain."


Keiza, Kaila dan Kiara melebarkan mata terkejut.


"Kak, yang bener?" tanya Kiara.


Bima mengangguk dengan senyuman. "Hari ini hari pernikahan dia sama laki-laki itu." Bima menghela napas. "Aku gak tahu apa salah aku sama dia. Mungkin ini semua balasan dari apa yang udah aku lakuin selama ini."


Bima terlihat begitu sedih. Jelas saja ia sedih, perempuan itu adalah perempuan yang begitu Bima cintai. Dan kini, ia harus merelakannya dengan laki-laki lain.


"Dia gak kasih penjelasan gitu ke kakak?" tanya Kaila.


Bima menggeleng. "Enggak sama sekali. Waktu kakak sampai di Jerman, dia bener-bener gak ada kabar. Beberapa hari setelahnya kakak dapet kabar dari temen kakak yang lain kalau dia akan menikah sama teman SMAnya. Dan ya— hari ini hari bahagia dia."


"Kak Bim," lirih Kiara. "Yang sabar." Kiara menatap Bima dengan tatapan tak tega.


Bima tersenyum. "Kakak gak papa kok."


Kaila menggeleng. "Bohong. Kak Bima keliatan sedih banget, Kak."


Keiza mengangguk. "Ikhlasin ya Bim?" ucap Keiza tak tega.


Bima mengangguk dan kembali tersenyum. Meskipun senyumnya terlihat sangat berat.


"Kak Bima kalau mau nangis, nangis aja kak," lirih Kiara.


Bima tertawa. Tetapi bukan tertawa yang lucu. Melainkan tertawa menutupi semua luka yang ada. "Aku baik-baik aja. Lagian cewek bukan dia aja."


Dan setelah mengucapkan hal itu, air mata Bima menetes.


"Kak Bima," lirih Kiara lalu memeluk kakaknya.


Di ikuti dengan Kaila dan Keiza yang ikut memeluk Bima.


Bima tertawa mendapat pelukan itu. Namun, air mata tak bisa berbohong. Air matanya kembali menetes dan itu membuat ketiga saudaranya tak tega dan mengeratkan pelukan.


"Karma is real," lirih Bima dengan rasa sakit.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2